04 October 2006

Malik Bz: Keagungan Tuhan Ngetop Royalti Seret


Malik memperlihatkan PH asli Keagungan Tuhan yang dirilis Lokananta Records pada 1966.


Rabu, 4 Oktober 2006/11 Ramadan 1427 H

Saya main-main ke rumah Bapak A Malik Bz, pencipta lagu Keagungan Tuhan di Waru, Sidoarjo. Musim puasa ini lagu karya Abah Malik ini sangat sering diputar di televisi dan radio, dibawakan artis di berbagai show.

Nah, saya ingin tahu apakah ABDUL MALIK BUZAID kecipratan rezeki gara-gara lagunya makin kondang. "Lumayan, tahun ini royalti saya naik. Tapi Keagungan Tuhan malah turun. Hehe..," ujar A Malik Bz.

Sebelum kedatangan saya, pria kelahiran Surabaya, 31 Desember 1944 (di KTP lahir 1948... agar lebih muda, katanya) ini tidur di lantai ruang tengah rumahnya, pakai sarung thok. "Saya ketiduran karena nggak ada yang digarap," kata Malik Bz.

Malik kemudian memperlihatkan daftar royalti yang baru saja diterimanya dari Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI). KCI ini lembaga yang mulai mengurus royalti untuk para pencipta lagu di Indonesia. Untuk tahun 2005 Malik Bz hanya dapat Rp 1 juta lebih dari Keagungan Tuhan.

"Turun agak banyak. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak artis muda yang bikin album religius setiap Ramadan. Nggak apa-apa lah."

Royalti yang agak besar justru dari 'Bias Bestari', Rp 7 juta lebih. Lagu ini dipopulerkan oleh Maria Eva, penyanyi asal Sidoarjo, yang sejak awal ditangani Malik Bz. Lagu 'Pelangi Senja' (juga Maria Eva) beroleh royalti lumayan meski tak sebesar 'Bias Bestari'.

"Kayaknya Pak Malik sekeluarga biasa berhari raya dengan meriah?"

"Alhamdulillah," kata Malik disambut senyum lebar Bu Malik, istri pria yang ramah ini.



[Sampul salah satu PH (piringan hitam) Orkes Sinar Kemala, di mana Malik Mz bergabung. Malik main piano, akordeon, serta beberapa instrumen musik lain. Dia memang multiinstrumentalis.]

Royalti merupakan 'binatang' baru di Indonesia. Baru sejak 1990-an Chandra Darusman dan kawan-kawan berusaha merintis diperolehnya hak-hak bagi pencipta lagu macam Malik Bz. Berkat royalti inilah si komponis atau seniman bisa hidup sejahtera sepanjang hidupnya selama karyanya masih dipublikasikan.

Menurut Malik Bz, sejak dulu royalti kurang dihargai di tanah air. Malah istilah 'royalti' saja tak banyak yang tahu. Undang-undang hak cipta baru datang belakangan, itu pun belum dilaksanakan dengan baik. Pembajakan merajalela, jiplak lagu jadi praktik biasa, sementara aparat negara belum berbuat banyak.

"Lagu Keagungan Tuhan dirilis Lokananta Records tahun 1966. Saya hanya dapat royalti Rp 2.750," kenang Malik Bz.

Dia memperkirakan nilai uang itu, di tahun 2006, setara dengan Rp 250-300 ribu. Setelah itu Malik, sebagai pencetak hits Keagungan Tuhan, tidak dapat apa-apa lagi. Yang makan rezeki dari lagunya, ya, perusahaan rekaman dan penyanyi. Sejak dulu penyanyi top kita kaya-raya, sementara pencipta lagu hidup pas-pasan.

Syukurlah, A Malik Bz seniman sejati yang tak banyak mengeluh. Ayah delapan anak ini (hanya satu anak perempuan, namanya Molifah Malik, jago nyanyi) pandai bersyukur. Materi penting, tapi bukanlah yang terpenting dalam hidup ini. Dia bahagia karena Keagungan Tuhan, yang ditulisnya pada 1964 di Surabaya, kini telah menjadi lagu abadi.

1 comment:

  1. Bung Bertus, salut atas posting Anda tentang Abah Malik. Ini lagu sangat terkenal, sayang penciptanya kurang mendapat perhatian. Kalau belajar dari apa yang dialami Gesaing (Alm) pencipta Bengawan Solo, langkah yang dilakukan Gubenur Jateng waktu itu (Soepardjo Rustam) dengan memberi hadiah rumah sederhana di Palur, ternyata mengundang orang lain untuk melakukan hal serupa. Sampai akhirnya orang Jepang bayar royalti lagu-lagu Gesang setiap tahun. Harus ada yang memulai supaya Abah Malik dapat hak atas usaha besarnya. Kalau beliau berkenan, diposting aja alamat Abah Malik, mungkin membawa kebaikan. Salam, dari jurnalis di Semarang. AWO.

    ReplyDelete