09 October 2006

Soedomo Mergonoto Raja Kopi





Kejayaan Kopi Kapal Api tidak datang secara tiba-tiba. Pada 1927, ketika negeri ini masih bernama Hindia Belanda, GO SOE LOET dari Fujian, Republik Rakyat Tiongkok alias Zhongguo (baca: Chungkuo), memulai usaha dagang kopi kecil-kecilan. Ini karena ia melihat orang Indonesia ternyata doyan minum kopi.

HAP HOOTJAN merupakan merek dagang cikal bakal Kapal Api sekarang. Belakangan Go (almarhum) mengindonesikan merek, sekaligus mengenang perjalanan ke Indonesia dengan kapal api. Merek sederhana ini justru menjadi hoki bagi anaknya, SOEDOMO MERGONOTO (55 tahun), bos PT SANTOS JAYA ABADI, perusahaan produksi Kopi Kapal Api saat ini.

“Ceritanya panjang,” ujar Soedomo.

Soedomo merasakan benar pahitnya memasarkan bubuk pahit ini di Surabaya dan sekitarnya. Tahun 1960-an, anak kedua Goe Soe Loet harus naik sepeda pancal keliling kota untuk berjualan kopi. Berkat ketekunan dan kerja keras, Kapal Api terus berkembang meski hanya mempekerjakan 10 orang. Mesin penggoreng waktu itu sangat sederhana, harganya hanya Rp 150 ribu. Mesin giling pun hanya Rp 10 ribu.

Tapi Soedomo tak menyerah. Ketika ada peluang memasang iklan di TVRI pada tahun 1980-an, Soedomo masuk. Akhirnya, Kapal Api menjadi satu-satunya perusahaan kopi yang beriklan di televisi. Ini kiat bisnis yang jitu karena TVRI, satu-satunya channel televisi waktu itu, disaksikan penonton di seluruh Indonesia. Merek Kapal Api pun dikenal di mana-mana.

Berkat iklan di TVRI, Kapal Api berkembang pesat. Mesin produksi makin besar, bernilai ratusan juta rupiah, meski Soedomo harus mencicil tiga kali dalam tempo 18 bulan. Dan Soedomo sukses. Kini, mesin di Taman, Sidoarjo, sudah mencapai lima ton per jam. Paling besar di Indonesia.

Menurut Soedomo, saat ini PT Santos Jaya Abadi mempekerjakan sekitar 1.600 orang. Soedomo tentu saja sangat bangga dengan prestasi ini, apalagi ketika mengingat masa perjuangan sang ayah dan masa-masa ketika bersepeda onthel di jalan-jalan raya. Katanya, perjuangan masih panjang.

Setelah berpuluh tahun menjadi ‘raja kopi’, Soedomo tak berpuas diri. Merek Kapal Api terus berjalan dan membesar, Soedomo juga mengembangkan merek lain untuk melayani segmen pasar yang berbeda. Saat ini di pasar muncul Kopi ABC (segmen di bawah Kapal Api). Soedomo juga membuka kafe Excelso untuk kelas menengah-atas yang tersebar di 42 gerai seluruh Indonesia.

Soedomo ingin menunjukkan bahwa kafe alias kedai kopi lokal bisa bersaing dengan kafe asing yang mulai marak di Indonesia. Begitulah, Kopi Kapal Api pun sudah merambah pasar internasional, khususnya Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, dan Hongkong.




Setelah berkeliling ke beberapa kawasan di Tiongkok, Soedomo menemukan banyak hal menarik. Di mana-mana ada baliho besar, mirip iklan kampanye yang isinya mengingatkan masyarakat akan pentingnya investasi. Pemodal asing harus sangat dihormati, dijadikan tamu istimewa. Investor wajib diberi kemudahan, dibantu semaksimal mungkin, agar pabrik-pabrik baru segera berdiri.


Nah, baliho besar di jalan-jalan raya itu kira-kira berbunyi, “Pejabat pemda yang mempersulit investor, hukumannya pecat. Pemerintah RRT tidak main-main. Ketahuan ada pejabat yang nakal, memeras pengusaha, langsung pecat,” ujar Soedomo Mergonoto dalam sebuah seminar Kadin Sidoarjo di Hotel Utami, kawasan Bandara Juanda.

Iklan di baliho itu bukan omong kosong. Soedomo membuktikan sendiri manisnya pelayanan aparat birokrasi Tiongkok. Kepada pemda setempat, Soedomo menyampaikan rencana membuka pabrik, berikut prospek serta kontribusi untuk pengembangan ekonomi masyarakat.

Tanpa banyak basa-basi, aparat pun bertanya: Berapa luas lahan yang dibutuhkan Soedomo? Lokasi macam apa? Soedomo lantas meminta lahan sekian hektare.

“Paling gampang memang buka usaha di Tiongkok. Saya minta lahan sekian hektare, pemerintah sudah siap kasihkan. Jadi, lahan itu tidak ada masalah di Tiongkok. Luar biasa,” kata Soedomo Mergonoto.

Menurut dia, kesiapan lahan itu tak sekadar fisik belaka, tapi juga surat-surat dan urusan tetek-bengek lainnya. Ketika si pengusaha datang ke lokasi, ia tak perlu pusing menghadapi persoalan pembebasan lahan. Tidak perlu khawatir digugat atau didemo oleh warga. Tak ada pemerasan, pungli, dalam bentuk apa pun. Investor itu, bagi pemerintah Tiongkok (pusat sampai daerah), ibarat raja atau tamu yang harus dihormati.

“Jadi, kalau sekarang Saudara mau inves di RRT, dalam waktu singkat lahan itu sudah siap. Mau nanam singkong di lahan 1.000 atau 5.000 hektare, pemda bisa carikan. Apa di sini bisa?” tanya Soedomo.

Di Indonesia--kebetulan Soedomo Mergonoto sering mengalami--urusan penyediaan lahan untuk pabrik, gudang, perkebunan, dan sebagainya tak mudah. Minta lahan seribu hektare memang kadang-kadang ‘dipenuhi’ pemda, tapi urusannya sangat panjaaaaang. Bukan tak mungkin lahan itu tanah sengketa, unjuk rasa, hingga aksi pematokan atau pelemparan oleh warga.

“Bupatinya bilang ada, tapi selanjutnya ngurus dhewe. Apa nggak pusing investornya? Padahal, kita orang ini kan mau kerja. Lha, kalau diriwuki terus ya gak iso kerja,” beber Soedomo.



EKSPOR KOPI KHAS INDONESIA

PABRIK kopi milik Soedomo Mergonoto di Tiongkok dibuat mirip di Sidoarjo. Soedomo optimistis, pelan tapi pasti, selera masyarakat Tiongkok akan terbiasa dengan kopi robusta produksi Indonesia. Ujung-ujungnya, produksi kopi kita dengan mudah diekspor ke Tiongkok.


Saat membuka pabrik di Tiongkok, Soedomo bertemu dengan sekian banyak pengusaha bule serta pengusaha Asia lain. Mereka pun berbincang soal investasi, membahas situasi di Indonesia. Iseng-iseng Soedomo bertanya kepada orang bule:

“Kenapa tidak inves di Indonesia? Pemerintah kan sudah menjamin investor?”

Jawaban pengusaha-pengusaha asing itu sungguh telak. “Lha, pengusaha Asia (Jepang, Taiwan, Hongkong) saja nggak mau masuk, kok saya yang kulit putih,” kata si bule.

Soedomo tidak kaget karena memang kondisi keamanan dan kenyamanan investasi di Tanah Air memang parah. Pemerasan dari mafia di Jakarta sebesar Rp 200 juta hanya satu contoh.

“Yang penting, pemerintah berani nggak? Ada bajingan dilindungi, buat apa? Pemda juga harus tegas menindak orang-orang yang memeras pengusaha dengan dalih apa pun.”

Kini, setelah punya pabrik di Tiongkok, mobilitas Soedomo Mergonoto sangat tinggi. Kadang di Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, Tiongkok, dan entah di mana lagi.

Si Raja Kopi ini makin sulit dicari.

8 comments:

  1. cerita sukses yg penuh inspirasi.

    ReplyDelete
  2. pak domo memang luar biasa. kita harus belajar banyak dari beliau.

    ReplyDelete
  3. berkat pak domo banyak lapangan kerja di sidoarjo terisi dan yg lebih penting kita bisa menikmati kopi yang enak =) ...sukses & sehat selalu untuk pak soedomo.

    ReplyDelete
  4. kasian pekerja pabrik kopi
    gajinya dikit kerjanya kayak kuda

    ReplyDelete
  5. Santos keterlaluan....
    gajinya kecil banget, kontrak terus2 an.
    Tempatnya kayak sauna, keringet pada masuk di kopi.
    BPOM harus bertindak.

    ReplyDelete
  6. Yah, di Tiongkok kan pemerintahnya masih diktator, malah lebih otoriter daripada Indonesia di jaman Suharto dulu. Partainya pun cuma satu. Jadi kalau mau membebaskan tanah ya gampang, apalagi di sana dengan akar ideologinya yang komunis, semua bisa diklaim milik negara. Indonesia kan demokrasi, jadi kepentingan rakyat kecil ya harus diindahkan. Kalau mafia, sogok, dll. itu memang parah Indonesia. Penyakit pejabat yang tidak habis-habisnya.

    ReplyDelete
  7. bener kah itu???

    ReplyDelete
  8. Iya Apalagi HRD Nya kayak, Sok Banget.

    ReplyDelete