31 October 2006

Benny Panjaitan, Panbers, Sang Legenda



Benny Panjaitan, vokalis Panbers (Panjaitan Bersaudara) tetap 'kenceng' dengan suara tenornya yang ekstrem tinggi. Praktis, karakter, nada dasar, grup yang berdiri tahun 1969 ini tidak berubah. Suara Benny yang tinggi serta melodi yang manis jadi andalan grup ini.

Selain BENNY PANJAITAN (vokal, gitar), Panbers diperkuat DOAN PANJAITAN (kibod), ASIDO PANJAITAN (drum), HANS NOYA (gitar), dan MAXIE PANDELAKI (bas).

Dalam konser di Surabaya, belum lama ini, saya catat Panbers membawakan 23 lagu, termasuk dua nomor 'non-Panbers', yakni Kucari Jalan Terbaik (Pance Pondaag) dan Don't Forget to Remember (The Bee Gees).

Benny sangat komunikatif. Sepanjang konser ia bercanda dan mengajak penonton, yang sebagian besar teman-teman lamanya, bernyanyi bersama. Di beberapa nomor, seperti Hidup Terkekang dan Musafir, penonton di baris depan seperti Herman Rivai dan Armuji diajak berjoget.

Gerakan tortor khas Batak diperlihatkan penonton saat Panbers membawakan sebuah lagu daerah Batak, atas permintaan Herman Rivai. "Anda kan dari Sumatera Utara, masa nggak ada lagu Bataknya," tukas politisi dari PAN Surabaya ini.

Panjari, murid kelas 1 SD, bikin heboh Balai Pemuda. Ia didaulat Benny ke atas atas panggung untuk menyanyikan Gereja Tua. Meski tak pernah berlatih sebelumnya, Panjari bisa berpadu dengan Panbers. Yang menarik, Panjari berakting layaknya vokalis profesional.

Ia memperagakan kesedihan seorang pemuda karena ditinggal kawin pacarnya yang 10 tahun tidak bertemu. "Siapa bilang penggemar Panbers hanya orang-orang tua? Lihat ini, di Surabaya ada Panjari," ujar Benny

PUTUS cinta, gagal menikah, tak harus membuat orang stres. Ambil gitar, nyanyikan melodi-melodi manis, dan nikmatilah keindahan! Resep lama versi Benny Panjaitan, vokalis utama Panbres, grup legendaris tempo doeloe ini, rupanya sangat jitu bagi anak-anak muda pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Dan, ketika lagu-lagu lawas ini dibawakan kembali oleh Benny Panjaitan di Balai Pemuda Surabaya, Minggu (7/12), para hadirin diajak mengenang masa remajanya pada 1970-an. "Dulu, waktu pacaran, saya dan pacar, yang sekarang jadi istri saya, selalu menyanyikan lagu-lagu Panbers. Romantis sekali, apalagi Bang Benny membawakannya dengan penuh perasaan," ujar Gatot, warga Kertajaya yang datang bersama istrinya.

Malam itu, Benny tidak tampil bersama Grup Panbers. Penyanyi berdarah Batak, Sumatera Utara, yang melewatkan masa remaja di Surabaya ini hanya diiringi oleh Abouwhim Band, Surabaya. Meski begitu band yang didominasi anak-anak muda asal Papua ini cukup berhasil menghadirkan gaya dan sound khas Panbers.

"Persiapan kami sekitar dua bulan, dengan 15 lagu Panbers," ujar Marthen Korwa, leader sekaligus vokalis Abouwhim Band.

Diawali dengan 'Akhir Cinta', diciptakan tahun 1970, kualitas vokal Benny Panbers praktis tak berubah. Dia sengaja menyanyi dengan nada dasar yang sama dengan 30-an tahun lalu. Ketika penonton meminta lagu 'Pilu', Benny kontan menukas, "Tahu artinya pilu? Pilek melulu ha-ha...!"

Pada 1971, alias 32 tahun lalu, Benny Panbers menyanyi di nada dasar C. Di Balai Pemuda, Benny menyanyi dengan nada dasar sama, C. Kenapa vokal Benny bisa terjaga selama tiga dasawarsa?

"Saya tidak merokok. Tidur cukup, dan paling penting, saya tidak pernah mengonsumsi narkoba. Saya antinarkoba. Saudara-saudara sekalian, kebetulan saya juga salah satu ketua DPD Granat di Jakarta," ujar Benny disambut tepuk tangan meriah.

Lalu, meluncurlah lagi 'Pilu' yang sangat menguras kemampuan vokal Benny.

Usai 'Masa Remaja', penonton yang juga terdiri dari pengusaha, pejabat, dan politikus, mendesak agar Benny segera menyanyikan 'Gereja Tua'. Lagu romantis--lagi-lagi tentang gagal cinta--diciptakan Benny pada 1985. Lagu ini membuahkan piringan emas kesembilan untuk Grup Panbers. Masih dalam nada dasar C, kembali ayah tiga anak ini mendemonstrasikan kemampuannya melantunkan nada-nada ekstrem tinggi.

Asal tahu saja, suara Benny mencapai c'', di atas tenor biasa (hanya sekitar g atau a). Luar biasa! Tapi, kasihan bagi penonton yang tak mampu menyanyikan bagian refrein. "Edan tenan tingginya," komentar seorang bapak di samping saya.

Malam itu, sedikitnya 17 lagu Panbers dibawakan Benny Panjaitan dengan mulus. Di samping nomor-nomor tadi, muncul 'Kisah Cinta Remaja', 'Hari Perkawinan', 'Terlambat Sudah', 'Musafir', 'Indonesia is My Lovely Country', 'Cinta dan Permata', 'Bunga Mawar', 'Situmorang', dan 'Tak Kusangka'. Benny juga membawakan beberapa nomor dari The Bee Gees seperti 'I Started a Joke' dan 'Don't Forget to Remember Me'.

Benny tak hanya menyanyi. Selama dua jam lebih konsernya, ia juga memberi kesempatan kepada hadirin untuk bertanya, apa saja. Ternyata tanggapan penonton luar biasa.
Banyak hal ditanyakan, mulai dari kisah di balik lagu, hingga permintaan lagu.

"Bang Benny, saya juga Panjaitan. Saya minta lagu Situmorang," ujar seorang penanya asal Batak. Si Benny memenuhi semua permintaan penonton. "Minta lagu dangdut?" teriak seseorang.

Gampang saja, kata Benny. Menurut dia, sebelum Rhoma Irama eksis di dunia dangdut, Grup Panbers sudah lebih dulu menciptakan lagu dangdut bertajuk 'Musafir'. "Musafir, hidupmu bebas tiada ikatan...!"

21 October 2006

Elaine Montegriffo Relawan PPLH Trawas



Belum lama ini saya bertemu ELAINE MONTEGRIFFO di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Trawas, Mojokerto. Saya ditemani kawan-kawan penggiat lingkungan, budayawan, seniman. Dengan ramah, Elaine bercerita bagaimana ia meninggalkan pekerjaannya di Melborne agar bisa menjadi volunteer (relawan) di Indonesia.

Elaine lahir di London, Inggris, 8 Oktober 1958. Kemudian pindah ke Australia menjadi warga negara kanguru itu. Di Melbourne, Elaine pernah bekerja sebagai konsultan bisnis, marketing, hingga public relations. Di sela-sela kesibukan itu Elaine juga terjun sebagai pekerja sosial.

"Saya banyak membantu menangani perempuan dan anak-anak," cerita Elaine Montegriffo yang murah senyum itu. Pekerjaan sosial ini membuat ia semakin mendalami berbagai persoalan kemanusiaan. Elaine jadi sadar bahwa ternyata masih banyak anak-anak dan kaum perempuan, khususnya di negara berkembang, hidup susah, perlu perhatian dan bantuan.

Karena itu, setiap kali cuti Elaine Montegriffo berkunjung negara-negara dunia ketiga macam Afrika dan Bolivia. Di Bolivia, negara Amerika Selatan, misalnya, Elaine menjadi relawan independen.

"Saya hidup bersama orang-orang desa yang sederhana. Bolivia itu negara miskin, tidak seperti Indonesia," katanya.

Indonesia memang negara miskin, "Tapi kan banyak orang yang kaya sekali hahaha…." Saya tertawa geli mendengar humor cerdas ala Elaine.

Kembali dari Bolivia, Elaine semakin mantap keinginannya menjadi relawan di negara berkembang. Kali ini pilihannya Indonesia. "Karena saya suka Indonesia, negara tetangga Australia," ujar wanita berbadan kurus ini.

Bagaimana cara Australia mengorganisasi para relawannya? Ini banyak ditanyakan teman-teman dari Sidoarjo. Menurut Elaine, di sana ada AVI (Australia Volunteer Intensive), organisasi semipemerintah yang mengurus relawan. Warga Australia yang berminat mengajukan proposal, program kerjanya, serta negara tujuannya. Nah, Elaine Montegriffo memilih Indonesia.

"Kami semua ada 50 orang, tersebar di seluruh Indonesia," cerita Elaine.

Namanya juga relawan, petualangan ke pelosok-pelosok desa di Indonesia ini dilakukan secara sukarela, tanpa mengharap imbalan atau digaji. Lembaga yang menggunakan jasa relawan Australia ini tidak perlu pusing mencari uang untuk menggaji Elaine dan kawan-kawan. "Di Jawa Timur ini saya punya teman di Jombang," ujar Elaine yang tengah belajar bahasa Indonesia.

Hanya, AVI alias organisasi koordinator relawan tadi tetap menyediakan dana untuk biaya hidup selama berada di Indonesia. Elaine sendiri mengambil program lingkungan hidup di Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, dan sekitarnya selama dua tahun. Program itu dilaksanakan Elaine bekerja sama dengan PPLH.

"Cocok karena PPLH sedang mencari volunteer," tutur Elaine Montegriffo.

Elaine mengaku betah tinggal di pelosok yang jauh dari keramaian. Mungkin karena sudah jenuh dengan suasana kota besar macam Melbourne, Elaine ternyata kurang suka dengan keramaian kota seperti Surabaya, Jakarta, atau Sidoarjo. Ia memilih tinggal di pelosok-pelosok kampung, bergaul dengan orang-orang desa yang masih relatif 'bersih' dari polusi kota.

"Anda tidak takut tinggal di sini, katanya Indonesia sarang teroris?" tanya saya.

"Aduh, aduh… takut, takut, takut!" balas Elaine seraya mengangkat kedua tangannya.
Elaine sekadar bercanda, tentu saja. Isu bahwa Indonesia tidak aman, berbaya bagi orang Barat, ternyata tidak benar. "Di sini saya aman-aman saja," katanya lalu tertawa kecil.

Joice Indarto Pejuang KBA



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

UNTUK urusan keluarga berencana alamiah (KBA), nama JOICE D. INDARTO tak asing lagi di telinga jajaran BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dari daerah hingga pusat. Saking getolnya mengkampanyekan KBA, Joice sangat dekat dengan Dr .Haryono Suyono, bekas kepala BKKBN sekaligus menteri pada era Orde Baru. Mereka aktif berdiskusi tentang KB, keluarga sejahtera, dan seterusnya.

Namun, untuk sampai pada hubungan yang baik dengan BKKBN, Joice mengalami proses yang tidak sederhana. Sebab, Joice dan timnya (KBA) mula-mula dianggap menjegal program KB yang sangat gencar dilakukan Orde Baru. Asal tahu saja, pada tahun 1970-an hingga 1980-an, banyak wanita di desa-desa dipaksa menjadi akseptor KB metode spiral (IUD).

"IUD-isasi itu awalnya penuh paksaan, sehingga ibu-ibu banyak yang ketakutan," tutur Joice kepada saya. Metode KB buatan ala BKKBN--pil, suntik, atau kondom--pun awalnya mendapat perlawanan dari masyarakat. Sebab, waktu itu masyarakat masih menganut pandangan 'banyak anak, banyak rezeki'. Pembatasan kelahiran dengan KB dianggap melawan kodrat manusia.

Belajar KBA sejak 1976, dari pakar-pakar asal Australia, Joice D Indarto berkeyakinan bahwa KBA--tim Joice menggunakan Metode Ovulasi Billings (MOB)--sangat sederhana, mudah dipraktikkan, paling murah, tanpa risiko atau efek sampingan. Begitu gampangnya, kata Joice, istri yang buta sekalipun bisa menerapkan dengan sukses.

"Kuncinya, ya, mengenali diri sendiri. Kalau istri sudah mengenali dirinya, khususnya siklus kewanitaannya, maka KBA bisa berjalan dengan baik," tutur Joice, yang juga dipercaya sebagai konsultan KBA di RKZ Surabaya.

Selain istri mengenali diri sendiri, peran sang suami sangat menentukan. Suami harus bisa menahan diri, tidak berhubungan seksual dengan istri, saat masa subur jika tidak menginginkan kelahiran bayi. "Di sinilah letak cinta sesungguhnya antara suami dan istri. Jadi, suami jangan hanya menuruti nafsunya saja," kata wanita yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris itu.

Kegagalan KBA nyaris tidak ada, asalkan MOB yang ditemukan Dr Billings (Australia) itu diikuti secara penuh. Joice kemudian menjelaskan secara singkat teknis KBA. Buku-buku KBA pun sudah banyak tersedia.

"Saya lebih suka istri datang konsultasi KBA bersama suaminya. Sebab, kunci keberhasilan KBA juga ditentukan oleh suami. Kalaupun istri mengerti teknis KBA, tapi suaminya ngotot, nggak bisa menahan diri, ya, gagal," ujarnya.

Berapa akseptor KBA yang sudah ditangani Joice?
Bagaimana tingkat keberhasilannya?

"Wah, sudah ribuan orang, dan sulit dihitung. Anda bayangkan saja, saya melayani KBA ini sudah 30-an tahun sejak tahun 1976," ujar peraih penghargaan pada pelatihan
KBA di Jakarta tahun 1987 itu.

Joice Indarto sangat yakin bahwa sampai kapan pun KBA terus bertahan di dunia. "Buktinya, akseptor KBA justru naik terus."

BERKAT KEPAKARAN DAN PENGALAMAN LUAS DI BIDANG KELUARGA BERENCANA ALAMIAH, JOICE D INDARTO BERHASIL MEMBUAT RATUSAN PASANGAN SUAMI-ISTRI (PASUTRI) BAHAGIA. PARA PASUTRI INI BISA BEROLEH KETURUNAN SETELAH BERUSAHA SELAMA BERTAHUN-TAHUN.

Suatu ketika Joice Indarto kedatangan Josi, remaja belasan tahun. "Saya Josi. Saya lahir ke dunia berkat jasa Bu Joice. Jadi, saya ini sebetulnya anaknya Bu Joice," cerita Joice kepada saya.

Joice bingung, heran, bercampur kaget. Tapi, setelah Josi bercerita panjang lebar, akhirnya Joice sadar bahwa orang tua Josi tak lain pasien dia sendiri. Ketika kesulitan dapat anak, kedua orang tua si Josi datang berkonsultasi kepada Joice. Joice memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana 'berhubungan' suami-istri yang jos, produktif.

"Dia turuti nasihat saya, dan ternyata berhasil. Saya sendiri ikut bahagia," tutur wanita kelahiran Jatinegara, 26 Desember 1948 itu.

Berdasar pengalaman selama 30 tahun mendampingi ribuan Pasutri, Joice menegaskan bahwa untuk memperoleh anak sebetulnya tidak sulit. Syaratnya, istri harus 'mengenali diri' serta mendapat dukungan penuh suami. Suami jangan sekali-kali menjadi istri semata-mata sebagai objek nafsu seksual.

"Kalau tiap saat, tiap jam, si suami ngotot minta hubungan seks, ya, jelas tidak bagus. Spermanya pasti tidak sehat, sehingga pembuahan tidak berjalan dengan baik. Bagaimana bisa punya anak?"

Menurut Joice, suami yang nafsu seksnya kurang, pasif, malu-malu, menunggu isyarat dari istri, pun sering kali sulit memperoleh anak. Kepada pasutri macam ini, Joice mengusulkan agar mereka mengubah pola hubungan seksual mereka.

"Lha, bagaimana mau punya anak kalau pas masa subur, si suaminya diam saja?" ujar Joice yang menjadi konsultan KBA sejak tahun 1976.

Dalam beberapa ceramahnya, Joice D Indarto mengatakan, dengan nada humor, "Selama Tugu Pahlawan (penis) masih tegak berdiri dan istri masih subur, jangan khawatir. Pasutri, insya Allah, tetap punya harapan untuk mendapatkan anak," tutur Joice.

Gara-gara kerap melayani konsultasi pasutri yang kesulitan memperoleh anak, Joice sering dianggap sebagai 'dukun'. Joice pun tertawa geli.

"Dukun apa? Yang saya sampaikan sebetulnya teori biologi yang sangat dasar. Kalau itu dilakukan, ya, jadilah pembuahan. Semua itu atas kuasa Tuhan semata-mata. Saya dan tim KBA hanya sekadar memberikan wawasan," katanya.

Apa sih enaknya jadi konsultan KBA?

Joice langsung menunjuk dadanya. Kepuasan. Itulah yang diperoleh Joice selama 30 tahun. Ikut bahagia melihat pasutri yang bertahun-tahun tak beroleh keturunan (ada yang 10 tahun, 20 tahun pernikahan) akhirnya bisa tersenyum.

"Kalau materi, apa sih yang kita dapatkan di KBA? Lain dengan bidan atau dokter yang melayani KBA biasa. Untuk konsultasi, saya tidak pasang tarif. Ada yang kasih Rp 10 ribu, Rp 15 ribu... saya terima. Nggak bayar juga nggak apa-apa."

KLINIK KBA JOICE INDARTO
GRIYA MAPAN UTARA 4C/BE-15
TROPODO, KECAMATAN WARU, SIDOARJO, JAWA TIMUR

Mus Mudjiono Dedengkot de Hand's from Surabaya


Saya beruntung bisa berbincang sangat akrab dengan Mus Mudjiono, penyanyi yang pernah saya sukai saat di SMA dulu. Cak Nono, sapaan akrabnya, kebetulan pernah ditanggap RADAR SURABAYA, koran tempat saya bekerja, untuk konser di Gedung Balai Pemuda, Surabaya. Kami bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, dalam hal ini pengelola Balai Pemuda atawa Simpangsche Societeit.

Adik kandung Mus Muljadi ini memang arek Suroboyo tulen. Dia merintis karier sebagai pemusik di Surabaya, pindah ke Jogjakarta, sebelum menemukan karakternya sebagai peniru George Benson. Suasana konser Cak Nonok selalu cair. Bicara akrab, santau, bercanda... layaknya orang jazz.

Mus Mudjiono banyak mengenang masa kecilnya di Surabaya. Dia bikin de Hand's yang sempat terkenal pada 1970-an. "Lagu pertama saya Hello Sayang. Lagu itu saya ciptakan tahun 1972," jelasnya.

Mus Mudjiono bercerita bagaimana ia frustrasi karena selalu berada di bawah bayang-bayang Mus Muljadi, kakak kandungnya. Mus Muljadi saat itu sangat hebat.

"Pop disikat, keroncong dengan Dewi Murni, langgam Jawa, dangdut dengan Hitam Manis... Saya seperti tidak diberi kesempatan apa-apa. Setiap kali saya nyanyi, orang melihat saya sebagai Mus Muljadi. Padahal, saya ingin menjadi Mus Mudjiono," ujar pria tampan ini.

Di Jogja, pada 1975-1979 Mus Mudjiono berkolaborasi dengan seniman setempat, di antaranya dr Susilo (orang Surabaya, yang sudah tinggal lama di Jogja). Mus disuruh menghayati musik unik, main gitar sambil menirukan nada-nadanya dengan mulut.

"Gitaran sambil celometan," begitu istilah Mus Mudjiono.

Ternyata, artis kulit hitam Amerika Serikat yang dirujuk Mus Mudjiono ini tak lain George Benson, gitaris jazz dan vokalis papan atas. Dan Mus mengaku bahagia karena karakter itu berbeda tajam dengan apa yang dibuat Mus Muljadi. Niat untuk tampil beda dari Mus Muljadi akhirnya kesampaian.

Sebagai `fotokopi' idolanya, Mus Mudjiono meniru George Benson dengan nyaris sempurna. Cara memetik gitar, bahasa tubuh--khususnya gelengan kepala dan gerakan mata--dan terutama teknik scat singing (main gitar sambil celometan) yang dahsyat itu. "Gitaran sambil celometan itu capek lho," ujar Mus Mudjiono.

Pada 17 Desember 2005, RADAR SURABAYA menggelar 'Konser Rindu' di Balai Pemuda. Mus Mudjiono tampil kembali bersama de Hand's, band yang dia bentuk pada awal 1970-an.

"Sudah 30 tahun ini kita tidak pernah bermain sama sekali. Baru malam inilah de Hand's bisa reuni dan tampil lagi depan masyarakat Surabaya," ujar Cak Nonok kepada saya selepas konser.

Selain Cak Nonok alias MUS MUDJIONO (gitar, vokal, music director), de Hand's diperkuat HARRY DH (keyboard), ABIDIN LESSY (bas), dan PANG PRAMONO (drum). Meski absen selama tiga dekade, mereka masih piawai memainkan hitsnya seperti Maafkan Daku, Thank You, Hallo Sayang. "Kami Cuma latihan satu kali saja langsung main," ujar Cak Nonok.

Berbeda dengan gaya musik Cak Nono pada era 1990-an, lagu-lagu de Hand's kebanyakan manis, cenderung melankolis, dalam tempo sedang (mid tempo). Band tua ini cukup kaya variasi karena selain Cak Nono, Harry DH dan Abidin bisa pula menyanyi.

Vakumnya de Hand's selama 30 tahun lebih rupanya membuat banyak warga Surabaya lebih tahu Mus Mudjiono sebagai 'duplikat' George Benson ketimbang pentolan de Hand's. Jangan heran, belum apa-apa penonton meminta Cak Nono menyanyikan Tanda-Tanda, Arti Kehidupan, Satu Jam Saja... yang nota bene bukan milik de Hand's.

20 October 2006

Poso Lagi... Pendeta Ditembak

Poso, Palu, Tentena, dan beberapa kawasan di Sulawesi Tengah tak putus dirundung konflik. Baku bunuh, baku tembak, teror, caci maki, baku benci. Pada 16 Oktober 2006, pukul 08.30 Wita, Pendeta IRIANTO KONGKOLI (43 tahun) ditembak dua orang tak dikenal. Dua teroris ini pakai penutup kepala.

Irianto sekretaris umum majelis sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah. Senin pagi Irianto ke toko bangunan, Sinar Sakti, bersama istrinya, Iptu RITA KUPA (40 tahun), anak bungsu, GALATEA POLIKA (5 tahun), dan seorang sopir. Tiba-tiba saja si pendeta terkapar tanpa nyawa. Dan penembaknya kabur pakai motor Honda Supra.

Kekerasan di Poso macam litani. Sebelumnya, kita ingat, tiga pelajar SMA Kristen Poso dipenggal kepalanya. Pendeta SUSIANTI TINULELE tewas ditembak waktu kasih khotbah di gereja. Jaksa FERRY SINULAHI juga tewas ditembak. Daftar kekerasan masih panjaaaaaaang.

Beberapa saat setelah kejadian, pejabat-pejabat di Jakarta melontarkan pernyataan klise. Anatomi pelaku sudah diketahui. Itu teroris, bukan kejahatan biasa. Itu ulah oknum-oknum untuk memelihara konflik horizontal. Polisi akan secepatnya menemukan pelaku. “Anatomi pelaku sudah kami ketahui. Tinggal cari saja mereka itu,” kata Jenderal Sutanto, kapolri.

Sejak dulu begitu. Hasilnya, ya, tak pernah jelas. Kalaupun tertangkap, biasanya pelaku kelas teri saja. Otak atau auctor intellectualis kerusuhan tidak pernah ketemu. Pun tak jelas akar masalah. Kenapa sih kerusuhan terus-menerus, tembak-menembak, peledakan bom... jalan terus di Poso dan sekitarnya. “Bom kok kayak petasan saja,” kata Eddy Locke, teman saya, kolumnis di Surabaya.

Untungnya apa memelihara kerusuhan di Tanah Air? Sampai sekarang tak pernah jelas. Pemerintah kita, untuk kesekian kalinya, gagal melindungi rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakilnya, Muhammad Jusuf Kalla, masih cenderung menganggap krisis Poso sebagai kasus biasa. Belum ada usaha serius untuk menciptakan perdamaian sejati.

Pada 22 September 2006 FABIANUS TIBO, MARINUS RIWU, dan DOMINGGUS DA SILVA dieksekusi mati di Palu. Tiga orang ini--kebetulan asal Nusa Tenggara Timur dan Katolik—disebut--sebut sebagai dalang kerusuhan Poso. Setelah dihabisi atas nama kepastian hukum, katanya, Poso jadi lebih damai. Tak ada lagi baku tembak, balas dendam, sakit hati...

Nyatanya? Belum genap sebulan, Poso dan beberapa daerah di Sulawesi Tengah kisruh lagi. Bom meledak macam mainan. Warga sipil diadu oleh kekuatan besar yang tak tersentuh. Kasihan!

Dulu, zaman saya sekolah dasar di kampung, Pak Guru bilang orang Indonesia ini murah senyum, cinta damai, paling ramah di dunia. Tak ada bangsa lain yang bisa menyamai keramahan orang Indonesia. Aduhai, kemunafikan yang sempurna!

Menjelang kejatuhan Soeharto, penguasa Orde Baru, tahulah kita bahwa itu semua palsu. Bangsa Indonesia, eh, ternyata tak kalah kejam dari binatang buas. Dayak-Madura baku bunuh. Baku bunuh di Ambon. Baku bunuh, baku tembak di Sulawesi Tengah. Baku bae sudah jadi barang langka.

Duh, "Aku malu jadi orang Indonesia!" katanya penyair Taufiq Ismail.

Jumaadi Gepenk Pelukis Sidoarjo di Sydney


JUMAADI alias GEPENK, lahir 25 September 1973, pelukis muda asal Sidoarjo. Dalam beberapa tahun terakhir Gepenk berdomisili di Sydney, Australia. Bagaimana kisah hidupnya di negara kanguru itu?

Kerja keras.

Itulah yang dirasakan Gepenk, pendiri SANGGAR PECANTINGAN di Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo. Saking sibuknya bekerja, seniman di Sydney tak punya waktu untuk bertengkar atau cangkrukan.

"Kalau nggak kerja keras, ya, nggak bisa hidup. Kesenian itu sama dengan pekerjaan lain, harus ditekuni dengan kerja keras," ujar Jumaadi, yang kawin dengan wanita bule Australia itu.

Dalam satu minggu, Gepenk mengaku hanya bisa libur satu hari. Itu pun tidak bisa libur total--misalnya tidur-tiduran melulu, rekreasi, ngelencer. "Saya ini nguli tiga hari, berkesenian tiga hari, libur satu hari," paparnya.

'Nguli' berarti kerja sebagai tukang cuci piring di restoran, mengurus taman atau rumput-rumputan... singkatnya pekerjaan-pekerjaan kasar. Di Australia, mencuci piring, cuci pakaian, dan seterusnya bukan pekerjaan rendah. Tak sedikit mahasiswa Indonesia di Australia, kata Gepenk, aktif menjadi kuli.

Habis 'nguli' tiga hari, Gepenk kembali ke studio menyelesaikan karya-karya seni. Gepenk yang pernah pameran di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya ini banyak mengusung isu lingkungan hidup. Nah, di Australia Gepenk mendapat ajang yang sangat bagus untuk mengembangkan karya-karya bernuansa pedesaan.

Kenapa seniman di Australia harus kerja keras? Ini ada kaitan dengan galeri, mitra utama pelukis, serta dukungan pendanaan dari Art Council, semacam 'dewan kesenian' di negara bagian. Art Council senantiasa memantau kinerja seniman-seniman yang aktif di negara bagian, kemudian memberikan rekomendasi agar dapat dana.

Seniman yang tidur-tidur melulu, kerja suka-suka, tunggu ilham, tidak produktif, tidak menawarkan sesuatu yang baru... jangan harap dapat dana atau sponsor. "Biarpun Art Council itu temannya sendiri. Di sana sangat objektif," tutur Gepenk.

Iklim kehidupan seni di Australia sangat sibuk. Semua negara bagian berlomba menjadi yang terbaik. "Sydney nggak mau kalah sama Darwin, dan seterusnya. Mau tidak mau, kita harus larut dalam iklim kompetisi semacam ini," ujarnya.

Kerja keras, kompetisi ketat, tekanan dewan kesenian... ibarat seleksi alam. Nantinya akan kelihatan mana seniman serius mana seniman yang 'nyeniman' alias hanya mengaku-ngaku seniman zonder karya. Kalau si senimannya setengah-setengah... habislah dia.

DI Sydney, JUMAADI alias GEPENK mengembangkan kesenian komunitas. Kesenian yang dilakukan oleh warga biasa, bukan seniman. Tahun 2005 dan 2006 Gepenk menggelar program Wayang Sydney.

"Kalau komunitas kesenian sudah jelas. Mereka seniman yang sudah jadi. Mereka tidak perlu diurus lagi, bisa jalan sendiri," ujar Jumamadi Gepenk kepada saya.

Apa sebetulnya Wayang Sydney? Pelakunya, kata Gepenk, orang-orang biasa macam ibu rumah tangga, kuli bangunan, tukang cuci piring, mahasiswa, pekerja. Mereka orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Sydney. "Kami main wayang di Sydney, makanya saya sebut Wayang Sydney," ujar Gepenk.

Tahun 2004, bekas aktivis lingkungan hidup di Trawas, Mojokerto, ini bikin 'ulah' di Sydney dengan wayang suket (rumput). Gepenk mengayam wayang-wayangan dari rumput dan menggelar pameran di taman-taman kota. Aksi wayang suket ini mendapat perhatian penduduk Sydney. Karena penasaran, mereka yang tadinya hanya menonton minta diberi kursus membuat wayang suket.

Setelah aksi wayang suket, warga justru meminta Gepenk untuk menghadirkan atraksi kesenian khas Indonesia. "Saya juga bikin acara dongeng dari sekolah-sekolah di Sydney. Saya menceritakan budaya, alam, serta berbagai hal tentang alam pedesaan yang saya alami di Sidoarjo. Cerita tentang anak gembala," kata Gepenk.

Thalib Prasodjo Gurunya Pelukis



M. THALIB PRASODJO yang akrab disapa Eyang Thalib bukan pelukis sembarangan. Pria yang tinggal di Taman Erlangga V/16 Sidoarjo ini pada 2005 lalu menerima penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.

"Alhamdulillah, Pak Gubernur masih memperhatikan seniman kayak saya," ujarnya kepada saya.

Lahir di Surabaya, 17 Juni 1931, Thalib memang seniman sejati. Darah seni mengalir deras dalam tubuhnya, sehingga Thalib menekuni kesenian sejak usia dini. Ketika remaja seusianya masih banyak yang bersantai, belum kerja, Thalib sudah mantap di seni rupa. Mulai dari membuat patung, relief, taman, sketsa, dan lukisan di atas kanvas.

Tak heran, ketika menjadi mahasiswa Akademi Seni Rupa, Thalib dipercaya sebagai asisten dosen. "Saya disuruh mengajar teman-teman, sesama mahasiswa," kenang Thalib di rumahnya yang asri itu.

Pengalaman menjadi asisten dosen ini kemudian membentuk jiwanya sebagai guru. Pendidik. Sampai sekarang, selain terus berkarya, Thalib mengajar di berbagai lembaga pendidikan baik formal dan nonformal. Di Sidoarjo, misalnya, Thalib dengan senang hati membagikan ilmu dasar-dasar seni rupa kepada remaja.

Saya pernah ikut kelas melukis Eyang Thalib. Sistem mengajarnya sangat sistematis, padat teori. Pendidikan macam ini kayaknya hanya bisa diperoleh di lembaga pendidikan formal.

Pengetahuan tentang warna, komposisi, anatomi, dan sebagainya diberikan secara cuma-cuma. Asalkan mau belajar, tekun, mau maju, Thalib sangat senang. "Tapi, kalau tidak ada kelanjutannya, ya, sudah. Semua itu tergantung pada mereka yang mau belajar seni," ujarnya.

Kenapa Thalib begitu serius menanamkan teori dasar seni rupa kepada anak-anak muda? Menurut dia, pengetahuan tentang teori dasar seni rupa itu merupakan fondasi bagi para seniman. Jika dasarnya tidak kuat, maka goresan sang seniman sulit dipertanggungjawabkan secara artistik. Pelukis boleh saja melakukan distorsi, deformasi, dan sebagainya, tapi sebelumnya ia harus kuasai dulu anatomi.

DI Jawa Timur, selain M. Thalib Prasodjo, hanya ada satu seniman lagi yang menekuni sketsa: Lim Keng. "Yang lain kayaknya nggak berani terjun di skesta. Padahal, kalau mau ditekuni, skesta itu sangat kuat, menembus sampai ke dalam," tutur Thalib seraya menepuk dadanya.

Pria yang lahir di Surabaya, 17 Juni 1931, ini mengaku menekuni skesta sejak remaja. Kebetulan ia dekat dengan seni tradisi Jawa, khususnya wayang kulit. Nah, bagi Thalib Prasodjo, wayang-wayang itu macam skesta saja. Akhirnya, Thalib kecil belajar menggambar wayang, modal dasar yang bakal melambungkan namanya sebagai salah satu 'raja skesta' Indonesia.

Apa kekuatan sketsa? Thalib membuka tas yang berisi karya-karya sketsanya. Thalib berkarya setiap hari--bisa lima hingga enam sketsa--sehingga jumlahnya karyanya sangat banyak. "Anda perhatikan baik-baik sketsa ini," ujar Thalib seraya memperlihatkan sketsa seorang wanita yang berdiri di dekat pilar ruangan.

"Apanya yang menarik?" Thalib bertanya. Saya diam saja.

Lalu, Thalib menjawab sendiri. "Sketsa itu kekuatannya di garis. Kunci dari sketsa itu garis. Wajah orang itu kan ada garisnya, leher ada garis, dan seterusnya."

Beda dengan melukis di kanvas, sketsa hanya perlu kertas, pensil, pulpen, bolpoin. Membuat sketsa pun sangat cepat, tak sampai 10 menit. Dalam demo di Sidoarjo, Thalib hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk sebuah sketsa yang selesai.

"Prinsipnya sederhana saja. Sketsa itu bahan dasarnya garis. Bagaimana kita memainkan garis sehingga objek lukisan kita menjadi hidup," jelasnya.

Prinsipnya sederhana, garis (line), tapi dalam praktik hanya sedikit seniman yang menekuni sketsa. Kenapa? "Karena sulit. Membuat sketsa itu harus sekali jadi, nggak pakai koreksi-koreksian. Lain dengan pakai cat (di kanvas), bisa dikoreksi dengan mudah."

Untuk urusan sketsa, Thalib sangat produktif. Kapan saja ia buat sketsa, apalagi ketemu objek-objek bagus. Acara nyadran nelayan di Sidoarjo, anak-anak mandi di Bambu Runcing (Surabaya), hiruk-pikuk di pasar ikan... langsung 'dipindahkan' Thalib ke atas kertas. Jadilah sketsa yang hidup.

Bupati Sidoarjo Win Hendrarso mengoleksi sketsa anak-anak kecil mandi di Bambu Runcing. "Saya pribadi juga senang dengan sketsa itu. Sangat kebetulan saya ketemu dengan objek yang sangat menarik," kenang Thalib.

Jangan heran, ke mana-mana Thalib membawa tas besar berisi kertas dan pulpen untuk membuat sketsa. Ibarat fotografer yang selalu membawa kamera, film, atau peralatan digital untuk merekam objek bagus.

Di samping sketsa, Thalib piawai dalam seni patung. Pada 2005 lalu, dia bikin patung pahlawan (tak kenal) di kompleks Tugu Pahlawan, Surabaya. Berbeda dengan sketsa atau lukisan, patung seperti ini biasanya dipesan oleh pribadi atau instansi. "Sebab, patung harus ditempatkan di lokasi tertentu, dan itu berkaitan dengan tata ruang dan kebijakan pemerintah."

Khusus seni patung, Thalib menilai kita (Indonesia) masih kalah jauh dari luar negeri. Di sana kerja sama antara pemda dan seniman (patung) sangat baik sehingga penempatan patung itu pas, rakyat bisa menikmati. Buat apa patung kalau letaknya tersembunyi? Thalib menunjuk patung karapan sapi di Keputran, Surabaya. Patung itu tidak terlihat.

"Saya sudah bilang bahwa penempatannya kurang pas," kata Thalib. Tapi, rupanya, Gubernur Jatim Soelarso (waktu itu) bergeming. Di luar negeri, kata dia, ada lahan kosong yang cukup luas agar patung-patung bisa dinikmati oleh warga dari berbagai posisi.

Kobe, Band Sidoarjo yang Naik Daun



Oleh Lambertus Hurek

Stadion Tambaksari, Surabaya, Sabtu (11/12/2004) dinihari. Tiga ibu berbusana muslim duduk di antara ribuan anak muda penggemar musik rock. Mereka harap-harap cemas menunggu pengumuman dewan juri. Ketika jarum jam menunjuk angka 01.30 WIB, daftar 10 finalis festival versi Log Zhelebour itu pun diketahui.

"Kobe dari Sidoarjo," ujar Yoyok Andromeda, juri yang juga drummer grup band Padi. Hj FATIMAH PRINGADI bersama dua wanita usia 50-an lainnya pun berangkulan dengan anak-anak gaul.

Yah... mereka personel KOBE, band cadas asal Waru, Sidoarjo. KOBE terpilih sebagai penampil terbaik, the best performer.

Ben bernama KOBE, yang selalu pakai kostum putih-putih plus topeng ala astronot, INI diperkuat HELMY (gitar), PAI (gitar), DAYAT (bas), FARIZ (perkusi), CEKO (vokal), SANCHE (vokal), dan IDHAM (drum). Mereka tak hanya kompak, tapi juga menampilkan atraksi teaterikal di atas panggung. Gayanya heboh.

DI balik penampilan di atas panggung yang bebas dan garang ternyata anak-anak KOBE awalnya mendapat tantangan berat dari keluarga. Orang tua mereka tak ingin anaknya berkarier di musik, tapi kuliah, dan kemudian kerja. Cari uang jangan di musik. Masa depan suram. Bagaimana nanti masa depan mereka?

"Namanya juga orang tua, ya, kita khawatirlah," ujar Fatimah, ibunda Helmy dan Idham, dua motor utama KOBE, kepada saya.

Dengan segala cara, Fatimah mencegah anaknya bermain musik. Ini membuat Helmi dan Idham ketakutan, sehingga harus kucing-kucingan mencari kesempatan buat menyalurkan bakat mereka. Apa saja yang bisa dipukul, misalnya dandang atau panci, dimainkan Idham sebagai pelampiasan. Sementara Helmy main gitar di luar rumah karena takut dimarahi orang tua.

"Mungkin dia terpaksa main sama temannya di luar. Sepertinya hobi yang satu itu sudah nggak bisa ditekan. Mereka selalu punya cara untuk bisa main musik di luar," kata Fatimah.

Helmy dan Idham termasuk anak saleh, taat orang tua... kecuali dalam hal musik. Intuisi dan dorongan hati yang kuat membuat mereka terpaksa 'akal-akalan' agar bisa bermusik, ngeben. Hingga suatu ketika, belum sampai setahun, Hj Fatimah Pringadi angkat tangan.

"Saya merasa sudah tidak bisa melarang. Kalau itu sudah jadi pilihan mereka, sudah diniati, ya, sudah. Silakan jalan terus," cerita wanita yang ramah ini.

Terjadi perubahan drastis pada Hj Fatimah. Bukan saja ia membiarkan anak-anaknya bermusik, dia malah membuatkan sebuah studio musik di Jalan Brigjen Katamso, kawasan Pabrik Paku, Waru. Namanya FRIDAY STUDIO, khusus buat Idham dan Helmy mengembangkan talenta musik. Studio ini juga bisa disewa anak-anak ben.

"Saya ingin memberikan yang terbaik kepada mereka. Biar arahnya jelas," ujar Fatimah.

Betapa haru hati Idham dan Helmy melihat perubahan sikap luar biasa dari orang tuanya. Kalau sudah begini, pilihan untuk menekuni musik harus dijalani sungguh-sungguh. Usai Friday Studio dibuka, lahirlah KOBE BAND.

Ben rock modern ini langsung melejit di Sidoarjo, kemudian Jawa Timur, dan akhirnya nasional. Jika Log Zhelebour menggelar konser musik rock di Jawa Timur, hampir pasti KOBE selalu diajak.

"Kualitas mereka memang di atas rata-rata. Dan mereka kerja keras untuk eksis di musik rock," puji Dicky Hermawan, event organizer yang banyak memanggungkan KOBE di Sidoarjo dan beberapa kota lain di Jawa Timur.

Djoko Lelono Pelukis Pemecah Rekor MURI



Suka bikin heboh. Itulah STEVANUS DJOKO LELONO, pelukis senior yang berdomisili di Perumahan Magersari Permai BC/8 Sidoarjo. Ada-ada saja kejutan yang ia buat demi menggairahkan kehidupan seni rupa di Jawa Timur.


MASIH segar dalam ingatakan kita, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 9 Juni 2004, Djoko mengajak anak-anak kampung untuk melukis di kanvas sepanjang 100 meter di pinggir Sungai Karang Gayam, Sidoarjo. Melukis apa saja, terserah anak-anak.

“Silakan bebas berekspresi. Saya tidak akan menyalahkan atau membetulkan,” ujar Djoko Lelono kepada saya.

Lukisan anak-anak yang terkesan naif, sekenanya, tarikan garis kurang kuat, tidak memperhatikan anatomi, sosok tak jelas... dinilai Djoko justru memberi banyak kearifan terselubung.

Mereka, anak-anak, biasanya sangat jujur mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasa. Maka, meski tidak memberikan tema tertentu (apalagi ‘juklak’ ala birokrasi), karya anak-anak yang dihimpun Djoko Lelono rata-rata berkisah tentang keprihatinan sosial. Anak-anak pinggir kali mengungkapkan keprihatinannya akan polusi di sungai, eceng gondok bertebaran, kehidupan nelayan yang kian sulit, dan seterusnya.

Selepas acara di Karang Gayam, Djoko Lelono seakan-akan menghilang dari peredaran. Pria kelahiran Jogja ini pun jarang bicara dalam diskusi atau sarasehan budaya yang marak di Sidoarjo. Asal tahu saja, Djoko termasuk seniman rupa yang doyan bicara.

Bicara apa saja Djoko berusaha merespons, mengemukakan pandangan yang kerap cukup memancing kontroversi. “Diskusi budaya perlu dihidupkan di Sidoarjo. Kalau nggak begitu seni tak akan berkembang.”

Adakah Djoko Lelono istirahat dari aktivitas kesenian atau kembali menekuni dunia kerajinan? Ternyata tidak. Diam-diam safari budaya Djoko tetap berjalan di Kabupaten Sidoarjo. Belum lama ini ia mengajak anak-anak kampung di sekitar Candi Pari, Kecamatan Porong, untuk aktivitas yang sama.

Di kompleks candi terkenal itu, lagi-lagi Djoko Lelono mengajak anak-anak untuk melukis di kanvas panjang yang sudah ia siapkan. Saking panjangnya, kanvas putih dibuat berkelok-kelok karena kompleks Candi Pari terlalu sempit untuk memajang kanvas tersebut. Begitu kanvas dibentangkan Djoko, anak-anak dan warga kampung heran. Ada apa ini? Candi mau diselimuti?

Apa boleh buat, Djoko Lelono harus menjelaskan maksudnya kepada warga kampung Candi Pari, khususnya juri kunci candi. “Setelah dijelaskan, anak-anak sangat mendukung. Mereka sepertinya mendapat mainan baru.”

Habis di Candi Pari ke mana lagi? Djoko Lelono mengaku melakukan aktivitas seni di lapangan ini secara spontan, tanpa banyak rencana. Yang jelas, kampung Kepetingan, pantai wisata di dekat Selat Madura, bakal menjadi lokasi favorit Djoko. Semakin banyak tempat yang dijadikan ajang safari budaya, katanya, semakin bagus.

“Jadi, kita bisa membaca aspirasi anak-anak yang berbeda-beda. Sidoarjo ini kan luas sehingga perlu lebih banyak sampel,” kata Djoko Lelono yang dulu sering memberikan workshop budaya di Sanggar Pecantingan Sidoarjo itu.

Jika kanvas-kanvas panjang sudah terisi dengan lukisan karya anak-anak dan warga kampung, Djoko Lelono berencana melapor ke Museum Rekor Indonesia (Muri) di Semarang. Sejak awal Djoko memang punya obsesi untuk menjadikan forum safari budaya keliling kampung Sidoarjo ini layak masuk rekor nasional.

“Bukan cari nama. Buat apa? Saya hanya ingin memberi motivasi kepada anak-anak bahwa mereka sebenarnya pelaku seni. Mereka bisa melahirkan karya besar yang diperhitungkan di tingkat nasional asalkan kita bisa bekerja sama,” tukasnya.

Dalam beberapa kesempatan, Djoko Lelono sempat mengeluh karena iklim pengembangan seni budaya di Kabupaten Sidoarjo secara umum kurang kondusif. Berbeda jauh dengan Bali, Jogja, Semarang, Solo, atau Jakarta. Kenapa?

“Cukup kompleks masalahnya. Dan kalau diurai panjang sekali. Saya sendiri selama ini lebih banyak berkarya di luar Sidoarjo. Baru sekaranglah saya kembali ke Sidoarjo karena daerah ini tempat saya dibesarkan.”

Menurut Djoko Lelono, apa yang ia lakukan bersama anak-anak kampung Sidoarjo ini hanyalah ‘provokasi’ budaya kecil-kecilan. Harapannya, tentu saja, praktisi seni lain di Sidoarjo mau melakukan hal serupa. Tanpa banyak mengeluh, tanpa harus membawa proposal permintaan dana ke mana-mana.

“Seniman harus punya kemandirian.”

18 October 2006

Lonte Tangkis Porong Indah (TPI)





WARGA Porong dan sekitarnya punya istilah khas, TPI. Bukan Televisi Pendidikan Indonesia, melainkan TANGKIS PORONG INDAH. Ini tempat mangkal ratusan lonte di tangkis (tanggul) Kali Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. ‘Keindahan’ tangkis itu bisa disaksikan setiap malam. Tangkis yang siangnya panas terik dan sepi, malam hari sangat meriah.

Di sini tak ada rumah bordil yang khusus menyediakan kamar berikut lontenya. Di sini semua serba darurat. Usai matahari terbenam para ‘pengusaha’ bikin kamar-kamar begituan. Sedikitnya ada 60 kamar.

“Ada semacam panitia atau pemilik. Rangkanya sudah ada, sehingga malam tinggal pasang. Bikinnya gampang sekali, dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun,” ujar Eko, warga Porong.

Pengelola kompleks TPI menyiapkan dua tiga wadah berisi air bersih di depan kamar 2 x 1 meter itu. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk membersihkan organ intim si lonte dan tamunya usai berhubungan badan.

Fasilitas ini, jelas Eko, rata-rata sudah kelar pada pukul 19:00. Begitu gelap merambat, di jalan setapak persis di tangkis Porong warung-warung kopi, teh, dan camilan pun buka. Diterangi lampu minyak tanah--karena tidak ada listrik--kawasan itu tampak hidup. Lalu, lonte mulai berdatangan satu demi satu. Ada yang naik angkot, becak, bahkan diantar teman atau pacarnya.

“PSK di Porong ini banyak yang muda dan cantik-cantik. Nggak begitu menor. Kalau naik angkot orang sering nggak curiga karena penampilannya biasa-biasa saja,” tambah Bambang, warga Gempol, Pasuruan. Kompleks TPI persis di perbatasan Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan.

IYEM, nama samaran, usia 30-an, mengaku kerja di pabrik sepatu Surabaya. Baru sepekan ia cari uang di TPI karena diajak kakaknya. Kebetulan sang kakak, juga buruh pabrik, sudah lebih dulu mengais rezeki di pinggir Sungai Porong itu.

“Kerja di pabrik sepatu saya dibayar Rp 200 ribu per minggu. Saya sekarang banyak utang sehingga terpaksa kerja di sini. Mau bagaimana lagi?” ujar Sariyem.

Malam itu Iyem mengaku belum mendapat satu pun tamu. Tarif sekali kencan di TPI Rp 20 ribu. Jika tamunya baik hati, biasanya ada tips atau tambahan uang rokok. Lain lagi Bu Sri, 60-an tahun, yang kos di Porong.

Dia mengaku baru empat malam praktik di TPI. Sehari-hari Sri yang sudah nenek-nenek ini menjadi pedagang keliling di Porong dan sekitarnya. Entah dapat bisikan dari mana, Sri mengaku ingin cari uang di TPI. “Buat nambah-nambah, Mas. Namanya juga cari rezeki,” ujarnya dalam bahasa Jawa halus.



SEKITAR 80-100 lonte yang praktik di TPI rata-rata berusia di bawah 40 tahun. Sosok Bu Sri ini jelas terlampau tua untuk menjual diri. Apa yang mau ‘dijual’ untuk wanita sepuh? Bu Sri mengaku sangat sadar.

“Sejak empat hari saya sama sekali tidak dapat tamu,” katanya. “Besok pagi, ya, saya jualan lagi. Saya ini sebetulnya malu duduk di sini, tapi...,” ujar Bu Sri.

Begitulah. Di tangkis Sungai Porong sepanjang hampir 200 meter itu berjajar lonte dari beberapa segmen. Segmen pertama, paling timur (dekat jalan raya) dihuni lonte tua macam Bu Sri. Segmen ini paling gelap dan paling sepi.

Segmen kedua, sebelah timur Bu Sri cs, mulai agak ramai, dihuni lonte setengah tua. Lumayan ramai, tingkah polahnya lebih agresif dan norak. Menurut beberapa warga, kalau ada razia oleh Satpol PP dan polisi biasanya mereka pertama kali sering diciduk.

Segmen ketiga di bagian tengah. Bagian ini paling ramai, menjadi tempat mangkal ratusan tamu dan lonte. Bisa dimengerti karena lonte di segmen ketiga (tengah) ini muda dan cantik. Di tangan mereka ada ponsel, senang main games ponsel, atau SMS ngalor-ngidul.

Dandanan mereka tidak norak. Busananya mirip artis dangdut, sehingga menyedot perhatian tamu. Banyak laki-laki yang tahan begadang hanya untuk menemani para lonte muda itu.

“Mereka banyak yang dari Tretes. Gayanya juga nggak malu-maluin,” ujar seorang penjaga warung. Meski segmen tengah ini sangat padat, suasana tetap tenang.

Segmen keempat alias kawasan barat dikapling untuk para lonte banci alias waria. Namanya juga banci, golongan ini sangat agresif. Jumlah banci sekitar 20 orang. Pasaran mereka lebih bagus ketimbang lonte nenek-nenek di sektor timur.

Kupu-kupu malam di Sidoarjo

Sekitar pukul 02:00 WIB, 10 pria nongkrong di warung pinggir jalan. Bicara ngalor-ngidul. Tiba-tiba, seorang wanita sekitar 25 tahun keluar dari hotel di kawasan Bandara Juanda, Sidoarjo.

"Becak!" ujar wanita itu.

"Dia itu laris sekali. Selain cantik, mungkin saja pakai pelet hehe..," ujar Bondet, nama samaran, penjaga warkop malam.

'Laris' di sini mudah ditebak. Bunga, nama palsu juga, kerap di-booking short time di hotel mana saja sesuai dengan keinginan si pria pengguna jasa. Selain Bunga, masih ada beberapa lagi lonte yang kerap nongol di hotel-hotel bertarif di bawah Rp 200 ribu.

Tiap hari Bunga ke sini? "Oh, nggak pasti. Namanya juga jualan, ya, kadang sepi kadang laku. Hotel itu kan banyak, bisa di Surabaya atau tempat lain," kata Bondet.

Sekitar 30 menit kemudian, seorang wanita di atas 20 tahun, tapi lebih muda ketimbang Bunga, lewat di jalan raya. Bergegas, wajahnya pucat. "Dia habis kerja. Kelihatannya kerja keras, wong jalannya agak loyo," tukas pelanggan warung.

"Nggak mampir dulu?"

Si wanita hanya tersenyum. Menurut informasi, cewek ini siangnya kerja sebagai buruh harian lepas di sebuah perusahaan. Upahnya di atas UMK, tapi relatif tak memenuhi kebutuhannya. Maka, dia cari uang malam hari.

Bunga dan Mawar hanyalah dua contoh kecil lonte freelanche. Mereka tidak mangkal di tempat tertentu, katakanlah hotel, kafe, atau pub, tapi mengandalkan jaringan khusus. Mereka bisa hinggap di mana saja, sesuai dengan keinginan konsumen. Jumlahnya tidak pasti.

Di Sidoarjo, yang banyak justru lonte yang memanfaatkan maraknya tempat hiburan malam yang mulai marak sejak 2003. Kafe, pub, karaoke (atau apa pun namanya) yang remang-remang, tertutup, dengan musik menghentak-hentak, asap rokok mengepul, bau alkohol tajam... jadi tempat mangkal. Sebab, dalam kondisi setengah mabuk (teler) biasanya si pria tidak segan-segan menghabiskan uangnya untuk si lonte.

"SELAMAT DATANG! Apa kabar? Kok lama nggak kelihatan, ke mana aja?" sapa perempuan resepsionis kepada rombongan kami, suatu malam, di sebuah tempat hiburan di kompleks ruko baru, dalam kota Sidoarjo. Sok akrab, padahal kami tak pernah ke kafe itu.

Musik dangdut menghentak. Goyangan penyanyi kian panas. Belasan laki-laki pengunjung terlihat setengah mabuk. Si resepsionis tadi berbisik di kuping kawan kami, pelanggan tetap. Keduanya tertawa bebas.

"Katanya, ada beberapa wajah baru. Hot-hot semua. Kita diminta pilih yang mana, terserah...," ujar Freddy, nama samaran.

Malam itu, ruangan kafe dipenuhi begitu banyak wanita (20-40 tahun) dengan dandanan seksi. Mereka ngobrol, tertawa, minum, merokok... bersama para tamu. Ketika si tamu ingin goyang dangdut, oke... mereka siap melayani. Goyang ngebor, goyang kayang, goyang ngecor... no problem.

"Ini sih belum seberapa. Kalau pas musim ramai, wah, luar biasa," kata Freddy.

Pukul 01:30 WIB, beberapa pria setengah teler menggandeng pasangan masing-masing keluar dari arena. Ada yang naik mobil, ada juga yang pakai motor. Transaksi sudah kelar.

17 October 2006

Pasar Seni Sidoarjo


Aktivitas musik di Pasar Seni Sidoarjo.

Pasar Seni Sidoarjo yang berlokasi di Perumahan Pondok Mutiara Sidoarjo melakukan soft opening pada 20 Desember 2005. Stan-stan sudah mulai terisi, dan aktivitas kesenian pun sudah terasa.

Meski begitu, pengelola pasar seni ini masih belum mencapai kesepakatan dengan pihak pengembang, sebagai pemilik bangunan eks ruko itu. Masa sewa pakai hanya berlangsung hingga 31 Desember 2005.

“Kami dari Tim Tujuh terus melakukan negosiasi dengan pengembang. Mudah-mudahan dalam pekan ini juga sudah ada kesepakatan, sehingga teman-teman bisa berekspresi dengan leluasa,” ujar NOENGKY PRASEDARNANTO, anggota Tim Tujuh.

Di acara soft opening, sekaligus jumpa wartawan ini, Noengky didampingi beberapa ‘pentolan’ Pasar Seni Mutiara seperti Henry Harianto (Tim Tujuh) dan Gatot Kintranggono, penyewa yang juga guru kesenian di SMPN 1 Sidoarjo. Juga hadir para seniman serta belasan pengunjung Pasar Wisata Mutiara.

Menurut Noengky, persoalan alot yang masih mengganjal adalah negosiasi antara seniman (diwakili Tim Tujuh) dengan pengembang. Intinya, pengembang ingin menjual eks ruko itu kepada para seniman Sidoarjo dengan harga yang layak. Para seniman sudah menunjukkan iktikadnya untuk ‘memiliki’ kompleks di pinggir jalan tol itu, namun terkendala harga yang kelewat tinggi.

“Tadinya pengembang minta Rp 48 juta, tapi teman-teman maunya Rp 30 juta,” beber Noengky Pasedarnanto. Giliran pengembang Pondok Mutiara yang keberatan karena angka Rp 30 juta dianggap kelewat murah. Negosiasi inilah yang masih berlangsung sampai sekarang.

“Tiap Jumat malam kami selalu bertemu di sini untuk koordinasi sekaligus membicarakan perkembangan terakhir,” cerita Noengky alias Cak Sakek.

Henry Harianto, penggagas Pasar Seni Mutiara, mengaku optimistis bahwa kompleks eks ruko yang sudah disulap menjadi Pasar Seni Mutiara ini bakal sukses. Apalagi, para seniman sudah mendapat dukungan dari Dewan Kesenian Sidoarjo.

“Kami juga butuh dukungan dari pemkab, karena pasar seni ini merupakan aset daerah Sidoarjo. Ini kan sesuai dengan cita-cita pemkab untuk menjadikan Sidoarjo sebagai kota festival,” kata Henry Harianto.

Tidak khawatir diambil kembali si pengembang?

“Oh, saya optimis. Sebab, pengembang juga mendukung pasar seni ini,” tandas Henry, bekas ketua Forum Komunikasi Pelukis Sidoarjo.


FOTO: Henry Harianto, dedengkot Pasar Seni Sidoarjo.

KEBERADAAN Pasar Seni Sidoarjo tak lepas dari sosok HENRY HARIANTO. Dia lahir di Semarang, 8 Maret 1959. Dia beberapa kali bikin galeri lukisan di sidoarjo, tapi gagal terus. Ini membuat Henry kerap menjadi bahan tertawaan sejumlah pelukis di Sidoarjo.

Maka, ketika bekas pedagang kacamata ini menggagas Pasar Seni, muncullah cemoohan itu. Tanggapan Henry? Tenang-tenang saja.

“Silakan orang bicara apa saja. Yang jelas, saya harus jalan terus karena ini bukan proyek main-main,” tegas Henry Harianto kepada saya.

Di zaman sulit macam ini, Henry mengatakan bahwa kita harus optimistis dan berpikir positif dalam memandang masa depan. Kegagalan yang lalu hendaknya menjadi pelajaran untuk berbuat lebih baik di masa depan. “Saya optimistis Pasar Seni di Sidoarjo sukses. Sebab, masih banyak kawan-kawan seniman yang mendukung saya.”

Bagi Henry, pasar seni merupakan ‘proyek’ kesenian bergengsi yang harus didukung komunitas seniman, pengusaha, birokrat, hingga media massa, di Kabupaten Sidoarjo. Maklum, pasar seni masih merupakan hal baru di Jawa Timur.

“Makanya, Anda akan rugi kalau tidak mendukung saya. Hehehe...,” ujarnya bercanda.

Pemulung di TPA Sidoarjo


FOTO: Supaat spesialis pemulung serbuk logam.

Kabupaten Sidoarjo, yang punya 18 kecamatan dan 353 desa, punya tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di Kalisogo, Kecamatan Jabon. Lokasinya hanya sekitar 20 meter dari bibir tanggul Sungai Porong.

Saya beberapa kali menengok TPA Kalisogo. Ada 50-an pemulung mengais-ngais rezeki dari sampah. Karena saban hari bergaul dengan sampah, indra penciuman mereka kebal.
Para pemulung ini bersiul, bersenandung, nyanyi, guyon, di sela-sela aktivitas rutin mereka.

Capek, haus, atau lapar? Jangan khawatir. Ada pedagang keliling siap menawarkan makanan dan minuman. Mereka makan dan minum di tengah-tengah sampah busuk. Lahap sekali! "Dawetnya wuenaaaak,” kata seorang wanita pemulung yang pakai caping.

Dikoordinasi oleh sebuah koperasi, 50-an pemulung ini berasal dari desa-desa di sekitar TPA. Paling banyak dari Tambak Kalisogo dan Balongtani, khususnya Dusun Ngingas.

Sejak beroperasi tahun 2002, praktis jumlah pemulungnya sama. Sebab, ada mekanisme untuk mencegah masuknya pemain-pemain baru. Ada semacam 'fit and proper test' dari petinggi-petinggi pemulung. Dikaji benar apakah si pelamar serius atau hanya bikin onar. Hanya mereka yang dikenallah yang boleh kerja.

Karena itu, jangan harap pemulung-pemulung TPA di Surabaya pindah ke Kalisogo. "Yah, supaya orang sini bisa cari makan," kata Suparno, pemulung senior.

Di TPA Kalisogo para pemulung punya spesialisasi. Sesama pemulung dilarang menyabot lahan temannya! Supaat khusus mengumpulkan sampah bekas (serbuk) pabrik paku. Pakai
tongkat magnet, Supaat sangat telaten menjaring sisa-sisa kepala (topi) paku.

Harganya Rp 700 per kg. Serbuk itu dijual ke 'koperasi'.

Ada lagi pemulung spesialis botol plastik, botol gelas, kardus, kain, hingga sisa-sisa industri. Suparno, yang spesialis kardus, tentu tak akan makan lahan Supaat si
spesialis paku. Truk sampah pabrik paku pun selalu membuang muatannya di timur.

Yang repot, kata Supaat, sampah domestik alias sampah rumah tangga. Kita memang belum punya tradisi memilah sampah basah dan sampah kering. Semua sampah, apa pun jenisnya, dicampur begitu saja. Ini menyulitkan kerja pemulung.

"Kalau nggak kerja begini, terus mau makan apa?" ujar Suparno.

Suparno mengaku penghasilannya tak tentu. Kadang Rp 10 ribu sehari, Rp 15 ribu, atau di bawah Rp 7.500. Bagi yang mujur, macam pemulung botol minuman, penghasilan bisa lebih banyak.

Yang jelas, meski hidup di tengah sampah busuk, serba kotor, Suparno, Sugeng, Supaat, dan kawan-kawan pemulung tidak pernah sakit. Rupanya, Tuhan memberikan kekebalan tubuh yang luar biasa kepada mereka.

Harryadjie BS: Pelukis Pecinta Ular




SELAMA ini HARRYADJIE BAMBANG SUBAGYO, akrab disapa Bambang Thelo, lebih dikenal sebagai pelukis dekoratif. Tak banyak yang tahu kalau Bambang merupakan salah satu pakar ular di Jawa Timur.

Di masa kecil, Harryadjie BS mengaku sangat takut pada ular. Melihat saja ia geli dan berusaha melarikan diri. Namun, pria yang tinggal di Sidokare, Kecamatan Sidoarjo, ini tidak larut dalam ketakutan. Harryadjie berusaha melawan ketakutan terhadap ular, binatang melata yang kerap dianggap sebagai simbol kejahatan itu.

Kenapa harus takut? Ada apa dengan ular? Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di kepala pelukis yang pernah menjadi penulis dan wartawan beberapa surat kabar di Surabaya pada 1970-an, termasuk Jawa Pos, itu.

"Kalau saya terus-terus takut, sementara saya tidak tahu kenapa harus takut pada ular, ya, aneh," ujar bekas ketua litbang Dewan Kesenian Sidoarjo.

Sebagai penulis dan perupa, pada 1976 Harryadjie bertemu dengan ARYONO HAMIJOYO, pakar biologi dan ahli ular terkemuka Indonesia di Jakarta. Harryadjie mewawancarai biolog ini, berusaha berkenalan dengan dunia satwa. Karena Harryadjie antusias dengan ular, Aryono kemudian meminjamkan buku-buku koleksinya tentang ular. Harryadjie, yang kebetulan kutu buku, pun melahap habis buku-buku yang hampir semuanya dalam bahasa Inggris itu.

Buku-buku yang masih diingat Harryadjie, antara lain, World of Snake (Harrison, 1971), Snake as Pets (Hobart Smith, 1958), Venemous Reptiles (Sherman Minton dan Mange), JS Copies of Ophedia (1972), dan Enclycopedia Americana. Masih segudang buku lagi, juga dalam bahasa Jerman, Belanda, Prancis, yang didalami Harryadjie.

Jangan lupa, pelukis senior ini seorang poliglot alias menguasai beberapa bahasa Barat macam Inggris, Belanda, Jerman, Prancis.

Nah, dari sinilah Harryadjie menemukan jawaban atas ketakutannya sebagai anak desa di Solo waktu kecil dulu. Ternyata, mengutip buku karya Hobart Smith (1958), ular bisa menjadi sahabat sehari-hati alias binatang peliharaan (pets) seperti kucing, burung, hamster, ayam, dan sebagainya.

"Saya juga sering diajak mengikuti penelitian-penelitian ular oleh Pak Aryono, ahli ular yang sangat langka di Indonesia," tutur Harryadjie yang lahir di Rawabangke, Jakarta, pada 25 September 1944.

Pada 1975, Harryadjie berubah karakter menjadi sahabat ular. Ia begitu tertarik dengan ular, menemukan rahasia-rahasia ular, yang jarang diketahui masyarakat. Banyak kebijaksanaan yang bisa dipelajari dari sang ular oleh manusia, khususnya pemimpin. Misalnya, ular tidak pernah serakah. Hanya makan kalau benar-benar lapar. Ular tidak pernah makan bangkai. Tak pernah ganggu siapa pun tanpa ada alasan.

"Biarpun disuguhi hewan hidup di sangkarnya, kalau belum waktunya makan, ya, dia diam saja. Lain dengan manusia. Sering kali jatah untuk orang lain disikat, nggak peduli pada kepentingan sesama. Saya pikir-pikir, manusia sering kalah berbudaya dibandingkan si ular," pujinya.

Tahun 1975 itu juga Harryadjie diajak mengikuti ekspedisi di Eropa. Misinya, lagi-lagi, untuk penelitian satwa liar. Harryadjie juga diajar menggunakan kamera (video dan film) agar bisa mengambil gambar perilaku binatang di alam terbuka. Di Jerman, Harryadjie bertemu dengan lebih banyak lagi pakar-pakar satwa dan penulis khusus dunia binatang.

Hasil karya mereka sering dipublikasikan di majalah internasional berkelas macam National Graphic, juga features 'Flora dan Fauna' yang dulu sering disiarkan TVRI. "Saya sering disuruh angkat-angkat kamera dan peralatan ekspedisi," kenangnya.

Masih di Jerman, Harryadjie menemukan surga para penyayang ular. Buku-buku tentang ular melimpah, sehingga ia semakin mengenal binatang melata itu.

DI Jerman, pada 1970-an, Harryadjie semakin larut dalam dunia ular. Ketika diajak bertualang ke Afrika bersama sebuah tim ekspedisi internasional, wawasan ihwal dunia binatang makin bertambah. Dan, ia mengaku semakin dekat dengan ular.

Menurut Harryadjie, di tanah Jawa ini ada 96 genus ular yang sebetulnya sangat berguna untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam perkembangan, beberapa genus 'hilang' atau setidaknya semakin sulit ditemukan. Sehingga, di kalangan 'ahli-ahli' ular muncul semacam kesepakatan bahwa kini ada 40 genus ular di Jawa.

"Saya perlu tekankah bahwa dari 40 genus itu hanya sembilan genus yang berbisa. Delapan genus ular darat, satu genus ular laut," ujar Harryadjie yang gemar melukis binatang melata itu. Dia melukis pakai akrilik, bukan cat.

Genus ular berbisa itu antara lain: ular laut dwiwarna (Pelamis platurus), ular weling (Bungarus candidus), ular welang (Bungarus fasciatus), ular anang alias king kobra (Aphiopaghus hannah), ular cabek (Maticora intestinalis), ular tanah alias bandotan bedor (Agkistrodo rhodosthoma), bandotan puspo (Vipera ruselii), ular luwuk alias gadung luwuk (Tremerusurus albolabris). Nama-nama ilmiah dalam bahasa Latin ini, menurut Harryadjie BS, sangat penting dalam diskusi di dunia internasional.

"Sebab, nama-nama ular dalam bahasa lokal, entah bahasa Indonesia, bahasa Jawa, sangat variatif. Kadang-kadang ularnya sih sama saja, tapi namanya bisa puluhan," ujar ayah satu anak yang tinggal di Sidokare, Sidoarjo Kota.

Contohnya kobra. Ular paling berbisa ini sering disebut ular sendok, raja ular, ular anang. Disebut 'raja' karena selain cerdik, panjang si kobra bisa mencapai enam meter lebih, juga paling rakus. Menurut Harryadjie, kobra alias ular sendok ini dapat menghabiskan 66 ular lain plus 15 ekor biawak. Kalau marah kobra mengembangkan lehernya hingga melebar dan mencekung, mirip sendok.

Meski berbisa, ular-ular ini tidak akan gegabah memangsa korbannya, apalagi manusia. Reaksi ular yang agresif, kata Harryadjie, hanya dilakukan manakala dia merasa terancam atau disakiti. Itu mekanisme pertahanan diri, khas makhluk hidup. Manusia pun kalau disakiti akan melawan.

"Kalau nggak disakiti, ular akan tenang-tenang saja. Prinsip ini harus dipegang kalau berhadapan dengan ular," ujar Harryadjie.


BICARA soal ular dengan Harryadjie BS niscaya tak akan pernah habis. Dia begitu asyik dan menikmati dunia ular. Ia juga tak segan-segan memarahi orang yang takut atau berlari ketika didekati ular. "Ular itu sesama makhluk ciptaan Tuhan, kok dijauhi?" katanya kepada saya yang lari karena 'digoda' ular welang.

Kini, Harryadjie tidak lagi mengoleksi ular mengingat rumahnya di Sidokare sudah penuh dengan koleksi barang antik dan lukisan. Namun, Harryadjie tetap menjalin komunikasi dengan para penggemar ular di Sidoarjo dan Surabaya. Dia dianggap sesepuh oleh anak-anak muda penggemar ular. Dia pun masih rajin baca buku-buku tentang ular.

"Sudah banyak buku dan kliping tulisan saya dipinjam orang, tapi nggak kembali," ujarnya sedih. Harryadjie memang antusias meminjamkan buku-buku atau kliping bagi siapa saja yang ingin mempelajari dunia ular secara serius.

Di usianya yang sudah sepuh, Harryadjie berobsesi menularkan pengetahuannya soal ular kepada masyarakat. Bisa lewat pameran, seminar, hingga diskusi ilmiah. Di akhir obrolan Harryadjie berpesan, bagaimanapun juga ular itu tetaplah binatang berbisa. Dus, kita harus hati-hati.

"Ingat, yang namanya pawang ular biasanya mati karena ular juga," katanya.

15 October 2006

Masjid Cheng Hoo di Pandaan


Kendati belum diresmikan, Masjid Cheng Hoo di Pandaan telah digunakan untuk salat tarawih pada 23 September 2006. Soft opening masjid ala Tiongkok ini dilakukan Muzamil Syafi, wakil bupati Pasuruan.


KALAU Surabaya punya Masjid Cheng Hoo, kenapa Pasuruan tidak? Sejak awal Ramadan 1427 Hijriah, Masjid Cheng Hoo Pasuruan yang terletak di Jl Raya Pandaan sudah digunakan kaum muslim setempat untuk salat Jumat dan tarawih.

"Tiap malam rata-rata sekitar 400-500 jemaah yang tarawih di sini," ujar Buang Abu Hasan, staf masjid, kepada saya, Pandaan, Jumat (13/10/2006).

Nama Cheng Hoo mengacu pada laksamana terkenal asal Tiongkok yang melakukan ekspedisi bersejarah pada 1404-1443. Cheng Hoo alias Zheng He alias Sam Pok Kong waktu itu memimpin sedikitnya 300 kapal dengan 27 ribu pelaut ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

Di sela-sela ekspedisi, Muhammad Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Cheng Hoo sangat dihormati, bukan saja oleh muslim Tionghoa, tapi warga Tionghoa umumnya. Ini saya kutip dari brosur wisata Singapore Tourism Board.

Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya, yang dikelola para pengusaha-pengusaha anggota Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), Masjid Cheng Hoo Pandaan langsung ditangani Pemkab Pasuruan. Adalah Jusbakir Aldjufri, bupati Pasuruan, yang menggagas sekaligus memungkinkan masjid berarsitektur Tiongkok ini berdiri di lokasi strategis jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes.

Bupati ingin menempatkan sebuah tetenger (landmark) yang religius kepada pengguna jalan atau wisatawan yang hendak menikmati keindahan alam Kabupaten Pasuruan.

Maka, pilihannya jatuh pada masjid berarsitektur Tiongkok. "Tentu saja, masjid yang di Surabaya itu jadi inspirasi bagi Pasuruan," jelas Buang Abu Hasan lalu tersenyum.

Dibangun sejak tiga tahun lalu, proses pengerjaannya praktis tak mendapat kesulitan apa-apa. Lahan milik pemkab, tepatnya dinas pertanian. Setelah dikosongkan, lantas dibangun masjid dua lantai berukuran sekitar 50 x 50 meter itu. Menurut Buang, kendala utama hanyalah dana dan pengadaan material yang sempat kurang lancar karena pemkab harus mengurus begitu banyak hal.

"Tapi, alhamdulillah, sekarang sudah bisa dipakai," tambahnya.

Bagi Bupati Jusbakir Aldjufri, Masjid Cheng Hoo ini hendak menunjukkan kepada masyarakat tentang universalitas Islam. Islam itu rahmat bagi semesta (rahmatin lil alamin), tak mengenal sekat-sekat bangsa, etnis, negara, dan seterusnya.

"Jadi, walaupun bentuknya Tiongkok, masjid ini dipakai oleh umat Islam dari mana saja. Hanya arsitekturnya saja yang Tionghoa. Ini amanat dari Pak Bupati," tutur Buang Abu Hasan. Bupati Jusbakir dijadwalkan tampil sebagai khotib salat tarawih di Masjid Cheng Hoo pada 18 Oktober 2006.

Berdasarkan pantauan saya, proses pembangunan sudah mencapai 90 persen. Kemarin, lima pekerja sibuk melengkapi atap di bagian samping, juga beberapa aksesoris bernuansa Tiongkok. Kapan diresmikan?

"Wah, kalau itu saya belum dapat informasi. Tapi, yang jelas, sudah tiga Jumat ini dipakai untuk salat berjemaah," ujar Buang, bangga. Dia memperkirakan, paling lambat awal tahun depan semua pekerjaan kelar.

Setelah bangunan utama rampung, Pemkab Pasuruan berencana melengkapi Masjid Cheng Hoo dengan stan-stan kerajinan atau suvenir wisata di bagian belakang dan samping masjid. Lahan sudah siap, tinggal membangun saja. Tidak jauh dari situ sudah beroperasi pusat buah-buahan dan tanaman hias.

Nah, warga bisa berbelanja oleh-oleh khas Pasuruan di stan suvenir sambil makan-makan di pujasera yang masih akan dibangun. (*)

Ramadan: Kursus Islam Terbaik untuk Minoritas




Sepanjang bulan Ramadan praktis gaya hidup orang Indonesia berubah. Siklus tidur berubah. Pola makan berubah. Acara televisi berubah. Siraman rohani nonstop.


Singkatnya, suasana selama satu bulan, plus gebyar Idul Fitri selama 10 hari, membuat bangsa Indonesia, yang katanya paling korup di dunia ini, sangat religius.

"Ah, puasa-puasa begini jangan bicara yang jelek," kata teman.

"Puasa nggak? Alhamdulillah," suara penyiar radio. "Kita tingkatkan kualitas ibadah," kata ustad. "Perbanyak ibadah, jauhi maksiat, taubat... cari ridlo ilahi," tambah kiai lain.

Suasana macam ini sudah saya rasakan di Jawa Timur sejak awal 1990an. Di sisi lain, kita yang tidak puasa (karena bukan Islam) selalu diajak untuk buka puasa bersama.

Di Sidoarjo, misalnya, teman-teman selalu ajak buka puasa bareng. Pejabat ajak buka puasa. Seniman punya acara buka puasa. Siapkan takjil gratis... dan seterusnya.

Saya sangat menikmati keakraban dan persaudaraan bekat buka puasa bersama. Nikmat sekali!

Hikmah Ramadan bagi nonmuslim, yang saya alami, adalah bertambahnya pengetahuan dan pemahaman tentang Islam.

"Kita kayak kuliah gratis selama satu bulan penuh. Mahal lho ilmu tentang Islam itu. Kalau di-SKS-kan sudah berapa tuh," ujar Albert, teman saya yang Kristen, bekas aktivis mahasiswa lulusan Universitas Airlangga Surabaya.

Kuliah Islam gratis? Bayangkan saja. Hampir 24 jam media massa bikin acara dialog, ceramah, talk show, liputan ziarah, petilasan wali, masjid antik... dan sebagainya. Boleh dikata, 80-90 persen acara televisi berubah menjadi mimbar agama Islam selama Ramadan plus dua pekan pertama bulan Syawal. Bukan main!

Sebagai orang media, tiap hari saya baca artikel, berita, tanya-jawab, lihat foto, infotainmen, ngabuburit... hingga menikmati lagu-lagu pop dengan syair islami. Teman-teman pekerja infotainmen bilang musik religi(us). Bintang rock, penyanyi, yang biasanya garang, bertato, busana minim... hmm... tiba-tiba menjadi ustad sepanjang Ramadan.

"Raihlah kemenangan. Pintu surga. Pintu hidayah," begitu kira-kira pesan 'ustad-ustad' dadakan itu. Kalangan artis memang paling diuntungkan oleh Ramadan. Tak heran, H Sujiwo Tejo, bekas wartawan Kompas yang kini jadi dalang gendheng, menulis kolom di majalah Tempo dengan judul 'Ramadan, Marhaban ya Artis..."

Okelah. Yang jelas, berkat Ramadan pengetahuan orang bukan Islam tentang agama Islam meningkat drastis. Ini bagus karena kita belajar langsung dari sumber pertama. Lebih objektif.

Menurut saya, belajar agama ya, harus dari sumber otentik. Belajar Islam, ya, saya kiai atau ustad yang kredibel. Keliru kalau belajar Islam pada orang Kristen yang doktor islamologi. Belajar Buddha, ya, harus langsung ke bhikkhu, bukan baca buku yang ditulis orang yang bukan Buddha.

Belajar agama Katolik atau Kristiani, ya, harus langsung ke rohaniwan Katolik. Bukan baca buku atau ikut ceramah orang Islam 'yang ahli tentang nasrani' atau kristolog. Hasilnya pasti banyak bias dan ngawurnya.

Nah, mengikuti dialog Ramadan di Jawa Timur lewat media massa, juga ceramah-ceramah, sejak 1990-an, saya selalu menemukan repetisi. Baca saja dialog di halaman Metropolis-Jawa Pos. Dari dulu pertanyaan yang diajukan pembaca sama, jawabannya, ya, sama. Sejak saya SMA di Malang pertanyaannya itu-itu thok.

Beberapa contoh. Utang puasa tahun sebelumnya masih nunggak. Melihat gadis cantik, puasa batal atau tidak. Mencium bau masakan dan terbit selera makan. Hubungan suami-istri selama Ramadan. Jadi musafir bagaimana puasanya. Musafir itu kriterianya apa. Buka puasa apa harus makan kurma, minum yang manis-manis. Bagaimana kalau bos non-Islam bikin acara buka puasa. Orang Kristen ucapkan 'assalamualaikum', harus dijawab atau dibiarkan.

Pembantu yang terpaksa menyiapkan makanan untuk majikannya yang bukan Islam. Perempuan yang haid. Pekerja bangunan yang harus tetap kerja, puasane piye? Salat tarawih yang benar berapa rakaat: mana yang diterima Allah. Busana muslim itu macam mana. Jilbab atau kerudung yang benar kayak apa: macam di Taliban, cadar, jilbab gaul... dan seterusnya.

Saya ingat, memasuki hari ke-20 yang pertanyaan seputar malam 1.000 bulan (lailatul qadar). Apa itu? Kapan persisnya? Tanda-tandanya apa? Siapa yang boleh terima rahmat lailatul qadar. Makin dekat Lebaran, diskusi atau tanya-jawab mengerucut ke zakat fitraf.

Konsep zakat, yang sudah jelas, pun dijlentrehkan lagi panjang lebar di televisi, koran, radio, masjid, pengajian. Zakat, infaq, sedekah (shodaqoh). Bagaimana harus dikelola. Bedanya dengan pajak kepada negara. Bedanya zakat fitrah dan zakat mal.

Begitulah... masih banyak topik seputar Islam yang saya ikuti di media massa sejak 1990an, sehingga pemahaman saya tentang Islam boleh dikata di atas rata-rata. Ini membuat saya semakin mengapresiasi Islam, agama yang dipeluk sekitar 88 persen orang Indonesia. Saya bisa memahami perasaan mereka.

Dan itulah 'untungnya' jadi nasrani di Indonesia: kita tahu banyak tentang Islam ketimbang orang-orang Barat. Kita lebih peka. Beda dengan orang Denmark yang benar-benar ngawur: bikin lomba kartun yang sangat melukai perasaan orang Islam.

Saya, terus terang, sangat marah dan kecewa dengan ulah sejumlah orang Barat yang tak peka Islam. Ulah mereka ujung-ujungnya membuat kaum nasrani di Indonesia pun kadang kala dimusuhi. Saya ngeri membaca komentar-komentar di situs www.rakyatmerdeka.co.id berisi hujatan-hujatan menyusul tingkah polah orang Denmark.

ISLAM sebagai agama mayoritas memang mendominasi ruang publik tanah air. Bahkan, hampir mutlak di bulan Ramadan. Maka, agama-agama minoritas macam Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, Tao, agama asli (apalagi)... ibarat pemain figuran yang hanya bisa menepi (marginal). Kata syair lagu pop 1970-an, "Antara ada dan tiada."

Agama-agama minoritas itu ada, tapi ya... tidak aja. Kecian deh loe!!!!

Di chat room, misalnya, teman-teman saya selalu menyapa, "Puasanya bagaimana? Lancar-lancar aja?"

Ya, semua orang Indonesia memang dianggap beragama Islam hehe... Serba salah lah kita orang! Teman chat itu pun cerita banyak tentang kegiatan puasanya.

Karena agama minoritas tersisih di ruang publik, praktis pengetahuan saudara-saudara muslim Indonesia tentang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha... sangat minim. Saya nilai pengetahuan 'mereka' (ah, saya sebetulnya lebih suka 'kita' yang inklusif) masih di bawah 60 alias C. Kalau mahasiswa, ya, harus kerja keras untuk lulus.

Kok bisa? Tak usah doktrin yang rumit-rumit, sampai sekarang muslim Indonesia belum tahu pengetahuan dasar ala anak Sekolah Minggu. Sekolah Minggu itu katekese atau semacam kursus dasar untuk anak-anak Kristen (usia SD dan kadang-kadang SMP) tentang katekismus atau ajaran elementer gereja. Di Katolik sekarang ini namanya Bina Iman Anak Katolik alias BIAK.

Contoh: beda Katolik dan Protestan, misa dan kebaktian. Beda Protestan, Pentakosta, Advent, Baptis, Karismatik, Kalvinis, Ortodoks... apalagi gereja-gereja evangelis baru yang makin subur dalam 10 tahun terakhir di Indonesia. Kenapa orang GKI (Gereja Kristen Indonesia) tidak mau ikut kebaktian di Gereja Pentakosta, apalagi Katolik? Saya jamin, tak banyak yang tahu.

"Lho, sudah ada empat gereja di dalam kota, kok bikin gereja lagi? Ini kan berlebihan," protes Hidayat, warga Sidoarjo.

Protes ini wajar, karena Cak Dayat ini memang tidak tahu bahwa si Advent mustahil ikut kebaktian di GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat) yang dekat alun-alun itu. Mereka pun tidak tahu kalau si Advent diharamkan ke gereja pada hari Minggu. Adventis hanya ke gereja hari Sabtu alias hari ketujuh. Maka, namanya Gereja Advent Hari Ketujuh (The Seventh Day Adventist Church).

Kitab suci orang Kristen, karena ketidaktahuan itu, disebut INJIL. Padahal, INJIL itu hanya bagian kecil dari ALKITAB alias BIBLE alias BIBEL alias BIJBEL alias SCRIPTURA. Orang Kristen di Indonesia lebih suka menyebut ALKITAB atau kadang-kadang di lingkungan Katolik, KITAB SUCI. Injil itu ada empat: Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Tidak dikenal Injil Barnabas, Injil Yudas, Injil Paulus, Injil Thomas... dan sejenisnya.

Perjanjian Baru (di dalamnya ada empat Injil tadi) terdiri dari 27 kitab. Perjanjian Lama ada 39 kitab. Total ALKITAB terdiri dari 66 kitab. Khusus Katolik, ada 7 lagi kitab Deuterokanonika, sehingga total 73 kitab. Inilah salah satu perbedaan utama Katolik dan Protestan (semua aliran).

Saya yakin, sekali lagi, hal-hal elementer tentang kekristenan macam ini tak banyak diketahui orang Islam di Indonesia. Bahkan, media massa pun kerap salah tulis. Tapi, ya, wajar saja karena itu tadi: agama-agama minoritas itu hanya ecek-ecek, figuran, ada dan tiada. Orang tidak merasa perlu untuk tahu, dan tidak mau tahu.

Ah, siapa suruh jadi minoritas?

14 October 2006

Lim Keng Maestro Sketsa Surabaya


Lim Keng (kanan) bersama Harryadjie BS, pelukis asal Sidoarjo.


Nama Lim Keng (72 tahun) tak asing lagi di dunia seni rupa Indonesia. Pria asal Tanggulangin ini dikenal sebagai legenda hidup seni rupa kita. Lim Keng itu maestro sketsa.

Oleh Lambertus L. Hurek


SAYA menemui Lim Keng di Jalan Undaan Kulon 125 Surabaya. Wow, betapa kagetnya saya menemui sosok pria sederhana di toko pracangan kecil yang juga sederhana. Lim hanya pakai singlet (kaus dalam) warna putih, kusam. Duduk sendiri menunggu pembeli.

"Ya, begini ini saya tiap hari. Kalau nggak gambar, ya, jaga toko," ujar Lim Keng lalu tersenyum. Toko tua milik Lim terletak di pojok jalan raya di kawasan pecinan yang riuh. Ribuan manusia melintas di sana tiap hari, tapi tak banyak yang kenal Lim. Sama sekali tak ada kesan kalau Lim Keng ini maestro hebat di bidang seni rupa Indonesia.

Lim Keng kemudian bercerita tentang proses kreatifnya yang panjang di seni rupa. Bagaimana WNI keturunan Tionghoa ini teguh memilih kesenian sebagai jalan hidupnya, pilihan yang jelas-jelas melawan arus. Bukankah warga Tionghoa lebih dikenal sebagai orang dagang, businessman?

Ketika masih anak-anak, Lim Keng mengaku sudah getol menggambar. Saat pelajaran di sekolah pun Lim asyik gambar.

Di rumah ia menggambar... menggambar... menggambar. Melihat perilaku Lim Keng yang aneh, Lim Ie Swan (ayahnya, almarhum) menghardik, “Jadi pelukis itu cari uang susah, kayak lotere. Lebih baik dagang saja. Kalau lukisan nggak laku, kamu makan apa?”

Tapi, tetap saja Lim Keng keras kepala. Sempat kuliah di Akademi Seni Rupa (Asri) Jogja selama dua tahun, pria kelahiran Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934 ini merasa kian mantap di seni rupa. Melukis adalah jalan hidupnya, dan harus ditekuni secara serius. Ia harus bisa membuktikan kepada sang ayah bahwa melukis itu bisa untuk hidup, tidak susah cari uang.

Lim Keng sangat idealis, ingin menjadi diri sendiri. Lim enggan meniru gaya lukisan yang ramai di pasaran atau sudah banyak digarap orang lain. Karena itu, Lim Keng memilih sketsa (sketch), jenis lukisan yang sangat jarang ditekuni pelukis Indonesia. Namun, Lim tetap ingin tampil beda. Tak heran, ia menjajaki sketsa dengan pensil, lidi, pena, hingga ranting kayu. Tapi ia belum puas.

Suatu ketika muncul ide yang nyeleneh, orisinal. Lim Keng memasukkan tinta ke botol cuka, ditutup, dan lubang kecil penutup botol menjadi saluran tinta. Bisa dibayangkan sulitnya melukis dengan metode macam ini. Bergetar sedikit saja, kurang konsentrasi, kucuran tinta niscaya merusak kertas. Di sinilah pentingnya konsentrasi serta keahlian luar biasa (virtuositas) dari seorang seniman.

“Kayaknya di dunia ini hanya satu orang yang bisa melakukan itu. Namanya Lim Keng. Saya yakin sulit bagi orang lain meniru gaya Lim Keng,” puji Harryadjie BS, pelukis asal Sidoarjo yang dekat dengan Lim Keng.

“Sketsa sendiri sudah susah, karena hanya mengandalkan kekuatan garis, pakai botol cuka lagi? Beliau sangat percaya pada kekuatan garis, sehingga tidak pernah pakai arsir atau menambah-nambahi karya sketsanya dengan coretan yang tidak perlu,” tambah Harryadjie.

Melukis ala Lim Keng membutuhkan spontanitas tinggi. Karena itu, Lim tidak sembarangan dalam menghasilkan sketsa. Jangan heran kalau Lim Keng pantang membuat karya ‘pesanan’, siapa pun yang pesan. Ia hanya membuat sketsa jika hati nurani yang menggerakkan dia.

“Saya juga harus datang langsung ke lokasi. Nggak pernah saya melukis di rumah atau studio. Kalau melukis tidak lokasi, mood saya tidak keluar, lukisan nggak jadi,” tutur Lim Keng seraya tersenyum.

Ketika Lim Keng berada di lapangan, misalnya saat menggambar gedung tua di kota besar, biasanya dia ditonton ramai-ramai oleh masyarakat. Tidak merusak konsentrasi? Sama sekali tidak. Bagi Lim Keng, semakin ‘diganggu’ orang lain, karyanya makin hidup dan semakin cepat rampung. “Saya hanya butuh 15 menit untuk membuat satu sketsa,” ujar Lim Keng.

KENDATI karya-karyanya sangat banyak, Lim Keng mengaku paling malas mengelar pameran. Pameran bersama ogah, pameran tunggal apalagi. "Buat apa? Pelukis itu kerjanya gambar, bukan pameran," tegasnya.

Namun, sekali-sekali, karena tak enak sama teman-teman pelukis di Jawa Timur, Lim Keng akhirnya mau juga menyertakan lukisannya di pameran bareng. Tapi orangnya, Lim Keng, tak mau muncul di lokasi.

Baru pada 30 Maret 2001 'pertahanan' Lim Keng jebol juga. Dia akhirnya bersedia pameran di Galeri Candik Ayu Surabaya (sekarang bangkrut). Pameran itu mendapat perhatian sangat luas, dibuka Konsul Jenderal Amerika Serikat Robert Pollard. Kenapa mau pameran?

"Wah, saya didesak sama orang Amerika. Dia banyak meneliti karya-karya saya. Dia bilang sekarang kamu sudah saatnya pameran," cerita Lim Keng yang vegetarian itu.

["Saya vegetarian ini bukan karena agama, tapi untuk kesehatan. Sampai sekarang saya trauma melihat ayam mati disembelih waktu saya masih anak-anak. Saya tidak ingin menyakiti binatang.]

Kini, Lim Keng menikmati hari tuanya sambil menjaga toko, membuat skets meski tidak seaktif sebelum 1990-an, dan berdoa. Dia mengaku sudah menikmati kebahagiaan bersama seni rupa. Ternyata menggambar bisa untuk cari makan... sampai tua.

BIODATA SINGKAT

LAHIR: Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934 
ALAMAT: Undaan Kulon 125 Surabaya 
ISTRI: Ernawati 
ANAK : Tradiyanto Halim, Lim Ie Waliban (Iwan Walimba)
PENDIDIKAN: SMA Pecindilan 1962, Akademi Seni Rupa Jogja 1964.

Sulitnya Gelar Jazz di Surabaya



[Naskah ini dimuat juga di wartajazz.com. Situs yang dikelola kawan-kawan saya penggemar jazz sejati. Mereka mendedikasikan karya mereka untuk perkembangan jazz di tanah air.]

Oleh Lambertus L. Hurek

BERBEDA dengan tahun 1980-an atau 1990-an awal, menyajikan musik jazz di Kota Surabaya saat ini tidak gampang. Lebih tepatnya, gampang-gampang sulit. Nasib jazz di Kota Buaya alias Kota Pahlawan ini sama apesnya dengan musik klasik.

Menggelar orkes simfoni atau musik klasik pun tidak gampang. "Nafas harus panjang karena cari sponsor sulit. Hasil penjualan tiket nggak bisa nutup biaya produksi. Nggak ada apa-apanya," begitu keluhan Solomon Tong, pendiri dan konduktor Surabaya Symphony Orchestra (SSO), satu-satunya orkes simfoni di Surabaya.

Yang jelas, nasib musik klasik masih jauh lebih baik ketimbang musik jazz. Sesulit-sulitnya SSO, orkes simfoni ini tetap menggelar konser rutin di Hotel JW Marriott Surabaya minimal tiga kali setahun. Orkes mini SSO malah bisa tampil setiap minggu (bahkan tiga kali sepekan) dalam acara terbatas macam wedding, ulang tahun, atau launching.

Gelar piano klasik boleh dikata sudah menjadi peristiwa rutin di Surabaya. Tapi konser musik jazz?

Aha, ini yang susah di kota terbesar nomor dua di Indonesia itu. Festival tidak ada, agenda tidak jelas, grup jazz tidak jelas juga, kafe khusus jazz bangkrut, dan seterusnya. Masih untung kalau sekali-sekali Surabaya disinggahi musisi jazz asing, yang biasanya dibawa perwakilan asing di Indonesia.

Misalnya, Peter de Graaf atau grup yang 'ditanggap' Konjen USA di Surabaya. (Sebagai catatan, grup versi perwakilan asing ini biasanya tampil di beberapa kota, dan Surabaya kerap kali dilangkahi.)

Pada tahun 2003, koran RADAR Surabaya bekerja sama dengan UPDT Balai Pemuda berusaha membangkitkan atmosfer jazz di Surabaya. Ketimbang dipakai terus untuk pameran kerajinan dan furniture, mendingan gedung Balai Pemuda (zaman Belanda dikenal sebagai Simpangsche Societeit) dipakai untuk pergelaran musik secara rutin.

Pengelola UPDT Balai Pemuda oke. Lalu, dimulailah acara jazz di situ setelah puluhan tahun tak ada afiktivitas kesenian.

Momentum ini ditandai dengan tampilnya Bubi Chen, didampingi grup Virtuoso, yang antara lain diperkuat beberapa anak kandung Om Bubi. Grand piano yang mangkrak sempat dimainkan Om Buby, waktu itu membawakan lagu 'Surabaya, Oh Surabaya, Oh Surabaya…" yang terkenal itu.

Ternyata, piano ini kelewat uzur sehingga suaranya kurang bagus. Om Buby pun terpaksa hanya main satu lagu itu saja. Selanjutnya bermain piano elektrik bersama Virtuoso. Kendati banyak kekurangan, banyak warga Surabaya yang menganggap tampilnya Bubi Chen dan kawan-kawan sebagai isyarat positif bagi bangkitnya atmosfer jazz di Kota Surabaya.

Setelah Bubi Chen, beberapa bulan kemudian giliran Ireng Maulana dan Margie Siegers diundang tampil di Balai Pemuda. Sambutan 'komunitas Balai Pemuda' (kerennya, Simpangsche Societeit Jazz Community) cukup baik, apalagi waktu itu Ireng Maulana sempat memainkan lagu 'Cucakrowo' yang ngeres dan heboh itu. Penonton membeludak, panitia puas.

Berikutnya, giliran Mas Nono alias Mus Mudjiono yang memang arek Suroboyo. Mas Nono diharapkan mengusung nuansa jazz kepada member komunitas Balai Pemuda yang masing-masing 'membeli' undangan seharga Rp 100 ribu itu.

Eh, ternyata mayoritas penonton (ini kesan saya pribadi) tidak tahan dengan nomor-nomor berat ala George Benson, artis idola dan rujukan Mas Nono. "Minta Tanda-Tanda, Tanda-Tanda….," begitu teriak penonton. Tanda-Tanda merupakan judul lagu pop yang melambungkan nama Mus Mujiono pada 1990-an. Penonton juga menginginkan lagu 'Arti Kehidupan', tidak bisa masuk dalam nuansa jazz 'agak berat' yang sudah dikondisikan Mas Nono.

Apa boleh buat, Mus Mudjiono pun menuruti permintaan penonton yang sebagian besar teman-teman akrabnya di Surabaya dulu.

Dalam evaluasi dan ngomong-ngomong dengan para member (umumnya pengusaha, pejabat, anggota dewan, dosen, aktivis LSM) terungkap bahwa mayoritas menginginkan konser penyanyi atau band legenda. Semacam Tembang Kenangan-lah! Mereka ingin bernostalgia, mengenang pengalaman masa muda dulu. Permintaan ini pun diluluskan.

Maka, di gedung utama Balai Pemuda yang awalnya dirancang sebagai ajang komunitas jazz itu pun berbelok menjadi arena 'tembang kenangan'. Beberapa band lawas pernah 'ditanggap' di Balai Pemuda seperti Panber's, Koes Plus, hingga Ebiet G Ade. Musik jazz-nya kapan maneh? Gak jelas. "Pokoke opo jarene member ae. Kalo tampilno jazz iku rada-rada angel nang Surabaya," ujar seorang pengelola konser rutin di Balai Pemuda.

Kalo ngono, ya, wis! Opo maneh?

Saya Makin Gemar Jazz


Acara jazz ringan saat ulang tahun C.TwoSix Jazz Community Surabaya.

Saya mulai doyan jazz setelah ngobrol panjang dengan almarhum Embong Rahardjo, saksofonis top saat tampil di Surabaya. Saya banyak mengoleksi album jazz rohani karya almarhum Embong: serial Puji Syukur, Christmas, hingga Praise and Worship.

Saksofon memang instrumen penting jazz. "Di kuping orang Barat, kalau jazz tak pakai saksofon atau alat tiup logam, rasanya tidak pas," kata Duncan Graham. Wartawan senior Australia ini banyak menulis tentang isu-isu budaya Indonesia-Australia.

Saya juga pernah wawancara dengan Luluk Purwanto sama suaminya, Rene, yang suka gelar jazz keliling di atas mobil terbuka. Terakhir, Rene-Luluk main di halaman kampus Universitas Airlangga pada 13 Desember 2003. Saya ingat betul karena tanggal ini bersamaan dengan wafatnya Uskup Surabaya Mgr. Johanes Hadiwikarta, Pr.

Luluk Purwanto benar-benar menyihir saya ketika tampil di halaman kampus Universitas Petra Surabaya. Waktu itu dia men-jazz-kan dua lagu populer: Layu Sebelum Berkembang dan Selayang Pandang! Orang Tionghoa Surabaya bilang, “Ciamik soro, Cik!”

Saya suka jazz. Proses hingga menyukai jazz itu cukup berliku mengingat sejak kecil saya terbiasa mendengar lagu-lagu mendayu ala Pance, Obbie Messakh, Rinto Harahap, Panber’s... di Flores Timur. Lagu-lagu manis ini sangat jauh pakemnya dari jazz. Di jazz, melodi mengalami dekonstruksi yang luar biasa lewat improvisasi pemain.

Karena itu, orang Flores umumnya menyebut pemusik jazz merusak melodi indah dari sebuah lagu. “Apa itu jazz? Lagunya jadi rusak,” begitu pendapat teman-teman saya asal NTT. Dulu, saya pun berpendapat sama.

Namun, setelah kuliah di Jember, Jawa Timur, pergaulan saya berubah. Teman-teman saya pemain band rock dan fussion. Salah satunya Bambang Wijanarko (FISIP), yang fasih main bas (jazz) serta gitar (hard rock). Tiap hari Cak Bambang ini main nomor-nomor jazz ala Karimata dan Krakatau yang sangat digandrungi teman-teman mahasiswa. Mau tak mau, saya pun terbiasa nguping musik yang mula-mula saya rasa aneh.

Lalu, saya diajak nonton Buby Chen, Ermy Kullit, Indra Lesmana, Karimata, Trapessium... singkatnya penyanyi serta pemain-pemain jazz papan atas. Proses ini terus berlanjut hingga saya pun tenggelam dalam lautan jazz.

Lalu, di perpustakaan kampus saya menemukan beberapa buku tentang jazz. Pakai not balok, saya tidak paham, tapi baca saja. dengar kaset, lihat show band-band kampus yang main jazz. Akhirnya, saya suka jazz, namun tetap suka juga musik pop yang lagi tren.

Di Surabaya, saya pun aktif menulis tentang musik jazz, konser, komunitas. Salah satunya C.Two Six Jazz Community, di mana saya tercatat sebagai anggota. Tulisan-tulisan saya tentang jazz dimuat di wartajazz.com dan tentu saja harian RADAR Surabaya.

Saya penikmat jazz, bukan jazz player. Terus terang, saya tidak mampu memainkan satu pun instrumen dengan baik, kecuali bisa nyanyi sedikit.

"Saya juga nggak bisa main apa-apa,” kata Cak Roedhy, bos C.Two Six.

Begitulah, penyuka jazz tak harus bisa main musik. Yang penting, punya apresiasi, menghargai musik, ikut merawat jazz dengan cara masing-masing.

Saya suka pemain/penyanyi jazz, blues, pop kulit hitam USA. Mereka bermain secara jujur, polos, apa adanya. Dus, suara yang keluar benar-benar ungkapan hati, tidak dibuat-buat.

Beberapa koleksi saya (jazz ringan, pop jazz): Buby Chen, Margie Siegers, Ireng Maulana, Didiek SSS, Embong Rahardjo, Karimata, Krakatau, Ermy Kullit, Syaharani, George Benson, Stevie Wonder, Dave Koz, Kenny G, Antonio Carlos Jobim, Louis Armstrong, Level 42, Salena Jones, Jimmy Hendrix... dan banyak lagi. Ada kaset yang dipinjam tak tak kembali (hilang).

Gara-gara sering menulis jazz ini, pengasuh jazz di Radio Star FM kerap menyentil nama saya di udara. “Salam untuk Mas Lambertus Hurek, semoga masih setia mendengar siaran kami,” kata Yuni Kamaya, penyiar bersuara halus itu. Hehehe... saya jadi geer! Padahal, referensi jazz saya masih jauh dari memadai.

Oh ya, saya pun menulis sedikit tentang Buby Chen, maestro jazz asal Surabaya, di wartajazz.com saat dia ulang tahun ke-58. Jazz itu jujur, polos, demokratis, terbuka untuk siapa saja.

Pater Anton Waget SVD di Botswana

Pater Antonius Waget SVD selama beberapa tahun bertugas di Botswana, Afrika bagian selatan. Dia cerita banyak kepada saya tentang pengalamannya di Botswana, khususnya menghadapi penderita HIV/AIDS.



BENUA Afrika disebut-sebut sebagai cikal-bakal HIV/AIDS di dunia. Sebelum tahun 1970-an, gejala-gejala semacam HIV/AIDS sudah dikenal, tapi belum begitu meluas. Baru pada 1980-an, benua hitam itu terkaget-kaget dengan ledakan penderita HIV-AIDS yang luar biasa.

Anton Waget SVD mengatakan, pada Agustus 1982 barulah istilah AIDS disebutkan. Seperti di Indonesia, awal-awalnya orang menganggap AIDS disebabkan oleh hubungan seksual antara kaum sejenis, khususnya gay dan waria. Maka, ada plesetan AIDS sebagai ‘akibat intim dengan sejenis’ atau di Afrika disebut `gay compromise syndrome`.

“Saat bertugas di Kenya dan Botswana, saya membaca beberapa tulisan bahwa penyakit ini berasal dari hubungan seksual yang menyimpang anatara manusia dan gorila,” tutur Anton Waget.

Untung saja, dalam perjalanan waktu warga Afrika semakin sadar bahwa penyebab HIV/AIDS semakin luas dan kompleks.

Kenapa Botswana (dan negara-negara Afrika) umumnya begitu mudah terkena HIV/AIDS? Dalam pengamatan pria asal Flores Timur ini, ada kebiasaan hubungan seks yang permisif di kalangan warga negara kaya Afrika itu. “Mereka itu senang berhubungan dengan orang luar, entah itu sesama Afrika, orang bule, dan sebagainya,” ujar Anton seraya tersenyum.

Orang Afrika, jelas Anton Waget, sampai sekarang masih menganut agama asli alias animisme. Dari 1,6 juta penduduk negara Botswana, hanya 30 persen yang menganut agama besar (Kristen, Islam, Ortodoks, Buddha, dll). Ini juga yang menyebabkan pandangan mereka terhadap korban HIV/AIDS khas masyarakar tradisi.

“Orang Botswana umumnya mengatakan bahwa penyakit itu berasal dari kutukan nenek moyang. AIDS itu tidak ada di Botswana, tapi di Amerika Serikat,” ujar Anton menggambarkan pandangan masyarakat Botswana.

Untung saja, saat ini pemahaman masyarakat mulai berubah. Pemerintah pun gencar melakukan kampanye untuk menyadarkan masyarakat bahwa HIV/AIDS ada di depan mata mereka. Pada tahun 2000 didirikan The National AIDS Coordinating Agency (NACA), semacam Badan Koordinasi AIDS Nasional. NACA dipimpin langsung oleh presiden.

Di mata Anton, pemerintah negara-negara Afrika sangat serius akhir-akhir ini dalam kampanye HIV/AIDS. Dibantu LSM dan tenaga medis dikampanyekan apa yang disebut CBA (Condomise, Behaviour changing dan Abstinence). Pakailah kondom, ubah perilaku seksual, atau tidak melakukan hubungan seks sama sekali.

Rupanya, strategi CBA ini gagal. Mulai tahun 2000 pemerintah Botswana mengubah strategi dari CBA menjadi ABC. Tidak kurang 175 juta Pula (mata uang Botswana) alias Rp 350 miliar dipakai untuk merawat 496 ribu lebih penderita HIV/AIDS. Bayangkan, 30 persen lebih penduduknya terkena HIV/AIDS.

Sikap agamawan di Afrika pun sama dengan di Indonesia. Mereka menolak kampanye kondom karena dianggap melegalisasi hubungan seksual di luar nikah. Mereka hanya menginginkan perubahan perilaku seksual masyarakat.

Yang jelas, banyaknya penderita HIV/AIDS di Afrika dianggap sebagai ancaman terbesar bagi masa depan umat manusia, tidak hanya di Afrika. HIV/AIDS harus menjadi musuh bersama di dunia.

Pauline Poegoeh Soprano Surabaya




Surabaya beruntung punya PAULINE POEGOEH.

Gadis manis, sehat-subur, yang lahir di pada 3 Februari 1984 ini cukup 'nyeleneh' dibandingkan teman-teman seusianya. Ketika yang lain gandrung AFI, Indonesia Idol, KDI, band-band populer... Pauline justru memilih seni suara serius. Menjadi penyanyi klasik atau seriosa, genre musik yang praktis tak mendapat tempat lagi di televisi kita.

Pauline memang lain. Bermodal talenta hebat, ditambah latihan keras, cewek kelahiran Surabaya ini berkembang menjadi soprano yang matang. Di usia sangat belia itu, Pauline Poegoeh sudah bisa menggelar resital vokal (baca: konser tunggal) di Hotel Majapahit Surabaya beberapa waktu silam.

Dia pun menjadi soprano utama Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pimpinan Solomon Tong, yang juga gurunya. Tiap kali SSO konser, Pauline pasti jadi solis utama. Dia juga mengajar vokal klasik untuk sekolah musik SSO.

Vokal Pauline adalah soprano yang unik. Ia mampu menjangkau nada-nada tinggi secara wajar, bahkan lebih tinggi ketimbang penyanyi klasik umumnya. Warna suaranya tebal, powerfull. Sehingga, sebenarnya Pauline tidak perlu bantuan mikrofon atau pengeras suara lainnya. Suara Pauline sudah dahsyat dari 'sononya'.

Tak heran, Solomon Tong, dirigen SSO, terpaksa menaikkan nada dasar agar cocok dengan suara Pauline. Misalnya, Ave Maria (Bach-Gounod) yang aslinya Es dinaikkan menjadi Ges, atau Panis Angelicus (Cesar Franck) yang biasanya G menjadi Bes. Ini luar biasa, karena biasanya penyanyi-penyanyi (pop) kita justru menurunkan nada dasar saat tampil live.

Disaksikan sejumlah pengusaha dan tokoh masyarakat, antara lain Kresnayana Yahya, Pauline mengawali resital dengan dua lagu seriosa Indonesia: Mekar Melati (C Simanjuntak) dan Dewi Anggraini (FX Sutopo). Dua nomor ini ibaratnya sudah tersimpan di 'museum' setelah Bintang Radio dan Televisi (BRTV), lomba menyanyi pada 1970-an hingga 1980-an tidak ada lagi.

Dari seriosa ringan, Pauline menjelajahi art song atau seriosa yang agak berat seperti Alamuhan (China), The Lord's Prayer (AH Malotte) dan Londonderry Air (Irlandia).

Lagu tradisional Irlandia--yang di sini lebih dikenal dengan Danny Boy, dan mirip dengan You Raise Me Up (Josh Groban)--itu menutup bagi pertama. Aplaus meriah untuk Pauline Poegoeh, sang soprano muda asal Surabaya.

Di bagian kedua, repertoar-nya makin berat. Sembilan nomor terakhir merupakan petikan opera karya Mozart, Puccini, dan Leoncavallo. Karya legendaris Puccini, Nesun Dorma, yang lazim dibawakan tiga tenor terbaik dunia (Luciano Pavarotti, Placido Domingo, Jose Carreras) dinyanyikan dengan enteng saja oleh Pauline Poegoeh.

"Nesun Dorma ini selalu dipakai untuk menguji kemampuan para vokalis tingkat dunia. Kalau Anda tidak bisa mencapai nada B, jangan coba-coba," ujar Solomon Tong, yang menyebut Pauline sebagai soprano terbaik di Indonesia.

Setelah 18 lagu, penonton tak beranjak dari tempat duduknya. Mereka bertepuk tangan, isyarat meminta bonus lagu alias encore. Pauline pun naik lagi ke panggung membawakan Indonesia Pusaka (Ismail Mz). "Bagian kedua kita nyanyi sama-sama," ajak Tong. Ternyata, tidak gampang karena penonton kewalahan mengikuti suara Pauline yang sangat tinggi itu.

"Saya puas karena respons penonton sangat bagus," ujar Pauline Poegoeh. Sekitar satu bulan ia mempersiapkan resital ini dengan bimbingan Solomon Tong. Meski cukup pendek, Pauline mampu menghafal 18 komposisi karena memang sudah biasa. "Saya ingin menjadi vokalis profesional," katanya.

Belajar teknik vokal pada usia 14 tahun, Pauline beruntung mendapat arahan khusus dari Solomon Tong. Dia juga dipercaya sebagai sparing partner beberapa soprano asing yang tampil bersama SSO. Pauline mengaku menggemari opera-opera gubahan WA Mozart, kemudian Puccini seperti La Boheme, Tosca, Madame Buterfly.

Kini, selain rutin menyanyi, Pauline menjadi guru vokal di Surabaya. Dia asyik dengan dunianya: seni suara.