20 September 2006

Paus Bicara, Paus Dihujat


Demo aktivis muslim di depan Kedubes Vatikan di Jakarta, 18 September 2006.

SELASA, 19 SEPTEMBER 2006.

Koran-koran di Surabaya memuat berita dan foto tentang reaksi sejumlah aktivis Islam terhadap ceramah Paus Benediktus XVI di Jerman. Ceramah pada 12 September 2006 di Bavaria, jerman, itu menyinggung perasaan umat Islam. Muncul reaksi di mana-mana. Indonesia, sebagai bangsa muslim (NB: muslim nation, not islamic state), tak mau ketinggalan.

Saya perhatikan foto di koran. Puluhan aktivis pakai jubah putih, peci putih, mengepalkan tangan, marah. Mengusung poster-poster yang isinya sangat tajam: “Ayo... salib Paus! Poros Setan!” Ada juga pernyataan bahwa Sri Paus ini bakal masuk neraka. Di luar negeri, misalnya Iraq, saya lihat warga ramai-ramai membakar simbol Katolik. Ada boneka pakai jubah, salib di dada... lalu dihinakan!

Saya bisa memahami kegeraman saudara-saudara muslim. Tapi saya pun sangat terkejut menyaksikan unjuk rasa berikut kata-kata hujatan, spanduk maki-maki, aksi teaterikal yang benar-benar menghina Sri Paus (Pope). Itu di luar bayangan saya. Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan Bapa Suci (sebutan Sri Paus bagi kami di Pulau Flores) dimaki-maki sejelek itu. Paus penghuni neraka? Pemimpin setan? Aha... saya baru dengar dari pengunjuk rasa di depan Kedubes Vatikan, Jakarta, 18 September 2006.

OH TUHAN, AMPUNILAH MEREKA!
MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA BUAT!

SEPERTI sudah sering saya tulis, saya berasal dari Flores Timur, a Catholic island of Indonesia. Di rumah-rumah kami yang sederhana (pakai bambu, kayu murahan, setengah tembok, lantai tanah, atap alang-alang atau daun kelapa...), selalu ada foto Bapa Suci alias Sri Paus. Juga Bunda Maria, kalung rosario atau panji untuk kontas gabungan.

Karena lahir di awal 1970-an, saya mengalami empat orang Bapa Suci: Paus PAULUS VI (pernah ke Indonesia pada 1976), Paus YOHANES PAULUS I (1978-1978, bertakhta kurang dari dua bulan lalu wafat), Paus YOHANES PAULUS II (1978-2005, pernah ke Indonesia 1989), dan kini Paus BENEDIKTUS XVI. Saya sangat mengagumi Paus Yohanes Paulus II yang bernama asli Carol Wojtyla, asal Polandia.

Wafat di usia 84 tahun, beliau saya nilai sebagai salah satu Paus terbesar dalam sejarah Gereja Katolik. Seandainya saja Tuhan memberi saya istri, menganugerahi anak, saya berencana menamai dia Yohanes Paulus atau John Paul atau Carol--sesuai dengan nama almarhum Paus Yohanes Paulus II.

Kami di Flores lazim menyebut Sri Paus dengan SANTO BAPA atau BAPA SUCI. Beliau suci karena mendapat urapan imamat istimewa, penganti Rasul Petrus. Saya kutip Kitab Hukum Kanonik artikel 331:

“PAUS ADALAH USKUP GEREJA ROMA, YANG MEWARISI SECARA TETAP TUGAS YANG SECARA ISTIMEWA DIBERIKAN KEPADA PETRUS, YANG PERTAMA DI ANTARA PARA RASUL, DAN HARUS DITERUSKAN KEPADA PARA PENGGANTINYA, ADALAH KEPALA DEWAN PARA USKUP, WAKIL KRISTUS DAN GEMBALA GEREJA UNIVERSAL DI DUNIA INI, YANG KARENANYA BERDASARKAN TUGASNYA MEMPUNYAI KUASA JABATAN, TERTINGGI, PENUH, LANGSUNG, DAN UNIVERSAL DALAM GEREJA YANG SELALU DAPAT DIJALANKANNYA DENGAN BEBAS.”

Dari kutipan ini saja bisa diketahui betapa sentralnya peran Paus dalam Gereja Katolik. Karena itu, setiap hari ribuan orang datang ke Vatikan, ziarah, mendapatkan berkat dari Sri Paus. Saya sendiri beruntung mendapat oleh-oleh kalung rosario yang sudah diberkati Paus Yohanes Paulus II dari Mbak NANY WIJAYA, salah satu bos Grup Jawa Pos. Kebetulan Mbak Nany sempat melakukan liputan ke Takhta Suci Vatikan.

“Lha, bagaimana bisa Sri Paus dicap sebagai ‘poros setan’, ‘penghuni neraka’?” tanya Freddy, teman saya.

“Yah, saudara-saudara kita itu kan marah. Mereka hanya mereaksi pernyataan Paus yang dikutip media massa,” jawab saya.

“Apa benar Bapa Suci menghina umat Islam? Sudah baca isi ceramahnya secara utuh?”

Terus terang, saya belum baca. Saya hanya tahu penggalan dari media massa nasional dan kantor berita asing. Ceramah Paus Benediktus XVI cukup panjang, dua jam, dalam bahasa Inggris, di forum ilmiah, kutip sana-sini... sehingga tidak bisa dipahami dengan baik dan benar kalau hanya sekadar baca kutipan pendek di koran. Sampai sekarang saya tidak percaya bahwa Sri Paus sengaja menghina agama Islam.

“Kutipan abad pertengahan itu tidak mencerminkan pandangan saya,” kata Benediktus XVI seperti dikutip koran-koran.

Yah... semuanya serba mengutip. Salah kutip bisa celaka, Bung!

PAUS Benediktus XVI lahir di Bavaria, Jerman, pada 16 April 1927 dengan nama JOSEPH RATZINGER. Dia menggantikan Paus Yohanes Paulus II yang wafat pada 3 April 2005. Terpilihnya Kardinal Joseph Ratzinger sebagai Paus sudah ditebak banyak kalangan mengingat peranannya yang dominan dalam tahun-tahun terakhir kepemimpinan Yohanes Paulus II.

Konklaf yang dimulai 18 April 2005 langsung diakhiri pada 19 April 2005 karena dewan kardinal berhasil memilih Joseph Ratzinger sebagai Sri Paus. Asap putih mengepul di cerobong Kapela Sistinus tanda bahwa Takhta Suci sudah terisi. "Saya memilih nama Benediktus XVI,” ujar Ratzinger di hadapan jutaan umat. Adegan ini mendapat liputan luas berbagai media, termasuk televisi dan surat kabar Indonesia.

Sebagai bekas aktivis Katolik, saya tahu persis bahwa Benediktus XVI ini sangat menekankan harmoni, perdamaian, dialog antaragama, hormat pada agama lain, toleransi. Dia pulalah yang banyak mengonsep ensiklik serta berbagai pernyataan Paus Yohanes Paulus II, sang ‘santo perdamaian’ itu. Karena kedekatan dengan Yohanes Paulus II inilah, dia terpilih secara bulat sebagai Sri Paus. Gereja ingin pembaruan, tapi harus tetap ada kesinambungan.

Dari latar belakang ini, saya yakin, Paus Benediktus XVI tak punya niat sedikit pun untuk melecehkan Islam. Bagaimana mungkin tokoh yang selama bertahun-tahun menyusun konsep dialog antaragama menghina agama Islam? Sayang, sekali lagi, saya tidak tahu persis isi ceramah dalam bahasa Jerman di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman, pada 12 September 2006 itu.

Toh, saudara-saudara muslim sudah tersinggung sehingga minta maaf wajib dilakukan. Saya catat, Paus Benediktus XVI sudah menyampaikan ‘penyesalan mendalam’ serta ‘maaf’ selama dua kali dalam waktu berdekatan.

“Itu belum cukup. Dia harus mundur!” teriak pengunjuk rasa di Kedubes Vatikan di Jakarta, 20 September 2006.

Lalu, berapa kali lagi minta maaf? Tujuh puluh kali? Tujuh puluh kali tujuh? Kalau sampai menuntut Sri Paus mundur, ya, kebangetan. Opo tumon!
OH TUHAN, MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA BICARAKAN!

YANG jelas, saya senang karena Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Julius Kardinal Darmaatmadja SJ meminta maaf secara tulus pada 18 September 2006, atas nama umat Katolik di Indonesia. “KWI ikut prihatin bersama umat Islam bilamana merasa nabinya dihina dan Allah dilecehkan,” kata Kardinal.

Pria yang juga Uskup Agung Jakarta itu menambahkan: “Semoga peristiwa di Regensburg ini tidak merusak kerukunan antarumat beragama yang selama ini kita usahakan. Sebaliknya, ampun-mengampuni itu dapat menjadi landasan untuk berkomunikasi secara lebih baik dalam membina hidup bersama.”

Saya gembira karena tokoh-tokoh Islam seperti Hasyim Muzadi (PBNU), Din Syamsuddin (PP Muhammadiyah), Hidayat Nurwahid (PKS), dan beberapa lagi menerima permintaan maaf ini dengan baik. “Orang Islam wajib memberikan maaf kepada Paus Benediktus XVI sepanjang hal itu berupa kekhilafan,” kata Hasyim Muzadi.

Mudah-mudahan peristiwa ini menjadi bahan pelajaran berharga bagi kita semua, umat manusia yang hidup di bumi yang sama. Kita semua sama. Saya terluka karena Sri Paus dihujat, dilecehkan dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Saudara-saudara muslim pun sama saja: terluka jika nabi dan doktrinnya dilecehkan.

2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang bijak.

    ReplyDelete