14 October 2006

Lim Keng Maestro Sketsa Surabaya


Lim Keng (kanan) bersama Harryadjie BS, pelukis asal Sidoarjo.


Nama Lim Keng (72 tahun) tak asing lagi di dunia seni rupa Indonesia. Pria asal Tanggulangin ini dikenal sebagai legenda hidup seni rupa kita. Lim Keng itu maestro sketsa.

Oleh Lambertus L. Hurek


SAYA menemui Lim Keng di Jalan Undaan Kulon 125 Surabaya. Wow, betapa kagetnya saya menemui sosok pria sederhana di toko pracangan kecil yang juga sederhana. Lim hanya pakai singlet (kaus dalam) warna putih, kusam. Duduk sendiri menunggu pembeli.

"Ya, begini ini saya tiap hari. Kalau nggak gambar, ya, jaga toko," ujar Lim Keng lalu tersenyum. Toko tua milik Lim terletak di pojok jalan raya di kawasan pecinan yang riuh. Ribuan manusia melintas di sana tiap hari, tapi tak banyak yang kenal Lim. Sama sekali tak ada kesan kalau Lim Keng ini maestro hebat di bidang seni rupa Indonesia.

Lim Keng kemudian bercerita tentang proses kreatifnya yang panjang di seni rupa. Bagaimana WNI keturunan Tionghoa ini teguh memilih kesenian sebagai jalan hidupnya, pilihan yang jelas-jelas melawan arus. Bukankah warga Tionghoa lebih dikenal sebagai orang dagang, businessman?

Ketika masih anak-anak, Lim Keng mengaku sudah getol menggambar. Saat pelajaran di sekolah pun Lim asyik gambar.

Di rumah ia menggambar... menggambar... menggambar. Melihat perilaku Lim Keng yang aneh, Lim Ie Swan (ayahnya, almarhum) menghardik, “Jadi pelukis itu cari uang susah, kayak lotere. Lebih baik dagang saja. Kalau lukisan nggak laku, kamu makan apa?”

Tapi, tetap saja Lim Keng keras kepala. Sempat kuliah di Akademi Seni Rupa (Asri) Jogja selama dua tahun, pria kelahiran Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934 ini merasa kian mantap di seni rupa. Melukis adalah jalan hidupnya, dan harus ditekuni secara serius. Ia harus bisa membuktikan kepada sang ayah bahwa melukis itu bisa untuk hidup, tidak susah cari uang.

Lim Keng sangat idealis, ingin menjadi diri sendiri. Lim enggan meniru gaya lukisan yang ramai di pasaran atau sudah banyak digarap orang lain. Karena itu, Lim Keng memilih sketsa (sketch), jenis lukisan yang sangat jarang ditekuni pelukis Indonesia. Namun, Lim tetap ingin tampil beda. Tak heran, ia menjajaki sketsa dengan pensil, lidi, pena, hingga ranting kayu. Tapi ia belum puas.

Suatu ketika muncul ide yang nyeleneh, orisinal. Lim Keng memasukkan tinta ke botol cuka, ditutup, dan lubang kecil penutup botol menjadi saluran tinta. Bisa dibayangkan sulitnya melukis dengan metode macam ini. Bergetar sedikit saja, kurang konsentrasi, kucuran tinta niscaya merusak kertas. Di sinilah pentingnya konsentrasi serta keahlian luar biasa (virtuositas) dari seorang seniman.

“Kayaknya di dunia ini hanya satu orang yang bisa melakukan itu. Namanya Lim Keng. Saya yakin sulit bagi orang lain meniru gaya Lim Keng,” puji Harryadjie BS, pelukis asal Sidoarjo yang dekat dengan Lim Keng.

“Sketsa sendiri sudah susah, karena hanya mengandalkan kekuatan garis, pakai botol cuka lagi? Beliau sangat percaya pada kekuatan garis, sehingga tidak pernah pakai arsir atau menambah-nambahi karya sketsanya dengan coretan yang tidak perlu,” tambah Harryadjie.

Melukis ala Lim Keng membutuhkan spontanitas tinggi. Karena itu, Lim tidak sembarangan dalam menghasilkan sketsa. Jangan heran kalau Lim Keng pantang membuat karya ‘pesanan’, siapa pun yang pesan. Ia hanya membuat sketsa jika hati nurani yang menggerakkan dia.

“Saya juga harus datang langsung ke lokasi. Nggak pernah saya melukis di rumah atau studio. Kalau melukis tidak lokasi, mood saya tidak keluar, lukisan nggak jadi,” tutur Lim Keng seraya tersenyum.

Ketika Lim Keng berada di lapangan, misalnya saat menggambar gedung tua di kota besar, biasanya dia ditonton ramai-ramai oleh masyarakat. Tidak merusak konsentrasi? Sama sekali tidak. Bagi Lim Keng, semakin ‘diganggu’ orang lain, karyanya makin hidup dan semakin cepat rampung. “Saya hanya butuh 15 menit untuk membuat satu sketsa,” ujar Lim Keng.

KENDATI karya-karyanya sangat banyak, Lim Keng mengaku paling malas mengelar pameran. Pameran bersama ogah, pameran tunggal apalagi. "Buat apa? Pelukis itu kerjanya gambar, bukan pameran," tegasnya.

Namun, sekali-sekali, karena tak enak sama teman-teman pelukis di Jawa Timur, Lim Keng akhirnya mau juga menyertakan lukisannya di pameran bareng. Tapi orangnya, Lim Keng, tak mau muncul di lokasi.

Baru pada 30 Maret 2001 'pertahanan' Lim Keng jebol juga. Dia akhirnya bersedia pameran di Galeri Candik Ayu Surabaya (sekarang bangkrut). Pameran itu mendapat perhatian sangat luas, dibuka Konsul Jenderal Amerika Serikat Robert Pollard. Kenapa mau pameran?

"Wah, saya didesak sama orang Amerika. Dia banyak meneliti karya-karya saya. Dia bilang sekarang kamu sudah saatnya pameran," cerita Lim Keng yang vegetarian itu.

["Saya vegetarian ini bukan karena agama, tapi untuk kesehatan. Sampai sekarang saya trauma melihat ayam mati disembelih waktu saya masih anak-anak. Saya tidak ingin menyakiti binatang.]

Kini, Lim Keng menikmati hari tuanya sambil menjaga toko, membuat skets meski tidak seaktif sebelum 1990-an, dan berdoa. Dia mengaku sudah menikmati kebahagiaan bersama seni rupa. Ternyata menggambar bisa untuk cari makan... sampai tua.

BIODATA SINGKAT

LAHIR: Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934 
ALAMAT: Undaan Kulon 125 Surabaya 
ISTRI: Ernawati 
ANAK : Tradiyanto Halim, Lim Ie Waliban (Iwan Walimba)
PENDIDIKAN: SMA Pecindilan 1962, Akademi Seni Rupa Jogja 1964.

1 comment:

  1. Membaca artikel diatas, pikiran saya melayang mengenang Soerabaya tempo doeloe. Engkoh Lim Keng dulu sekolah di Pecindilan, saya memutar otak untuk mengingat nama sekolah tionghoa itu, tetapi lupa sama sekali. Yang masih ingat:
    Shi-hua di Kapasari, Xinzhong di Ngaglik, Zhongzhong di Baliwerti, Lianzhong di ujung Undaan Wetan, dekat perempatan Undaan Wetan dengan Ambengan, Nanyang di Genteng Kali, Kayming di Kalianyar. Yang di Pecindilan dan Sulung, saya lupa sama sekali namanya.
    Seorang pelukis tulen, memang tidak mau menggambar jika dalam hatinya tak ada niat atau tak ada inspirasi.
    Saya punya Cek-kong di Kalibaru Banyuwangi, dia seorang Xiucai, ahli kaligrafi dan pelukis klassik Tiongkok. Kalau ada orang menyuruhnya melukis, dia pasti menolak, walaupun dengan imbalan uang jutaan Rupiah. Untungnya dia sudah kaya raya, sebagai saudagar biji kopi.
    Kalau hatinya sedang senang dan sympatik sama seseorang, maka tanpa diminta dia akan menghadiahi orang itu dengan lukisan dan kaligrafi. Lukisannya digambar spontan didepan orang tsb. Modalnya kertas gambar dari Tiongkok yang tipis, tinta cina 墨,maopit 毛笔. Dia hanya melukis hitam-putih, untuk kontras tergantung dari encer kental nya 墨. Mama saya pernah dihadiahi 2 lukisan, dia senang karena mama saya juga pandai kaligrafi cina. Seorang kakak ipar-, enso-saya, orang bule jerman, juga dihadiahi sebuah lukisan. Enso itu, umur 80, selalu bilang,
    bahwa seumur hidupnya minum kopi yang paling enak
    adalah di Kalibaru ditempatnya cekkong.
    Pelukis itu selalu bertanya nama mu siapa, lalu dari kata2 itu dia merangkai sajak yang ditulis disebelah lukisannya.
    Memang pelukis kebanyakan manusia yang sifatnya aneh. Aneh dalam arti baik.

    ReplyDelete