11 November 2006

Cak Kadar: Karakter Arek Suroboyo


Cak Kadar alias Kadaruslan (kiri) bersama Hardono, pelukis Sidoarjo.

SEPAK BOLA BOLA KITA TIDAK MAJU-MAJU. PERSEBAYA BERKALI-KALI DIHUKUM, TAPI TIDAK KAPOK. KADARUSLAN ALIAS CAK KADAR, KETUA UMUM PUSURA, SEMPAT 'CURHAT' KEPADA SAYA.

"Persebaya iku isin-isini, memalukan. Kalau bisa kota lain tidak ikut-ikutan meniru Persebaya yang sudah kadung rusak," ujar Cak Kadar, blak-blakan. Sesepuh Surabaya ini mengaku pernah melontarkan kritikan pedas ini di DPRD Kota Surabaya.

Cak Kadar selama ini dikenal sebagai budayawan, penggiat kesenian, tokoh Pusura (Putra Surabaya), rutin menggelar Festival Seni Surabaya. Namun, Cak Kadar sebetulnya sangat gandrung bola. Dia fasih menyebut nama-nama pemain top Persebaya pada era 1960-an hingga akhir 1980-an.

Klub-klub lokal, pemiliknya, bintangnya, lapangan bola... masih diingat Cak Kadar. Karena itu, ia sangat kecewa melihat sistem pembinaan sepak bola sekarang. Puncak kekecewaan itu terjadi saat Persebaya walk-out (WO) ketika hendak melawan Persija di Jakarta. Kemudian bonek bikin rusuh di Gelora Tambaksari usai tim kesayangannya kalah dari Arema Malang, awal September silam.

Menurut dia, dalam sejarah tidak pernah ada arek Suroboyo yang ciut nyalinya, apalagi cuma di bal-balan. "Itu bukan watak arek Suroboyo. Pemimpinnya yang ngawur, makanya perlu diganti semua," tegasnya.

Cak Kadar menyebut beberapa karakter arek Suroboyo: BERANI, SOLIDARITAS TINGGI, KERAKYATAN, TIDAK FEODAL, TAK MENGENAL MENYERAH. Ketika Bung Karno masih ragu-ragu, karena logistik dan persenjataan kita lemah, arek Surabaya justru bertindak sendiri dengan melawan penjajah. Geger! Perang habis-habisan pun terjadi, yang kemudian dikenal dengan PERISTIWA 10 NOVEMBER 1945.

Siapa pahlawannya? "Semuanya. Nggak ada pahlawan 10 November karena semua angkat senjata bersama-sama," ujar Cak Kadar.

Kegigihan arek-arek Suroboyo ini kemudian diakui sebagai peristiwa heroik yang sulit dicari tandingannya. Watak inilah yang tidak terlihat dalam kebijakan Persebaya 'colong playu' di Divisi Utama, Liga Indonesia.

"Lha, kok takut sama Forum Betawi? Berapa sih orang Betawi itu. Diancam begitu saja kok takut. Ini bukan watak orang Surabaya," tegas dedengkot Pusura itu.

Kembali ke bal-balan. Menurut Cak Kadar, sepak bola kita mulai rusak ketika Acub Zainal, pengurus PSSI tahun 1980-an, membuka keran impor pemain asing. Alasannya agar sepak bola kita profesional, kayak di luar negeri. Ini yang ditolak Cak Kadar.

"Nggak bisa. Di sini belum bisa seperti itu," ujarnya. Ia masih menganggap sistem bond kota alias perserikatan lebih relevan dengan karakter masyarakat Indonesia.

Nah, gara-gara pakai pemain impor, sistem pembinaan di klub-klub praktis mati suri. Sulit muncul pemain-pemain baru karena manajemen Persebaya (dan klub lain) lebih suka membeli pemain asing, yang jumlahnya lima orang. Jika tidak puas, pemain-pemain ini minggat ke klub lain. Dan seterusnya.

"Mau jadi apa pembinaan sepak bola kita kalau kondisinya seperti ini?"

Cak Kadar sendiri sudah emoh menonton Persebaya bermain, padahal dulu ia pendukung fanatik Persebaya. Kenapa? "Yang main itu kan pemain-pemain asing. Mereka orang-orang bayaran." Dipaksa seperti apa pun, Cak Kadar enggan menonton atraksi Persebaya di lapangan.

Nah, Cak Kadar meminta agar aspek pembinaan ini lebih diutamakan. Orientasi jangka pendek sebaiknya dihilangkan karena sangat merugikan sepak bola. Berdasar pengalaman, membina pemain itu memang butuh kesabaran karena hasilnya baru bisa dinikmati 10-15 tahun ke depan. Katakanlah, kita membina pemain berusia 13 tahun.

Biasanya, usia 19 tahun baru kelihatan berbakat atau sedang-sedang saja. Usia 23 tahun baru 'jadi', muncul ke permukaan. Dengan sistem seperti sekarang, lanjut dia, uang rakyat (APBD) akan cepat sekali terkuras habis untuk urusan yang tak jelas gunanya.

Contoh, Persebaya. Hanya dalam tempo lima bulan uang Rp 15 miliar habis, hasilnya isin-isini. "Uang segitu kalau dibuat lapangan bola sudah berapa? Dibuat gedung kesenian paling tidak dapat tiga. Galeri elek-elekan bisa dapat 7 atau 10," keluh Cak Kadar.

Bagi Cak Kadar, olah raga merupakan kebutuhan pokok manusia. Manusia yang baik itu, kata Cak Kadar, harus memerhatikan OLAH PIKIR, OLAH RASA, OLAH RAGA. Yang jelas, kritikan Cak Kadar jarang didengarkan pengurus bola, yang juga pejabat-pejabat daerah.

3 comments:

  1. salam utk pak kadar ya. beliau konsisten di kesenian dan budaya arek2 suroboyo.

    ReplyDelete
  2. kalau boleh saya minta alamat pak kadar, buwat narasumber saya. saya butuh narasumber untuk skripsi,, :D
    trimakasih

    ReplyDelete
  3. Wuaduh Ning, Cak Kadar sudah meninggal dunia 12 April 2011 lalu. Maaf, saya lupa mencantumkan keterangan itu di naskah ini. Salam sukses!

    ReplyDelete