15 November 2006

gedung kesenian di surabaya


Surabaya Symphony Orchestra yag dipimpin Solomon Tong selalu menggelar konser di ballroom Hotel JW Mariott sedikitnya tiga kali setahun. Soale gak ono concert hall ndek Suroboyo, Cak.

Setiap kali bertemu dengan seniman mancanegara, yang kebetulan mampir di Surabaya, pertanyaan utama mereka adalah gedung kesenian. Concert hall di mana? Kapasitasnya berapa? Akustiknya? Panggung? Penerangan? Lahan parkir? Programnya?

Saya pun mati kutu. Mau jawab apa? Akhirnya, apa boleh buat, saya harus berkata jujur meskipun pahit. “Surabaya belum punya gedung kesenian. Apalagi, kalau standarnya internasional.”

Si seniman asing, khususnya pemusik serius, pun bengong. “Ah, yang benar, kota Anda sangat besar, penduduknya lebih banyak daripada negara Singapura. Masa tidak punya ada concert hall,” ujar Nikolas, dirigen orkes simfoni asal Australia, beberapa waktu lalu.

Ketiadaan gedung kesenian memang sudah lama dikeluhkan para pelaku kesenian di Surabaya. Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen Surabaya Symphony Orhestra (SSO), setiap menjelang konser, senantiasa bicara gedung kesenian kepada wartawan.

SSO terpaksa main di ballroom hotel, ruang yang sejatinya tidak dirancang untuk konser klasik. "Saya modifikasi agar bisa main,” ujar Tong yang rutin menggelar konser simfoni sejak 1996.

Dalam setahun SSO mengadakan pergelaran tiga sampai empat kali rutin, ditambah sejumlah konser kecil. Gara-gara tak ada gedung kesenian, Tong mengaku menguras begitu banyak waktu, tenaga, pikiran, biaya... untuk menyiapkan tempat konser. Di luar negeri, dirigen macam Tong hanya fokus ke musik, melatih, menyiapkan pemain, bikin orkestrasi.

“Di sini, Surabaya, saya harus menangani semuanya,” kata pria kelahiran Xia Men, Tiongkok, 20 Oktober 1939 itu.

Kadaruslan, akrab disapa Cak Kadar, pun sejak lama prihatin soal gedung kesenian. Ketua Pusura kebetulan ini punya program tahunan: Festival Seni Surabaya (FSS). Misi FSS adalah menghadirikan kesenian kontemporer, eksperimental, dan futuristik. Jelas, gedung utama Balai Pemuda jauh dari memadai. Berapa sih kapasitas Balai Pemuda? Seribu, apalagi lima ribu, penonton mustahil ditampung di sana. Padahal, FSS makan biaya sangat besar.

Belum lagi bicara kualitas gedung Balai Pemuda. “Habis di mana lagi? Kita hanya punya itu,” kata Cak Kadar.

Sobrot D Malioboro, juga penggiat FSS, tak kurang-kurangnya mendesak pejabat kota untuk membangun gedung kesenian di Kota Surabaya yang layak. Pada penutupan FSS lalu, Sobrot lagi-lagi secara terbuka menekankan pentingnya gedung kesenian di depan Arif Afandi, wakil wali kota.

Suatu ketika, saya cangkrukan dengan Cak Kadar. Untuk kesekian kalinya pejuang kesenian ini mengemukakan trilogi saktinya: OLAH PIKIR, OLAH RAGA, OLAH RASA. “Kalau tiga hal ini tidak ada, maka keseimbangan masyarakat akan terganggu. Sumber keruwetan di negara ini, salah satunya, karena tidak adanya keseimbangan. Olah raga tanpa olah rasa melahirkan kerusuhan,” beber Cak Kadar.

Cak Kadar lalu menyoroti dana untuk olah raga, khususnya Persebaya, yang mencapai Rp 15 miliar. Dalam tempo lima bulan uang rakyat itu habis tak bersisa. Hasilnya?

Persebaya sempat degradasi, bayar denda ratusan juta, reputasinya tercemar, dilarang main di dalam kota. “Isin-isini. Memalukan!” tegas Cak Kadar, yang mengaku sangat fanatik pada Persebaya di era 1960-an hingga 1970-an.

“Uang segitu (Rp 15 miliar) kalau dibuat lapangan bola sudah berapa? Dibuat gedung kesenian paling tidak dapat tiga. Galeri elek-elekan bisa dapat tujuh tujuh atau 10,” kata Cak Kadar, geleng-geleng kepala.

Mendengar kata-kata Cak Kadar, saya langsung teringat pidato Arif Afandi pada penutupan FSS di Balai Pemuda tahun lalu. Wakil wali kota ini pernah menjadi motor FSS saat masih menjabat pemimpin redaksi Jawa Pos. Singkatnya, di hadapan Cak Kadar, Sobrot, ratusan hadirin, Arif Afandi menyatakan komitmennya untuk ‘mengusahakan’ sebuah gedung kesenian di Surabaya.

Saya tidak tahu apakah Arif Afandi masih ingat janji itu ketika dia sibuk mengurus Persebaya dan berbagai persoalan kota.

2 comments:

  1. emang dah mendesak tuh.

    ReplyDelete
  2. yaya... pada pertengahan januari 2008 ada rencana mengembangkan kompleks balai pemuda sebagai gedung kesenian. kita tunggu sajalah.

    ReplyDelete