21 October 2006

Mus Mudjiono Dedengkot de Hand's from Surabaya


Saya beruntung bisa berbincang sangat akrab dengan Mus Mudjiono, penyanyi yang pernah saya sukai saat di SMA dulu. Cak Nono, sapaan akrabnya, kebetulan pernah ditanggap RADAR SURABAYA, koran tempat saya bekerja, untuk konser di Gedung Balai Pemuda, Surabaya. Kami bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, dalam hal ini pengelola Balai Pemuda atawa Simpangsche Societeit.

Adik kandung Mus Muljadi ini memang arek Suroboyo tulen. Dia merintis karier sebagai pemusik di Surabaya, pindah ke Jogjakarta, sebelum menemukan karakternya sebagai peniru George Benson. Suasana konser Cak Nonok selalu cair. Bicara akrab, santau, bercanda... layaknya orang jazz.

Mus Mudjiono banyak mengenang masa kecilnya di Surabaya. Dia bikin de Hand's yang sempat terkenal pada 1970-an. "Lagu pertama saya Hello Sayang. Lagu itu saya ciptakan tahun 1972," jelasnya.

Mus Mudjiono bercerita bagaimana ia frustrasi karena selalu berada di bawah bayang-bayang Mus Muljadi, kakak kandungnya. Mus Muljadi saat itu sangat hebat.

"Pop disikat, keroncong dengan Dewi Murni, langgam Jawa, dangdut dengan Hitam Manis... Saya seperti tidak diberi kesempatan apa-apa. Setiap kali saya nyanyi, orang melihat saya sebagai Mus Muljadi. Padahal, saya ingin menjadi Mus Mudjiono," ujar pria tampan ini.

Di Jogja, pada 1975-1979 Mus Mudjiono berkolaborasi dengan seniman setempat, di antaranya dr Susilo (orang Surabaya, yang sudah tinggal lama di Jogja). Mus disuruh menghayati musik unik, main gitar sambil menirukan nada-nadanya dengan mulut.

"Gitaran sambil celometan," begitu istilah Mus Mudjiono.

Ternyata, artis kulit hitam Amerika Serikat yang dirujuk Mus Mudjiono ini tak lain George Benson, gitaris jazz dan vokalis papan atas. Dan Mus mengaku bahagia karena karakter itu berbeda tajam dengan apa yang dibuat Mus Muljadi. Niat untuk tampil beda dari Mus Muljadi akhirnya kesampaian.

Sebagai `fotokopi' idolanya, Mus Mudjiono meniru George Benson dengan nyaris sempurna. Cara memetik gitar, bahasa tubuh--khususnya gelengan kepala dan gerakan mata--dan terutama teknik scat singing (main gitar sambil celometan) yang dahsyat itu. "Gitaran sambil celometan itu capek lho," ujar Mus Mudjiono.

Pada 17 Desember 2005, RADAR SURABAYA menggelar 'Konser Rindu' di Balai Pemuda. Mus Mudjiono tampil kembali bersama de Hand's, band yang dia bentuk pada awal 1970-an.

"Sudah 30 tahun ini kita tidak pernah bermain sama sekali. Baru malam inilah de Hand's bisa reuni dan tampil lagi depan masyarakat Surabaya," ujar Cak Nonok kepada saya selepas konser.

Selain Cak Nonok alias MUS MUDJIONO (gitar, vokal, music director), de Hand's diperkuat HARRY DH (keyboard), ABIDIN LESSY (bas), dan PANG PRAMONO (drum). Meski absen selama tiga dekade, mereka masih piawai memainkan hitsnya seperti Maafkan Daku, Thank You, Hallo Sayang. "Kami Cuma latihan satu kali saja langsung main," ujar Cak Nonok.

Berbeda dengan gaya musik Cak Nono pada era 1990-an, lagu-lagu de Hand's kebanyakan manis, cenderung melankolis, dalam tempo sedang (mid tempo). Band tua ini cukup kaya variasi karena selain Cak Nono, Harry DH dan Abidin bisa pula menyanyi.

Vakumnya de Hand's selama 30 tahun lebih rupanya membuat banyak warga Surabaya lebih tahu Mus Mudjiono sebagai 'duplikat' George Benson ketimbang pentolan de Hand's. Jangan heran, belum apa-apa penonton meminta Cak Nono menyanyikan Tanda-Tanda, Arti Kehidupan, Satu Jam Saja... yang nota bene bukan milik de Hand's.

7 comments:

  1. googled mus mudjiono's name and found this blog..

    I've recently become a mus mudjiono fan since watching him play at jak jazz just last week..since then i cant get it out of my head..truly a fantastic guitar player..

    nice to know a little bit of his history from this blog

    thanks and keep up the good work,

    GP

    ReplyDelete
  2. okay. thanks for visiting my blog. GOD bles you!!!

    ReplyDelete
  3. De Hands belum habis. Begitulah apresiasi publik Surabaya saat menyaksikan grup band legendaris tersebut menyemarakkan Konser Seabad Balai Pemuda (1907-2007), Sabtu (3/11/2007) malam.

    Grup ini dimotori Mus Mudjiono (gitar/vokal), Harry DH (kibor), Pang (drum), dan Abidin (bas), ini mampu menghangatkan suasana dengan menyenandungkan lagu-lagu yang hits di era 70-an. Meski rata-rata personelnya sudah cukup senior, namun mereka bisa membawa penonton larut dalam suasana nostalgia.

    Lagu-lagu De Hands, seperti Ayah Ibu, Mengapa Menangis, dan Hallo Sayang, masih cukup populer. Tak salah, ketika Mus Mudjiono mengajak penonton bernyanyi, gempita suara terdengar membahana. “Banyak kenangan manis yang tak mungkin kami lewatkan bersama De Hands. Karena itu, kami selalu rindu Surabaya,” ujar Nono, sapaan akrab Mus Mudjiono.

    Menurut Nono, De Hands memang lahir di Surabaya. Namun dalam perkembangannya, mereka vakum cukup lama lantaran kesibukan masing-masing personelnya. De Hands sendiri telah merilis 8 album, dua di antaranya album dangdut.

    ReplyDelete
  4. Cak.....Ijin posting tulisanmu ndik blogku yo...Suwun

    ReplyDelete
  5. Exciting, saya penggemar berat De Hand's sampe2 lupa makan kalo dengar lagunya De Hand's.
    Saya punya koleksi kaset De Hand's tapi jadi rusak krn kebanjiran waktu itu.
    Bisa ga yach kalo saya dapatkan beberapa buah lagu De Hand's (MP3) lebih khusu Hello Sayang.
    Kalo bisa, gimana caranya yach??? sekalian kalo rekaman waktu menyemarakkan Konser Seabad Balai Pemuda (1907-2007), Sabtu (3/11/2007) malam.

    thanks n regards,
    Rivo (email : rivocbs@gmail.com)

    ReplyDelete
  6. pls saya juga kangen tuh lagu dan lagi hunting terus, tapi sulit sekali nyari ato beli cdnya...

    ReplyDelete
  7. haaaaaaaaaaaaaaa!!! found the first album of de hand's today! download it in about an hour or two at my blog http://www.madrotter.blogspot.com/

    love your blog! lots to read! i will link it at my blog ok, i see there's lots of info about flores too and thats very good for me, i have to go there a lot next year setting up two schools/wisma's for handicapped children...

    best wishes, henk madrotter

    ReplyDelete