03 September 2006

Situs Jolotundo



Sejak bertugas di Sidoarjo (2003-2005), saya sering sekali jalan-jalan ke pegunungan. Ini karena teman-teman saya di komunitas seniman/budayawan memang doyan banget menapak tilas tempat-tempat atau situs sejarah. Asal tahu saja, Jawa Timur memang gudangnya situs peninggalan Kerajaan Majapahit.

Seperti diketahui, dulu Majapahit itu berpusat di Trowulan, Mojokerto, dengan wilayah sangat luas.

Salah satu tempat favorit saya adalah Candi Jolotundo–disebut juga Sumur Jolotundo. Bangunan ini konon dibangun pada masa Udayana sebagai tempat pemandian (petirtaan) umat Hindu. Majapahit kerajaan Hindu, bukan? Karena itu, candi ini menampung air bersih dari perut gunung. Air tersebut dikumpulkan di kolam pemandian.

“Katanya, air Jolotundo ini paling bersih nomor dua di dunia,” kata Harryadjie Bambang Subagyo, pelukis senior Sidoarjo, yang paling sering datang ke Jolotundo. Klaim ini jangan dipercaya begitu saja.



Saat ini situs Jolotundo selalu ramai pengunjung, khususnya pada malam Jumat Legi. Di tengah malam yang sangat dingin mereka ramai-ramai melakukan ritual mandi bersama… telanjang. Kolam untuk pria dan wanita terpisah.

Syaratnya, “Anda tidak boleh kencing pada saat mandi,” jelas Pak Tarmudji Sofjan, pensiunan Bank BNI, yang juga pelukis dan pelacak situs-situs sejarah.

Menurut mereka yang percaya, mandi di kolam Jolotundo banyak khasiatnya: rezeki lancar, awet muda, dagangan laris, pangkat naik, dan seterusnya. Biasanya, acara mandi tengah malam ini dibarengi dengan meditasi atau berdoa sesuai dengan agama masing-masing. Setahu saya, pengunjung Jolotundo berasal dari semua agama. Benar-benar bhinneka tunggal ika.

Orang-orang Barat yang datang ke Jawa Timur biasanya menyempatkan diri mampir, sekaligus mandi di Jolotundo. Christine Rod asal Swiss tak pernah absen ke Jolotundo kalau kebetulan berlibur di Jawa Timur. Christine tak sekadar mandi, tapi juga melakukan gerakan-gerakan seperti senam taichi, meditasi, serta menyapa alam.

“Di sini saya merasa lebih muda 20 tahun,” kata Christine kepada saya dalam bahasa Indonesia patah-patah. “It’s a wonderful place I ever seen,” tambah Jean Claude, bule lain asal Belgia. Bule-bule memang selalu mengucapkan kata-kata apresiasi dengan tulus.

Saking seringnya ke Jolotundo, Christine Rod akhirnya kecantol dengan Nasrullah, pelukis (duda) asal Sidoarjo. Mereka diskusi, sharing, bercerita, dan bermanja-manjaan di kawasan pegunungan… kemudian berpacaran.

Awal 2006, diam-diam, Christine dan Nasrullah akhirnya menikah. Yah… Jolotundo ternyata membuat jodoh kedua insan beda negara ini sampai. Alhamdulillah!

Pertengahan 2005, teman-teman dari Trans TV (Jakarta) ramai-ramai datang ke Jolotundo untuk menggarap program UJI NYALI. Ratusan warga menyaksikan pengambilan gambar acara klenik-klenikan yang pernah heboh di televisi itu. Dukun dan paranormal didatangkan. Blablabla…. mulailah acara UJI NYALI.

Benarkah ada setan di sana? Gendruwo? Hantu?

Teman-teman penjaga Jolotundo hanya ketawa-ketawa. “Kami sih terbuka bagi siapa saja. Yang penting, jangan merusak situs warisan sejarah ini. Urusan kepercayaan orang, kami tidak ikut campur,” kata Wanto, salah satu penjaga.

Lain lagi dengan Pak Bambang. “Bohong itu UJI NYALI. Orang Trans TV itu benar-benar merusak akal sehat warga. Mereka cari uang dengan berjualan hantu di televisi,” ujar bekas ketua litbang Dewan Kesenian Sidoarjo ini, geram.

Menurut Pak Bambang, asal Jogja, situs sejarah macam Jolotundo ini hendaknya diperlakukan dengan hormat, bijaksana, sadar sejarah. Tidak perlu dikaitkan dengan klenik atau hantu-hantuan.

2 comments:

  1. Bang ! Kamu Pelit Banget Sich. Kalau Disalin Gak Boleh, Tutup Aja Blog Anda. Gimana kalau ada tugas sejarah untuk adik-2 kita? Wah ini namanya pembodohan bang! Harusnya kalau disalin kamu jadi happy dong! Karena masih ada putra Indonesia yang masih peduli dengan nasib sejarah budaya bangsa ini. Merdeka Bang ! Hidup Bung Karno !Think about it please !

    ReplyDelete
  2. hehehe... marah ya. dikutip untuk kepentingan pendidikan, akademis, boleh lah. tapi dikutip utuh dan dimuat lagi di media seharusnya tidak boleh. bagaimana kalau ada gugatan hukum?

    saya kira, situs atau blog lain pun punya sikap yang sama. Salam.

    ReplyDelete