30 September 2006

Kresno Mulyadi



Hingga Rabu (3/8/2006), masih banyak orang tak percaya atas musibah yang mendera KRESNO MULYADI yang kini mendekam di tahanan Polsek Tambaksari karena kasus penipuan. Lantas, siapa sesungguhnya pria yang karib disapa Kak Kresno ini?

Oleh AGUS WAHYUDI
Wartawan Radar Surabaya

SIANG itu, seorang bocah mungil bergerak gesit. Dia berlari-lari mengitari sebuah ruangan berukuran 4x6 meter. Ruangan itu menjadi tempat kerja dr Kresno Mulyadi SpKJ, psikiater kondang, pemimpin Yayasan Negeri Kuncup Bunga.

Kresno hanya tersenyum melihat ulah bocah itu. Kendati bocah berkulit bersih ini mengutak-atik seisi ruangan. Mulai dari mendorong kursi, bulpen, buku, tas, dan lainnya. Hanya sesekali, Kresno memeringatkan agar tak menyentuh barang-barang yang mudah pecah. Seraya mengelus-elus punggungnya, Kak Kresno meminta bocah itu berhat-hati. Bocah itu pun nurut.

Satu jam kemudian, gerak bocah manis itu mulai berkurang. Dia kemudian meminta susu ibunya yang juga berada di ruangan itu bersama seorang sekretaris Kak Kresno. Tanpa komando, bocah itu lalu beringsut di pelukan Kresno. Dia lalu tertidur dengan nyenyaknya.

Nama bocah itu KARTIKA NOVIRA ANGGRAINI (4 tahun). Dia adalah anak pertama Kak Kresno hasil pernikahan dengan SARAH ZULFI PRIHANTINI (28 tahun). Kartika punya adik, namanya KARINA NADYA PUSPITASARI (2 tahun).

Menurut Kresno, kualitas individu ditentukan pada usia balita (bawah lima tahun). "Jadi, orang tua harus berhati-hati dalam mendidik anak di usia itu. Usia anak-anak harus dibebaskan dari tekanan, kekangan, dan penindasan. Baik fisik maupun psikis," kata Kak Kresno, beberapa waktu lalu.

Kresno mengamini betul sebuah teori psikoanalisa. "Bahwa pada akhir tahun kelima, struktur dasar kepribadian seseorang sudah terbentuk. Sehingga, apa yang terjadi sebelumnya sangat menentukan. Apa yang terjadi sesudahnya adalah proses penghalusan dari struktur dasar kepribadian," jelasnya.

Kresno memang tak pernah lepas dari dunia anak-anak. Pria berkacamata kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 ini, juga mencatat banyak kesuksesan besar dari profesinya itu. Namun, sejatinya, kecintaan Kresno di dunia anak-anak ini ada sebabnya.

Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Mulyadi (asal Kebumen) dan Mariati (asal Klaten) ini, mengaku punya pengalaman pahit. Bersama kakak kembarnya, SETO, dia kehilangan adik kesayangannya, Arif Budiman. Adiknya itu meninggal dunia karena diare. Ketika itu, Kresno dan Seto berumur 4 tahun, dan Arif Budiman berusia 3 tahun.

"Saya sungguh sangat kehilangan dia. Kenapa individu yang layak kita jaga harus berpulang begitu cepat. Bahkan saya selalu tanya kepada kedua orang tua, kenapa nggak punya adik lagi. Rasa kehilangan itu sangat mendalam," kenang pria yang kerap mengasuh acara anak-anak di beberapa stasiun televisi swasta ini.

Pria kembar ini sebenarnya punya kakak pertama, bernama Budiharjo. Namun Budihardjo lebih menyukai berkarier di dunia kemiliteran.

Sepeninggal ayahnya pada 1966, tiga bersaudara ini kemudian dititipkan ke adik ibunya, Murtiningrum, di Surabaya. Kemudian sang ibu menyusul ke Surabaya, dan mereka mengontrak sebuah rumah sederhana.

Untuk bisa tetap sekolah, Kresno dan dua saudara melakukan kerja apa saja. Yang penting halal. Selanjutnya, Kresno diterima tes masuk perguruan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Sedang Seto diterima di Fakultas Psikologi UI. Sementara Budiharjo memilih masuk Akabri.

Kedua saudara kembar yang dikenal penyabar ini pun berhasil menggondol gelar sarjana. Tapi waktunya untuk mencurahkan perhatian terhadap anak tak pernah berhenti. Kresno berkibar dengan Yayasan Negeri Kuncup Bunga. Sementara Seto ikut membantu Pak Kasur, tokoh pendidikan anak yang sangat dikenal di Tanah Air.

Kecintaan Kresno terhadap dunia anak-anak mulai dikembangkan sejak semester 3 saat kuliah di FK Unair, 1975. Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam aksi nyata dengan mendirikan kelompok bermain 'Kerajaan Anak-Anak' di Taman Remaja Surabaya (TRS). Tiga tahun kemudian, tepatnya 22 Februari 1978, Kresno mendirikan Yayasan Negeri Kuncup Bunga.

Kresno pun juga pantas berbangga. Karena sekarang sudah ada 15 sekolah dari SD dan TK yang dibinanya. Sekolah-sekolah itu tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Denpasar, dan Manado. Konon demi mengembangkan Yayasan Negeri Kuncup Bunga ini, Kak Kresno akhirnya dililit masalah.

TAHUN 1983, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Kresno ditempatkan di Timor-Timor (Timtim), yang masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Ketika itu, ada instruksi presiden bahwa dokter-dokter muda wajib diterjunkan ke daerah-daerah pelosok. Kalau ditempatkan di Jawa, jangka waktunya lima tahun. Di luar Jawa tiga tahun, kecuali Papua dua tahun.

"Khusus Timtim hanya satu tahun karena suasana perang," cerita Kresno Mulyadi.

Awal-awal berada di Timtim tentu membuat jantung Kresno kerap berdebar kencang. Dia menyaksikan banyak ketimpangan sosial. Juga prahara yang selalu menyelimuti. Tak jelas siapa lawan siapa kawan. Pembunuhan bisa terjadi sewaktu-waktu.

"Untungnya, profesi dokter sangat dihormati karena masyarakat sangat membutuhkan dokter. Para gerilyawan Fretilin sangat senang dengan kehadiran dokter lantaran merasa keluarganya ikut terjaga," cerita Kresno.

Para dokter di Timtim tidak mendapat fasilitas memadai. Dengan fasilitas pas-pasan, para dokter berusaha bekerja maksimal. Mereka mengontrak rumah-rumah penduduk. Ada juga yang tinggal dan membuka praktik di rumah sanak saudaranya. Bila ada pasien yang butuh pertolongan, para dokter itu harus siap dijemput dalam kondisi apa pun

"Tapi saya sangat merasakan kehangatan penduduk di sana. Mereka rata-rata sangat baik dan santun," kenang Kresno.

Suatu ketika, Kresno bersama teman-temannya dikejutkan oleh laporan seorang wanita. Dia istri sopir yang sehari-hari mengantarkan para dokter. Singkat cerita, wanita itu melapor bahwa suaminya sudah berhari-hari tak pulang. Wanita itu takut terjadi apa-apa dengan suaminya. Menurut Kresno, sopir itu sangat ramah. Dia tak pernah usil dengan kegiatan yang dilakoni bersama teman-temannya. Sopir itu juga tak banyak bicara.

"Kalau nggak diajak ngomong, dia hanya diam," akunya.

Kresno bersama-sama temannya lantas mencari tahu di mana sopir itu. Salah satunya lewat aparat TNI yang bertugas di Timtim. Betapa kagetnya Kresno, saat mengetahui sopir yang dicari istrinya itu telah mati. Ia tewas dalam kontak senjata dengan aparat TNI. Kresno makin kaget lagi manakala sopir itu diketahui identitasnya sebagai Komandan Sektor Timur Fretilin.

"Kita nggak pernah menduga karena sopir itu sangat baik dan sopan. Kalau dilihat tampangnya tak terbesit sedikit pun kalau dia seorang pemberontak. Dia sangat menghargai kami. Wajahnya juga simpatik seperti Xanana Gusmao (Presiden Republik Timor Leste sekarang, red)," tandas Kresno yang kedua bola matanya terlihat menerawang.

Dalam ranah konflik di Timtim, Kresno dan juga dokter yang lain sebetulnya diberi keleluasan memegang senjata. Tapi Kresno menolak.

"Sebab, kalau bersenjata, saya yakin pasti ditembak oleh Fretilin. Mereka itu penembak jitu, tepat sasaran," jelasnya. "Makanya, para Fretilin merasa berterima kasih kepada kita. Kita tak pernah pasang wajah seram. Mereka pun selalu memanggil kita Pak Dok."

Keramahan dan kesantunan warga Timtim itu sangat membekas di hati Kresno. Kondisi ini membuat dirinya mudah bergaul dengan mereka. Kresno selalu mengedepankan dialog dengan masyarakat di sana. Kresno juga sangat terbantu karena dia bisa belajar Bahasa Tetun, bahasa ibu Timtim. Berlatar itu pula, Kresno pun bisa menembus hati para pemimpin di Timtim saat itu.

Tahun 1983, Kresno bersama Ny Mario Viegas Carascalao, istri gubernur Timtim saat itu, merintis sebuah yayasan yang khusus menangani pendidikan anak-anak. Namanya Itanian Doben (Kesayangan Kita). Ada dua dokter anak yang ikut membantu, yakni dr Hari Panarto dan dr Pudjo Hartono.

Yayasan itu berkembang cukup pesat. Lebih dari seratus anak menjadi muridnya. Materinya sama dengan yang diajarkan di Yayasan Negeri Kuncup Bunga: belajar dan bermain. Sasaran bidiknya anak-anak usia 1,5 tahun sampai 3 tahun. Kresno juga mengajarkan keluwesan untuk melakukan gerakan-gerakan motorik seperti memanjat dan melompat.

"Yang terakhir, saya dengar murid di yayasan itu sudah berkurang. Dan setelah Timtim berpisah dari NKRI, saya dengar sudah tak ada lagi," ungkap Kresno.

Sayang, tugas mulia itu harus berakhir. Kresno pulang pulang ke Surabaya, 1984. Tak lama, ia ditempatkan di Rumah Sakit Jiwa Lawang sebagai psikiater. Kresno masuk spesialisasi pediatri RSUD dr Soetomo, Surabaya dengan status pegawai negeri sipil pada 1985.

Bekerja di dua institusi membuat perhatian Kresno terbelah. Dia dihadapkan pada pilihan dilematis. Di satu sisi, Kresno harus melanjutkan kariernya sebagai PNS yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun. Dengan status PNS, paling tidak masa depannya cukup terjamin. Di samping gaji dan tunjangan, ia juga mendapat pensiun di hari tuanya.

Di sisi lain, dia harus mencurahkan perhatian ekstra besar terhadap Yayasan Negeri Kuncup Bunga yang dirintisnya sejak 1975. Belakangan, yayasan itu makin populer dan butuh penanganan serius.

Kresno ibaratnya tak bisa memegang dua kelinci sekaligus. Dia harus memilih. Sebab, dia merasakan betul kedua-keduanya tak bisa diperankan bersama-sama. Kegalauan itu membuatnya memberanikan diri menemui para pimpinan di bagian pediatri RSUD dr Soetomo. Intinya, ia bermaksud menanggalkan status PNS-nya. Keinginan Kresno itu sempat dicegah. Sampai dia diberi 'dispensasi' boleh mengurus yayasannya asal tidak meninggalkan tugasnya sebagai psikiater.

"Ternyata sulit. Saya tak bisa kerja setengah hati. Saya harus memilih. Saya tak ingin dua-duanya malah dirugikan. Dan itu terjadi," tukas dia.

Puncaknya, tahun 1998, Kresno pun pamit mundur dari PNS. Dia memilih berkosentrasi ke Yayasan Negeri Kuncup Bunga. "Pengabdian saya tetap pada anak-anak. Dan lagi saya kan tetap pegawai negeri, ya Negeri Kuncup Bunga," selorohnya.

No comments:

Post a Comment