10 November 2006

Hardjono WS Bertapa di Gunung



Nama penuhnya HARDJONO WIROSOETRISNO, akrab disapa Hardjono WS. Janggut panjang, rambut putih semua, murah senyum, ramah. Saya beberapa kali bertemu seniman serba bisa ini di Sidoarjo dan Surabaya.

Bakatnya banyak: penulis cerita pendek, penulis naskah drama, penggiat teater, wayang, pecinta kebun, dongeng, pemahat, pendidik anak-anak, pengurus organisasi kesenian. "Semuanya mengalir begitu saja. saya hanya mengikuti naluri yang ada," ujar pria kelahiran 1945 ini, santai.

Pada 2004 lalu Hardjono WS dipercaya sebagai ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM). Inilah kali pertama dalam sejarah Mojokerto punya Dewan Kesenian. Dan Hardjono jadi ketua pertama.

"Makanya, saya perlu belajar dari daerah lain yang sudah lebih dulu punya dewan," kata Hardjono WS dalam sebuah diskusi dengan saya.

Bagi seniman senior macam Hardjono, ada atau tidak ada dewan kesenian--atau apa pun namanya--seni budaya itu tetap hidup di masyarakat. Wayang kulit, ludruk, seni tradisi, hadrah, dan sebagainya selalu berkembang di masyarakat. Karena itu, peranan dewan kesenian hanya sebagai koordinator atau generator (pembangkit semangat) pelaku-pelaku kesenian.

"Saya sendiri tidak merasa punya kemampuan (menjadi ketua DKKM). Tapi, karena diminta teman-teman, ya sudah," ujar penulis cerpen dan naskah drama paling produktif di Jawa Timur ini.

Sejak 1997 Hardjono membuka padepokan seni di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Dia bilang kembali ke desa karena sudah jenuh di kota.

"Sekali-sekali uangnya orang kota berputar di desa. Masa, semuanya diserap terus ke kota," kata pria yang beberapa kali menjuarai lomba penulisan naskah teater se-Jawa Timur itu. Karyanya kerap dijadikan naskah wajib lomba teater remaja se-Jawa Timur di Taman Budaya Jatim.

Di sanggar budaya sederhana ini, setiap bulan Hardjono menggelar kegiatan seni, yang bisa diikuti siapa saja. salah satunya WAYANG AREK. Ini semacam latihan teater sederhana untuk anak-anak. dalang, Hardjono hanya berperan sebagai moderator, pengatur lakon, sementara pemainnya, ya, anak-anak. Penonton pun ikut main.

"Sudah saatnya anak-anak bicara. Kita yang tua-tua cukup dari belakang saja," katanya.

Beberapa kali Hardjono 'mensosialisasikan' wayang areknya di Sidoarjo. Gelar wayang arek ini mendapat sambutan hangat anak-anak di Desa Sekardangan. "Bagus sekali wayang arek itu. Kalau bisa dikembangkan di Sidoarjo, saya rasa jadi kesenian alternatif untuk anak-anak," kata Jumaadi, pelukis sekaligus pemilik SANGGAR PECANTINGAN di Desa Sekardangan, Sidoarjo Kota.

Hardjono mengaku menekuni dunia anak-anak sejak 1972. Kenapa terjun ke anak-anak? Semua berawal dari keprihatinan Hardjono karena pendidikan anak-anak di Indonesia selama ini keliru. Memanusiakan manusia, sebagai esensi pendidikan, justru tidak tampak.

"Tugas anak itu tiga: belajar, membantu orang tua, bermain. Dalam setiap proses pendidikan, tiga hal ini harus ada," paparnya.

Nah, di lembaga-lembaga pendidikan formal kita, praktis tiga hal ini tidak kelihatan. Anak-anak dicekoki dengan begitu banyak tugas pelajaran, pekerjaan rumah, sehingga tak ada waktu untuk main-main. Membantu orang tua mana sempat? Belum lagi harus ikut les di luar rumah. Bagi Hardjono, sistem pendidikan macam ini pada akhirnya akan mencelakakan bangsa kita di kemudian hari.

Pekan pertama Maret 2006 lalu, Hardjono memberi 'kursus' kepada 26 guru taman kanak-kanak di Mojokerto. Hardjono tak hanya ceramah, tapi memberi kesempatan kepada para guru ini untuk bertanya. "Ayo, silakan tanya, jangan malu-malu," pinta Hardjono seraya tersenyum.

Kalau gurunya malu-malu, kata Hardjono, muridnya pun tidak akan percaya diri. Lantas, Hardjono dan para guru menyanyikan lagu anak-anak bersama-sama. Lagu karya Hardjono WS. Semua proses ini dibawakan secara serius, tapi tetap main-main. Main-main tapi serius.

No comments:

Post a Comment