30 September 2006

Ireng Maulana - Bubi Chen - Margie Siegers


FOTO: Saya lagi mejeng sama Ireng Maulana di Surabaya.

Copyright © Lambertus L. Hurek 2006

Sejak zaman televisi tunggal, TVRI, saya sudah tertarik dengan IRENG MAULANA. Dia pemusik serba bisa, tapi sangat kental dengan jazz. Dia bikin musik untuk Ermy Kullit, penyanyi jazzy papan atas kita yang masih sulit dicari tandingannya.

Saya juga tertarik dengan ulahnya saat tampil di acara Berpacu dalam Melodi di TVRI. “Oh, ya, Anda senang dengan Berpacu dalam Melodi? Terima kasih,” ujar Ireng Maulana, yang lahir di Jakarta, 15 Juni 1944, itu. Kebetulan saya bertemu Pak Ireng beberapa kali di Surabaya sebagai peliput, sekaligus penonton.

Pada 19 Desember 2003 lalu, di tengah guyuran hujan lebat, IRENG MAULANA bersama BUBI CHEN, dan MARGIE SIEGERS tampil di Balai Pemuda Surabaya. Mereka bertiga adalah legenda jazz hidup miliki Indonesia. Mencetak pemusik jazz sekaliber Ireng, Bubi, Margie… Bill Saragih jelas tidak gampang. Mereka main jazz sepanjang hayat!

Saat ketiga maestro ini tampil di Surabaya, kita terbayang kejayaan Surabaya sebagai barometer jazz hingga 1970-an. Musikus jazz papan atas kita--mulai Bubi Chen, Ireng Maulana, Jack Lesmana, Maryono, Embong Raharjo, dan sederet nama besar lain--pernah malang melintang di Surabaya. Dan Balai Pemuda alias Simpangsche Societeit menjadi saksi bisu kehebatan musisi tua.

"Kalau bicara jazz di Indonesia, Surabaya ini nggak ada duanya deh. Paling yang bisa mengimbangi hanya Bandung," ujar Margie Segers, yang masih terlihat segar dan energik.

Margie sendiri mengaku belajar jazz di Surabaya pada 1972, ya, lewat sang mahaguru, Bubi Chen.

Didampingi Virtuoso Band--Bubi Chen (piano, keyboard), Ho Wie Chen (perkusi), Toto Alfian (bas), Benny Chen (drum)--Ireng Maulana sangat santai. Dia menyapa para jazz lovers layaknya sahabat dekat. Jauh berbeda dengan bintang-bintang pop yang suka aneh-aneh dan cenderung mengambil jarak dengan audiens.

"Yo, opo kabare, Rek. Mudah-mudahan konser semacam ini bisa jalan terus," ujar Ireng Maulana.

Lalu, Ireng dan Bubi mempertontonkan ketrampilan musik tingkat tinggi lewat sejumlah nomor instrumental. Ireng bolak-balik 'menantang' Bubi dengan melodi-melodi aneh dan rumit. Bubi seperti membiarkan Ireng beraksi sampai bosan, kemudian dibalas kontan dengan solo piano (elektrik) yang tak kalah dahsyatnya. Penonton berkali-kali memberikan aplaus meriah.

Saat Margie menyanyi, Bubi Chen dan Ireng Maulana tetap menonjol permainannya. Margie pun berusaha mengimbangi permainan dua maestro dengan vokalnya khasnya yang 'tebal'dan memang sangat 'ngejes' itu.

Suasana kian riuh ketika Margie mengoplos dua lagu pop My Way (Frank Sinatra) dan Yesterday (The Beatles). Margie sengaja bernyanyi secara slow sehingga tercipta cukup ruang bagi Ireng dan Bubi untuk improvisasi. Gedung Balai Pemuda serasa mau pecah ketika Ireng menggoda sekitar 500 pecinta jazz Surabaya dengan sebuah nomor Latin, yang di sini dikenal dengan 'Kopi Dangdut'. Penonton pun ikut melantukan syair 'Kopi Dangdut', keras-keras.

"Lagu ini aslinya dari luar, iramanya memang bagus. Cuma, orang di sini tahunya Kopi Dangdut," jelas Ireng Maulana lalu tertawa kecil.

"Ada sebuah lagu legendaris dari Panbers. Gereja Tua," ucap Ireng disambut heboh penonton. Melodi lagu melankolis ciptaan Benny Panjaitan ini sengaja dibuat 'keseleo' oleh Ireng. (Namanya juga jazz, Saudara!)

Ketika penoton masih bengong, Ireng mengajak hadirin menikmati 'Cucakrowo', lagu dangdut modifikasi yang dipopulerkan Inul Daratista, ratu goyang ngebor asal Pasuruan.

Kepada saya, Ireng Maulana mengatakan, konser jazz harus dilakukan secara kontinyu di Surabaya demi mengembalikan citra Kota Surabaya sebagai barometer dan gudangnya pemusik jazz di Tanah Air. "Jangan lupa, kalian punya Bubi Chen, the living legend," ujar Ireng.

Kata Ireng, para pemusik jazz di Surabaya di masa lalu gandrung setengah mati dengan jazz. Mereka bermusik tanpa memperhitungkan bayaran. Ada atau tidak ada uang, mereka main. "Karena jazz itu hidup kita. Kita tidak bisa hidup tanpa jazz," ujar Ireng.

"Sampai kapan pun jazz tidak akan mati," tambah Margie Segers.

Saya punya album Christmas Jazz dari Tante Margie. Luar biasa! Lagu-lagu natal biasa menjadi luar biasa saat dinyanyikan Margie Siegers. Improvisasinya bukan main, gaya Margie begitu kuatnya.

Resepnya apa? “Yah, saya nyanyi saja. Memang jazz sudah menjadi bagian dari hidu saya,” kata Margie Siegers.

No comments:

Post a Comment