24 September 2006

Requiem untuk Tibo, Riwu, da Silva


TIDAK MANUSIAWI. Selepas eksekusi, mayat da Silva langsung ditanam oleh aparat negara RI tanpa upacara agama dan adat.

21 September 2006 pukul 16:51:01 WIB.

Saya mendapat pesan pendek (SMS) dari orang yang tidak saya kenal. Tapi, rupanya, dia kenal saya, tahu nomor ponsel saya. Tahu siapa saya.

Pesannya dari ponsel 0813305863xx itu berbunyi:

"Tibo cs mau dieksekusi jumat dini hri (Doa 3X BAPA KAMI) kirim ke 10 org tman, jgn sampai putus di tngan anda, mujizat akan terjadi spt yg trtulis dlm kisah DANIEL ...!"



Keluarga almarhum yang berdukacita. Oh may God!

Jelas, pengirim SMS ini orang beriman, sering baca kitab suci. Tapi me-foward SMS ke 10 teman? Maaf, saya sejak dulu tidak melakukannya. Saya curiga, jangan-jangan penggagas pesan ini sudah 'bekerja sama' dengan perusahaan seluler.

Toh, semua orang tahu bahwa pada 22 September 2006, pukul 01:45 Wita Fabianus Tibo, Marinus Riwu, Dominggus da Silva meregang nyawa di depan regu tembak.

Ketiganya dianggap 'dalang' kerusuhan Poso, sehingga layak beroleh ganjaran mati. Mata ganti mata... nyawa dibalas nyawa!

"Proses hukum sudah selesai, sehingga harus dieksekusi. Aturan hukumnya begitu," berkata Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Sebagai hamba hukum, Abdul Rahman mau tak mau melihat dari kacamata hukum positif, legal-formal. Dia bicara dengan tenang, tanpa emosi apa-apa. Ah... hamba hukum!

Dalam kasus Tibo ini, saya juga mendapat sekitar 20 SMS lain yang isinya hampir sama: berdoa agar Tibo cs tak jadi dieksekusi pada 12 Agustus 2006. "Doa kita dikabulkan Tuhan...," kata sebuah SMS begitu rencana eksekusi pertama batal.

Artinya, doa 'tahap dua' tidak dikabulkan Tuhan? Hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, mati hidup manusia itu ada di tangan-Nya. Manusia--termasuk jaksa agung, ketua MPR, presiden, ketua DPR, aktivis HAM--sebetulnya tak punya kapasitas apa-apa untuk mencabut nyawa manusia di Indonesia.



Setelah digali, jemazah da Silva disemayamkan di gereja, lalu misa requiem.

Saya asli Flores, beragama Katolik... sama dengan Tibo cs. Hanya beda kabupaten. Tapi sejak awal saya tak ingin melihat kasus Tibo cs ini dari perspektif orang Flores atau orang Katolik. Saya melihat Tibo cs sebagai manusia biasa, petani kecil, di Sulawesi Tengah. Mereka miskin di Flores, sehingga bertransmigrasi di Sulteng, menikah, punya istri-anak di sana. Sekali lagi, petani miskin!

Hebat benar Tibo cs bisa menjadi dalang atau actor intelectualis di balik kerusuhan Poso sejak 2000? Mereka punya kemampuan mengerakkan massa, menimbulkan perang saudara pada 23 Mei sampai 1 Juni 2000?

Saya, wong cilik asal pelosok Flores Timur, sampai hari ini belum paham apa gerangan yang terjadi di Poso. Di Maluku, Kalimatan (Dayak-Madura), serta serangkaian konflik di tanah air sejak reformasi bergulir.

Setelah Tibo cs ditembak mati, atas nama penegakan hukum, akankah kasus Poso selesai? Bom tak ada lagi? Rakyat aman, damai, sejahtera? Entahlah.

Sebagai wartawan, terus terang saja, saya muak membaca berita-berita kerusuhan, khususnya Poso dan kawasan lain di Sulawesi Tengah. Ditemukan bom aktif di depan gereja. Senjata rakitan. Pendeta ditembak saat berkhotbah. Tentara vs polisi kisruh. Dan lain-lain.

Saya sedih melihat foto mayat Dominggus da Silva ditanam begitu saja oleh aparat negara di Palu. Tak ada ritual agama serta adat layaknya orang Flores. Di mana hati nurani aparat itu? Siapa yang memerintahkan begitu?

Jangankan manusia, di Flores sana, binatang yang mati pun tidak ditanam begitu saja. Sehabis berburu binatang liar (celeng, kijang, rusa), bapak-bapak di kampung membuat upacara khusus untuk menghormati 'nyawa' makhluk hidup. Dus, tidak sembarangan. Lha, jenazah almarhum Pak Silva kok ditanam begitu saja tanpa sepengetahuan keluarganya?

Saya tidak tahu bagaimana perasaan jaksa agung dan aparat eksekutor yang menanam mayat manusia tanpa hormat itu. Syukurlah, jenazah Tibo dan Riwu diserahkan kepada keluarga, disemayamkan di gereja, lalu misa requiem.

Saya berharap, apa yang menimpa mayat da Silva ini hanya sebuah 'kecelakaan' yang tidak disengaja. Kalau warga Maumere merusuh, 22 September 2006, saya yakin, akibat perilaku aparat yang tega menanam mayat Dominggus da Silva, warga Maumere, tanpa hormat itu.

Tampaknya, pemerintah kita perlu belajar menghargai hak-hak manusia, menghargai nyawa manusia, juga menghargai orang yang sudah meninggal dunia. Siapa pun dia--terpidana, teroris, penjahat, pejabat, petani--manusia begitu berharga di mata Allah.

Bukankah kita semua sama-sama makhluk Allah yang tidak pernah luput dari salah dan dosa? Luar biasa kalau pemerintah, aparat, jaksa agung, politikus, parlemen... merasa lebih suci, sehingga memperlakukan jenazah orang mati kayak kasus Dominggus. Syukurlah, mayat Domingus digali kembali untuk mendapat penghormatan yang layak. Pihak keluarga di Maumere pun menjemput agar dimakamkan di kampung halaman, Maumere.

Akhirnya, perjalanan Tibo, Riwu, Silva yang melahirkan kontroversi berkepanjangan itu usai di depan regu tembak. Saya hanya bisa berdoa agar ketiga almarhum diampuni dosa-dosanya, diberi kebahagiaan abadi di alam sana. Juga semoga kasus Tibo cs ini membawa hikmah kebijaksaan bagi para pemimpin dan bangsa Indonesia umumnya.
Sebagai jemaat Katolik, walaupun sering terlambat misa di gereja, saya mendaraskan REQUIEM untuk Tibo, Riwu, dan Silva:

REQUIEM AETERNAM DONA EIS DOMINE
ET LUX PERPETUA LUCEAT EIS
TE DECET HYMNUS DEUS IN SION ET TIBI
REDDETUR VOTUM IN IERUSALEM
EXAUDI ORATIONEM MEAM AD TE OMNIS
CARO VENIET.

AMEEEEEN!!!!

No comments:

Post a Comment