17 September 2006

Pondok Millinium untuk Bayi Terbuang di Sidoarjo



Sejak ditugaskan di Sidoarjo, 2004, saya berkenalan dengan Ustaz Muhammad Khoirul Sholeh Efendie, pengasuh Pondok Pesantren Millinium Roudlotul Faizin di Jalan Raya Tenggulunan, RT 08/RW 06, Kecamatan Candi. Awalnya, saya ‘memergoki’ santri-santri Millinium belanja bareng di Ramayana Sidoarjo menjelang Lebaran.

Ada apa? “Ini memang tradisi tahunan,” jelas santri senior.

Sejak itu saya datangi pesantren khusus anak-anak dan remaja (SLTP) ini untuk wawancara. Bertemu Muhammad Khoirul Sholeh Efendie, ustaz asli Sidoarjo, lahir 7 September 1970. dia didampingi Ayu Inayatal Jalilah, istrinya, orang Bali.

"Istri saya ini orang Bali, namanya Ayu. Orangnya memang benar-benar ayu," ujar sang ustad seraya menggandeng sang istri. Tawa berderai pun terdengar.

"Alhamdulillah," ujar Ayu Inayatal Jalilah menanggapi pujian suami.

Di pesantren seluas 79 x 20 meter ini Khoirul mengasuh sekitar 150 anak yatim dan papa. Para santri berasal dari berbagai daerah di Tanah Air, khususnya Jawa Timur dan Bali. Anak-anak Bali pada pertengahan Agustus 2006 lalu bahkan sudah jadi mayoritas. Mereka ini umumnya mualaf alias baru masuk Islam. Lucu-lucu, pintar, menjabat tangan saya dengan hormat.

Saat ini Khoirul dan pengurus pesantren tengah memperluas pondoknya. Beberapa rumah warga berikut tanah di samping sudah dibeli. Bangunan baru sudah kelar 40 persen. Biaya dari mana? tanya saya.

"Anda tahu nggak, yang bangun gedung ini sebenarnya bayi-bayi itu. Saya sendiri nggak punya apa-apa," ujarnya santai. Saya tertegun.

Khoirul menambahkan, "Saya percaya bahwa semua bayi itu punya rezekinya sendiri-sendiri. Nah, setiap kali ada bayi yang dibuang, kemudian kami asuh, maka rezeki itu selalu mengalir. Dari mana saja."

Menurut sang ustadz, bayi-bayi yang rata-rata berusia di bawah satu tahun itu merupakan makhluk Allah yang punya kelebihan luar biasa dibandingkan orang dewasa. Orok yang tak dikehendaki, kemudian dibuang ke tempat sampah niscaya akan ketahuan. Orang yang mencoba menyakiti, apalagi membunuh bayi, yakinlah, cepat atau lambat pasti dicokok polisi. Di setiap bencana alam, bayi-bayi umumnya beroleh mukjizat keselamatan.

"Sampai sekarang saya merasakan mukjizat dari anak-anak yang kami asuh, khususnya bayi-bayi," ujar Khoirul. Itu pulalah yang mendorong pengasuh Ponpes Millinium untuk mengasuh unwanted child. Makin banyak bayi, makin banyak rezeki. "Berapa pun bayi yang butuh pengasuhan, latar belakang apa saja, akan kami tampung," tekad Khoirul.

Selain bayi-bayi, dzikir anak-anak yatim merupakan kekuatan lain Ponpes Millinium. Sebagian besar waktu para santri cilik ini (balita hingga 16 tahun) dipakai untuk dzikir, dzikir, dzikir. Khoirul mengaku telah membuktikan keampuhan dzikir sejak pesantren ia dirikan pada 1990.

"Dengan dzikir, anak-anak yatim piatu, fakir miskin, anak-anak balita ‘memanggil’ para donatur untuk datang ke pesantren. Jadi, mereka itu menghidupi diri sendiri. Saya hanya sekadar mengasuh," tuturnya.

Ahad (13/8/2006), rombongan Rotary Club Surabaya-Kaliasin dan RC Sidoarjo mengadakan program nutrisi gratis selama lima bulan sekaligus menyerahkan bantuan. Di antaranya beberapa karung beras kualitas bagus. "Semuanya datang, mengalir begitu saja seperti air. Saya dan pengurus pondok tidak pernah promosi atau publikasi ke mana-mana," tutur Khoirul.



FOTO: Izzul gendong bayi bernama Burhan.

DI sela-sela kunjungan bersama anggota Rotary Club, saya melihat Izzul, gadis remaja Bali yang masih duduk di bangku SMP. Dia menggendong Burhan, bayi 10 bulan, disaksikan teman-temannya. Si bayi tak berdosa itu digoda santri-santri lain. Tawa mereka pun pecah karena si Burhan memang lucu.

Tak jauh dari Izzul, Chodijah, juga remaja SMP, menggendong Fatimah Zakroh (11 bulan). Muhammad Fauzan Amin (1,5 tahun) berlari-lari kecil sembari menggigit dot susu. Fauzan ini lincah dan 'menggoda' kakak-kakaknya. "Dia dari Sumatera. Anaknya memang nggak bisa tenang," bisik seorang santri kepada saya.

Saat ini (Agustus 2006) Pesantren Millinium mengasuh enam bayi. "Target saya, tahun ini ada 11 bayi. Mudah-mudahan Allah menitipkan beberapa bayi lagi untuk kami asuh," harap Muhammad Khoirul Sholeh Efendie. Yang menarik, bayi-bayi itu berlatar belakang unwanted child alias anak yang tak dikehendaki.

Salah satu bayi, misalnya, hasil hubungan terlarang antara seorang gadis asal Jember dengan dukun cabul. Karena masyarakat menganggapnya sebagai aib, sang ibu 'disembunyikan' di kawasan Buduran, Sidoarjo. Alhamdulillah, bayi itu lahir dengan selamat. Bayi itu kemudian diasuh di pesantren, sementara sang ibu kembali lagi ke masyarakat.

Ada lagi bayi yang hendak dibuang di bak sampah. Kasusnya sama: sang ibu tak menghendaki bayi hasil hubungan di luar nikah. Ternyata, ada warga mengetahui adegan pembuangan bayi itu. Dan, singkat cerita, si bayi akhirnya mendarat dengan selamat di Millinium. Kini, enam bayi itu menjadi 'adik mas' sekitar 150 santri putra dan putri yang rata-rata berusia di bawah 15 tahun.




DIDIRIKAN pada 1990, Pesantren Millinium awalnya hanya dihuni tujuh santri cilik. Khoirul menampung, mengasuh, dan menggelar pengajian rutin di rumah. Bangunan sangat sederhana, mirip rumah-rumah penduduk lainnya. Tak ada yang tahu kalau tempat penampungan anak-anak yatim itu bakal berkembang pesat seperti sekarang.

Tentang nama 'Millinium', menurut sang ustaz, tak ada hubungan dengan pergantian millenium dari 1999 ke 2000 lalu. Ini murni otak-atik gathuk khas Jawa.

"Arti millinium itu sangat mendalam. Saya ingin para santri bisa memilih, memilah, memiliki, mengikuti, mengamalkan, dan meng-istiqomah-kan' nilai-nilai Islami dalam kehidupan," jelas Khoirul.

7 comments:

  1. GUS MAT..........MERDEKA

    ReplyDelete
  2. Om Hurek, adakah yg semacam ini tetapi dari penganut agama agama yang lain, apakah om juga pernah posting artikelnya?

    Bagaimana dg aturan atau urusan dari segi hukumnya?

    Terima kasih om, sekarang kolom komentar sudah kembali seperti sedia kala tidak bikin mata capek,

    ReplyDelete
  3. Yo wes... Ne ra ento. Ra popo...

    ReplyDelete
  4. kalau gak salah Gus Mad gak mau diadopsi, beliau ingin mengasuh dan mendidik sendiri sampai mereka mandiri. alasannya, kalau adopsi biasanya orang memilih bayi2 yg ganteng/ayu, tubuhnya sempurna dsb... kalau gitu caranya nanti saya cuma kebagian bayi2 yg jelek... padahal semua bayi itu makhluk Allah yg sama derajatnya di hadapan Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak juga pak , bapak berfikir gitu juga salah . ikhlaskan saja jika ada yang mengadopsi. siapa tau itu rezeki si anak agar lebih layak dan menemukan kebahagiaan mendapat kasih sayang bersama orang tua barunya

      Delete
  5. Apakah ada nomor telepon yang bisa dihubungi?

    ReplyDelete