14 October 2006

Sulitnya Gelar Jazz di Surabaya



[Naskah ini dimuat juga di wartajazz.com. Situs yang dikelola kawan-kawan saya penggemar jazz sejati. Mereka mendedikasikan karya mereka untuk perkembangan jazz di tanah air.]

Oleh Lambertus L. Hurek

BERBEDA dengan tahun 1980-an atau 1990-an awal, menyajikan musik jazz di Kota Surabaya saat ini tidak gampang. Lebih tepatnya, gampang-gampang sulit. Nasib jazz di Kota Buaya alias Kota Pahlawan ini sama apesnya dengan musik klasik.

Menggelar orkes simfoni atau musik klasik pun tidak gampang. "Nafas harus panjang karena cari sponsor sulit. Hasil penjualan tiket nggak bisa nutup biaya produksi. Nggak ada apa-apanya," begitu keluhan Solomon Tong, pendiri dan konduktor Surabaya Symphony Orchestra (SSO), satu-satunya orkes simfoni di Surabaya.

Yang jelas, nasib musik klasik masih jauh lebih baik ketimbang musik jazz. Sesulit-sulitnya SSO, orkes simfoni ini tetap menggelar konser rutin di Hotel JW Marriott Surabaya minimal tiga kali setahun. Orkes mini SSO malah bisa tampil setiap minggu (bahkan tiga kali sepekan) dalam acara terbatas macam wedding, ulang tahun, atau launching.

Gelar piano klasik boleh dikata sudah menjadi peristiwa rutin di Surabaya. Tapi konser musik jazz?

Aha, ini yang susah di kota terbesar nomor dua di Indonesia itu. Festival tidak ada, agenda tidak jelas, grup jazz tidak jelas juga, kafe khusus jazz bangkrut, dan seterusnya. Masih untung kalau sekali-sekali Surabaya disinggahi musisi jazz asing, yang biasanya dibawa perwakilan asing di Indonesia.

Misalnya, Peter de Graaf atau grup yang 'ditanggap' Konjen USA di Surabaya. (Sebagai catatan, grup versi perwakilan asing ini biasanya tampil di beberapa kota, dan Surabaya kerap kali dilangkahi.)

Pada tahun 2003, koran RADAR Surabaya bekerja sama dengan UPDT Balai Pemuda berusaha membangkitkan atmosfer jazz di Surabaya. Ketimbang dipakai terus untuk pameran kerajinan dan furniture, mendingan gedung Balai Pemuda (zaman Belanda dikenal sebagai Simpangsche Societeit) dipakai untuk pergelaran musik secara rutin.

Pengelola UPDT Balai Pemuda oke. Lalu, dimulailah acara jazz di situ setelah puluhan tahun tak ada afiktivitas kesenian.

Momentum ini ditandai dengan tampilnya Bubi Chen, didampingi grup Virtuoso, yang antara lain diperkuat beberapa anak kandung Om Bubi. Grand piano yang mangkrak sempat dimainkan Om Buby, waktu itu membawakan lagu 'Surabaya, Oh Surabaya, Oh Surabaya…" yang terkenal itu.

Ternyata, piano ini kelewat uzur sehingga suaranya kurang bagus. Om Buby pun terpaksa hanya main satu lagu itu saja. Selanjutnya bermain piano elektrik bersama Virtuoso. Kendati banyak kekurangan, banyak warga Surabaya yang menganggap tampilnya Bubi Chen dan kawan-kawan sebagai isyarat positif bagi bangkitnya atmosfer jazz di Kota Surabaya.

Setelah Bubi Chen, beberapa bulan kemudian giliran Ireng Maulana dan Margie Siegers diundang tampil di Balai Pemuda. Sambutan 'komunitas Balai Pemuda' (kerennya, Simpangsche Societeit Jazz Community) cukup baik, apalagi waktu itu Ireng Maulana sempat memainkan lagu 'Cucakrowo' yang ngeres dan heboh itu. Penonton membeludak, panitia puas.

Berikutnya, giliran Mas Nono alias Mus Mudjiono yang memang arek Suroboyo. Mas Nono diharapkan mengusung nuansa jazz kepada member komunitas Balai Pemuda yang masing-masing 'membeli' undangan seharga Rp 100 ribu itu.

Eh, ternyata mayoritas penonton (ini kesan saya pribadi) tidak tahan dengan nomor-nomor berat ala George Benson, artis idola dan rujukan Mas Nono. "Minta Tanda-Tanda, Tanda-Tanda….," begitu teriak penonton. Tanda-Tanda merupakan judul lagu pop yang melambungkan nama Mus Mujiono pada 1990-an. Penonton juga menginginkan lagu 'Arti Kehidupan', tidak bisa masuk dalam nuansa jazz 'agak berat' yang sudah dikondisikan Mas Nono.

Apa boleh buat, Mus Mudjiono pun menuruti permintaan penonton yang sebagian besar teman-teman akrabnya di Surabaya dulu.

Dalam evaluasi dan ngomong-ngomong dengan para member (umumnya pengusaha, pejabat, anggota dewan, dosen, aktivis LSM) terungkap bahwa mayoritas menginginkan konser penyanyi atau band legenda. Semacam Tembang Kenangan-lah! Mereka ingin bernostalgia, mengenang pengalaman masa muda dulu. Permintaan ini pun diluluskan.

Maka, di gedung utama Balai Pemuda yang awalnya dirancang sebagai ajang komunitas jazz itu pun berbelok menjadi arena 'tembang kenangan'. Beberapa band lawas pernah 'ditanggap' di Balai Pemuda seperti Panber's, Koes Plus, hingga Ebiet G Ade. Musik jazz-nya kapan maneh? Gak jelas. "Pokoke opo jarene member ae. Kalo tampilno jazz iku rada-rada angel nang Surabaya," ujar seorang pengelola konser rutin di Balai Pemuda.

Kalo ngono, ya, wis! Opo maneh?

No comments:

Post a Comment