08 September 2006

Tahbisan Pastor Baru


FOTO: Rm Murjiyono CM

Peristiwa ini tidak ditulis koran-koran di Jawa Timur, tapi sangat penting bagi umat Katolik di Indonesia. Rabu, 30 Agustus 2006, Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo menahbiskan 12 imam (pastor) baru. Dua belas imam sekali panen--di tanah Jawa yang mayoritas mutlak Islam--jelas bukan main-main.

Deo gratis!

Mgr Suharyo diundang Romo Julius Haryanto CM, administrator Keuskupan Surabaya, untuk menahbiskan imam baru mengingat sampai sekarang Surabaya belum punya uskup. Sejak Mgr Johanes Hadwikarta wafat pada 13 Desember 2003, Takhta Suci belum menunjuk penggantinya. Padahal, prosesnya sudah berjalan berbulan-bulan.

"Pertimbangan Vatikan itu panjang. Kita bersabar dan berdoa sajalah," kata Romo Boedi Raden Pr, ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya, kepada saya.

"Sabar, sabar, sabar... dan tunggu," mengutip syair lagu Swami (Iwan Fals dkk).
Dari 12 imam baru, tujuh di antaranya praja Keuskupan Surabaya.

Sedangkan lima lainnya imam-imam Lazaris alias Kongregasi Misi (CM). Nama-nama mereka: Agustinus Eko Wiyono Pr, Yohanes Agus Setyono CM, Aloysius Aratia Wardhana Pr, Agustinus Garis CM, Aloysius Gonzaga Widyawan Pr, Yohanes Murjiyono CM, Sabas Kusnugroho Pr, Yohanes Berchamans Belina Werang CM, Stefanus Kholik Kurniadi Pr, Yohanes Thomas Maria Puji Nurchahyo CM, Xaverius Chandra Hasiholan Marbun Pr, Yohanes Agus Sulistyo Pr.

Saya terharu menyaksikan adegan para orang tua menyerahkan anak-anaknya kepada Bapa Uskup untuk ditahbiskan. Anak-anak cerdas itu (mana ada romo yang ber-IQ jongkok to?) diserahkan kepada Tuhan, kepada Gereja. Banyak umat menitikkan air mata haru. Para tertahbis pun haru, karena perjalanan imamat harus mereka tempuh selama bertahun-tahun. Mereka lolos seleksi alam. Tak sedikit teman-temannya yang 'mrotol' dan memilih membentuk rumah tangga.

"Kalian harus menjadi imam yang melayani, rendah hati, dan pendoa," pinta Mgr Suharyo.

Dan itu tidak mudah di zaman konsumerisme, hedonisme, pop culture... yang serba memuja harta benda itu. Umat diminta mendoakan para imam baru (juga imam-imam lama) agar setia sampai akhir. Maksudnya, ya, tidak sampai melepas jubah alias meninggalkan imamatnya.

Di antara 12 imam baru, saya tertarik pada Romo Yohanes Murjiyono CM dan Romo Yohanes Berchamans Belina Werang CM. Kedua imam CM ini langsung diutus sebagai misionaris di luar negeri. Romo Murjiyono (asal Bantul, Jogja) bertugas di Tiongkok, negara yang tidak ramah bagi misionaris Katolik. Romo Belina (asal Solor Barat, Flores Timur) ditempatkan di Papua Nuigini.

"Saya bersyukur ditempatkan di China. Saya percaya bahwa saya bisa lebih berkembang di sana," ujar romo muda yang berangkat ke Tiongkok pada 25 September 2006.

Misi ke Tiongkok bukan untuk mengkristenkan penduduk negara naga itu. Paling utama adalah merawat iman umat (menurut TIME, di Tiongkok ada sedikitnya 35 juta umat kristiani) yang sangat kekurangan gembala. Kebetulan ordo CM sudah lama punya 'biro' di Taiwan, Hongkong, dan Tiongkok, sehingga Romo Murjiyono, insya Allah, bisa berkarya dengan baik.


FOTO: Rm Belina Werang CM

Romo Belina Werang membuat saya bangga karena dia asli Flores Timur. Satu kabupaten dengan saya. Panggilan masih subur di kalangan orang Flores.

Pergilah ke seluruh Indonesia... carilah gereja Katolik! Saya jamin anda akan menemukan pastor asal Flores di sana. Kalau tak ada pastor, setidaknya pengurus paroki, koster, dirigen kor, satpam, cleaning service... atau tukang kebun.

No comments:

Post a Comment