20 October 2006

Thalib Prasodjo Gurunya Pelukis



M. THALIB PRASODJO yang akrab disapa Eyang Thalib bukan pelukis sembarangan. Pria yang tinggal di Taman Erlangga V/16 Sidoarjo ini pada 2005 lalu menerima penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.

"Alhamdulillah, Pak Gubernur masih memperhatikan seniman kayak saya," ujarnya kepada saya.

Lahir di Surabaya, 17 Juni 1931, Thalib memang seniman sejati. Darah seni mengalir deras dalam tubuhnya, sehingga Thalib menekuni kesenian sejak usia dini. Ketika remaja seusianya masih banyak yang bersantai, belum kerja, Thalib sudah mantap di seni rupa. Mulai dari membuat patung, relief, taman, sketsa, dan lukisan di atas kanvas.

Tak heran, ketika menjadi mahasiswa Akademi Seni Rupa, Thalib dipercaya sebagai asisten dosen. "Saya disuruh mengajar teman-teman, sesama mahasiswa," kenang Thalib di rumahnya yang asri itu.

Pengalaman menjadi asisten dosen ini kemudian membentuk jiwanya sebagai guru. Pendidik. Sampai sekarang, selain terus berkarya, Thalib mengajar di berbagai lembaga pendidikan baik formal dan nonformal. Di Sidoarjo, misalnya, Thalib dengan senang hati membagikan ilmu dasar-dasar seni rupa kepada remaja.

Saya pernah ikut kelas melukis Eyang Thalib. Sistem mengajarnya sangat sistematis, padat teori. Pendidikan macam ini kayaknya hanya bisa diperoleh di lembaga pendidikan formal.

Pengetahuan tentang warna, komposisi, anatomi, dan sebagainya diberikan secara cuma-cuma. Asalkan mau belajar, tekun, mau maju, Thalib sangat senang. "Tapi, kalau tidak ada kelanjutannya, ya, sudah. Semua itu tergantung pada mereka yang mau belajar seni," ujarnya.

Kenapa Thalib begitu serius menanamkan teori dasar seni rupa kepada anak-anak muda? Menurut dia, pengetahuan tentang teori dasar seni rupa itu merupakan fondasi bagi para seniman. Jika dasarnya tidak kuat, maka goresan sang seniman sulit dipertanggungjawabkan secara artistik. Pelukis boleh saja melakukan distorsi, deformasi, dan sebagainya, tapi sebelumnya ia harus kuasai dulu anatomi.

DI Jawa Timur, selain M. Thalib Prasodjo, hanya ada satu seniman lagi yang menekuni sketsa: Lim Keng. "Yang lain kayaknya nggak berani terjun di skesta. Padahal, kalau mau ditekuni, skesta itu sangat kuat, menembus sampai ke dalam," tutur Thalib seraya menepuk dadanya.

Pria yang lahir di Surabaya, 17 Juni 1931, ini mengaku menekuni skesta sejak remaja. Kebetulan ia dekat dengan seni tradisi Jawa, khususnya wayang kulit. Nah, bagi Thalib Prasodjo, wayang-wayang itu macam skesta saja. Akhirnya, Thalib kecil belajar menggambar wayang, modal dasar yang bakal melambungkan namanya sebagai salah satu 'raja skesta' Indonesia.

Apa kekuatan sketsa? Thalib membuka tas yang berisi karya-karya sketsanya. Thalib berkarya setiap hari--bisa lima hingga enam sketsa--sehingga jumlahnya karyanya sangat banyak. "Anda perhatikan baik-baik sketsa ini," ujar Thalib seraya memperlihatkan sketsa seorang wanita yang berdiri di dekat pilar ruangan.

"Apanya yang menarik?" Thalib bertanya. Saya diam saja.

Lalu, Thalib menjawab sendiri. "Sketsa itu kekuatannya di garis. Kunci dari sketsa itu garis. Wajah orang itu kan ada garisnya, leher ada garis, dan seterusnya."

Beda dengan melukis di kanvas, sketsa hanya perlu kertas, pensil, pulpen, bolpoin. Membuat sketsa pun sangat cepat, tak sampai 10 menit. Dalam demo di Sidoarjo, Thalib hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk sebuah sketsa yang selesai.

"Prinsipnya sederhana saja. Sketsa itu bahan dasarnya garis. Bagaimana kita memainkan garis sehingga objek lukisan kita menjadi hidup," jelasnya.

Prinsipnya sederhana, garis (line), tapi dalam praktik hanya sedikit seniman yang menekuni sketsa. Kenapa? "Karena sulit. Membuat sketsa itu harus sekali jadi, nggak pakai koreksi-koreksian. Lain dengan pakai cat (di kanvas), bisa dikoreksi dengan mudah."

Untuk urusan sketsa, Thalib sangat produktif. Kapan saja ia buat sketsa, apalagi ketemu objek-objek bagus. Acara nyadran nelayan di Sidoarjo, anak-anak mandi di Bambu Runcing (Surabaya), hiruk-pikuk di pasar ikan... langsung 'dipindahkan' Thalib ke atas kertas. Jadilah sketsa yang hidup.

Bupati Sidoarjo Win Hendrarso mengoleksi sketsa anak-anak kecil mandi di Bambu Runcing. "Saya pribadi juga senang dengan sketsa itu. Sangat kebetulan saya ketemu dengan objek yang sangat menarik," kenang Thalib.

Jangan heran, ke mana-mana Thalib membawa tas besar berisi kertas dan pulpen untuk membuat sketsa. Ibarat fotografer yang selalu membawa kamera, film, atau peralatan digital untuk merekam objek bagus.

Di samping sketsa, Thalib piawai dalam seni patung. Pada 2005 lalu, dia bikin patung pahlawan (tak kenal) di kompleks Tugu Pahlawan, Surabaya. Berbeda dengan sketsa atau lukisan, patung seperti ini biasanya dipesan oleh pribadi atau instansi. "Sebab, patung harus ditempatkan di lokasi tertentu, dan itu berkaitan dengan tata ruang dan kebijakan pemerintah."

Khusus seni patung, Thalib menilai kita (Indonesia) masih kalah jauh dari luar negeri. Di sana kerja sama antara pemda dan seniman (patung) sangat baik sehingga penempatan patung itu pas, rakyat bisa menikmati. Buat apa patung kalau letaknya tersembunyi? Thalib menunjuk patung karapan sapi di Keputran, Surabaya. Patung itu tidak terlihat.

"Saya sudah bilang bahwa penempatannya kurang pas," kata Thalib. Tapi, rupanya, Gubernur Jatim Soelarso (waktu itu) bergeming. Di luar negeri, kata dia, ada lahan kosong yang cukup luas agar patung-patung bisa dinikmati oleh warga dari berbagai posisi.

1 comment:

  1. Mas lambertus, apakah boleh minta kontak Eyang Thalib atau alamatnya?
    Saya ingin menghubungi beliau sehubungan dengan komunitas yang kami bangun; Indonesia's Sketchers (http://www.facebook.com/group.php?gid=240007800116 atau www.indonesiasketcher.blogspot.com).
    Terima kasih banyak Mas..

    Salam,
    Atit

    ReplyDelete