21 September 2006

Surabaya Symphony Orchestra




Nama Solomon Tong tak asing lagi di dunia musik, khususnya musik klasik di Surabaya. Berkat beliaulah, sejak 1996 terbentuk Surabaya Symphony Orchestra (SSO), satu-satunya orkes simfoni di Jawa Timur.

Orkes simfoni ini mendapat dukungan luas dari sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Visi dan Misi (sebuah persekutuan para pengusaha Kristen) dan para donatur.
Rata-rata setiap tahun SSO menggelar tiga sampai empat kali konser besar di ballroom Hotel JW Marriott (dulu Hotel Westin) Jl Embong 85-88 Malang, Surabaya.

Pada 12 April 2005 SSO dengan dirigen Solomon Tong berhasil menggelar konser ke-37. Seperti biasa, penonton penuh, sekitar 1.000 orang.

SOLOMON TONG lahir di Xia Men, China, 20 Oktober 1939, Tong dikenal juga sebagai vokalis bersuara tenor. Belajar teknik vokal pada Le Clerg van Hammel (1956), kemudian Magda Ang (1958-61). Belajar teori musik pada Slamet Abdul Sjukur (1957).

Solomon Tong kemudian mengajar dan memimpin berbagai kor sejak 1957 sampai sekarang. Tong juga banyak mendirikan organisasi, lembaga, sekolah, bahkan gereja di Surabaya.

Beberapa organisasi yang didirikan Solomon Tong:

Sekolah Musik Surabaya, 1987
Surabaya Symphony Orchestra, 1996
Surabaya Oratorio Society, 1997 (kor yang selalu mendampingi SSO)
Sekolah Musik Orkestra Internasional, 2001
SSO Girl Singers, 2004
Sinode Gereja Kristen Abdiel Surabaya, 1976
Sekolah Tinggi Teologia, 1986
Balai Pengobatan Trinitas, 1985
Persekutuan Pengusaha Kristen Visi dan Misi, 1994
Yayasan Pendidikan Visi dan Misi, 1999.


Di usianya yang sudah tak muda lagi, Solomon Tong tetap semangat menghidupkan musik klasik, khususnya orkes simfoni. Ia mampu meyakinkan sponsor, punya penggemar tetap, sehingga mampu menggelar konser secara teratur di Surabaya.

FOTO: Latihan SSO. Pemain muda sangat dominan di SSO.

Surabaya Symphony Orchestra (SSO) tergolong orkes simfoni yang unik. Kenapa? SSO yang dipimpin Solomon Tong ini lebih banyak menghasilkan pemain sendiri ketimbang 'mempekerjakan' pemusik-pemusik luar. Proses belajar, kaderisasi, regenerasi, terus berjalan di SSO.

Jangan heran kalau di SSO usia pemusik sangat bervariasi, mulai anak-anak SD hingga kakek-kakek dan nenek-nenek. Menurut Tong, sang dirigen, sejak SSO didirikan tahun 1989 animo anak-anak Surabaya untuk belajar instrumen gesek (violin, viola, cello) meningkat tajam.

"Dulu anak-anak lebih suka belajar piano. Sekarang banyak yang
beralih ke alat gesek agar bisa main bersama symphony orchestra," kata Tong dalam beberapa kesempatan.

Khusus seksi gesek (string section), pemain SSO memang sangat banyak, lebih dari cukup. Karena itu, persaingan untuk mendapat tempat di orkes utama sangat ketat. "Kami punya tiga lapis pemain. Ada pemain senior, lapis kedua, dan lapis ketiga. Mereka bisa dipakai sewaktu-waktu manakala dibutuhkan," ujar Solomon Tong, kakak kandung Pendeta Dr Stephen Tong yang terkenal itu.

Sayang sekali, sampai sekarang--seperti juga orkes simfoni di Jakarta--sejumlah pemusik mau tidak mau harus didatangkan dari Jogja. Mereka ini rata-rata pemusik lulusan ISI (Institut Seni Indonesia), yang punya jam terang cukup tinggi. Karena itu, mereka tidak membutuhkan waktu latihan yang lama menjelang konser SSO di Surabaya. Adaptasi dengan pemusik-pemusik di Surabaya pun tidak sulit.

"Wis pas, gak angel," ujar Hendrikus Mulyadi, peniup flute.

Berikut susunan pemain SSO.

1. Dirigen : Solomon Tong
2. Flute : Hendrikus Mulyadi, Tetres Susanto
3. Oboe : Sritanto, Agus Pramono
4. Klarinet : Suryanto Wijaya, Heri Murbiyanto
5. Basson : Siswanto Wignyo Sasunu, Teguh Imandriadi
6. French Horn : Eddi P, Ganang
7. Trumpet : YK Maryono (Momon), Budi Wiryawan
8. Trombone : Wening, Dede Pardede
9. Timpani : Fataji Susiadi
10. Violin I : Anton Wijaya, Pratiwi Asmorowati, Shienny
Kurniawati, Daniel Chandra, Sulistyo Hadi, Agnes Poegoeh, Stephanie Tanumidjaja, Erwin Junaedi Tjahja, Kevin Atmadja, Grace Rozella Soetedja.
11. Violin II : Joseph Mariadi, Hanike Michelle, Irene Handojo, Ita Theresia, Jacqueline Chandra, Angela Soegito, Rita Agustin.
12. Viola : Y Edhi Susilo, Iwan Pamungkas, Sagaf Faozata,
Alvine Kurniawan, Sardjoko, Sanjung, Hans H Magawe.
13. Violincello : Songga, Budi Kartono, Nungke Verida, S Braga, Christian Xenophanes, Monica Ika Rachmawati, Melia Vanda.
14. Contrabass : Hendi Widodo, Sudirastono
15. Piano : Ester Karlina Magawe

SURABAYA PERLU CONCERT HALL

Ironis. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, sampai sekarang Surabaya belum punya concert hall atau gedung kesenian yang layak. Akibatnya, acara-acara musik klasik, jazz, akustik, terpaksa digelar di ballroom hotel, Balai Pemuda, auditorium kampus, atau gedung serbaguna.

Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri Surabaya Symphony Orchestra (SSO) sudah lama 'berteriak' soal concer hall di koran-koran Surabaya. Namun, reaksi dari Pemkot Surabaya sendiri sampai sekarang biasa-biasa saja. Gedung kesenian dianggap bukan prioritas rakyat! Berikut petikan percakapan dengan Solomon Tong, April 2005 di markas SSO Jalan Gentengkali 15 Surabaya.

Apakah Bapak puas dengan konser SSO di dalam hotel bintang lima?

Kalau dilihat dari jumlah penonton kami selama delapan tahun belakangan, saya sangat puas. Dalam arti isi konser SSO dapat diterima dan disukai masyarakat Surabaya, terbukti gedung berkapasitas seribu orang selalu penuh. Full house.

Bagaimana dengan gedungnya sendiri? Katanya tidak cocok untuk konser musik klasik?

Memang. Ballroom hotel bintang lima memiliki karpet tebal yang dapat menyerap suara. Tapi kalau kita bicara mengenai kualitas suara untuk musik akustik atau unplugged sebenarnya di Surabaya, bahkan Indonesia, tidak ada yang dirancang khusus untuk itu.

Karena itu, kami siasati dengan sound system yang profesional agar mencapai kualitas suara layaknya di dalam gedung konser. (Sejak berdiri pada 1996, SSO selalu menggelar konsernya di ballroom Hotel JW Marriott di Jl Embong Malang Surabaya, yang dulu bernama Hotel Westin.)

Bagaimana kalau konser di gedung serbaguna?

Kalau SSO konser di gedung serbaguna maka segmennya menjadi lebih luas, yakni semua kalangan masyarakat. Tapi audiens reguler yang selama ini mengikuti konser-konser SSO seperti perwakilan asing, pejabat negara, pengusaha, budayawan, akan keberatan.

Kenapa? Selain faktor keamanan, tidak ada fasilitas parkir seperti di hotel bintang lima. Mereka juga akan keberatan dengan suasana saat konser seperti bunyi HP, orang-orang bicara keras, mungkin berjalan hilir mudik selama musik sedang dimainkan.
Jadi, yang ditekankan adalah image dari konser itu sendiri yang memang sangat dipengaruhi oleh keberadaan audiens, suasana lingkungan, atmosfer gedung baik di dalam maupun di sekitar gedung.

Untuk ke depannya?

Saya berharap kelak ada sebuah gedung konser yang berkelas yang diciptakan dengan serius dan cermat dalam bidang akustik dengan sarana dan prasarana seperti tempat parkir yang memadai. Dan masalah ini diserahkan saja kepada pemerintah.

Kenapa harus pemerintah?

Pertama, orientasi pembangunan sebuah gedung konser bukanlah bisnis melainkan pengembangan budaya musik klasik di Indonesia. Pembangunan dan perawatan kan butuh biaya. Kita khawatir, jika ditangani swasta gedung itu berubah fungsi menjadi gedung serbaguna.

Kedua, Surabaya sudah punya SSO (Surabaya Symphony Orchestra) sehingga gedung itu tidak akan nganggur. Kalau sudah ada gedung, saya yakin akan muncul orkes-orkes simfoni yang lain di Surabaya.

Mungkinkah gedung itu terwujud?

Kenapa tidak? Jika semua elemen berbagi visi yang sama maka Indonesia bisa memiliki gedung konser yang representatif.


SURABAYA SYMPHONY ORCHESTRA

Jalan Gentengkali 15 Surabaya
Telepon 031 531 3297, 534 2440
Faksimili 6231 5342440
Email: symphony_sso@yahoo.com


Website:
http://surabayasymphonyorchestra.com

6 comments:

  1. BAGAI MANA CARANYA BISA IKUT MENJADI PERSON SSO DI BAGIAN VIOLIN??? SAYA SANGAT MENDAMBAKAN ITU, APAKAH HARUS DI TES ATAU KALAU MEMANG SAYA BELUM LAYAK IKUT, SAYA MOHON UNTUK DILATIH DALAM SSO (KURSUS) SEHINGGA SAYA BISA MASUK DI SSO. NAMA SAYA W.TANJUNG FILES, TOLONG HUBUNGI SAYA 085648510258

    ReplyDelete
  2. Tanjung, anda bisa kontak langsung SSO di alamat dan nomor telepon di atas. Datang, temui langsung Pak Tong. Semoga sukses.

    ReplyDelete
  3. Bagaimana caranya bergabung di SSO bidang solo singer? Apakah harus di-audisi dahulu? Kalau memang iya,maka saya bersedia,dan kalau tidak lulus bersedia untuk dibimbing terlebih dahulu(kursus).
    Saya Nikodemus Lukas,berusia 15 tahun dan memiliki suara tenor. Saya mohon jawabannya untuk mewujudkan impian saya,trims! (081-7303536)

    ReplyDelete
  4. Hai, Nikodemus, saya bukan pengurus SSO. Kamu sebaiknya menghubungi langsung SSO di alamat dan nomor telepon di atas. Semoga sukses.

    ReplyDelete
  5. lomba piano tahun 2001. itu diadakan dimana dn dlm rngka apa?

    ReplyDelete
  6. saya michael samosir ingin bergabung dan belajar bersama untuk di didik apakah bisa?

    ReplyDelete