21 October 2006

Joice Indarto Pejuang KBA



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

UNTUK urusan keluarga berencana alamiah (KBA), nama JOICE D. INDARTO tak asing lagi di telinga jajaran BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dari daerah hingga pusat. Saking getolnya mengkampanyekan KBA, Joice sangat dekat dengan Dr .Haryono Suyono, bekas kepala BKKBN sekaligus menteri pada era Orde Baru. Mereka aktif berdiskusi tentang KB, keluarga sejahtera, dan seterusnya.

Namun, untuk sampai pada hubungan yang baik dengan BKKBN, Joice mengalami proses yang tidak sederhana. Sebab, Joice dan timnya (KBA) mula-mula dianggap menjegal program KB yang sangat gencar dilakukan Orde Baru. Asal tahu saja, pada tahun 1970-an hingga 1980-an, banyak wanita di desa-desa dipaksa menjadi akseptor KB metode spiral (IUD).

"IUD-isasi itu awalnya penuh paksaan, sehingga ibu-ibu banyak yang ketakutan," tutur Joice kepada saya. Metode KB buatan ala BKKBN--pil, suntik, atau kondom--pun awalnya mendapat perlawanan dari masyarakat. Sebab, waktu itu masyarakat masih menganut pandangan 'banyak anak, banyak rezeki'. Pembatasan kelahiran dengan KB dianggap melawan kodrat manusia.

Belajar KBA sejak 1976, dari pakar-pakar asal Australia, Joice D Indarto berkeyakinan bahwa KBA--tim Joice menggunakan Metode Ovulasi Billings (MOB)--sangat sederhana, mudah dipraktikkan, paling murah, tanpa risiko atau efek sampingan. Begitu gampangnya, kata Joice, istri yang buta sekalipun bisa menerapkan dengan sukses.

"Kuncinya, ya, mengenali diri sendiri. Kalau istri sudah mengenali dirinya, khususnya siklus kewanitaannya, maka KBA bisa berjalan dengan baik," tutur Joice, yang juga dipercaya sebagai konsultan KBA di RKZ Surabaya.

Selain istri mengenali diri sendiri, peran sang suami sangat menentukan. Suami harus bisa menahan diri, tidak berhubungan seksual dengan istri, saat masa subur jika tidak menginginkan kelahiran bayi. "Di sinilah letak cinta sesungguhnya antara suami dan istri. Jadi, suami jangan hanya menuruti nafsunya saja," kata wanita yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris itu.

Kegagalan KBA nyaris tidak ada, asalkan MOB yang ditemukan Dr Billings (Australia) itu diikuti secara penuh. Joice kemudian menjelaskan secara singkat teknis KBA. Buku-buku KBA pun sudah banyak tersedia.

"Saya lebih suka istri datang konsultasi KBA bersama suaminya. Sebab, kunci keberhasilan KBA juga ditentukan oleh suami. Kalaupun istri mengerti teknis KBA, tapi suaminya ngotot, nggak bisa menahan diri, ya, gagal," ujarnya.

Berapa akseptor KBA yang sudah ditangani Joice?
Bagaimana tingkat keberhasilannya?

"Wah, sudah ribuan orang, dan sulit dihitung. Anda bayangkan saja, saya melayani KBA ini sudah 30-an tahun sejak tahun 1976," ujar peraih penghargaan pada pelatihan
KBA di Jakarta tahun 1987 itu.

Joice Indarto sangat yakin bahwa sampai kapan pun KBA terus bertahan di dunia. "Buktinya, akseptor KBA justru naik terus."

BERKAT KEPAKARAN DAN PENGALAMAN LUAS DI BIDANG KELUARGA BERENCANA ALAMIAH, JOICE D INDARTO BERHASIL MEMBUAT RATUSAN PASANGAN SUAMI-ISTRI (PASUTRI) BAHAGIA. PARA PASUTRI INI BISA BEROLEH KETURUNAN SETELAH BERUSAHA SELAMA BERTAHUN-TAHUN.

Suatu ketika Joice Indarto kedatangan Josi, remaja belasan tahun. "Saya Josi. Saya lahir ke dunia berkat jasa Bu Joice. Jadi, saya ini sebetulnya anaknya Bu Joice," cerita Joice kepada saya.

Joice bingung, heran, bercampur kaget. Tapi, setelah Josi bercerita panjang lebar, akhirnya Joice sadar bahwa orang tua Josi tak lain pasien dia sendiri. Ketika kesulitan dapat anak, kedua orang tua si Josi datang berkonsultasi kepada Joice. Joice memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana 'berhubungan' suami-istri yang jos, produktif.

"Dia turuti nasihat saya, dan ternyata berhasil. Saya sendiri ikut bahagia," tutur wanita kelahiran Jatinegara, 26 Desember 1948 itu.

Berdasar pengalaman selama 30 tahun mendampingi ribuan Pasutri, Joice menegaskan bahwa untuk memperoleh anak sebetulnya tidak sulit. Syaratnya, istri harus 'mengenali diri' serta mendapat dukungan penuh suami. Suami jangan sekali-kali menjadi istri semata-mata sebagai objek nafsu seksual.

"Kalau tiap saat, tiap jam, si suami ngotot minta hubungan seks, ya, jelas tidak bagus. Spermanya pasti tidak sehat, sehingga pembuahan tidak berjalan dengan baik. Bagaimana bisa punya anak?"

Menurut Joice, suami yang nafsu seksnya kurang, pasif, malu-malu, menunggu isyarat dari istri, pun sering kali sulit memperoleh anak. Kepada pasutri macam ini, Joice mengusulkan agar mereka mengubah pola hubungan seksual mereka.

"Lha, bagaimana mau punya anak kalau pas masa subur, si suaminya diam saja?" ujar Joice yang menjadi konsultan KBA sejak tahun 1976.

Dalam beberapa ceramahnya, Joice D Indarto mengatakan, dengan nada humor, "Selama Tugu Pahlawan (penis) masih tegak berdiri dan istri masih subur, jangan khawatir. Pasutri, insya Allah, tetap punya harapan untuk mendapatkan anak," tutur Joice.

Gara-gara kerap melayani konsultasi pasutri yang kesulitan memperoleh anak, Joice sering dianggap sebagai 'dukun'. Joice pun tertawa geli.

"Dukun apa? Yang saya sampaikan sebetulnya teori biologi yang sangat dasar. Kalau itu dilakukan, ya, jadilah pembuahan. Semua itu atas kuasa Tuhan semata-mata. Saya dan tim KBA hanya sekadar memberikan wawasan," katanya.

Apa sih enaknya jadi konsultan KBA?

Joice langsung menunjuk dadanya. Kepuasan. Itulah yang diperoleh Joice selama 30 tahun. Ikut bahagia melihat pasutri yang bertahun-tahun tak beroleh keturunan (ada yang 10 tahun, 20 tahun pernikahan) akhirnya bisa tersenyum.

"Kalau materi, apa sih yang kita dapatkan di KBA? Lain dengan bidan atau dokter yang melayani KBA biasa. Untuk konsultasi, saya tidak pasang tarif. Ada yang kasih Rp 10 ribu, Rp 15 ribu... saya terima. Nggak bayar juga nggak apa-apa."

KLINIK KBA JOICE INDARTO
GRIYA MAPAN UTARA 4C/BE-15
TROPODO, KECAMATAN WARU, SIDOARJO, JAWA TIMUR

3 comments:

  1. salam utk bu joice. heibat banget beliau ini.

    ReplyDelete
  2. kba itu gak gampang, harus disiplin banget. kalo gak, bisa jebol...

    ReplyDelete
  3. luar biasa... bu joice ini.

    ReplyDelete