03 September 2006

John Mohn Konsultan Jawa Pos Group



DI lingkungan redaksi koran-koran yang tergabung dalam Grup Jawa Pos, nama John R Mohn (mrjohnmohn@yahoo.com) sudah tak asing lagi. Yah… orang Kansas, USA, inilah yang sejak 1992 membenahi desain atau lay out Jawa Pos.

Pengecilan ukuran Jawa Pos dari broadsheet (9 kolom) menjadi 7 kolom–pertama kali dalam sejarah koran di Indonesia–tak lepas dari jasa John Mohn.

John–begitu ia biasa disapa–seorang wartawan kawakan, fotografer, sekaligus pemilik koran di Kansas. Sesuai dengan perkembangan surat kabar di USA, kata John, koran-koran di Indonesia pun harus berorientasi ke berita-berita lokal. Berita-berita nasional jangan banyak-banyak, berita internasional, kalau perlu, dihilangkan saja.

“Buat apa menulis tentang Timur Tengah, sementara wartawan Anda tidak berada di sana. Kutipan dari wire (kantor berita) jangan lebih dari 15 persen lah,” kata John Mohn kepada saya dan teman-teman redaksi Radar Surabaya pada 19 Agustus 2006.

Teori local content ini sebetulnya bukan barang baru, tapi kadang-kadang agak berat diterapkan di Indonesia. Amerika beda dengan Indonesia, Bung! Toh, Jawa Pos sejak reformasi lalu telah membuat RADAR-RADAR dan koran-koran lokal di seluruh Indonesia. John Mohn sangat senang melihat perkembangan koran-koran daerah yang ternyata maju pesat.

“Ke depan, koran lokal bakal jadi pemenang. Koran nasional makin sedikit, bahkan tidak ada lagi,” katanya.

Saya senang ikut kursus gratis bersama John R Mohn. Orangnya santai, pakai rompi, sederhana, humor bagus… dan yang penting wawasan jurnalisme, khususnya desain, di atas rata-rata. Dari John-lah kami bisa menerapkan desain koran sesuai dengan text book Amerika seperti sekarang.

“Koran itu kayak mobil. Empat rodanya harus berfungsi baik,” urai pria yang suka tampil beda itu.

Empat roda itu: Satu, redaksi yang menyajikan isi koran.

Dua, penata letak (desainer), termasuk kualitas cetakan. Sebagus apa pun berita, features, foto, iklan, jika tak didukung mesin cetak dan kertas berkualitas bagus, nonsens.

Tiga, pemasaran.

Empat, iklan.

“Kalau koran kalian tidak maju, oplahnya statis, mandek… ya silakan cek rodanya. Pasti salah satu atau beberapa, bahkan mungkin semua, rodanya rusak. Segera perbaiki.”


FOTO: Saya dan John Mohn (kanan)

John juga mengkritik fotografer Indonesia. Biasanya, orang kita sangat bangga dengan kamera mahal, besar, memotret secara overakting. Wira-wiri tak karuan. “Kelihatannya seperti orang utan,” ujarnya disambut tawa.

Padahal, hasilnya ternyata biasa-biasa saja, bahkan buruk. John kasih bukti. Dengan kamera digital murah John mampu menghasilkan foto sangat bagus. “Padahal, dia foto malam hari,” puji Leak Koestiya, desainer sekaligus redaktur pelaksana Jawa Pos.

John juga mengajar cara memegang kamera, kenapa foto kabur, dan tetek-bengek soal fotografi.

Ada empat hal yang dipesankan John sebelum kembali ke Kansas, 21 Agustus 2006.

“Be on time. Be accurate. Be honest. Be careful with opinion.”

John Mohn benar. Empat hal pokok ini menjadi masalah serius di hampir semua media massa di Indonesia. Akurasi penulisan nama, umur, kutipan… balancing, masih payah. Yah.. kita harus belajar, belajar, belajar, dan belajar lagi.

2 comments:

  1. sungguh dari ceritanya, Jon orang humble yang sangat huebuat.....seneng deh liat atau bisa kenal dengan orang2 seperti itu :)

    ReplyDelete