18 November 2006

Album perdana Maria Eva


DITULIS MENJELANG RILIS ALBUM PERDANA MARIA EVA DI HOTEL BOROBUDUR, JAKARTA. NASKAH INI DIMUAT DI RADAR SURABAYA, OKTOBER 2005.

Satu lagi artis baru lahir dari Bumi Jenggolo. Dia diperkirakan bakal eksis di belantika musik melayu (dangdut) tanah air. Nama bekennya MARIA EVA, beralamat di Jalan Kombes M Duryat 15 Sidoarjo.

Berbeda dengan artis-artis dangdut, yang dalam beberapa waktu terakhir mengandalkan
kehebohan goyang, MARIA EVA MENCOBA mengandalkan vokal dan kualitas lagu. Dia beruntung karena 10 lagu di album PELANGI SENJA ini diciptakan secara khusus oleh ABDUL MALIK BUZAID (lebih populer dengan A MALIK BZ, penulis lagu dan tokoh musik melayu kawakan di Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo, yang kondang dengan lagu KEAGUNGAN TUHAN).

"Saya mempercayakan 10 lagu saya untuk MARIA EVA karena anak itu mau belajar. Dia punya prospek menjadi penyanyi terkenal di Indonesia," ujar A Malik Bz tentang penyanyi bernama asli MARIA ULFAH itu.

"Namanya sengaja diubah oleh produser biar kedengaran lebih komersial hehehe...," kata Malik dalam perbicangan santai, sambil minum kopi, di rumahnya, Kureksari, Waru.

Latar belakang Maria Eva pop, bekas anak ben. Ini membuat Malik Bz, yang juga penata musik, mengarahkan putri AMIR FAIZAL dan SRI SUNDARI ini ke pop-melayu, bukan dangdut murni. Melayu dengan sentuhan pop, bahkan sedikit jazz. Di bagian selingan (interlude), misalnya, Malik sengaja menampilkan solo saksofon. Layaknya smooth jazz yang segar.

"Terus terang saja, aransemen dan lagu-lagunya dibuat sedemikian rupa agar intelek, pantas diputar di hotel berbintang dan tempat-tempat elite. Kita harus mengangkat musik melayu agar jangan dianggap sebagai musiknya kelas bawah," tegas Malik, pria berdarah Arab ini.

Selain lagu jagoan, PELANGI SENJA, Maria Eva membawakan lagu PANTUN RINDU, BIAS BESTARI, SANGKAR EMAS, AKU TAK RELA, KARTU MATI, TRAGEDI CINTA, HUJAN AIR MATA, KAU BUAT DOSA, ADA GULA ADA SEMUT.

Semua komposisi khas Malik Bz yang cukup ketat memegang pakem-pakem musik melayu baik dalam melodi dan syair. Kata-kata ungkapan cinta dibungkus dalam pantun atau kata-kata bersirat nan indah. Tidak main 'tembak langsung' ala Jamrud, Sheila on 7, atau Slank.

"Kita, orang Indonesia, itu punya budaya yang luhur, termasuk tradisi musik dan syair. Ini yang saya lihat mulai hilang dalam beberapa tahun terakhir," ujar Malik yang menggembeleng sendiri Maria Eva di rumahnya, kawasan Kureksari.

Bekas pentolan Orkes Melayu Sinar Kemala (eksis di Tanah Air pada 1960-an hingga menjelang 1980-an, red) ini menyebutkan, sampai sekarang sulit mencari vokalis yang mampu membawakan lagu-lagu melayu dengan sempurna. Maklum, faktor kesulitan lagu melayu sangat tinggi karena cengkoknya berbeda dengan pop/dangdut mutakhir.

Menurut Malik Bz, hanya SITI NURHALIZA, penyanyi asal Negeri Pahang, Malaysia, yang sempurna membawakan lagu-lagu bercengkok melayu.

"Dangdut sekarang itu sudah bukan lagu Melayu, tapi lagu India dengan lirik Indonesia. Mereka kalau bawakan lagu-lagu melayu pasti nggak ada yang pas," kritik Malik Bz.

BAGAIMANA dengan MARIA EVA? Untuk mencapai kematangan di lagu bernuansa Melayu, kata Malik, GADIS Sidoarjo ini (waktu itu saya dan teman-teman wartawan mengira Maria Eva masih nona alias single, red) perlu banyak jam terbang. Banyak latihan lagi. Namun, Maria Eva sudah bisa menginterpretasikan lagu-lagu Malik Bz dengan lumayan baik.

"Orang itu kan tidak ada yang sempurna. Maria Eva ini harus latihan selama satu tahun sebelum masuk studio rekaman," tegas penerima sejumlah penghargaan dari pemerintah pusat dan Gubernur Jawa Timur itu.

Sebelumnya, sudah ada beberapa penyanyi asal Sidoarjo yang melejit di belantika musik nasional akhir-akhir ini. Di antaranya, UUT PERMATASARI (Kecamatan Krian) dan Putri Vinata (Taman). Kedua penyanyi itu melejit menyusul fenomena goyang ngebor INUL DARATISTA (Kecamatan Gempol, Pasuruan) yang sempat bikin heboh.

Nah, di mata Malik Bz era goyang Inul dan goyang 'aneh-aneh' lain niscaya akan surut di Indonesia. Orang bosan. Ibarat makanan, pelan tapi pasti, orang akan mencari menu lain untuk memuaskan selera.

"Saya sudah puluhan tahun di musik. Siklusnya naik-turun, kadang di atas kadang di bawah. Yang penting, kita harus konsisten jadi seniman beneran, bukan seniman karbitan," kata pria kelahiran 31 Desember 1948 ini.

Karena itulah, Malik Bz memberanikan diri melempar lagu-lagu melayu-dangdut ke pasar musik Indonesia lewat suara MARIA EVA. Bagaimana prospek MARIA EVA di belantika musik nasional?

Kita lihat saja. Di usianya yang tak lagi 'muda', persaingan ketat, seabrek artis baru... jelas tantangan untuk artis asal Sidoarjo ini tidak ringan. Saya memberi nilai C [lumayan] untuk album debut Maria Eva ini.

No comments:

Post a Comment