19 September 2006

Museum Zoologi Frater Vianney




Hiroko (35 tahun), asal Jepang, melancong ke Tanah Air. Di atas pesawat dia membaca majalah udara yang menceritakan sejumlah objek wisata menarik di Indonesia. Dasar pencinta hewan-hewan langka, mata Hiroko langsung terpikat pada informasi soal Museum Zoologi Frater Vianney di Malang.

Tiba di Bandara Juanda, si Nipon ini buru-buru ke Malang.

"Saya ingin lihat museum zoologi yang koleksi kerangnya paling lengkap di dunia,” kata Hiroko.

Di kota dingin, Malang, ia bertanya ke sana ke mari di mana letak Museum Vianney itu. Ternyata warga, termasuk tukang becak yang mobilitasnya tinggi, tidak tahu. Mereka hanya tahu Museum Militer Brawijaya di Jalan Raya Ijen. Mana ada museum binatang?

Hiroko tak putus asa. Ia datang ke kantor pariwisata setempat. Celakanya, pihak pariwisata Malang pun tak tahu. Namun, Hiroko tidak menyerah. Dia berusaha sedemikian rupa, sehingga akhirnya menemukan museum itu.

“Sampai di sini Pak Hiroko ini mengaku sangat capek, tapi puas,” cerita Denise Resiamini, petugas museum, kepada saya.

Harus diakui, lokasi museum ini memang agak terpencil. Kita harus melintasi jalan-jalan desa sekitar 15 kilometer dari pusat kota Malang. Banyak belokan, tanjakan, sehingga sulit dicari orang baru. Jangankan orang Jepang, orang Malang sendiri rata-rata asing dengan kawasan ini.

“Sekarang sudah mulai dikenal orang, khususnya pelajar dan guru-guru,” jelas Denise, guru biologi di sebuah sekolah swasta Malang.

Dibuka untuk umum sejak 27 November 2004, Museum Vianney ini dikelola oleh Frater M Clemens Keban (69), biarawan Katolik dari kongregasi Bunda Hati Kudus.

Semua koleksi yang ada di sini bermula dari kegemaran Clemens mengoleksi aneka binatang melata serta berbagai kulit (cangkang) siput atau kerang. Kulit kerang laut, kerang darat, dari dalam maupun luar negeri dikoleksi dengan tekun oleh pria asal Flores Timur itu.

“Museum ini sebagai wujud penghormatan dan penghargaan saya kepada almarhum Frater Maria Vianney BHK. Beliau itu tokoh idola sekaligus guru saya,” ujar Clemens Keban.

Vianney yang lahir di Abcoude, Belanda, 22 November 1920 dikenal luas sebagai herpetologis atau ahli tentang ular. Selain gemar memburu dan mengoleksi ular dan aneka reptil, Vianney punya pengetahuan mendalam di bidang biologi.

Nah, untuk mengenang Vianney, Clemens kemudian mengabadikan nama mantan gurunya sebagai nama museum zoologi ini. Lengkapnya, Museum Zoologi Frater Vianney di Malang. "Saya menjadi saksi hidup bagaimana ular yang sangat ditakuti dan menjijikan itu bisa dijadikan ‘anak emas’ oleh almarhum,” kenang Clemens.

Menurut dia, sebagian koleksi binatang di museum ini merupakan warisan Vianney, khususnya aneka ular dan binatang melata lainnya. Di dunia ini sedikitnya ada 100 jenis ular, tapi yang sering ditemui hanya sekitar 40 jenis. Di Museum Vianney baru ada 20 jenis ular, khususnya ular-ular berbisa.

Ular-ular awetan disimpan dalam berbagai pose. Ada yang kepalanya tegak, melingkar, menelan mangsa, hingga tidur-tidur malas.

“Tidak sembarang orang bisa membuat awetan ular seperti ini kalau nggak paham ilmu tentang ular. Dan almarhum Frater Vianney termasuk salah satu herpetologis langka yang pernah berkarya di Indonesia,” jelas Denise Resiamini.

Ribuan koleksi moluska dan kerang tersimpan rapi di Museum Zoologi Vianney di Jl Raya Karangwidoro 7, Dau, Kabupaten Malang. Setiap jenis ditempatkan di rak atau kamar khusus.

Agar memudahkan pengunjung, nama-nama kerang dan moluska ini dalam bahasa Latin, tahun koleksi, dan asal penemuan. Kerang-kerangan dari Pantai Kenjeran (Surabaya), Nusa Tenggara Timur, Madura, dan sejumlah tempat di Tanah Air ada di sini.

“Pokoknya, kalau Frater Clemens ke mana saja, dia pasti cari kulit kerang, moluska, dan ular. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, dia paling suka koleksi kerang,” jelas Denise Resiamini, staf museum.

Kenapa suka kerang?

Frater Clemens Keban BHK, bos museum ini, ingin mengembangkan konkologi (conchology), ilmu tentang siput dan kerang. Konkologi merupakan bagian dari ilmu hayat (biologi) yang secara khusus mempelajari siput, kerang, moluska, dan sejenisnya. Clemens tak ingin para siswa hanya sekadar berteori, membaca buku biologi, tapi tidak pernah melihat wujudnya.

Nah, di saat pasang surut, Clemens jalan-jalan di pantai. Dengan cermat pria kelahiran Flores Timur, 25 Agustus 1957, ini mencari cangkang yang masih ada binatangnya. Bagaimana dengan cangkang laut dalam? Clemens tak segan-segan meminta bantuan atau menyewa nelayan untuk menyelam.

“Duitnya habis untuk mengoleksi siput, kerang, moluska. Jarang uangnya dipakai untuk membeli pakaian atau menikmati hiburan. Hiburannya, ya, menekuni dunia kerang itu,” tutur Denise sambil tertawa kecil.

Sesampai di kediamannya, cangkang dibersihkan dengan mengeluarkan binatangnya. Cangkang-cangkang itu diklasifikasi berdasar famili, genus, spesies, tempat dan tanggal penemuan. Masing-masing ditempatkan di lemari kaca. Sebagai referensi utama, Clemens menggunakan buku ‘A Field Guide to Shells of the Pacific Coast and Hawaii’. Buku pintar ini hadiah dari Frater Maria Vianney BHK, mentor sekaligus tokoh idola Clemens.

"Saya juga beberapa kali dikunjungi Renate Wittig, konkologis asal Amerika Serikat. Hobi dan minatnya sama dengan saya, kecuali ular,” jelas Clemens yang telah mengoleksi ribuan cangkang siput, kerang, moluska, dan aneka binatang laut.

Kendati belum begitu dikenal masyarakat, museum yang berdiri pada 27 November 2004 ini sudah digandeng oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. Dengan kerja sama ini, Museum Vianney dipercaya sebagai tempat penitipan satwa-satwa langka yang disita BKSDA. Entah itu penyu, kura-kura, buaya, kelelawar, dan mamalia langka lainnya.

“Kerja sama ini sangat menguntungkan karena koleksi kami jadi terus bertambah. Cuma, repotnya, biaya perawatan tidak murah,” ujar Denise, yang juga guru biologi di sebuah SMP swasta di Malang.

Pekan lalu, ratusan pelajar SD dan SLTP di Malang Raya ramai-ramai melakukan wisata ilmiah ke Museum Vianney. Sebelumnya, puluhan guru biologi mengikuti lokakarya biologi yang digelar pihak museum.

“Sekarang ini agenda kami sangat padat. Ternyata, Museum Vianney mulai diakui keberadaannya,” kata Denise bangga.

Semakin tingginya animo masyarakat, khususnya pelajar, mempelajari konkologi, reptilia, serta aneka binatang langka, membuat Clemens Keban berencana memperluas museumnya. Maklum, ruangan sekarang terlampau sempit untuk menampung koleksi yang terus bertambah. Lahan kosong sudah ada, tak jauh dari lokasi museum sekarang.

“Frater Clemens ingin museum besar bertaraf internasional,” kata Denise.

Kapan pembangunan dimulai?

“Wah, kami masih dalam taraf mengumpulkan dana. Museum baru ini butuh biaya miliaran rupiah,” tegas Denise.

No comments:

Post a Comment