17 September 2006

Ratna Indraswari Ibrahim Cerpenis Arema




Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Saya kagum sama Mbak Ratna. Orangnya cacat, ke mana-mana pakai kursi roda, tapi energi kreatifnya luar biasa. Dia sudah menulis ratusan cerpen berbobot yang sudah dipublikasikan di koran, majalah, dan buku.

Senang sekali, saya disambut Mbak Ratna dengan ramah di rumahnya. Mbak Ratna bisa jadi sumber inspirasi bagi orang Indonesia, khususnya penulis. Berikut catatan saya yang dimuat di koran Radar Surabaya:



AKHIR Juli 2006, beberapa anak muda mampir ke rumah tua--ada tulisan ANNO 1914 di tembok depan--di Jl Diponegoro 3 Malang. Anak-anak muda itu sangat ramah, berbincang akrab dengan pemilik rumah yang duduk di kursi roda. Bahasanya khas negeri jiran, logat Melayu kental. Kendati baru bertemu, pertemuan itu terasa hangat.

“Mereka anak-anak muda Malaysia yang mau belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Mereka datang ke sini untuk silaturahmi,” kata Ratna Indraswari Ibrahim, sang penghuni rumah tua, kepada saya. Senyum manis tersungging dari perempuan asli Malang yang dikenal sebagai cerpenis papan atas Tanah Air.

Tak berapa lama setelah kunjungan mahasiswa Malaysia, datang lagi dua anak muda, cowok-cewek. Keduanya mahasiswa Universitas Islam Malang. “Kenapa kok kelihatan sedih?” sapa Ratna Indraswari Ibrahim. “Ayo, diminum tehnya.”

Dua anak muda itu mencoba meneguk teh hangat manis. “Waduh, Bu Ratna, kamera digital saya hilang di angkot. Padahal, itu kamera pinjaman,” kata si cewek. Ratna pun ikut sedih, tapi tentu tak bisa berbuat apa-apa. Di kota dingin Malang ternyata masih banyak orang ditimpa kemalangan seperti mahasiswa Unisma ini.

Begitulah suasana rumah Ratna Indraswari Ibrahim, yang juga bangunan cagar budaya berusia 92 tahun itu. Tiap hari, kata dia, tamu-tamu selalu datang--entah mahasiswa, wartawan, budayawan, sastrawan, penulis, hingga warga asing. Semuanya disambut dengan ramah oleh perempuan kelahiran 24 April 1949 ini.

“Agama saya (Islam) menekankan bahwa silaturahmi itu sangat penting,” ujar pemakai kacamata tebal itu.

Di samping aktivitas utama sebagai penulis cerpen--dilakoni sejak usia delapan tahun--belakangan Ratna Indraswari Ibrahim aktif dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, kemasyarakatan, hingga lingkungan hidup di Malang Raya. Salah satunya Forum Pelangi. Namanya juga ‘pelangi’, acara bulanan ini membahas berbagai topik hangat dan relevan dengan perkembangan Kota Malang. Pesertanya macam-macam.

“Lha, ketimbang hanya ngobrol biasa, kami selalu mendatangkan narasumber yang berkompeten untuk membahas tema tertentu,” tuturnya.

Bicara tentang Malang, kota tercinta, semangat Ratna terasa berapi-api. Banyak hal disoroti Ratna, khususnya perkembangan kota yang cenderung meminggirkan rakyat kecil. Wong cilik digusur di mana-mana. Lihatlah lahan bekas Terminal Patimura di Klojen. Tempo doeloe, kata Ratna, kawasan paling sibuk di Kota Malang sebelum tahun 1980-an itu merupakan kompleks makam warga Belanda.

Entah kenapa, makam itu diratakan, lalu dibuatlah terminal bus dan angkutan kota. Terminal Patimura sempat menjadi pusat kegiatan ekonomi yang ramai. Pedagang kaki lima serta ribuan wong cilik mencari makan di situ. Tiba-tiba Pemkot Malang ‘membersihkan’ terminal itu untuk kompleks ruko (rumah toko).

“Sekarang Anda bisa lihat sendiri? Rukonya laku nggak? Berapa banyak warga yang merasakan manfaat dari situ? Nggak ada. Paling satu dua kantor saja,” ujar Ratna yang telah menulis sekitar 400 cerpen sastra itu.

Ayah Ratna, almarhum Ibrahim, seorang nasionalis pejuang yang sangat peduli sejarah. Ibrahim membiasakan seluruh anggota keluarganya menikmati buku-buku di perpustakaan keluarga. Buku-buku cerita klasik hingga ‘Sarinah’ karya Bung Karno sudah dilahap Ratna di usia belia. Tak heran, Ratna tahu banyak tentang sejarah, sekaligus punya kesadaran sejarah yang tinggi.

Kembali ke kompleks makam Belanda tempo doeloe. Menurut Ratna, seharusnya makam itu dipelihara sebagai kawasan terbuka hijau sekaligus taman kota. Dengan begitu, anak-cucu-cicit orang-orang Belanda itu bisa sewaktu-waktu datang berkunjung. “Devisa masuk. Rupanya, ini kurang dipikirkan oleh pemerintah kota,” kritik Ratna.

Kasus makam Belanda yang disulap jadi terminal, kemudian ruko, hanya satu contoh. Masih banyak lagi kebijakan publik yang membuat Ratna gundah karena hanya cenderung memihak kepentingan pemodal.

FOTO: Rumah Ratna Indraswari Ibrahim yang juga bangunan cagar budaya di Kota Malang.

MENULIS SEJAK 8 TAHUN

Produktivitas Ratna Indraswari Ibrahim menulis cerita pendek sungguh luar biasa, mengingat kondisi tubuhnya yang tak normal. Untuk sekadar memegang pena atau bergerak saja sulit. Ke mana-mana Ratna menggunakan kursi roda, dibantu asisten setianya.

Lalu? "Saya cukup mendiktekan saja. Rini Widyawati yang menulis. Dia asisten saya yang setia,” ujar Ratna Indraswari Ibrahim.

Ratna mengaku mengalami cacat fisik sejak usia 10 tahun. Namun, wanita kelahiran 24 April 1949 ini mengaku sudah mulai menulis sejak usia delapan tahun. "Saya bersyukur dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kondusif untuk menulis. Jadi, semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada yang luar biasa,” kata Ratna merendah.

Siang hari Ratna mengaku selalu dikunjungi tamu dari berbagai latar belakang. Semuanya disambut dengan ramah, istilahnya, demi membina silaturahmi. Dari dialog dengan para tamu, anak-anak muda, pasutri, membaca koran dan buku... lahirlah ide-ide untuk membuat cerpen. Menurut dia, ide bisa diperoleh dari mana saja, tapi tetap harus ada usaha untuk menemukannya.

Nah, setelah gagasan itu matang, mulailah Ratna ‘menulis’. Lebih tepatnya, mendiktekan kalimat demi kalimat kepada Rini Widyawati, yang pernah bekerja sebagai TKW di Hongkong. Tidak butuh waktu lama untuk melahirkan satu cerpen.

“Jam-jam kreatif saya, ya, malam hari. Sebetulnya siang juga bisa, tapi banyak tamu. Kalau malam lebih mengalir,” ujar perempuan yang juga aktif di sejumlah forum di Malang Raya itu.

Berapa jumlah cerpen yang sudah dibuat Ratna Indraswari Ibrahim? Angka persisnya sulit diketahui. Sebab, cerpen-cerpen di masa anak-anak dan remajanya tercecer ke mana-mana. Belum terdokumentasi secara baik. Namun, untuk cerpen sastra Ratna memperkirakan 400-an buah. “Sekitar 200 sampai 300 cerpen yang dipublikasikan di media,” ujarnya seraya tersenyum.

Sejak 1980-an nama Ratna Indraswari Ibrahim mulai mengemuka di jagat cerpen Tanah Air menyusul publikasi cerpen-cerpennya di koran serius bertiras besar. Ratna pun semakin bersemangat menulis, dan menjadikan ini sebagai profesi atau jalan hidupnya. Tak hanya di surat kabar atau majalah, Ratna mengaku sudah menerbitkan tujuh buku kumpulan cerpen. Penerbitnya macam-macam. Namun, dia mengeluh karena sejumlah penerbit kurang memerhatikan hak-hak pengarang.

“Di Indonesia ini mengurus royalti, yang merupakan hak pengarang, ternyata sulit sekali. Kayaknya kita ini debt collector saja,” ujar pengarang yang mengidolakan Budi Darma dan Danarto ini. “Tapi ada juga penerbit yang profesional,” tambahnya buru-buru.

Setelah jam terbangnya cukup banyak, Ratna merasa perlu melakukan sesuatu untuk menggairahkan minat anak-anak muda terhadap sastra atau humaniora umumnya. Maka, saat ini Ratna ikut mengurus Penerbit Pustaka Kayu Tangan di Malang. Dia ingin generasi muda tak sekadar gandrung budaya pop, doyan nonton televisi atau film, tapi juga rajin membaca. Ratna membuktikan bahwa dengan banyak membaca ia tahu banyak hal.

“Orang tua itu sumber budaya. Ayah ibu saya menciptakan kondisi yang membuat saya seperti ini. Kami membaca buku kemudian mendiskusikannya,” kenangnya.

Ratna mengaku bahagia karena asisten pribadinya, Rini, saat ini ternyata sudah mampu menulis cerpen-cerpen bagus. Dia juga senang melihat munculnya pengarang-pengarang muda dengan gaya khas meski tak selalu sejalan dengan mereka.

No comments:

Post a Comment