20 September 2006

Jean Claude from Belgium

Tiap kali main-main ke kawasan pegunungan, saya selalu menemui orang-orang bule yang tinggal di sana. Mereka bukan hanya betah, tapi juga ‘kecanduan’ dengan alam pegunungan nan indah. Hawa sejuk. Hijau. Penduduk yang polos, ndeso.

Salah satunya Jean Claude (50), pria asal Belgia. Saya kenal Jean dari Harryadjie Bambang Subagyo, pelukis dan penggiat lingkungan asal Sidoarjo. “Orangnya unik sekali. Cobalah wawancara dia, pasti menarik,” begitu ‘provokasi’ Harryadjie kepada saya.

Jean Claude ayah satu anak gadis. Dia volunteer di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Trawas, Kabupaten Mojokerto. “Banyak hal menarik yang tidak saya temui di Belgia atau Eropa,” ujar Jean Claude. Kata-kata macam ini sering saya dengar, tapi biasanya disampaikan dengan tulus oleh orang bule.

Di Trawas ini Jean Claude bikin kolam renang pribadi. Maklum, dia doyan berenang, memasak, dan menikmati musik, termasuk dangdut. Lagu-lagu diputar di kamarnya, pakai laptop dan sound system canggih, nyaris 24 jam nonstop. Gila! Kalau sudah capek, dia tinggal menceburkan diri ke dalam kolam renang.

“Kalau di Belgia, saya tidak akan pernah bisa membuat kolam renang macam ini. Bagaimana bisa? Biayanya sangat mahal, apalagi harus beli tanah. Apalah orang seperti saya,” ujar Jean Claude sembari bersenandung lagu reggae.

Bagi orang Eropa macam Jean, biaya hidup di Indonesia sangat, sangat murah. Sekali makan di Eropa setara dengan Rp 150 ribu. Coba uang segitu dipakai makan di warung kaki lima? “Kolam renang saya ini paling-paling hanya Rp 25 juta. Di Belgia sana saya tidak bisa bayangkan mahalnya.”

Kebiasaan orang Jawa Timur naik motor ke mana-mana pun menjadi perhatian Jean Claude. Pemandangan seperti itu, kata dia, tak akan ditemukan di Belgia. Di sana kendaraan umum menjadi pilihan utama. Agar ‘mengindonesia’ Jean membeli sebuah motor Yamaha baru. Murah sekali, katanya.

“Seumur hidup baru kali ini saya punya motor,” ujar pria kelahiran 16 Oktober 1954 itu.

Dia juga senang menikmati keindahan laut. Jalan-jalan ke Bunaken, Bali, serta tempat-tempat wisata alam lainnya. Jalan-jalan ke mal atau hotel berbintang di Indonesia? Jangan harap lah. Dia sudah ‘muak’ dengan fasilitas moderen macam itu. Asal tahu saja, di Belgia dia jadi koki (chef) hotel berbintang yang sangat berpengalaman. "Saya cari suasana lain,” katanya.

Sayang sekali, belum lama ini saya dengar kabar bahwa dia punya ‘masalah’ dengan tempat kerjanya di Trawas. Dia terlalu banyak ‘main-main’ sehingga lupa kerja. Projek restorannya terbengkelai. “Dia terlalu nyentrik. Susah lah kita,” ujar teman dekat saya. Maka, Jean Claude pun ‘hilang’ dalam beberapa bulan terakhir.

“Dia sudah pulang ke negaranya untuk introspeksi,” ujar Harryadjie BS lalu tertawa kecil. Introspeksi apa? Katanya, mau tinggal di Trawas sampai mati. Kolam renang sudah punya. “Yah, cita-citanya sih begitu, tapi di tengah perjalanan ada masalah,” kata pelukis yang tinggal di Perumahan Sidokare Indah, Sidoarjo, itu.

Yang jelas, sebelum pulang ke Belgia, Jean Claude pernah bilang, "Saya akan kembali ke negara Anda. Saya lebih senang hidup di Indonesia.”
Aha!

No comments:

Post a Comment