20 October 2006

Djoko Lelono Pelukis Pemecah Rekor MURI



Suka bikin heboh. Itulah STEVANUS DJOKO LELONO, pelukis senior yang berdomisili di Perumahan Magersari Permai BC/8 Sidoarjo. Ada-ada saja kejutan yang ia buat demi menggairahkan kehidupan seni rupa di Jawa Timur.


MASIH segar dalam ingatakan kita, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 9 Juni 2004, Djoko mengajak anak-anak kampung untuk melukis di kanvas sepanjang 100 meter di pinggir Sungai Karang Gayam, Sidoarjo. Melukis apa saja, terserah anak-anak.

“Silakan bebas berekspresi. Saya tidak akan menyalahkan atau membetulkan,” ujar Djoko Lelono kepada saya.

Lukisan anak-anak yang terkesan naif, sekenanya, tarikan garis kurang kuat, tidak memperhatikan anatomi, sosok tak jelas... dinilai Djoko justru memberi banyak kearifan terselubung.

Mereka, anak-anak, biasanya sangat jujur mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasa. Maka, meski tidak memberikan tema tertentu (apalagi ‘juklak’ ala birokrasi), karya anak-anak yang dihimpun Djoko Lelono rata-rata berkisah tentang keprihatinan sosial. Anak-anak pinggir kali mengungkapkan keprihatinannya akan polusi di sungai, eceng gondok bertebaran, kehidupan nelayan yang kian sulit, dan seterusnya.

Selepas acara di Karang Gayam, Djoko Lelono seakan-akan menghilang dari peredaran. Pria kelahiran Jogja ini pun jarang bicara dalam diskusi atau sarasehan budaya yang marak di Sidoarjo. Asal tahu saja, Djoko termasuk seniman rupa yang doyan bicara.

Bicara apa saja Djoko berusaha merespons, mengemukakan pandangan yang kerap cukup memancing kontroversi. “Diskusi budaya perlu dihidupkan di Sidoarjo. Kalau nggak begitu seni tak akan berkembang.”

Adakah Djoko Lelono istirahat dari aktivitas kesenian atau kembali menekuni dunia kerajinan? Ternyata tidak. Diam-diam safari budaya Djoko tetap berjalan di Kabupaten Sidoarjo. Belum lama ini ia mengajak anak-anak kampung di sekitar Candi Pari, Kecamatan Porong, untuk aktivitas yang sama.

Di kompleks candi terkenal itu, lagi-lagi Djoko Lelono mengajak anak-anak untuk melukis di kanvas panjang yang sudah ia siapkan. Saking panjangnya, kanvas putih dibuat berkelok-kelok karena kompleks Candi Pari terlalu sempit untuk memajang kanvas tersebut. Begitu kanvas dibentangkan Djoko, anak-anak dan warga kampung heran. Ada apa ini? Candi mau diselimuti?

Apa boleh buat, Djoko Lelono harus menjelaskan maksudnya kepada warga kampung Candi Pari, khususnya juri kunci candi. “Setelah dijelaskan, anak-anak sangat mendukung. Mereka sepertinya mendapat mainan baru.”

Habis di Candi Pari ke mana lagi? Djoko Lelono mengaku melakukan aktivitas seni di lapangan ini secara spontan, tanpa banyak rencana. Yang jelas, kampung Kepetingan, pantai wisata di dekat Selat Madura, bakal menjadi lokasi favorit Djoko. Semakin banyak tempat yang dijadikan ajang safari budaya, katanya, semakin bagus.

“Jadi, kita bisa membaca aspirasi anak-anak yang berbeda-beda. Sidoarjo ini kan luas sehingga perlu lebih banyak sampel,” kata Djoko Lelono yang dulu sering memberikan workshop budaya di Sanggar Pecantingan Sidoarjo itu.

Jika kanvas-kanvas panjang sudah terisi dengan lukisan karya anak-anak dan warga kampung, Djoko Lelono berencana melapor ke Museum Rekor Indonesia (Muri) di Semarang. Sejak awal Djoko memang punya obsesi untuk menjadikan forum safari budaya keliling kampung Sidoarjo ini layak masuk rekor nasional.

“Bukan cari nama. Buat apa? Saya hanya ingin memberi motivasi kepada anak-anak bahwa mereka sebenarnya pelaku seni. Mereka bisa melahirkan karya besar yang diperhitungkan di tingkat nasional asalkan kita bisa bekerja sama,” tukasnya.

Dalam beberapa kesempatan, Djoko Lelono sempat mengeluh karena iklim pengembangan seni budaya di Kabupaten Sidoarjo secara umum kurang kondusif. Berbeda jauh dengan Bali, Jogja, Semarang, Solo, atau Jakarta. Kenapa?

“Cukup kompleks masalahnya. Dan kalau diurai panjang sekali. Saya sendiri selama ini lebih banyak berkarya di luar Sidoarjo. Baru sekaranglah saya kembali ke Sidoarjo karena daerah ini tempat saya dibesarkan.”

Menurut Djoko Lelono, apa yang ia lakukan bersama anak-anak kampung Sidoarjo ini hanyalah ‘provokasi’ budaya kecil-kecilan. Harapannya, tentu saja, praktisi seni lain di Sidoarjo mau melakukan hal serupa. Tanpa banyak mengeluh, tanpa harus membawa proposal permintaan dana ke mana-mana.

“Seniman harus punya kemandirian.”

1 comment:

  1. Semoga yang di cita-citakan beliau "Joko Lelono" akan tercapai. Dan beliau "Joko Lelono" bangga di melihatnya dari alam sana. :)
    Terima kasih atas postingannya.

    ReplyDelete