20 October 2006

Jumaadi Gepenk Pelukis Sidoarjo di Sydney


JUMAADI alias GEPENK, lahir 25 September 1973, pelukis muda asal Sidoarjo. Dalam beberapa tahun terakhir Gepenk berdomisili di Sydney, Australia. Bagaimana kisah hidupnya di negara kanguru itu?

Kerja keras.

Itulah yang dirasakan Gepenk, pendiri SANGGAR PECANTINGAN di Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo. Saking sibuknya bekerja, seniman di Sydney tak punya waktu untuk bertengkar atau cangkrukan.

"Kalau nggak kerja keras, ya, nggak bisa hidup. Kesenian itu sama dengan pekerjaan lain, harus ditekuni dengan kerja keras," ujar Jumaadi, yang kawin dengan wanita bule Australia itu.

Dalam satu minggu, Gepenk mengaku hanya bisa libur satu hari. Itu pun tidak bisa libur total--misalnya tidur-tiduran melulu, rekreasi, ngelencer. "Saya ini nguli tiga hari, berkesenian tiga hari, libur satu hari," paparnya.

'Nguli' berarti kerja sebagai tukang cuci piring di restoran, mengurus taman atau rumput-rumputan... singkatnya pekerjaan-pekerjaan kasar. Di Australia, mencuci piring, cuci pakaian, dan seterusnya bukan pekerjaan rendah. Tak sedikit mahasiswa Indonesia di Australia, kata Gepenk, aktif menjadi kuli.

Habis 'nguli' tiga hari, Gepenk kembali ke studio menyelesaikan karya-karya seni. Gepenk yang pernah pameran di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya ini banyak mengusung isu lingkungan hidup. Nah, di Australia Gepenk mendapat ajang yang sangat bagus untuk mengembangkan karya-karya bernuansa pedesaan.

Kenapa seniman di Australia harus kerja keras? Ini ada kaitan dengan galeri, mitra utama pelukis, serta dukungan pendanaan dari Art Council, semacam 'dewan kesenian' di negara bagian. Art Council senantiasa memantau kinerja seniman-seniman yang aktif di negara bagian, kemudian memberikan rekomendasi agar dapat dana.

Seniman yang tidur-tidur melulu, kerja suka-suka, tunggu ilham, tidak produktif, tidak menawarkan sesuatu yang baru... jangan harap dapat dana atau sponsor. "Biarpun Art Council itu temannya sendiri. Di sana sangat objektif," tutur Gepenk.

Iklim kehidupan seni di Australia sangat sibuk. Semua negara bagian berlomba menjadi yang terbaik. "Sydney nggak mau kalah sama Darwin, dan seterusnya. Mau tidak mau, kita harus larut dalam iklim kompetisi semacam ini," ujarnya.

Kerja keras, kompetisi ketat, tekanan dewan kesenian... ibarat seleksi alam. Nantinya akan kelihatan mana seniman serius mana seniman yang 'nyeniman' alias hanya mengaku-ngaku seniman zonder karya. Kalau si senimannya setengah-setengah... habislah dia.

DI Sydney, JUMAADI alias GEPENK mengembangkan kesenian komunitas. Kesenian yang dilakukan oleh warga biasa, bukan seniman. Tahun 2005 dan 2006 Gepenk menggelar program Wayang Sydney.

"Kalau komunitas kesenian sudah jelas. Mereka seniman yang sudah jadi. Mereka tidak perlu diurus lagi, bisa jalan sendiri," ujar Jumamadi Gepenk kepada saya.

Apa sebetulnya Wayang Sydney? Pelakunya, kata Gepenk, orang-orang biasa macam ibu rumah tangga, kuli bangunan, tukang cuci piring, mahasiswa, pekerja. Mereka orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Sydney. "Kami main wayang di Sydney, makanya saya sebut Wayang Sydney," ujar Gepenk.

Tahun 2004, bekas aktivis lingkungan hidup di Trawas, Mojokerto, ini bikin 'ulah' di Sydney dengan wayang suket (rumput). Gepenk mengayam wayang-wayangan dari rumput dan menggelar pameran di taman-taman kota. Aksi wayang suket ini mendapat perhatian penduduk Sydney. Karena penasaran, mereka yang tadinya hanya menonton minta diberi kursus membuat wayang suket.

Setelah aksi wayang suket, warga justru meminta Gepenk untuk menghadirkan atraksi kesenian khas Indonesia. "Saya juga bikin acara dongeng dari sekolah-sekolah di Sydney. Saya menceritakan budaya, alam, serta berbagai hal tentang alam pedesaan yang saya alami di Sidoarjo. Cerita tentang anak gembala," kata Gepenk.

1 comment:

  1. Salam kenal, mas bisa minta alamat/tilpon Mas Gepeng di Sydney.
    email saya pebambang@gmail.com. Trimakasih.

    ReplyDelete