03 September 2006

Sawung Jabo




SAWUNG JABO, seniman serba bisa yang kini tinggal di Sydney, Australia, itu nama aslinya MOCHAMAD DJOHANSYAH. Lahir di Surabaya 4 Mei 1951, Jabo lebih suka berbahasa suroboyan ketimbang bahasa Indonesia.

“Yo opo kabare rek? Cuk… hehehe….”

Akrab sekali kalau ketemu Sawung Jabo. Sikapnya yang ramah, murah senyum, slengekan, tapi kritis dan religius juga ia perlihatkan di atas panggung. Saya sangat menikmati berbagai konsernya di Surabaya, Sidoarjo, Jember, Malang… atau sekadar lihat di televisi. Pokoke, wuenaaaak tenan!

Saya mulai tahu Sawung Jabo ketika kuliah di Universitas Jember pada 1990-an. Saya aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), bersahabat kental dengan sahabat-sahabat santri PMII dan HMI, juga kawan-kawan nasionalis GMNI. Juga sahabat-sahabat aktivis organisasi intra dan ekstrakampus.

Zaman itu rezim Orde Baru begitu kuatnya, sedang diperangi oleh mahasiswa dan berbagai elemen. Banyak kawan yang lupa kuliah atau pacaran karena terlalu asyik di pergerakan, organisasi.

Nah, waktu itu lagu-lagu Sawung Jabo dan grupnya benar-benar menjadi inspirasi bagi anak-anak muda gerakan mahasiswa. Sawung Jabo piawai menciptakan lagu-lagu dengan syair mendalam, musik gado-gado etnik, barat, dan seterusnya. “Dia itu ahli oplos musik,” kata Mulyawan, aktivis mahasiswa di Unej, teman saya.

Jabo dikenal luas setelah memberi warna pada musik dan lirik-lirik Kantata Takwa, Swami, Iwan Fals, Sirkus Barock… serta beberapa grup alternatif. Beberapa nomor hitnya BENTO, BONGKAR, BADUT, KUDA LUMPING, HIO… Lagu-lagu ini sangat kritis, mengajak masyarakat membongkar kebobrokan semasa rezim Orde Baru.

SETELAH menjadi wartawan Radar Surabaya Biro Sidoarjo, saya punya kesempatan mengenal Sawung Jabo lebih dekat lagi. Tidak sekadar penggemar dengan artis, tapi sahabat. Ini karena Bupati Sidoarjo Win Hendrarso ternyata teman dekat Sawung Jabo. “Kami dulu sama-sama di KAAS (Keluarga Arek-Arek Suroboyo) Jogja,” tutur Cak Win, sapaan akrab Win Hendrarso.

“Sejak dulu dia sudah ahli main gitar, menciptakan lagu,” tambah bupati yang dekat dengan seniman itu.

Sawung Jabo kemudian diundang ikut reuni KAAS di Pendopo Kabupaten Sidoarjo. Dia main gitar, diiringi teman-temannya, termasuk Subiyantoro dkk, pemusik alternatif asal Sidoarjo. Suasana sangat cair dan gayeng.

“Dulu di Jogja, kami ini kayak saudara. Kalau belum dapat kiriman, uangnya teman dipakai dulu, bayar belakangan. Itu yang bikin kami kompak sampai sekarang,” cerita Mochamad Djohansyah alias Sawung Jabo kepada saya saat makan-makan di Sidoarjo.



BAGI saya, kemampuan musikal Sawung Jabo di atas rata-rata pemusik Indonesia. Apalagi, dibandingkan dengan artis penyanyi atau band karbitan yang sekarang merajalela di televisi. Dia punya basis pendidikan musik klasik, multiinstrumentalis, komposer, bisa meramu musik barat dan timur, bikin lagu yang syairnya dalam. Jangan lupa Sawung Jabo dulu ditempa di bengkel teater sehingga dia aktor sejati.

Cak Win, sahabat Jabo yang juga bupati Sidoarjo, memintanya menampil sajian musik di alun-alun dalam rangka HUT Kabupaten Sidoarjo. Maka, proses latihan diadakan di Sanggar Pecantingan, Desa Sekardangan, pinggiran kota Sidoarjo. Tempatnya sederhana layaknya rumah tradisional di desa-desa Jawa. Jabo mengajak beberapa pemusik teman lama dari Surabaya seperti personel Jangan Asem Band, Totok Tewel, Inisisri. Tak lupa, pemusik-pemusik asli Sidoarjo untuk kolaborasi.

Tahulah saya bahwa Sawung Jabo ini pemusik luar biasa yang benar-benar kerja keras. Dia harus berkolaborasi dengan pemusik-pemusik pemula yang jam terbangnya belum apa-apa. “Ini tantangan bagi saya,” kata Jabo.

Tapi, di sinilah nilai lebih seorang Sawung Jabo: orang-orang biasa itu bisa ia gembleng sedemikian rupa untuk menghasilkan karya seni berkualitas. Sajian Sawung Jabo dkk di alun-alun Sidoarjo pada akhir Januari 2004 itu mendapat sambutan meriah. Biasanya hari jadi kabupaten diisi dangdutan, sekarang musik berkualitas.

Sejak itu ia terus mendorong pemusik daerah untuk berkarya. Grup Subiyantoro (Ki Toro) diajaknya main di Australia. Grup ini juga main ke Belanda, lalu kembali mengisi Festival Seni Surabaya. “Musisi-musisi Indonesia itu perlu pengalaman tampil di festival-festival internasional. Ojo main nang kampung thok,” katanya. Biayanya dari mana, Cak?

Nah, menurut Sawung Jabo, biaya itu akan datang sendiri manakala grup musik (kesenian) itu sudah bekerja keras, menampilkan kinerja bagus. Sponsor akan datang sendiri. Mana ada sponsor yang mau membiayai grup kesenian yang kinerjanya tidak jelas. Sawung Jabo sendiri sudah membuktikan kata-katanya ini.

IBARAT matahari yang terus memberikan sinarnya, Sawung Jabo setahu saya dengan senang membagikan ilmunya kepada anak-anak muda atau siapa saja yang membutuhkannya. Saat main-main di Sidoarjo, 2005, dia diminta memberikan sarasehan teater kepada anak-anak SMA. Saya jadi tahu sisi lain Sawung Jabo sebagai teaterwan alias aktor.

Sawung Jabo meletakkan botol plastik di tengah-tengah ruangan. Sekitar 100 anak SMA memerhatian. “Silakan kalian berimajinasi secara bebas,” kata Jabo seraya meminta seorang remaja maju.

Si pelajar harus ‘menghidupkan’ botol itu. Berpikir sejenak, anak itu membuat gerakan seperti orang ketakutan. ‘’Ih… mayat, mayat, mayaaaat!’’ ujar anak SMA itu saat mendekati botol kosong.

Menurut Sawung Jabo, akting siswa ini sudah lumayan, namun belum memenuhi syarat. Kenapa? ‘’Penonton tahu ada mayat karena si aktor ngomong ‘mayat’. Kalau nggak bilang apa-apa, penonton tidak akan tahu,’’ kritik Sawung Jabo. Begitulah, anak-anak muda Sidoarjo dapat ilmu gratis dari seniman serba bisa itu.

Akhir Januari 2006, diam-diam menulis naskah ludruk untuk hari jadi ke-147 Kabupaten Sidoarjo. Isinya tentang obrolan wong cilik yang susah, di-PHK, ngangur, melarat.

Sawung Jabo, kendati sudah ‘dirangkul’ temannya Cak Win, bupati Sidoarjo, tetap saja menjaga jarak sebagai seniman. Dia tetap kritis, sentil sana sentil sini, mengkritik pejabat yang korup, malas, dan lupa menunaikan janjinya saat kampanye.

“Kesenian itu tidak boleh mati. Kesenian apa saja merupakan kebutuhan mutlak masyarakat kita,” ujar Sawung Jabo.

Karena merasa dekat dengan Sawung Jabo, saya sering menanyakan kondisi masyarakat Indonesia di Australia saat terjadi gejolak, unjuk rasa, atau aktivitas yang mengganggu hubungan kedua negara. “Hubungan politik kedua negara memang panas dingin, tapi hubungan antarmasyarakat baik-baik saja,” ujar suami Suzan Piper, wanita asal Australia ini.

Okelah!

Sawung Jabo Konser di Surabaya

Suzan Piper Pendamping Sawung Jabo

8 comments:

  1. Yup. setuju Mas... saya masih ingat betul saat main bareng Cak Jabo di Malang sewaktu ada Pesta Rakyat didaerah selecta..mulanya kami (Kethek Ogleng Group ) agak minder main satu panggung dengan orang seperti Cak Jabo apalagi dengan Trio Dingo (kawan kawan Cak Jabo dari Australia ) tapi setelah bertemu dan latihan sebentar...ternyata dia memang seniman yang low profile, bagi saya secara pribadi Cak Jabo lebih terlihat sebagai seorang guru ketimbang seorang artis, dia sangat memahami musikalitas kami, hal itulah yang jarang kami temukan pada diri atau kelompok musik lain yang pernah satu panggung dengan Kethek Ogleng Group.

    ReplyDelete
  2. Bung Lambertus....
    Salam budaya.....
    Kebetulan ini saya pingin menyambung tali silaturahmi Alumni Jantung Teater Jember, Saya Wahyu Adi Santoso (yoyok petis) pernah baca tentang berita Aan Cemani, kalo nggak salah dia tuh juga alumni Jantung teater jember. Kalau bung Lambertus mengenalnya, tolong dong hubungkan kami...
    matur suwun.....

    ReplyDelete
  3. BUku Wis DIterimo Mas www.ademati.org

    ReplyDelete
  4. PAMUJI YUONO :
    Mas Jabo memang merakyat....ingat waktu kita bareng mas Djodi,Iwan Fals di Tawangmangu.... semalaman kita ngakak cerita2 politik nan lucu....
    Hidup mas Jaboooooo....

    ReplyDelete
  5. pertama kali liat pementasannya sawung jabo ya kemarin itu di taman budaya dago teahouse tanggal 16 Agustus,,,keren mas!! aq langsung suka,,kalo ada pementasan di bandung lagi kasih tau lha...
    kirim e-mail ke saya ine_hamzah@yahoo.com

    facebook ada kan mas?

    oia,,,,aq suka banget lagu PETARUNG HIDUP!! jadi penyemangatku tiap hari niy!!

    nuhun pisan

    ReplyDelete
  6. cak jabo memang hebat.

    ReplyDelete
  7. permisi... ada yang tau gak bagaimana caranya kalau mau contact pak Sawung Jabo, karena ada keperluan interview dengan beliau untuk tugas kuliah saya..
    mohon email saya di wforwicaksono@yahoo.com

    ReplyDelete