11 November 2006

Cak Kandar Melukis Lumpur



Kota Surabaya ini punya banyak manusia 'antik'. Nyeleneh. Lain dari lain. Ada Cak Kadar, ada Cak Kandar, ada buanyaaak lagi. Kali ini saya bahas CAK KANDAR, seniman serba bisa. Pria rambut gondrong ini dulunya orang teater, kemudian menekuni seni lukis. Kini, dia dikenal sebagai pelukis bulu.

Beberapa waktu lalu Cak Kandar diundang ke DPR RI untuk bicara tentang kesenian, pornografi, pornoaksi. Cak Kandar, arek Suroboyo, ini bicara blak-blakan, membela kebebasan berekspresi ala seniman. Jangan sampai RUU Antipornografi dan Pornoaksi (APP) menghambat kesenian!

Pada 10 September 2006, Cak Kandar bikin ulah di lokasi semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Ditemani 10 asistennya (juga seniman), Cak Kandar berguling-guling di atas lumpur panas.

Kanvas 5 x 2 meter disiapkan. Musik gamelan, suling, tambur, bakar kemenyan. Kandar yang hanya dibalut kain putih menari-nari, mengolah tubuhnya.... Dia ambil lumpur di kolam satu baskom. Lalu, dia lempar ke kanvas putih. Jadilah titik-titik lumpur di atas kanvas.

"Aku gak kuat Gusti Allah! Aku gak kuat Gusti Allah! Aku gak kuat Gusti Allah!" teriak Cak Kandar berkali-kali.

Mulutnya komat-kamit macam dukun baca mantra... dan melukis. Pakai tangan, zonder kuas. Maka, jadilah lukisan abstrak: LUMPUR LAPINDO DI ATAS KANVAS.

Kepada saya dan teman-teman wartawan, Cak Kandar bilang aksi melukis lumpur di Porong selama 30 menit ini bukan cari sensasi. "Buat apa? Orang susah kok saya cari sensasi," kata pria yang dulu biasa mangkal di Balai Pemuda Surabaya itu.

Cak Kandar mengaku hanya mengingatkan manusia agar tidak lupa Gusti Allah. Manusia harus introspeksi. "(Bencana) ini ulah manusia sendiri, bukan ulah Gusti Allah," katanya.

Menurut dia, apa yang terjadi di Porong sejak 29 Mei 2006 merupakan kemunduran peradaban yang luar biasa. Dua puluh ribuan manusia kehilangan rumah, halaman, harta benda. Makam keluarga amblas. Nasib tak tentu. Anak-anak tidak bisa sekolah. 20-an pabrik tutup, ribuan pekerjanya kehilangan pekerjaan. Dan tak jelas kapan semburan dahsyat (126 ribu meter kubik per hari) bisa distop.

"Tugas saya, sebagai seniman, hanya mengingatkan. Urusan menutup, ya, kita serahkan ke ahlinya," kata Cak Kandar.

Di ujung Ramadan 1427 Hijriah, lukisan Cak Kandar dipamerkan di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, bersama ratusan lukisan karya pelukis lain. Karya Cak Kandar paling aneh, menyolok, tapi sulit dipahami orang kebanyakan.

Yah, saya akui, memang tidak mudah memahami manusia-manusia 'langka' Surabaya macam Cak Kandar. Seperti dia mengajak monyet di Kebun Binatang Surabaya untuk melukis bareng. Kita tunggu apa lagi kejutan Cak Kandar berikutnya.

No comments:

Post a Comment