14 October 2006

Saya Makin Gemar Jazz


Acara jazz ringan saat ulang tahun C.TwoSix Jazz Community Surabaya.

Saya mulai doyan jazz setelah ngobrol panjang dengan almarhum Embong Rahardjo, saksofonis top saat tampil di Surabaya. Saya banyak mengoleksi album jazz rohani karya almarhum Embong: serial Puji Syukur, Christmas, hingga Praise and Worship.

Saksofon memang instrumen penting jazz. "Di kuping orang Barat, kalau jazz tak pakai saksofon atau alat tiup logam, rasanya tidak pas," kata Duncan Graham. Wartawan senior Australia ini banyak menulis tentang isu-isu budaya Indonesia-Australia.

Saya juga pernah wawancara dengan Luluk Purwanto sama suaminya, Rene, yang suka gelar jazz keliling di atas mobil terbuka. Terakhir, Rene-Luluk main di halaman kampus Universitas Airlangga pada 13 Desember 2003. Saya ingat betul karena tanggal ini bersamaan dengan wafatnya Uskup Surabaya Mgr. Johanes Hadiwikarta, Pr.

Luluk Purwanto benar-benar menyihir saya ketika tampil di halaman kampus Universitas Petra Surabaya. Waktu itu dia men-jazz-kan dua lagu populer: Layu Sebelum Berkembang dan Selayang Pandang! Orang Tionghoa Surabaya bilang, “Ciamik soro, Cik!”

Saya suka jazz. Proses hingga menyukai jazz itu cukup berliku mengingat sejak kecil saya terbiasa mendengar lagu-lagu mendayu ala Pance, Obbie Messakh, Rinto Harahap, Panber’s... di Flores Timur. Lagu-lagu manis ini sangat jauh pakemnya dari jazz. Di jazz, melodi mengalami dekonstruksi yang luar biasa lewat improvisasi pemain.

Karena itu, orang Flores umumnya menyebut pemusik jazz merusak melodi indah dari sebuah lagu. “Apa itu jazz? Lagunya jadi rusak,” begitu pendapat teman-teman saya asal NTT. Dulu, saya pun berpendapat sama.

Namun, setelah kuliah di Jember, Jawa Timur, pergaulan saya berubah. Teman-teman saya pemain band rock dan fussion. Salah satunya Bambang Wijanarko (FISIP), yang fasih main bas (jazz) serta gitar (hard rock). Tiap hari Cak Bambang ini main nomor-nomor jazz ala Karimata dan Krakatau yang sangat digandrungi teman-teman mahasiswa. Mau tak mau, saya pun terbiasa nguping musik yang mula-mula saya rasa aneh.

Lalu, saya diajak nonton Buby Chen, Ermy Kullit, Indra Lesmana, Karimata, Trapessium... singkatnya penyanyi serta pemain-pemain jazz papan atas. Proses ini terus berlanjut hingga saya pun tenggelam dalam lautan jazz.

Lalu, di perpustakaan kampus saya menemukan beberapa buku tentang jazz. Pakai not balok, saya tidak paham, tapi baca saja. dengar kaset, lihat show band-band kampus yang main jazz. Akhirnya, saya suka jazz, namun tetap suka juga musik pop yang lagi tren.

Di Surabaya, saya pun aktif menulis tentang musik jazz, konser, komunitas. Salah satunya C.Two Six Jazz Community, di mana saya tercatat sebagai anggota. Tulisan-tulisan saya tentang jazz dimuat di wartajazz.com dan tentu saja harian RADAR Surabaya.

Saya penikmat jazz, bukan jazz player. Terus terang, saya tidak mampu memainkan satu pun instrumen dengan baik, kecuali bisa nyanyi sedikit.

"Saya juga nggak bisa main apa-apa,” kata Cak Roedhy, bos C.Two Six.

Begitulah, penyuka jazz tak harus bisa main musik. Yang penting, punya apresiasi, menghargai musik, ikut merawat jazz dengan cara masing-masing.

Saya suka pemain/penyanyi jazz, blues, pop kulit hitam USA. Mereka bermain secara jujur, polos, apa adanya. Dus, suara yang keluar benar-benar ungkapan hati, tidak dibuat-buat.

Beberapa koleksi saya (jazz ringan, pop jazz): Buby Chen, Margie Siegers, Ireng Maulana, Didiek SSS, Embong Rahardjo, Karimata, Krakatau, Ermy Kullit, Syaharani, George Benson, Stevie Wonder, Dave Koz, Kenny G, Antonio Carlos Jobim, Louis Armstrong, Level 42, Salena Jones, Jimmy Hendrix... dan banyak lagi. Ada kaset yang dipinjam tak tak kembali (hilang).

Gara-gara sering menulis jazz ini, pengasuh jazz di Radio Star FM kerap menyentil nama saya di udara. “Salam untuk Mas Lambertus Hurek, semoga masih setia mendengar siaran kami,” kata Yuni Kamaya, penyiar bersuara halus itu. Hehehe... saya jadi geer! Padahal, referensi jazz saya masih jauh dari memadai.

Oh ya, saya pun menulis sedikit tentang Buby Chen, maestro jazz asal Surabaya, di wartajazz.com saat dia ulang tahun ke-58. Jazz itu jujur, polos, demokratis, terbuka untuk siapa saja.

No comments:

Post a Comment