20 October 2006

Poso Lagi... Pendeta Ditembak

Poso, Palu, Tentena, dan beberapa kawasan di Sulawesi Tengah tak putus dirundung konflik. Baku bunuh, baku tembak, teror, caci maki, baku benci. Pada 16 Oktober 2006, pukul 08.30 Wita, Pendeta IRIANTO KONGKOLI (43 tahun) ditembak dua orang tak dikenal. Dua teroris ini pakai penutup kepala.

Irianto sekretaris umum majelis sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah. Senin pagi Irianto ke toko bangunan, Sinar Sakti, bersama istrinya, Iptu RITA KUPA (40 tahun), anak bungsu, GALATEA POLIKA (5 tahun), dan seorang sopir. Tiba-tiba saja si pendeta terkapar tanpa nyawa. Dan penembaknya kabur pakai motor Honda Supra.

Kekerasan di Poso macam litani. Sebelumnya, kita ingat, tiga pelajar SMA Kristen Poso dipenggal kepalanya. Pendeta SUSIANTI TINULELE tewas ditembak waktu kasih khotbah di gereja. Jaksa FERRY SINULAHI juga tewas ditembak. Daftar kekerasan masih panjaaaaaaang.

Beberapa saat setelah kejadian, pejabat-pejabat di Jakarta melontarkan pernyataan klise. Anatomi pelaku sudah diketahui. Itu teroris, bukan kejahatan biasa. Itu ulah oknum-oknum untuk memelihara konflik horizontal. Polisi akan secepatnya menemukan pelaku. “Anatomi pelaku sudah kami ketahui. Tinggal cari saja mereka itu,” kata Jenderal Sutanto, kapolri.

Sejak dulu begitu. Hasilnya, ya, tak pernah jelas. Kalaupun tertangkap, biasanya pelaku kelas teri saja. Otak atau auctor intellectualis kerusuhan tidak pernah ketemu. Pun tak jelas akar masalah. Kenapa sih kerusuhan terus-menerus, tembak-menembak, peledakan bom... jalan terus di Poso dan sekitarnya. “Bom kok kayak petasan saja,” kata Eddy Locke, teman saya, kolumnis di Surabaya.

Untungnya apa memelihara kerusuhan di Tanah Air? Sampai sekarang tak pernah jelas. Pemerintah kita, untuk kesekian kalinya, gagal melindungi rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakilnya, Muhammad Jusuf Kalla, masih cenderung menganggap krisis Poso sebagai kasus biasa. Belum ada usaha serius untuk menciptakan perdamaian sejati.

Pada 22 September 2006 FABIANUS TIBO, MARINUS RIWU, dan DOMINGGUS DA SILVA dieksekusi mati di Palu. Tiga orang ini--kebetulan asal Nusa Tenggara Timur dan Katolik—disebut--sebut sebagai dalang kerusuhan Poso. Setelah dihabisi atas nama kepastian hukum, katanya, Poso jadi lebih damai. Tak ada lagi baku tembak, balas dendam, sakit hati...

Nyatanya? Belum genap sebulan, Poso dan beberapa daerah di Sulawesi Tengah kisruh lagi. Bom meledak macam mainan. Warga sipil diadu oleh kekuatan besar yang tak tersentuh. Kasihan!

Dulu, zaman saya sekolah dasar di kampung, Pak Guru bilang orang Indonesia ini murah senyum, cinta damai, paling ramah di dunia. Tak ada bangsa lain yang bisa menyamai keramahan orang Indonesia. Aduhai, kemunafikan yang sempurna!

Menjelang kejatuhan Soeharto, penguasa Orde Baru, tahulah kita bahwa itu semua palsu. Bangsa Indonesia, eh, ternyata tak kalah kejam dari binatang buas. Dayak-Madura baku bunuh. Baku bunuh di Ambon. Baku bunuh, baku tembak di Sulawesi Tengah. Baku bae sudah jadi barang langka.

Duh, "Aku malu jadi orang Indonesia!" katanya penyair Taufiq Ismail.

No comments:

Post a Comment