11 October 2006

Gus Luqman Pelukis Porong


Saya baru saja jalan-jalan ke Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Hendak mampir ke rumah almarhum LUQMAN AZIS, pelukis terkenal yang biasa kami sapa GUS LUQMAN. Almarhum suka pakai jubah macam orang Arab, rambut gondrong, bicara logat Arab, kerap diminta pimpin doa.

"Hasil... hasiiil... hasiiiil," begitu penutup doa khas Gus Luqman.

Teman-teman pelukis selalu tersenyum simpul manakala mendengar Gus Luqman mengakhiri doanya. Bukan apa-apa. Gayanya sangat khas: serius, khusyuk... tapi lucu.

Luqman Azis lahir di Kludan, Tanggulangin, 1 Januari 1959. Meninggal mendadak di rumahnya, Siring, pada 27 Agustus 2005. Teman-teman pelukis, penggiat budaya, dan teman dekatnya macam saya sangat sedih.

"Kita sulit menemukan sosok macam Gus Luqman. Dia punya solidaritas tinggi, pendobrak kebekuan kegiatan kesenian di Sidoarjo," kata Farid Firdaus, pelukis yang tinggal di Sidokare, Sidoarjo. Farid bekas sekjen Dewan Kesenian Sidoarjo. Dewan ini sekarang mati suri.

Saat bertugas di Sidoarjo, selama dua tahun lebih, saya kerap bertandang ke rumah Gus Luqman bersama Harryadjie Bambang Subagyo, pelukis senior, rumahnya di Sidokare. Melihat studio Gus Luqman, aktivitasnya, atau sekadar diskusi ngalor-ngidul. Temanya, apa lagi kalau bukan... seni lukis.

"Kita perlu dekati pejabat agar peduli kesenian. Kita yang proaktif. Jangan menunggu," begitu resep gus gondrong ini dengan semangat. Teman-teman lain mengiyakan.

Tak lama kemudian, Luqman sudah berhasil 'menggandeng' pejabat teras macam kapolda, kapolres, bupati, kepala dinas. Juga pengusaha kaya yang doyan lukisan.

"Hurek, bantu aku ya? Kita mau pameran besar-besaran di Gelora Delta. Yang buka Kapolda Jawa Timur," ujar Gus Luqman. Benar saja. Pameran lukisan itu pun sukses.

Nah, ketika saya jalan-jalan ke Siring, awal Oktober 2006, rumah sahabat saya, Gus Luqman, sudah terendam air. Tingginya satu meter lebih. Maklum, rumah tua ini hanya berjarak 100-an meter dari pusat semburan lumpur Lapindo Brantas di Sumur Banjarpanji-1.

Musibah besar ini bermula pada 29 Mei 2006, dua hari setelah gempa bumi di Jogja dan sekitarnya. Semburan yang tadinya 'hanya' 50 ribu meter kubik, kini mengganas menjadi 126 ribu meter kubik. Masya Allah!

Desa Siring, kampung tua yang pernah dihuni Gus Luqman dan ribuan warga lain, kini tenggelam. Rumah almarhum Gus Luqman dan ribuan warga lain sudah terendam. Hanya atapnya saja yang terlihat.

Ke mana istri dan anak-anak Gus Luqman? Di awal musibah saya masih sempat bertemu mereka di lokasi pengungsian, Pasar Porong Baru. Tapi, setelah dapat uang kontrak dari Lapindo, Ny Lukman sudah tak jelas alamatnya.

"Warga sudah ngontrak rumah ke mana-mana. Semua terpencar, cari kontrakan sendiri-sendiri," kata Harryadji B.S., teman akrab Gus Luqman, sesama pelukis Sidoarjo.

Studio lukisan peninggalan Gus Luqman, berikut puluhan lukisan, pun tak jelas lagi di mana. Ny Luqman sempat bilang sudah 'mengamankan' ke beberapa kawan di Sidoarjo. Ny Luqman tak bisa bercerita banyak karena setiap bertemu kami, teman-teman almarhum suaminya, dia hanya bisa menangis. Tak bisa cerita apa-apa.

Desa Siring, juga Kludan di Tangguangin, selalu dibanggakan almarhum Gus Luqman. Sebab, dia mengaku mengalami masa kecil yang indah di sana. Beberapa tahun sebelum meninggal dunia, Gus Luqman pun dipercaya sebagai ketua RT di Siring.

Tentu, dia tak pernah membayangkan kampung halaman tempat istri dan anak-anaknya menyambung hidup itu kini tenggelam oleh lumpur panas. Siring bersama tiga desa lain disebut-sebut sulit diselamatkan. Tinggal sejarah.

Di Siring, saya pun ingin mengunjungi makam Gus Luqman Azis, sekitar 200 meter dari rumahnya dulu. Kata warga, "Wah, makam umum sudah nggak ada lagi. Sudah tenggelam. Anda mau lihat apa di sana?" kata seorang warga Siring.

Saya tahu Gus Luqman tak pernah membayangkan petaka besar macam ini menimpa kampung halamannya. Saya tahu pula di 'alam sana' Gus Luqman berdoa untuk anak-istrinya, warga Siring dan sekitarnya, moga-moga tragedi ini cepat berlalu.

"Hasil... hasiiiiil.... hasiiiiiiiiil."

No comments:

Post a Comment