03 September 2006

Malik Bz Keagungan Tuhan


Orkes Melayu Sinar Kemala yang pertama kali memainkan Keagungan Tuhan.


KEAGUNGAN TUHAN
Oleh A. MAlik Bz.

Insaflah wahai manusia
Jika diri mu bernoda
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan TUHAN

Dengan tiada terduga
Dunia ini kan binasa
Kita kembali ke asalnya
Menghadap Tuhan Yang Esa

Dialah Pengasih dan Penyayang
Kepada semua insan
Janganlah ragu atau bimbang
Pada Keagungan Tuhan
Betapa Maha Besarnya
Pencipta sealam mesta

Siapa selalu berbakti
Mengabdi pada Ilahi
Kan sentosa selamanya
Di dunia dan akhir masa


Mau dengar lagu Keagungan Tuhan? Klik di bawah ini:
Versi D'Lloyd
Versi Titiek Sandora

Pada 1980-an, ayah saya (Nikolaus N. Hurek) selalu memutar radio transistor kecil untuk mendengar berita serta lagu-lagu. Ya, itulah hiburan keluarga sederhana di kampung kecil, kawasan pelosok Lembata. RRI Stasiun Nusantara IV Ujungpandang (sekarang Makassar) paling favorit karena siarannya paling jelas.

Hampir tiap hari saya mengikuti siaran radio itu. Dan lagu ‘Keagungan Tuhan’ termasuk sangat sering diputar di RRI Makassar. “Insyaflah wahai manusia jika dirimu bernoda…,” begitu antara lain liriknya. Melodinya manis, agak Melayu, mirip kasidah, sedikit dangdut… enak sekali. Tanpa terasa, saya serta adik-adik saya, juga ayah ibu, hafal lagu Keagungan Tuhan.

Nah, setelah hijrah ke Jawa tahulah saya kalau lagu itu karya cipta Bapak ABDUL MALIK BUZAID, lebih dikenal dengan nama populer MALIK BZ. Enaknya jadi wartawan, apalagi penulis masalah musik dan budaya, kita bisa ketemu orang-orang penting, artis, selebriti, serta sosok yang dulu hanya ada di bayangan. Saat bertugas di Biro Sidoarjo harian RADAR Surabaya, saya lebih kenal sama Pak Malik.

“Apa kabar Hurek? Minum kopi ya? Wawancaranya nanti saja, gampang itu,” kata Malik Bz ketika saya temui di rumahnya, Jalan Flamboyan II/21 Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Telepon rumahnya (031) 8535023.

Pak Malik ini keturunan Arab. Ramah sekali, bicara penuh semangat, ceplas-ceplos (karena lama di kampung Ampel, Surabaya), berani mengkritik tanpa rasa takut, apalagi soal musik. Dia ini tergolong idealis.

“Saya sedih, Hurek, penyanyi dangdut sekarang lebih banyak mengandalkan goyangan, bukan suara. Lha, mereka ini jualan suara apa goyangan?” protes Malik Bz. Memang, dunia dangdut saat itu diwarnai vokalis-vokalis goyang macam Inul Daratista, Putri Vinata, Anissa Bahar, Dewi Persik, dan beberapa nama lagi. Malik Bz yang religius sama sekali tak suka dengan goyangan laku lajak (overacting) itu.

“Saya sedih karena saya ikut memelopori musik melayu di Indonesia. Akar musik melayu itu tidak boleh hilang walaupun musik selalu berkembang sesuai zamannya,” ujarnya tegas. Siti Nurhaliza, penyanyi Malaysia yang ngetop di Indonesia, dinilai Malik Bz sebagai penyanyi berbobot, sangat menguasai akar musik melayu. “Siti itu luar biasa,” puji Malik Bz.



LALU, bagaimana proses penciptaan lagu hit ‘Keagungan Tuhan’ yang belakangan banyak mengisi sinetron dan acara Ramadan itu? Kenapa melodinya begitu manis, liriknya kuat, berkembang menjadi lagu abadi? Pak Malik Bz pun tersenyum simpul karena sudah tahu maksud kedatangan saya ke rumahnya.

“Kalau nabi dapat wahyu, seniman dapat ilham. Jadi, Keagungan Tuhan ini tercipta karena saya dapat ilham,” tutur Malik Bz. Tanpa ilham, lanjut dia, sebuah lagu hanya bisa jadi ‘lagu biasa’ yang akan cepat sekali hilang. Lagu-lagu sekarang umumnya dibuat tanpa memerhatikan unsur ilham ini.

“Sekarang kan banyak seniman karbitan.”

Ilham itu diperoleh pada awal 1960-an, saat Malik masih muda remaja. Waktu itu dia sudah piawai main musik (Malik multiinstrumentalis, tapi suaranya sendiri jelek) bergabung OM Sinar Kemala, orkes paling top di Jawa Timur. OM Sinar Kemala pun salah satu perintis orkes melayu yang sempat bikin rekaman di Indonesia. Malik pegang akordeon, bisa gitar, piano, keyboards….


Alkisah, pada suatu malam Malik dan kawan-kawan jalan-jalan santai menikmati suasana malam di kawasan ‘lampu merah’ Surabaya. Tepatnya di Kremil, sebuah kompleks prostitusi kelas bawah. “Jalan-jalan saja untuk lihat keadaan, tidak ada maksud apa-apa,” kenang Malik Bz.

Di situlah, Malik melihat begitu banyak perempuan terpaksa menjual tubuhnya untuk mendapat segepok rupiah. Tak ada orang baik-baik mau jadi pelacur kalau bukan karena terpaksa atau kepepet.

Nah, di tengah malam remang-remang itulah Malik mengaku mendapat ilham untuk bikin lagu. “Cepat sekali datangnya. Srrrt… tiba-tiba kepala ini penuh ide yang harus segera dituangkan dalam lagu dan syair,” cerita Malik yang pernah mengundang saya untuk menghadiri pernikahan putrinya di Barunawati, Tanjung Perak, Surabaya, itu.

Ketika teman-temannya bergurau, tertawa… Malik diam saja untuk ‘menyelamatkan’ sang ilham. Pulang ke rumah, di kawasan Ampel, Surabaya, ilham itu dijadikan lagu. “Tidak sampai setengah jam lagu Keagungan Tuhan itu beres,” jelas Malik seraya memperlihatkan notasi dan coret-coretan asli lagu Keagungan Tuhan. Nada dasarnya C (natural) karena, menurut dia, sesuai dengan rentang suara manusia pada umumnya.
OM Sinar Kumala kemudian mempopulerkan Keagungan Tuhan.

Malik tak pernah menduga kalau lau itu menjadi hits, cepat sekali tersebar di seluruh Indonesia. Di mana-mana lagu itu diputar (pakai piringan hitam), dinyanyikan, dibawakan orkes-orkes lokal. Ida Laila, penyanyi top pada masanya, semakin menambah populer lagu karya Malik Bz yang ‘dipetik’ dari kompleks pelacuran Surabaya itu.

Dari sini Malik Bz semakin yakin bahwa semua itu tak lepas dari rencana Allah SWT. “Saya mengajak masyarakat untuk merasakan keagungan Tuhan, penguasa alam semesta. Tak ada Tuhan selain Allah….,” tegasnya.

Lagu ini untuk semua insan, apa pun latar belakang agama dan kepercayaannya. Manusia begitu kecil kalau sudah berhadapan dengan Sang Pencipta. Bahwa semua kekayaan, kekuasaan, kenikmatan dunia… pada akhirnya hilang. Manusia akan kembali kepada-Nya. Itulah misi yang ingin disampaikan Malik Bz lewat lagu Keagungan Tuhan.

LAGU Keagungan Tuhan pun lestari sampai sekarang. Malik sendiri yakin lagu itu akan abadi meskipun dia nanti harus menghadap Ilahi. “Walaupun saya meninggal dunia, lagu itu akan bertahan karena datangnya dari ilham Tuhan sendiri,” tegasnya.

Di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura… lagu ini pun mendapat tempatdi hati masyarakat.

Pada 30 Maret 2005 Malik Bz mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia. “Beliau seniman yang luar biasa,” puji Iga Mawarni, juru bicara panitia. Tahun 2004 Malik Bz bersama pianis jazz Buby Chen, juga menerima penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.

Malik Bz mengaku tak pernah meminta atau mengharap penghargaan. Baginya, seniman itu harus tetap berkarya dalam kondisi apa pun. Dia juga aktif menjadi guru musik, menggembleng artis muda, aktif di Persatuan Artis Musik Melayu(PAMMI), jadi penasihat Dewan Kesenian Sidoarjo, serta tak lupa aktif di pengajian-pengajian. Dia juga menjadi wakil Indonesia dalam simposium musik di Brunei.

Kenapa Anda yang diundang?

“Lha, seniman-seniman kita di Indonesia ini banyak yang karbitan. Seniman karbitan ini malas belajar, tidak paham not balok, tapi ingin cepat melejit. Jalan pintas. Kalau tidak bisa not balok, bagaimana bisa berkomunikasi dengan pemusik internasional?” ujarnya ceplas-ceplos.

“Eh, Hurek, kopinya tambah satu gelas lagi ya? Nggak usah khawatir, kopi masih banyak kok,” ujar Malik Bz.

Tak terasa saya sudah hampir dua jam ngobrol panjang di rumah Malik Bz, salah satu penulis lagu Indonesia yang saya kagumi.

Sejak tinggal di Kabupaten Sidoarjo pada 2003 itulah, saya sangat dekat dengan keluarga Pak Malik. Pada musyawarah seniman Sidoarjo pada 2005 lalu saya bahkan duduk bersama Malik Bz sebagai sesama peserta.

1 comment:

  1. hmmm... bagus, tapi notasinya agak kurang pas. good luck.

    ReplyDelete