10 November 2006

Endang Gombal, Seniman Perca


Endang Gombal, pelukis kain perca asal Desa Mindi, Porong. Kampungnya terendam lumpur lapindo

FRANSISCA ROMANA ENDANG WALIATI BIASA DISAPA ENDANG GOMBAL. DIA TIDAK TERSINGGUNG ATAU MARAH. IA JUSTRU BANGGA. BERKAT GOMBAL, SISA-SISA KAIN, ENDANG MENGHASILKAN KARYA SENI RUPA YANG BERMUTU. DIA MELUKIS DISELINGI AROMA LUMPUR LAPINDO.

"Karya saya sudah banyak dikoleksi orang-orang bule, khususnya Belanda. Mereka bilang, kamu orang punya karya mooi, nice," cerita ENDANG GOMBAL kepada saya di Porong, Sidoarjo.

Rumah wanita kelahiran 27 Juni 1959 ini dekat kolam lumpur Lapindo Brantas, Desa Mindi, Kecamatan Porong, Sidoarjo,

Sempat membuka 'studio' di kawasan Grand Trawas, Mojokerto, Endang mengaku sangat sering bertemu dengan turis-turis Belanda. Biasanya, para oma-opa ini datang ramai-ramai menggunakan bus wisata. Di situlah Endang menunjukkan kepiawaiannya menyusun gombal (juga disebut kain perca) menjadi karya seni rupa.

Sulit dipercaya, dalam waktu singkat gombal-gombal, yang sejatinya kain sampah itu, telah menjelma menjadi karya menarik. Objek apa saja bisa digarap Endang, mulai pemandangan alam, wajah manusia, satwa, bunga, hingga karya-karya nirbentuk (deformatif).

Begitu halusnya garapan Endang, sehingga banyak orang yang tak menyangka kalau 'lukisan' realis itu dibuat dari sisa-sisa kain alias gombal. Endang sendiri tak peduli, juga tak mau tahu, aliran seni rupa apa yang ditekuninya.

"Aku gak ngerti, wong gak punya pendidikan formal (seni rupa). Yah, anggap saja aliran saya gombalisme. Hehehe...."

Lahir di Surabaya, tepatnya kawasan Pakis, kemudian pindah ke Wonokitri, Endang kecil mengaku tak punya bakat seni rupa. Melukis konvensional (pakai cat, pensil, krayon, akrilik, dan sebagainya) tak bisa. Kebetulan rumahnya dekat dengan penjahit, sehingga kain-kain sisa (gombal) sangat mudah dijumpai.

Endang muda merasa sayang kalau kain-kain sisa itu terbuang percuma. "Saya lalu berusaha menyusun kain itu dalam berbagai bentuk. Hasilnya, ya, seperti sekarang ini," ujar Endang yang mulai menekuni seni rupa kain perca sejak 1982.

Siapa guru atau instrukturnya?

"Nggak ada guru. Saya mencoba sendiri. Otodidak. Sejak dulu nggak ada yang menekuni seni ini. Kalau sanggar lukis, guru melukis, sih banyak."

'Ulah' Endang Waliati menata kain perca menjadi karya seni rupa semakin ditekuni ketika pindah ke Sidoarjo, tepatnya Jalan Pancaniaga 64 Mindi, Porong. Apalagi, hasil utak-atik tadi ternyata punya nilai ekonomi, dikoleksi banyak orang, termasuk para turis Londo. "Akhirnya, sampai sekarang saya tetap membuat karya seperti ini," tuturnya.

Nama ENDANG WALIATI pun kemudian tersebar di Jawa Timur, bahkan Indonesia, sebagai ENDANG GOMBAL. Endang yang mengangkat status gombal, sampah, sebagai produk seni bernilai tinggi.

Waktu terus bergulir. Endang, yang tadinya merasa sebagai ibu rumah tangga biasa di kampung Mindi, diajak oleh para seniman seni rupa, khususnya pelukis, untuk pameran.

Karya Endang dinilai unik, memberi nilai tambah tersendiri bagi dunia seni rupa kita. Tak heran, wanita yang pandai memasak (kerap menyediakan makanan di acara pameran lukisan di Sidoarjo atau Surabaya) ini pun terlibat dalam berbagai pameran bersama maupun tunggal.

"Saya sudah tidak ingat sudah berapa kali saya pameran. Terlalu banyak," ujarnya.

Berbeda dengan seniman seni rupa, yang rata-rata individualis, asyik berkarya sendiri, Endang Gombal tak segan-segan membagikan ilmunya kepada siapa saja yang mau belajar. Umumnya, ibu-ibu atau remaja putri di kawasan Porong atau Surabaya. Endang juga bersedia memberikan les privat kepada anak buahnya, di mana saja.

"Saya hanya mengarahkan. Sukses tidaknya tergantung mereka sendiri. Kalau aras-arasan, ya, nggak akan maju."

Menurut Endang, bikin karya seni rupa dengan kain perca membutuhkan ketekunan tingkat tinggi dan ketelatenan. Berapa lama jadinya? "Yah... paling cepat tiga bulan. Ada yang sampai satu tahun lebih," katanya.

No comments:

Post a Comment