20 November 2006

Bunker Kejawen di Jolotundo



Saya baru saja jalan-jalan ke Jolotundo, cagar budaya terkenal di Trawas, Mojokerto. Ini candi sekaligus petirtaan suci peninggalan Prabu Airlangga. Tak jauh dari situ, sekitar 100 meter, ada petilasan Narotama. Lain dengan Jolotundo, Narotama dibikin oleh beberapa penggiat kejawen. Sukoyo alias Mbah Koyo salah satu sponsornya.

Istirahat di Narotama cukup nyaman. Udara segar, lihat petani desa, makan nasi kulup masakan Ny Sukardjono alias Bu Jono. Ibu ini setiap hari menerima tetamu, tak diundang, yang ingin olah spiritual di Narotama. Juga pemburu nomor togel, sejenis judi gelap khas wong cilik.

"Bu Jono ini ngelaku. Dia jualan tidak untuk cari duit, tapi olah sprititual," jelas Harryadjie Bambang Subagyo, pelukis Sidoarjo. Pak Bambang ini 'pelanggan' tetap Narotama.

Sekitar 10 meter dari cungkup makam, yang biasanya didatangi penganut Hindu dan kejawen, ada bunker. Tutupnya dari semen. "Bunker ini untuk menjaga keseimbangan alam di Jawa Timur," kata Erwin alias Mbah Grandong, aktivis Javanologi, kepada saya.

"Kami yang buat, karena kami cinta alam, cinta budaya, cinta kehidupan."

'Kami' yang dimaksud Erwin Grandong tentu Javanologi, organisasi para penggiat kejawen yang berpusat di Surabaya.

Isi bunker, kata Erwin, bukanlah bom, bahan peledak, pelet, atau harta karun, melainkan benda-benda ritual macam belerang, garam, air aki, tembaga. Erwin berkata, tidak boleh sembarangan orang menggali atau merusak dengan alasan apa pun. Harus ada izin Javanologi.

"Silakan tanggung sendiri risikonya. Sebab, misi kami itu menjaga keseimbangan alam, menetralisir udara di Pulau Jawa," jelas pria brewok ini.

Erwin selalu wanti-wanti karena bunker sejenis, juga milik Erwin dkk di Bojonegoro, pernah dicurigai sebagai tempat persembunyian bahan-bahan bom milik kaki tangan Dr Azahari (tewas) dan Noordin M Top. Dua nama ini orang Malaysia, gembong teroris Asia tenggara.

Erwin bilang ke saya, kalau bunker ini dibuat setelah Mpu Modo alias Sumaji, tokoh Javanologi, mendapat wangsit dari atas. Buatlah bunker, isinya ini, ini, ini.... "Anda kok percaya dengan hal-hal irasional begini?" tanya saya.

"Apanya yang irasional? Saya tegaskan, ada rasional dan irasionalnya. Kami kombinasikan demi menjaga keseimbangan alam. Anda kan tahu sendiri suhu di Jawa Timur makin panas. Dulu di sini (Trawas) dingin sekali. Sekarang gak adem blas. Ini karena keseimbangan alam terganggu. Ngerti?" tegas Erwin rada marah.

"Setelah ada bunker suhu kok masih sama?"

"Eh, Hurek, saya ingatkan, bunker yang diperlukan di Jawa itu tujuh. Sekarang baru dua: satu di Jolotundo ini, satu lagi di Bojonegoro," katanya.

"Kapan buat lima bunker lagi?"

"Kami masih usahakan. Bikin bunker itu nggak murah lho. Kalau ada sponsor, pasti dilanjutkan."

Asal tahu saja, biaya bikin satu bunker Rp 10-20 juta.

"Ini sains Jawa ala leluhur. Jangan dikira orang Jawa zaman dulu nggak ngerti ilmu pengetahuan. Kita gak kalah lho. Cuma kita ini keblinger, lupa budaya sendiri. Makanya, negara nggak karuan kayak sekarang. Boleh maju, moderen, tapi ojo lali kebudayaan leluhur," pesan Mbah Grandong alias Erwin, bekas aktivis PDI Perjuangan di Sidoarjo.

8 comments:

  1. Nama yang bener Trawas, mas. Bukan Tawas. :)

    BTW aku baru denger nih kalo ada bunker di Jolotundo. Maklum dah 4 tahun ga pernah main ke sana lagi.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas koreksi sampeyan. Trawas bukan Tawas, salah ketik. Peluang salah ketik di blog memang sangat besar karena tidak ada pembaca kedua atau ketiga. Salam kenal.

    ReplyDelete
  3. salam kenal mas hurek, melihat Blognya saya tertarik seklai meinggalkan catatan yang mungkin berguna.

    baik memang di jawa, khususnya jawa timur memang masih dan harus ada ritual kejawen dalam bentuk irasonal maupun rasional, karna itu warisan leluhur, melihat cerita mbah grandong memang ada benarnya bahwasanya di jaman dan masa kita ini lebih bodoh dai pada masa lalu kejawen yang luar biasanya, contoh paling simpel, bagamana bisa orang jaman dahulu bisa membuat candi tanpa semen, atau bagaimana orang jaman dahulu bisa membuat mahakarya ukiran dari baru tanpa peralatan se-modern kita,memang benar adanya kalau harus ada 7 bunker yang harus di bangun, itupun tanpa alasan, kita mengambil arti angka 7, di kejawen 7 ( Pitu ) bisa di jabarkan dengan arti pitulungan, dalam artian dalam menyeimbangan alam jawa timur kita harus meminta pertolongan pada Yang Maha Pencipta dan Maha Segalanya untuk senantiasa melindungi badan cosmik dan mikrocosmik alam jawa timur.

    Semoga Membantu.

    ReplyDelete
  4. terima kasih atas kritik dan masukan sampeyan. salam budaya.

    ReplyDelete
  5. Salam kenal Mas, terimakasih atas info yg sangat berharga di atas.

    salam sejati
    Rahayu

    sabdalangit's web
    "jalan setapak menggapai spiritualitas sejati"

    ReplyDelete
  6. Salam kenal mas, kalau cuma 7 yo kurang adem mas. mesisan 17 gt. dijamin adem ayem. kalau menurut saya sih bukan masalah bungkernya. maslahnya pepohonan mulai habis saja. coba kalau masih banayk pohonnyaq?

    ReplyDelete
  7. Waduh mas ??? Jolotundo itu peninggalan Raja Airlangga, sebelum Majapahit

    ReplyDelete
  8. salam kenal..
    menarik sekali...
    mpu nya mana?

    ReplyDelete