22 November 2006

Gereja Advent Tertua di Jatim


Oleh Lambertus Lusi Hurek

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (THE SEVENTH DAY ADVENTIST CHRUCH) justru muncul pertama kali di Jawa Timur di kaki gunung. Sayang, bangunan cagar budaya itu tidak asli lagi.


BANGUNAN itu berdiri kokoh di atas bukit Sumberwekas, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Lokasinya strategis, persis di simpang tiga, jalan tanjakan ke Puncak Trawas. Sehingga, siapa pun yang melintas di kawasan sejuk itu niscaya pernah melihat keindahan gedung ini. Taman dengan bunga-bunga indah tampak asri dan terawat.

Yah, itulah GEREJA ADVENT SUMBERWEKAS. Gereja ini jadi istimewa karena dilengkapi bumi perkemahan yang sangat luas. Para pemuda gereja dan pelajar umum sering berkemah di situ.

“Gereja kami ini tergolong tua. Dia jadi saksi sejarah kehadiran Gereja Advent di Jawa Timur, bahkan Indonesia,” jelas EBENHEIZER SEMBIRING, pendeta yang bertugas di situ, kepada saya.

Menurut Sembiring, gereja ini dibangun pada 1926 di masa penjajahan Belanda. Waktu itu kawasan Trawas, Prigen, dan sekitarnya yang sangat sejuk memang sudah menjadi favorit tuan-tuan Belanda untuk istirahat. Nah, kebetulan ada orang Belanda yang menguasai tanah di perbukitan Sumberwekas punya ide membangun Gereja Advent.

“Jadi, gereja ini lebih tua ketimbang di Tanjunganom (Surabaya),” ujar pendeta yang masih bujang ini.

Gereja Advent punya doktrin yang sangat berbeda dengan gereja-Gereja Protestan atau Katolik. Kalau gereja-gereja lain menggelar kebaktian atau misa hari Minggu, Advent melakoninya Sabtu alias hari ketujuh. Jemaat Advent juga sangat menganjurkan vegetarianisme alias hanya mengonsumsi makanan nabati. Mereka hidup sederhana, tekun baca Alkitab.

Karena itu, orang-orang Belanda penganut Advent terpaksa menyingkir ke bukit Prigen untuk membuat tempat ibadahnya. Bukan itu saja. Dibuat juga bumi perkemahan yang luas sebagai sarana penggemblengan mental dan fisik jemaat.

“Gereja dan kompleks perkemahan memang sudah ada sejak zaman Belanda. Berdirinya hampir bersamaan,” kata Sembiring yang lupa nama pendiri Gereja Advent di Sumberwekas.

Tahun 1985, kondisi bangunan sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Keropos! Karena itu, pengurus gereja yang berpusat di Jalan Tanjung Anom 3 Surabaya ini melakukan renovasi total. Gereja lama dirobohkan, dibangun gereja baru, lokasinya sama. Model arsitektur disesuaikan dengan cikal bakalnya.

“Sebetulnya sayang juga (dirobohkan), tapi kondisinya sudah benar-benar tidak memungkinkan lagi. Yang penting, spiritnya tetap kami pertahankan,” ujar Sembiring.

Usai merenovasi gereja, pihak Advent juga membenahi bumi perkemahan seluas dua hektare lebih. Sebuah aula besar juga didirikan. Namanya AULA MAHANAIM. Ini karena Gereja Advent Konferensi Jawa bagian Timur dipercaya sebagai tuan rumah jambore pemuda Advent Asia-Pasifik yang diikuti sekitar 5.000 orang.

Tak tanggung-tanggung, Menteri Pemuda dan Olahraga (waktu itu) Hayono Isman datang ASIA-PACIFIC ADVENTIST YOUTH CAMPORE ini, sekaligus meresmikan Bumi Perkemahan dan Aula Mahanaim pada 12 Agustus 1997. Sejak itulah nama Advent Sumberwekas tersebar ke mancanegara karena beberapa bekas peserta jambore menuliskan catatan tentang suasana Sumberwekas di internet.

Kapan jadi tuan rumah jambore besar lagi? “Wah, kayaknya belum. Soalnya, selalu digilir dari negara ke negara. Tapi kalau untuk Indonesia, saya rasa, Sumberwekas ini paling memenuhi syarat,” tutur Sembiring, bangga.

Karena tak ada even besar, suasana di kompleks Gereja Advent Sumberwekas ini adem-ayem. Kosong. Hanya PAK SAIM yang tampak sibuk merapikan rumput di bumi perkemahan internasional itu.

Kompleks gereja tua itu baru ‘hidup’ lagi setiap hari ketujuh, Sabtu pagi, tatkala 100-an jemaat dari Sumberwekas dan sekitarnya datang bersekutu. Kebaktian bersama memuji Sang Pencipta.

No comments:

Post a Comment