20 November 2006

Cina Tionghoa Tiongkok RRC RRT


Oleh Lambertus Lusi Hurek

Surat kabar JAWA POS di Surabaya, dan media-media di lingkungan GRUP JAWA POS, selepas Reformasi 1998 menghidupkan lagi istilah TIONGHOA, TIONGKOK, REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK alias RRT. Istilah CINA tidak boleh dipakai karena dianggap menghina warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Kalau pakai ‘h’, China, sehingga dibaca ala bahasa Inggris, masih boleh. Dan itu yang dipakai harian Kompas. Pakai CINA (tanpa ‘h’), apalagi CINO (ala orang Jawa umumnya)... dirasa sebagai penghinaan luar biasa.

Adalah DAHLAN ISKAN (lahir di Magetan 17 Agustus 1951), chairman Grup Jawa Pos, yang memopulerkan ‘gerakan kembali ke Tiongkok, Tionghoa, dan RRT itu. Kebetulan Pak Bos (sapaan akrab Dahlan Iskan di kalangan wartawan-wartawan Grup Jawa Pos) ini punya kedekatan dengan Tiongkok. Fasih bahasa mandarin, sempat belajar lama di sana, bolak-balik ke Tiongkok.

“Kayaknya Tiongkok sudah jadi negara keduanya Pak Bos,” kata teman-teman di Graha Pena, markas besar Grup Jawa Pos, di Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya.

Tak mudah memang, mengubah kebiasaan ber-CINA ria, meski dianggap baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengan ber-TIONGHOA atau ber-TIONGKOK ria. Hampir tiap hari ada saja teman-teman bercanda seputar CINA, TIONGHOA, TIONGKOK. Dan... masih banyak wartawan atau redaktur yang belum bisa memahami di mana letak penghinaan manakala kita menggunakan kata CINA.


Saya sendiri sudah lama bertanya kepada tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya tentang istilah-istilah bernuansa rasis ini. DJONO ANTOWIJONO alias LIEM OE YEN, pengurus teras Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia (PMTI) pun menjelaskan kepada saya, dan beberapa teman wartawan, tentang pentingnya ‘memahami perasaan’ orang Tionghoa.

“Gunakan TIONGHOA, jangan CINA. Kami selalu pakai RRT, republik rakyat Tiongkok, bukan RRC, Republik Rakyat Cina. Kalian sebagai wartawan, tolong sosialisasikan istilah yang benar kepada masyarakat. Organisasi kami PMTI, paguyuban masyarakat Tionghoa Indonesia, bukan paguyuban masyarakat Cina Indonesia,” jelas Liem, pengusaha besi lonjoran di kawasan Kembang Jepun, Surabaya.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Ceritanya panjang, kata Liem. Menurutnya, CINA merupakan istilah penghinaan yang dipaksakan rezim Jepang saat menjajah negeri Tiongkok. “Istilah CINA itu sangat menyakitkan karena warga Tiongkok dianggap ANJING,” jelas LIEM OE YEN kepada saya pada 20 November 2006.

“Siapa sih yang mau dijelek-jelekkan dengan kata ANJING?” tambah Liem.

Ternyata, papar Liem, kebijakan rezim Jepang yang menjajah Tiongkok ini diadopsi Orde Baru. Rezim Soeharto ini secara sistematis meminggirkan warga Tionghoa di Indonesia. Kebijakan ganti nama. Ganti agama. Larangan berusaha di luar ibukota kabupaten. Larangan ekspresi budaya Tionghoa. Barongsay haram. Kelenteng tak boleh diperbaiki. Aksara Tionghoa haram.

Masih panjang daftar kebijakan rezim Orde Baru (1966-1998) yang rasis. Sangat anti-Tionghoa.

Saya akhirnya menemukan beberapa buku yang mampu menjawab polemik ini. Salah satunya karangan SIAUW GIOK TJHAN, tokoh masyarakat Tionghoa asal Kapasan, Surabaya. Di masa perjuangan hingga menjelang Orde Baru, nama Siauw sangat kondang karena pernah menjabat menteri kabinet Presiden Soekarno. Bukunya berjudul LIMA ZAMAN, PERWUJUDAN INTEGRASI WAJAR.

Sebagai bekas menteri, tokoh pergerakan, uraian Siauw Giok Tjhan sangat jelas, lengkap, dan tajam. Deskripsinya kuat. Banyak data. Data sejarahnya komplet. Siauw bicara pakai data, tak asal ngomong, sehingga kita sulit membantah argumentasinya.

“Ayah saya memang pecinta buku,” kata Dr Siau Giok Djien, putra almarhum Siauw Giok Tjhan, saat berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu. Siauw yunior kini berdomisili di Australia.

Nah, di halaman 365 buku ini, Siauw Giok Tjhan membeberkan bahwa pada 25 Juli 1967 penguasa militer (TNI Angkatan Darat) mengeluarkan keputusan supaya istilah TIONGHOA diganti CINA. Alasan Orde Baru: CINA sudah banyak digunakan rakyat sejak zaman dulu kala.

“Ada yang bilang istilah CINA harus dipakai untuk meniadakan rasa rendah diri, inferiority complex, dari rakyat Indonesia. Apalagi, CINA lebih dekat dengan istilah Inggris, China,” beber Siauw, yang menyebut pandangan ini ‘sangat tidak tepat’.

Menurut Siauw, lahir di Surabaya 23 Maret 1914, istilah CINA yang mengandung penghinaan itu tidak banyak dipakai setelah didirikan TIONGHOA HWEE KOAN di Jakarta (Betawi) pada 1900.

“Penggunaan istilah TIONGHOA dikokohkan di Indonesia setelah revolusi rakyat Tiongkok mencapai kemenangan di bawah pimpinan Dr Sun Yat Sen, 10 Oktober 1911. Jadi, penggunaan istilah CINA dengan TIONGHOA secara umum di Indonesia merupakan hasil revolusi rakyat Tiongkok,” tulis Siauw Giok Tjhan.

Tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia di zaman penjajahan Belanda, tulis Siauw, menggunakan istilah TIONGHOA, tidak lagi memakai CINA. Kenapa? Ada konvensi bahwa sebuah kemenangan revolusi rakyat harus dihargai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan.

Siauw Giok Tjhan menyebut nama-nama tokoh yang menggunakan istilah TIONGHOA, bukan CINA. Di antaranya, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Cokroaminoto, Dr Soetomo, Bung Karno. Wartawan-wartawan kawakan masa lalu, macam Muchtar Lubis dan Burhanuddin Muhammad Diah, pun konsisten memakai istilah TIONGHOA dalam tulisan-tulisannya.

*******

Nama resmi Tiongkok setelah revolusi nasional adalah CHUNGHUA MINKUO atau REPUBLIK TIONGKOK. CHUNGHUA adalah ucapan mandarin berdasar dialek Hokkian. Setelah 1 Oktober 1949, nama negara Tiongkok menjadi CHUNGHUA REN MIN LIEN HUO KUO. Kalau diindonesiakan menjadi REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK alias RRT.

“Jadi, bila mau resmi-resmian harus menyebut TIONGKOK dengan CHUNGKUO dan bahasa serta orangnya diterjemahkan menjadi CHUNGHUA dalam lidah mandarin dan TIONGHOA dalam dialek Hokkian. Terserah... tapi yang pasti bukan CINA. Apalagi orang Indonesia tentu bukan orang Inggris yang menyebut TIONGKOK dengan CHINA,” tulis Siauw Giok Tjhan.

Saya ingat baik-baik pesan Liem Oe Yen kepada saya. “RRC itu nggak ada. Yang ada RRT. Kalau Saudara pakai istilah Tionghoa, itu lebih bersahabat. Hindari pakai CINA. Harep Saudara ingat, kami sejak tahun 1912 itu disebut suku Tionghoa, bukan suku Cina,” tandas Liem Oe Yen.

Seperti juga jutaan warga Tionghoa lain, Liem dipaksa Orde Baru untuk mengganti nama menjadi Djono Antowijono. “Nama itu kan pemberian orang tua, harus kita hargai. Lha, kok kami malah disuruh ganti nama,” pungkasnya.

7 comments:

  1. wah... rumit juga ya? di malaysia CINA netral aja.

    ReplyDelete
  2. Saya keturunan Tionghoa, tinggal di California. Secara obyektif, kata Cina sebenarnya netral. Secara historis, di Indonesia pada khususnya, ia bermasalah. Seperti dilaporkan Sdr. Hurek, penggunaan "Cina" secara formal dimotori oleh Order Baru (Angkatan Darat), bersamaan dengan berbagai kebijakan diskriminatif yang diterapkan, seperti wajib ganti nama, wajib memiliki SKBRI, penggunaan "WNI" di dalam KTP, dan berbagai macam pelecehan. Maka secara historis, orang Tionghoa merasa terluka bila kata Cina digunakan sebagai sebutan.

    Sebagai perbandingan, boleh dilihat penggunaan kata Negro dalam bahasa Inggris. Kata Negro ini dari bahasa Latin artinya hitam. Sampai tahun 1960-an, di Amerika orang African American disebut Negro. Walau secara harafiah netral, secara historis kata ini menyakitkan karena sering diplesetkan menjadi "Nigger" yang merupakan kata hinaan teramat sangat. Sejak pergerakan hak asasi di Amerika tahun 60-an itu, media kemudian mengganti penggunaan Negro dengan black atau lebih halus lagi African American. Sedangkan di bahasa Spanyol yang berbasis bahasa Latin, kata Negro tetap digunakan karena baik secara historis dan harafiah kata itu netral.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Bung atas tambahan informasi. Mudah-mudahan kita semua makin saling menghargai sesama manusia. Salam damai!

    ReplyDelete
  4. Saya juga tidak merasa terlalu menyakitkan hati dengan istilah Cina, mungkin karena saya lama tinggal di Australia yang menggunakan istilah "China" dan "Chinese" dan bukan "Tiongkok" atau Chungwais.
    Saya lebih bangga dengan prestasi bangsa Chinese, yang berasal dari Chinois, dan dalam bahasa Latinnya dalah Sino. Bahkan dalam Alkitab Inggris kuno pun ada dituliskan mengenai bangsa Chin atau Sino ini dari negara Sinim dalam Yesaya 49:11, 12 yang berbunyi: "Aku akan membuat segala gunungKu menjadi jalan dan segala jalan raya_Ku akan kuratakan. LIhat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utarar dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim."

    Orang Tionghoa sendiri memang dari dulu tidak pernah menyebutkan diri mereka sebagai Chin ren, atau Qin ren. Mereka menyebutkan diri sebagai Huaren, Hanren, Tangren, tapi tidak pernah sebagai Chin/Qinren. Ini mungkin karena Dinasti Chin itu adalah dinasti yang paling agresif, maju, tapi juga paling kejam dalam sejarah.

    Saya lebih tertarik dengan aksara Tionghoa kuno atau Ancient Chinese writings (Jia Gu Wen) yang diketemukan di An Yang dimana pada kulit penyu atau tulang belulang yang jumlahnya puluhan ribu banyaknya, terdapat ukiran-ukiran yang umurnya sudah 3700 tahun. Didalam ukiran-ukiran itu ternyata bahwa leluhur orang Tionghoa sudah mengenal Allah yang mereka sebut Shangdi (Raja diatas atau Rajanya Langit), Tian atau Sorga/Langit, dan Shen yang artinya "Allah/dewa".

    Dalam tulisan-tulisan itu ternyata bahwa leluhur orang Tionghoa percaya Allah atau Shangdi/Tian/Shen itu menciptakan/menjadikan manusia dari "tanah", memasukkan "napas" dengan menghembuskan pake mulutnya dan manusia yang asalnya dari tanah itu langsung bisa berjalan.
    Ada 180 dari sekitar 142 huruf-huruf atau kata-kata dasar Tionghoa, yang menceritakan kisah yang sama seperti yang terdapat didalam Alkitab Kejadian pasal 1 sampai dengan pasal 11, yang juga banyak persamaannya dengan kepercayaan umat Islam.

    Menurut penganut agama Taoisme, maka yang dimaksudkan dengan kata "Tao" atau Pinyinnya sekarang "Dao" adalah "Jalan/Ajaran/Kebenaran", jadi bukan suatu oknum atau Allah. Tentu saja masing-masing orang mempunyai kebebasan untuk menafsirkan arti kata "Dao/Tao" itu. Tapi sangat mengesankan bahwa Laozi(LaoTzu) sendiri dalam tulisannya mengatakan bahwa "Dao/Tao" itu adalah satu dalam tiga, dan ketiganya itu menjadi sumber dari segala sesuatu. Saya telah banyak membuat penyelidikan dalam soal ini, dan melihat bahwa pengertian akan soal ini sebenarnya bisa menjadi jembatan yang mempersatukan ketiga agama Monoteistik: Yahudi, Kristen dan Islam, serta agama Taoisme dan Kong Hu Tsu dalam suatu dialog yang saling memberikan pengertian dan penghormatan kepada satu sama lain, dan menunjukkan betapa leluhurnya agama asal dari nenek moyang kita itu.

    Bagi yang tertarik mendiskusikannya silahkan hubungi saya pada email address saya yang dibawah.
    victoryglobalvision@gmail.com atau editorpowerhouse@gmail.com

    Salam hormat demi pengertian dan persatuan damai abadi.

    Sammy Lie Wie Liong (Sammy Wiriadinata)

    ReplyDelete
  5. hmmm,. dari yang aku baca, kata cina itu melukai orang cina2 yang berusia lanjut, yang pernah mengalami prahara 1965, namun generasi2 sesudah tahun 65 sama sekali tidak keberatan dan berpikiran buruk jika menyebut diri sebagai keturunan cina. jadi, penyebutan cina disini hanya dibatasi oleh generasi2 tua,

    ReplyDelete
  6. sebaiknya tionghoa aja. orang muda pun baca buku2 dan dengar cerita dari ayah-ibu, kakek-neneknya. jadi, ada latar belakang sejarah yg panjang. bukan sekadar terjemahan china jadi cina, tapi latar belakang sejarah, sosial, politik, budaya.

    "generasi2 sesudah tahun 65 sama sekali tidak keberatan dan berpikiran buruk jika menyebut diri sebagai keturunan cina."

    Ini survei dari mana? Kita tidak boleh main asumsi saja. xie2.

    ReplyDelete
  7. waduh gimana yah,,
    mungkin diperlukan kerjakeras lebih untuk mayarkat tionghoa untuk bisa berbaur dengan masyarakat lain sehingga rasa persaudaraa berkelanjutan dpat lebih baik,,jangan ngurusi bisnis saja dong...waktu smp sya punya banyak teman tionghoa tapi sebenarnya tak ada yang berbeda bertmen dengan orang tionghoa atau pribumi...mungkin history kelam kita juga sangat mempengaruhi keadaan pribumi dan tionghoa sekarang..

    ReplyDelete