17 October 2006

Harryadjie BS: Pelukis Pecinta Ular




SELAMA ini HARRYADJIE BAMBANG SUBAGYO, akrab disapa Bambang Thelo, lebih dikenal sebagai pelukis dekoratif. Tak banyak yang tahu kalau Bambang merupakan salah satu pakar ular di Jawa Timur.

Di masa kecil, Harryadjie BS mengaku sangat takut pada ular. Melihat saja ia geli dan berusaha melarikan diri. Namun, pria yang tinggal di Sidokare, Kecamatan Sidoarjo, ini tidak larut dalam ketakutan. Harryadjie berusaha melawan ketakutan terhadap ular, binatang melata yang kerap dianggap sebagai simbol kejahatan itu.

Kenapa harus takut? Ada apa dengan ular? Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di kepala pelukis yang pernah menjadi penulis dan wartawan beberapa surat kabar di Surabaya pada 1970-an, termasuk Jawa Pos, itu.

"Kalau saya terus-terus takut, sementara saya tidak tahu kenapa harus takut pada ular, ya, aneh," ujar bekas ketua litbang Dewan Kesenian Sidoarjo.

Sebagai penulis dan perupa, pada 1976 Harryadjie bertemu dengan ARYONO HAMIJOYO, pakar biologi dan ahli ular terkemuka Indonesia di Jakarta. Harryadjie mewawancarai biolog ini, berusaha berkenalan dengan dunia satwa. Karena Harryadjie antusias dengan ular, Aryono kemudian meminjamkan buku-buku koleksinya tentang ular. Harryadjie, yang kebetulan kutu buku, pun melahap habis buku-buku yang hampir semuanya dalam bahasa Inggris itu.

Buku-buku yang masih diingat Harryadjie, antara lain, World of Snake (Harrison, 1971), Snake as Pets (Hobart Smith, 1958), Venemous Reptiles (Sherman Minton dan Mange), JS Copies of Ophedia (1972), dan Enclycopedia Americana. Masih segudang buku lagi, juga dalam bahasa Jerman, Belanda, Prancis, yang didalami Harryadjie.

Jangan lupa, pelukis senior ini seorang poliglot alias menguasai beberapa bahasa Barat macam Inggris, Belanda, Jerman, Prancis.

Nah, dari sinilah Harryadjie menemukan jawaban atas ketakutannya sebagai anak desa di Solo waktu kecil dulu. Ternyata, mengutip buku karya Hobart Smith (1958), ular bisa menjadi sahabat sehari-hati alias binatang peliharaan (pets) seperti kucing, burung, hamster, ayam, dan sebagainya.

"Saya juga sering diajak mengikuti penelitian-penelitian ular oleh Pak Aryono, ahli ular yang sangat langka di Indonesia," tutur Harryadjie yang lahir di Rawabangke, Jakarta, pada 25 September 1944.

Pada 1975, Harryadjie berubah karakter menjadi sahabat ular. Ia begitu tertarik dengan ular, menemukan rahasia-rahasia ular, yang jarang diketahui masyarakat. Banyak kebijaksanaan yang bisa dipelajari dari sang ular oleh manusia, khususnya pemimpin. Misalnya, ular tidak pernah serakah. Hanya makan kalau benar-benar lapar. Ular tidak pernah makan bangkai. Tak pernah ganggu siapa pun tanpa ada alasan.

"Biarpun disuguhi hewan hidup di sangkarnya, kalau belum waktunya makan, ya, dia diam saja. Lain dengan manusia. Sering kali jatah untuk orang lain disikat, nggak peduli pada kepentingan sesama. Saya pikir-pikir, manusia sering kalah berbudaya dibandingkan si ular," pujinya.

Tahun 1975 itu juga Harryadjie diajak mengikuti ekspedisi di Eropa. Misinya, lagi-lagi, untuk penelitian satwa liar. Harryadjie juga diajar menggunakan kamera (video dan film) agar bisa mengambil gambar perilaku binatang di alam terbuka. Di Jerman, Harryadjie bertemu dengan lebih banyak lagi pakar-pakar satwa dan penulis khusus dunia binatang.

Hasil karya mereka sering dipublikasikan di majalah internasional berkelas macam National Graphic, juga features 'Flora dan Fauna' yang dulu sering disiarkan TVRI. "Saya sering disuruh angkat-angkat kamera dan peralatan ekspedisi," kenangnya.

Masih di Jerman, Harryadjie menemukan surga para penyayang ular. Buku-buku tentang ular melimpah, sehingga ia semakin mengenal binatang melata itu.

DI Jerman, pada 1970-an, Harryadjie semakin larut dalam dunia ular. Ketika diajak bertualang ke Afrika bersama sebuah tim ekspedisi internasional, wawasan ihwal dunia binatang makin bertambah. Dan, ia mengaku semakin dekat dengan ular.

Menurut Harryadjie, di tanah Jawa ini ada 96 genus ular yang sebetulnya sangat berguna untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam perkembangan, beberapa genus 'hilang' atau setidaknya semakin sulit ditemukan. Sehingga, di kalangan 'ahli-ahli' ular muncul semacam kesepakatan bahwa kini ada 40 genus ular di Jawa.

"Saya perlu tekankah bahwa dari 40 genus itu hanya sembilan genus yang berbisa. Delapan genus ular darat, satu genus ular laut," ujar Harryadjie yang gemar melukis binatang melata itu. Dia melukis pakai akrilik, bukan cat.

Genus ular berbisa itu antara lain: ular laut dwiwarna (Pelamis platurus), ular weling (Bungarus candidus), ular welang (Bungarus fasciatus), ular anang alias king kobra (Aphiopaghus hannah), ular cabek (Maticora intestinalis), ular tanah alias bandotan bedor (Agkistrodo rhodosthoma), bandotan puspo (Vipera ruselii), ular luwuk alias gadung luwuk (Tremerusurus albolabris). Nama-nama ilmiah dalam bahasa Latin ini, menurut Harryadjie BS, sangat penting dalam diskusi di dunia internasional.

"Sebab, nama-nama ular dalam bahasa lokal, entah bahasa Indonesia, bahasa Jawa, sangat variatif. Kadang-kadang ularnya sih sama saja, tapi namanya bisa puluhan," ujar ayah satu anak yang tinggal di Sidokare, Sidoarjo Kota.

Contohnya kobra. Ular paling berbisa ini sering disebut ular sendok, raja ular, ular anang. Disebut 'raja' karena selain cerdik, panjang si kobra bisa mencapai enam meter lebih, juga paling rakus. Menurut Harryadjie, kobra alias ular sendok ini dapat menghabiskan 66 ular lain plus 15 ekor biawak. Kalau marah kobra mengembangkan lehernya hingga melebar dan mencekung, mirip sendok.

Meski berbisa, ular-ular ini tidak akan gegabah memangsa korbannya, apalagi manusia. Reaksi ular yang agresif, kata Harryadjie, hanya dilakukan manakala dia merasa terancam atau disakiti. Itu mekanisme pertahanan diri, khas makhluk hidup. Manusia pun kalau disakiti akan melawan.

"Kalau nggak disakiti, ular akan tenang-tenang saja. Prinsip ini harus dipegang kalau berhadapan dengan ular," ujar Harryadjie.


BICARA soal ular dengan Harryadjie BS niscaya tak akan pernah habis. Dia begitu asyik dan menikmati dunia ular. Ia juga tak segan-segan memarahi orang yang takut atau berlari ketika didekati ular. "Ular itu sesama makhluk ciptaan Tuhan, kok dijauhi?" katanya kepada saya yang lari karena 'digoda' ular welang.

Kini, Harryadjie tidak lagi mengoleksi ular mengingat rumahnya di Sidokare sudah penuh dengan koleksi barang antik dan lukisan. Namun, Harryadjie tetap menjalin komunikasi dengan para penggemar ular di Sidoarjo dan Surabaya. Dia dianggap sesepuh oleh anak-anak muda penggemar ular. Dia pun masih rajin baca buku-buku tentang ular.

"Sudah banyak buku dan kliping tulisan saya dipinjam orang, tapi nggak kembali," ujarnya sedih. Harryadjie memang antusias meminjamkan buku-buku atau kliping bagi siapa saja yang ingin mempelajari dunia ular secara serius.

Di usianya yang sudah sepuh, Harryadjie berobsesi menularkan pengetahuannya soal ular kepada masyarakat. Bisa lewat pameran, seminar, hingga diskusi ilmiah. Di akhir obrolan Harryadjie berpesan, bagaimanapun juga ular itu tetaplah binatang berbisa. Dus, kita harus hati-hati.

"Ingat, yang namanya pawang ular biasanya mati karena ular juga," katanya.

2 comments:

  1. saya membaca tulisan bapak,saya tertarik& saya mau belajar banyak tentang ular. saya tinggal di bogor jawa barat bagaimana caranya saya dpt mempelajari nya sedangkan tempat bapak saya ga tau

    ReplyDelete
  2. Kontak person Bambang Hariadjie: Perum Sidokare Indah A-i No. 1 Sidoarjo. 081.75210920. Silakan dihubungi.

    (Bechi, bekas murid Bambang Hariadjie. Tinggal di Jakarta)

    ReplyDelete