18 October 2006

Lonte Sidoarjo di Malam Hari



Sekitar pukul 02:00 WIB, 10 nongkrong di warung pinggir jalan. Bicara ngalor-ngidul. Tiba-tiba, seorang wanita sekitar 25 tahun keluar dari hotel di kawasan Bandara Juanda.

"Becak!" ujar wanita itu. "Dia itu laris sekali. Selain cantik, mungkin saja pakai pelet hehe..," ujar Bondet, nama samaran, penjaga warkop malam.

'Laris' di sini mudah ditebak. Bunga, nama palsu juga, kerap di-booking short time di hotel mana saja sesuai dengan keinginan si pria pengguna jasa. Selain Bunga, masih ada beberapa lagi lonte yang kerap nongol di hotel-hotel bertarif di bawah Rp 200 ribu.

Tiap hari Bunga ke sini? "Oh, nggak pasti. Namanya juga jualan, ya, kadang sepi kadang laku. Hotel itu kan banyak, bisa di Surabaya atau tempat lain," kata Bondet.

Sekitar 30 menit kemudian, seorang wanita di atas 20 tahun, tapi lebih muda ketimbang Bunga, lewat di jalan raya. Bergegas, wajahnya pucat. "Dia habis kerja. Kelihatannya kerja keras, wong jalannya agak loyo," tukas pelanggan warung.

"Nggak mampir dulu?"

Si wanita hanya tersenyum. Menurut informasi, cewek ini siangnya kerja sebagai buruh harian lepas di sebuah perusahaan. Upahnya di atas UMK, tapi relatif tak memenuhi kebutuhannya. Maka, dia cari uang malam hari.

Bunga dan Mawar hanyalah dua contoh kecil lonte freelanche. Mereka tidak mangkal di tempat tertentu, katakanlah hotel, kafe, atau pub, tapi mengandalkan jaringan khusus. Mereka bisa hinggap di mana saja, sesuai dengan keinginan konsumen. Jumlahnya tidak pasti.

Di Sidoarjo, yang banyak justru lonte yang memanfaatkan maraknya tempat hiburan malam yang mulai marak sejak 2003. Kafe, pub, karaoke (atau apa pun namanya) yang remang-remang, tertutup, dengan musik menghentak-hentak, asap rokok mengepul, bau alkohol tajam... jadi tempat mangkal. Sebab, dalam kondisi setengah mabuk (teler) biasanya si pria tidak segan-segan menghabiskan uangnya untuk si lonte.

"SELAMAT DATANG! Apa kabar? Kok lama nggak kelihatan, ke mana aja?" sapa perempuan resepsionis kepada rombongan kami, suatu malam, di sebuah tempat hiburan di kompleks ruko baru, dalam kota Sidoarjo. Sok akrab, padahal kami tak pernah ke kafe itu.

Musik dangdut menghentak. Goyangan penyanyi kian panas. Belasan laki-laki pengunjung terlihat setengah mabuk. Si resepsionis tadi berbisik di kuping kawan kami, pelanggan tetap. Keduanya tertawa bebas.

"Katanya, ada beberapa wajah baru. Hot-hot semua. Kita diminta pilih yang mana, terserah...," ujar Freddy, nama samaran.

Malam itu, ruangan kafe dipenuhi begitu banyak wanita (20-40 tahun) dengan dandanan seksi. Mereka ngobrol, tertawa, minum, merokok... bersama para tamu. Ketika si tamu ingin goyang dangdut, oke... mereka siap melayani. Goyang ngebor, goyang kayang, goyang ngecor... no problem.

"Ini sih belum seberapa. Kalau pas musim ramai, wah, luar biasa," kata Freddy.

Pukul 01:30 WIB, beberapa pria setengah teler menggandeng pasangan masing-masing keluar dari arena. Ada yang naik mobil, ada juga yang pakai motor. Transaksi sudah kelar.

1 comment:

  1. ni bang buat bahan refrensi, video kimcil http://videokimcil.blogspot.com/

    ReplyDelete