30 November 2006

Basuki Hadimuljono Ketua Timnas Lumpur Sidoarjo



Nama Dr. Ir. BASUKI HADIMULJONO MSi (52) belakangan mencuat di balik bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo. Maklum, dia dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin tim nasional penanggulangan lumpur. Siapakah Basuki itu?

ORANGNYA sederhana, tidak suka protokoler. Dia lebih suka di lapangan daripada berada di balik meja. Pria berkumis lebat itu merasa seperti pulang kampung saat diperintahkan Presiden SBY ke Sidoarjo sejak 8 September lalu. Orang tuanya asli Surabaya, tinggal di Jalan Jimerto 40 Surabaya.

Ketua Balitbang Departemen Pekerjaan Umum itu mengaku tidak menduga kalau dirinya dipercaya memimpin tim nasional penanggulangan lumpur Lapindo, yang berjumlah delapan orang. "Saya juga tidak tahu mengapa justru saya yang dipilih," tuturnya.

Lahir di Solo pada 5 November 1954, Basuki sering berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Ini karena ayahnya anggota TNI AD. Meski lahir di Solo, SD dan SMP justru diselesaikan di Palembang. Ayahnya selama enam tahun bertugas di sana, 1963-1968. Belum sempat tamat SMP di Palembang, ayahnya keburu pindah ke Irian Jaya (sekarang Papua, red). Basuki pun terpaksa harus ganti sekolah lagi, menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya.

"Ayah saya empat tahun di Irian Jaya, dan saya pun sekolah di sana," cerita ayah tiga anak itu di Graha Pena –Jawa Pos, Surabaya. Lucunya, SMA belum sempat tamat, ayahnya pindah lagi ke Surabaya.

Di Surabaya ia bisa menikmati sekolah unggulan, SMA Negeri 5. Basuki di SMAN 5 itulah kualitas intelektualnya terbentuk, sehingga dia berhasil diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus elite di Jogja. Ketika pindah ke SMAN 5, Basuki bersahabat dengan WIN HENDRARSO, yang sekarang menjabat bupati Sidoarjo.

"Saya satu kelas dengan Win," kenangnya.

Tidak hanya itu. Kedua sahabat ini sama-sama kuliah di UGM, hanya beda fakultas. Nah, sekarang Basuki menjadi ketua timnas, Win jadi anggota timnas. Tali persahabatan masa lalu ini pun tersambung lagi di lokasi lumpur panas Lapindo.

"Saya dengan Win saling bertukar pengalaman dan pengetahuan. Programnya pun bisa sejalan karena misi kami sama, yaitu membantu masyarakat untuk menanggulangi luapan lumpur," ujar Basuki.

Lulus dari UGM pada 1979, Basuki bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Instansi itu pula yang memberikan bea siswa ke luar negeri. Basuki mengambil S2 dan S3 bidang pengairan. "

Spesialisasi pendidikan saya memang bidang pengairan," tutur Basuki.

Karena itu, tidak salah kalau Presiden SBY memercayakan Basuki menjadi ketua timnas yang setiap hari memantau perkembangan penanganan lumpur Lapindo. Menurut Basuki, luas tanggul yang ditanganinya di Porong itu delapan kilometer. Tapi, bila dihitung dengan tanggul-tanggul yang ada di dalam, seluruhnya mencapai 18 kilometer. Tanggul itu harus ditangani setiap hari agar tidak jebol.

Sejak menjadi ketua timnas, Basuki jarang pulang ke Jakarta. "Bagaimana lagi? Tanggung jawab saya di Porong ini sangat besar," katanya.

Berdasar laporan H.M. Nasaruddin Ismail

No comments:

Post a Comment