17 October 2006

Pasar Seni Sidoarjo


Aktivitas musik di Pasar Seni Sidoarjo.

Pasar Seni Sidoarjo yang berlokasi di Perumahan Pondok Mutiara Sidoarjo melakukan soft opening pada 20 Desember 2005. Stan-stan sudah mulai terisi, dan aktivitas kesenian pun sudah terasa.

Meski begitu, pengelola pasar seni ini masih belum mencapai kesepakatan dengan pihak pengembang, sebagai pemilik bangunan eks ruko itu. Masa sewa pakai hanya berlangsung hingga 31 Desember 2005.

“Kami dari Tim Tujuh terus melakukan negosiasi dengan pengembang. Mudah-mudahan dalam pekan ini juga sudah ada kesepakatan, sehingga teman-teman bisa berekspresi dengan leluasa,” ujar NOENGKY PRASEDARNANTO, anggota Tim Tujuh.

Di acara soft opening, sekaligus jumpa wartawan ini, Noengky didampingi beberapa ‘pentolan’ Pasar Seni Mutiara seperti Henry Harianto (Tim Tujuh) dan Gatot Kintranggono, penyewa yang juga guru kesenian di SMPN 1 Sidoarjo. Juga hadir para seniman serta belasan pengunjung Pasar Wisata Mutiara.

Menurut Noengky, persoalan alot yang masih mengganjal adalah negosiasi antara seniman (diwakili Tim Tujuh) dengan pengembang. Intinya, pengembang ingin menjual eks ruko itu kepada para seniman Sidoarjo dengan harga yang layak. Para seniman sudah menunjukkan iktikadnya untuk ‘memiliki’ kompleks di pinggir jalan tol itu, namun terkendala harga yang kelewat tinggi.

“Tadinya pengembang minta Rp 48 juta, tapi teman-teman maunya Rp 30 juta,” beber Noengky Pasedarnanto. Giliran pengembang Pondok Mutiara yang keberatan karena angka Rp 30 juta dianggap kelewat murah. Negosiasi inilah yang masih berlangsung sampai sekarang.

“Tiap Jumat malam kami selalu bertemu di sini untuk koordinasi sekaligus membicarakan perkembangan terakhir,” cerita Noengky alias Cak Sakek.

Henry Harianto, penggagas Pasar Seni Mutiara, mengaku optimistis bahwa kompleks eks ruko yang sudah disulap menjadi Pasar Seni Mutiara ini bakal sukses. Apalagi, para seniman sudah mendapat dukungan dari Dewan Kesenian Sidoarjo.

“Kami juga butuh dukungan dari pemkab, karena pasar seni ini merupakan aset daerah Sidoarjo. Ini kan sesuai dengan cita-cita pemkab untuk menjadikan Sidoarjo sebagai kota festival,” kata Henry Harianto.

Tidak khawatir diambil kembali si pengembang?

“Oh, saya optimis. Sebab, pengembang juga mendukung pasar seni ini,” tandas Henry, bekas ketua Forum Komunikasi Pelukis Sidoarjo.


FOTO: Henry Harianto, dedengkot Pasar Seni Sidoarjo.

KEBERADAAN Pasar Seni Sidoarjo tak lepas dari sosok HENRY HARIANTO. Dia lahir di Semarang, 8 Maret 1959. Dia beberapa kali bikin galeri lukisan di sidoarjo, tapi gagal terus. Ini membuat Henry kerap menjadi bahan tertawaan sejumlah pelukis di Sidoarjo.

Maka, ketika bekas pedagang kacamata ini menggagas Pasar Seni, muncullah cemoohan itu. Tanggapan Henry? Tenang-tenang saja.

“Silakan orang bicara apa saja. Yang jelas, saya harus jalan terus karena ini bukan proyek main-main,” tegas Henry Harianto kepada saya.

Di zaman sulit macam ini, Henry mengatakan bahwa kita harus optimistis dan berpikir positif dalam memandang masa depan. Kegagalan yang lalu hendaknya menjadi pelajaran untuk berbuat lebih baik di masa depan. “Saya optimistis Pasar Seni di Sidoarjo sukses. Sebab, masih banyak kawan-kawan seniman yang mendukung saya.”

Bagi Henry, pasar seni merupakan ‘proyek’ kesenian bergengsi yang harus didukung komunitas seniman, pengusaha, birokrat, hingga media massa, di Kabupaten Sidoarjo. Maklum, pasar seni masih merupakan hal baru di Jawa Timur.

“Makanya, Anda akan rugi kalau tidak mendukung saya. Hehehe...,” ujarnya bercanda.

No comments:

Post a Comment