14 October 2006

Pater Anton Waget SVD di Botswana

Pater Antonius Waget SVD selama beberapa tahun bertugas di Botswana, Afrika bagian selatan. Dia cerita banyak kepada saya tentang pengalamannya di Botswana, khususnya menghadapi penderita HIV/AIDS.



BENUA Afrika disebut-sebut sebagai cikal-bakal HIV/AIDS di dunia. Sebelum tahun 1970-an, gejala-gejala semacam HIV/AIDS sudah dikenal, tapi belum begitu meluas. Baru pada 1980-an, benua hitam itu terkaget-kaget dengan ledakan penderita HIV-AIDS yang luar biasa.

Anton Waget SVD mengatakan, pada Agustus 1982 barulah istilah AIDS disebutkan. Seperti di Indonesia, awal-awalnya orang menganggap AIDS disebabkan oleh hubungan seksual antara kaum sejenis, khususnya gay dan waria. Maka, ada plesetan AIDS sebagai ‘akibat intim dengan sejenis’ atau di Afrika disebut `gay compromise syndrome`.

“Saat bertugas di Kenya dan Botswana, saya membaca beberapa tulisan bahwa penyakit ini berasal dari hubungan seksual yang menyimpang anatara manusia dan gorila,” tutur Anton Waget.

Untung saja, dalam perjalanan waktu warga Afrika semakin sadar bahwa penyebab HIV/AIDS semakin luas dan kompleks.

Kenapa Botswana (dan negara-negara Afrika) umumnya begitu mudah terkena HIV/AIDS? Dalam pengamatan pria asal Flores Timur ini, ada kebiasaan hubungan seks yang permisif di kalangan warga negara kaya Afrika itu. “Mereka itu senang berhubungan dengan orang luar, entah itu sesama Afrika, orang bule, dan sebagainya,” ujar Anton seraya tersenyum.

Orang Afrika, jelas Anton Waget, sampai sekarang masih menganut agama asli alias animisme. Dari 1,6 juta penduduk negara Botswana, hanya 30 persen yang menganut agama besar (Kristen, Islam, Ortodoks, Buddha, dll). Ini juga yang menyebabkan pandangan mereka terhadap korban HIV/AIDS khas masyarakar tradisi.

“Orang Botswana umumnya mengatakan bahwa penyakit itu berasal dari kutukan nenek moyang. AIDS itu tidak ada di Botswana, tapi di Amerika Serikat,” ujar Anton menggambarkan pandangan masyarakat Botswana.

Untung saja, saat ini pemahaman masyarakat mulai berubah. Pemerintah pun gencar melakukan kampanye untuk menyadarkan masyarakat bahwa HIV/AIDS ada di depan mata mereka. Pada tahun 2000 didirikan The National AIDS Coordinating Agency (NACA), semacam Badan Koordinasi AIDS Nasional. NACA dipimpin langsung oleh presiden.

Di mata Anton, pemerintah negara-negara Afrika sangat serius akhir-akhir ini dalam kampanye HIV/AIDS. Dibantu LSM dan tenaga medis dikampanyekan apa yang disebut CBA (Condomise, Behaviour changing dan Abstinence). Pakailah kondom, ubah perilaku seksual, atau tidak melakukan hubungan seks sama sekali.

Rupanya, strategi CBA ini gagal. Mulai tahun 2000 pemerintah Botswana mengubah strategi dari CBA menjadi ABC. Tidak kurang 175 juta Pula (mata uang Botswana) alias Rp 350 miliar dipakai untuk merawat 496 ribu lebih penderita HIV/AIDS. Bayangkan, 30 persen lebih penduduknya terkena HIV/AIDS.

Sikap agamawan di Afrika pun sama dengan di Indonesia. Mereka menolak kampanye kondom karena dianggap melegalisasi hubungan seksual di luar nikah. Mereka hanya menginginkan perubahan perilaku seksual masyarakat.

Yang jelas, banyaknya penderita HIV/AIDS di Afrika dianggap sebagai ancaman terbesar bagi masa depan umat manusia, tidak hanya di Afrika. HIV/AIDS harus menjadi musuh bersama di dunia.

No comments:

Post a Comment