11 November 2006

Cak Pardi: Ludruk Buyar, Jualan Kopi



Nama Cak Pardi, sapaan akrab SUPARDI, sudah tak asing lagi di jagat kesenian tradisional Jawa Timur. Di atas panggung, penampilan pria yang doyan humor ini sangat khas, mudah dikenali. Ia selalu kebagian lakon perempuan, peran yang memang sangat ia hayati.

"Pokoknya, wanita tua, mbok-mbok pasti saya. Orang Jawa Timur pasti tahu siapa saya," ujar Cak Pardi kepada saya di warung kopinya, Desa Suwaluh, Balongbendo, Sidoarjo.

Cak Pardi spontan menirukan gaya bicara dan gerak-gerik khas nenek-nenek genit. Belasan pemuda Balongbendo tertawa terbahak-bahak.

Sejak 1970, Cak Pardi mengaku pindah domisili dari Mojokerto, kampung halamannya, ke Desa Suwaluh (Balongbendo). Karena itu, ia sudah merasa sebagai warga 'asli' Balongbendo. Dan sejak awal 1970-an itu Cak Pardi mulai malang-melintang dari panggung ke panggung untuk unjuk kebolehan.

Main lakon serius oke, melawak apalagi. Menurut dia, dulu grup ludruk enggan menggunakan pemain wanita atau waria sehingga pemain laki-laki seperti dirinya dikondisikan untuk berperan sebagai wanita.

Lakonnya harus total, persis wanita tulen. "Seniman lama kayak kami-kami ini tahu psikologi. Jadi, gampang saja kalau harus main sebagai wanita," ujar Cak Pardi.

Kalau sudah di panggung, wanita beneran kalah," komentar Muhammad Zaky, pemuda Balongbendo, juga agen koran Grup Jawa Pos.

Cak Pardi tak hanya melawak, tapi juga piawai membuat cerita dan jadi sutradara. Cak Pardi boleh dikata menjadi motor utama beberapa grup ludruk di Sidoarjo dan Surabaya hingga 1980-an. Dialah magnet atau daya tarik utama grup ludruk.

"Di ludruk itu ada orang-orang andalan. Kalau dia nggak ada, ludruk itu ambruk meskipun masih punya 40 pemain. Gampang-gampang sulit kalau membina grup ludruk itu," ujar pendiri grup LUDRUK WARNA JAYA itu.

Faktor inilah yang antara lain membuat grup-grup ludruk di Jawa Timur gampang pecah. Begitu si primadona ditarik ke grup lain, malas main di grup lama, maka pudar pula pamor ludruk. Karena berbagai alasan, Cak Pardi pun pindah-pindah grup. Terakhir ia mendirikan WARNA JAYA ABADI, grup ludruk baru, pecahan dari WARNA JAYA.

Meski tanggapan sudah jauh berkurang, Cak Pardi tetap berusaha menghidupi grup ludruk kesayangannya. Kostum, properti, serta peralatan pentas lain relatif lengkap dibandingkan grup-grup sejenis di Sidoarjo dan Surabaya.

Lantas, kenapa seniman sekaliber Cak Pardi harus berjualan kopi? Begitulah hidup, katanya. Perkembangan zaman, stasiun televisi yang marak, selera masyarakat yang berubah, tak ayal membuat posisi seni tradisi kian terdesak. Ibarat kerakap di atas batu: hidup segan mati tak mau. Grup-grup ludruk umumnya tetap eksis, tapi jarang mangung. Bisa tampil dua kali sebulan saja sudah alhamdulillah.

"Kalau dulu, wah, hampir tiap malam main. Sampai-sampai jarang pulang ke rumah karena main terus," Cak Pardi mengenang.

Selain selera hiburan masyarakat berubah, menurut dia, manajemen ludruk kita rata-rata buruk. Belum profesional. Grup-grup baru tumbuh tanpa perhitungan, sementara pasar tidak berkembang. Akibatnya, grup-grup ludruk kehilangan pasaran.

Bagi Cak Pardi, berjualan kopi dan pisang goreng sebetulnya hanya pengisi waktu luang belaka. Sebab, sampai sekarang ia masih tetap ditanggap untuk melawak di berbagai hajatan. "Cak Kartolo (di Surabaya) masih tetap ngajak saya," katanya.

2 comments:

  1. Masya Allah,, cak Pardi..
    baru nemu nee, ada temen yg share di facebook,
    beliau sudah meninggal,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya gan, udah meninggal udah lama, saya tetangganya, udah lama meninggal, padahal legend bgt, saya aja ke jombang sebut balongbendo orang sana langsung nanya kabar warna jaya dan cak pardi

      Delete