22 September 2006

The Gembell's Legenda Musik Surabaya




Oleh Lambertus Lusi Hurek

AHA... saya tiba-tiba teringat VICTOR NASUTION, pemusik senior yang kini tinggal di Jalan Ahmad Yani 60 Bogor. Teleponnya (0251) 312333.

Dia ini pemimpin GEMBELL'S GROUP, band legendaris asal Surabaya yang sangat terkenal pada 1970-an. Tiap kali duduk di tepi Kali Mas, saya ingat lagu BALADA KALIMAS milik mereka. Grup ini pernah menjadi ikon Surabaya.



Saya beruntung diberi kesempatan melakukan wawancara khusus oleh Victor Nasution pada 18 Juni 2004 di Balai Pemuda Surabaya. Waktu itu THE GEMBELL’S baru saja tampil menemui penggemarnya di Surabaya. “Anda beruntung karena ini momen bersejarah. Saya tampil setelah 15 tahun tidak pernah tampil di mana pun,” jelas Victor kepada saya.

Pria berdarah Tapanuli ini leader, komposer, vokalis, THE GEMBELL'S.

"Sungguh, 15 tahun saya tidak nyanyi. Makanya, saya deg-degan juga waktu panitia dan koran RADAR Surabaya meminta saya dan Gembell's Group tampil lagi di Surabaya. Ini sebuah kejutan bagi saya dan, mungkin, masyarakat Surabaya," tambahnya.

Selain VICTOR NASUTION, band ini diperkuat PARDI ARPIN (gitar), HARI DH (kibod), SONNY (drum), ISAK (bas), dan EDO (bongo, timpani). Istri dan anak Victor--DEDE DIANA dan VANKHA VICTOR--menjadi backing vokal.

Musik GEMBELL'S bernapaskan kepahlawanan dan kritik sosial. Mereka menyoroti berbagai persoalan di masyarakat.

"Usia saya sekarang sudah kepala enam. Mick Jagger pun kalau diminta menyanyi sekarang tidak akan bisa seperti masa jayanya pada tahun 1970-an. Kita memang nggak bisa melawan usia," papar pria yang berusia 60 tahun itu.

DIBENTUK Victor Nasution pada 1972, band arek-arek Suroboyo ini sengaja mencari warna lain. Ketika band dan pencipta lagu umumnya bicara tentang cinta--jatuh cinta, putus cinta, naksir sana-sini--Victor mengusung peristiwa sosial. "Karena saya memang tidak punya kemampuan untuk menulis lagu-lagu cinta," ujarnya. "Saya ingin agar grup Surabaya itu berbeda dengan grup-grup Jakarta."

Maka, lahirlah hits GEMBELL'S seperti BALADA KALIMAS, SURAPATI WIRA NEGARA, HEY DOKTER, GADIS MEJENG DI JALAN, PAHLAWAN YANG DILUPAKAN, DOLA-DOLI, PERISTIWA KAKI LIMA. Semuanya bicara tentang pahlawan atau situasi sehari-hari yang disaksikan The Gembell's, khususnya Bang Victor, di Surabaya. "Sebelum orang membuat lagu berisi kritik sosial, GEMBELL'S sudah lama melakukan."

Mencermati lirik-lirik GEMBELL'S, kita bisa memotret keadaan Surabaya pada 1970-an hingga 1980-an. Dalam BALADA KALIMAS, Victor mengenang masa keemasan Kali Mas. Sungai kecil di dalam Kota Surabaya itu elok, menjadi lalu lintas perdagangan. Belakangan Kali Mas tercemar, kotor, penuh sampah, tak bisa dinikmati.

"Saya heran, kok Kali Mas sampai sekarang belum dibenahi. Mungkin kritik saya lewat lagu itu nggak sampai," kata Victor Nasution perlahan.

Masalah kaki lima, penggusuran pedagang kaki lima, pun bukan masalah baru. Victor dan GEMBELL'S meneriakkan kasus lawas Surabaya itu dalam nomor PERISTIWA KAKI LIMA. Para PKL digusur, digusur, dan terus digusur tanpa ada solusi cerdas. Sudah lebih dari 30 tahun kasus itu berulang, sehingga Victor terkesan putus asa. "Kita tidak tahu sampai kapan PKL-PKL itu tidak digusur lagi," tuturnya.

Lagu ihwal kaki lima ini, kata Victor, membuat marah petinggi Surabaya waktu itu. Akibatnya, PERISTIWA KAKI LIMA dilarang diputar di radio-radio swasta. Victor tak ambil pusing, karena mereka masih bisa menyanyikannya di show-show panggung.
Satu lagi kasus khas Surabaya yang bertahan sampai sekarang.

Apa itu? Hmm... kompleks pelacuran Gang Dolly, Jarak, Moroseneng, Bangunsari, Kremil, dan sejenisnya. THE GEMBELL'S, sebagai band asli Surabaya, melihat hal ini sebagai masalah sosial yang harus dicarikan jalan keluarnya. DOLA-DOLI, lagu ciptaan Pardi Arpin (gitaris, vokalis), menjadi semacam potret para pekerja seks.

"GADIS CANTIK
KUAJAK DIA BERNYANYI (bisa karaoke lagi! hahaha...)
SATU LAGU MASA KINI
MEMANG ASYIK,
MEMANG ASYIK BERCINTA DENGAN DOLA-DOLI...”

Begitu lirik nakal khas Cak Pardi, sahabat karib almarhum Gombloh.

Kompleks pelacuran Gang Dolly bukannya hilang, tapi justru semakin luas. Awal September 2006 jumlah wisma di Dolly sekitar 70, dengan omzet Rp 1,6 miliar per hari. Tarif PSK berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu short time (sekitar satu jam). Rata-rata satu PSK melayani 15 tamu semalam. Menjelang Ramadan atau peak season bisa mencapai 20-25 tamu. Gila! Pembagian rezeki: 60 persen untuk muncikari, 40 persen untuk PSK.

Tapi bercinta dengan PSK Dolly saja tak cukup. Bukankah semua pria hidung belang selalu ‘bercinta’ di atas ranjang?
Nah, solusi versi The Gembell's barangkali bisa dipertimbangkan:

"KUANTAR PULANG KE KAMPUNG.
SAYA PAKAIKAN KEBAYA,
PAKAI KERUDUNG....

Nah, ujung-ujungnya gadis Dola-Doli itu dinikahi, menjadi istri sah. Hayo, siapa berani mengikuti saran The Gembell's? Saran ini juga disampaikan Bambang Sujiyono, seniman dan bekas anggota DPRD Surabaya/DPRD Jawa Timur beberapa tahun lalu.

DI masa jaya The Gembell's, 1970-an hingga 1980-an, penguasa Republik Indonesia dan Pemerintah Kota Surabaya bermuka dua. Satu sisi THE GEMBELL'S dibenci, lagu-lagu kritik sosial dicekal, karena membuat merah kuping pejabat. Sisi lain Presiden Soeharto sempat memberikan penghargaan khusus kepada Victor dan kawan-kawan. THE GEMBELL'S dianggap sebagai grup yang mampu mengangkat tema pahlawan ke musik.

"Penghargaan dari Pak Harto itu masih saya simpan," ujar Victor Nasution.

Delapan album berhasil dicetak THE GEMBELL'S. Mereka konsisten dengan tema pahlawan dan kritik sosial sampai grup ini vakum sejak 1989. "Saya tidak tahu apakah setelah ini THE GEMBELL'S masih tampil lagi," kata Victor.

Tapi, yang pasti, THE GEMBELL'S sudah berhasil menjadi legenda Indonesia. Waktu, sang 'hakim agung', telah menguji konsistensi mereka.

15 comments:

  1. Boleh Tiwi, gak popo. Salam kenal juga ya.

    ReplyDelete
  2. ada berita gembira untuk penggemar group musik "the gembell's"..
    dalam waktu dekat "the gembell's" akan mengeluarkan album repackage special edition, untuk keterangan lebih lanjut silahkan email ke gembelsgroup@yahoo.com,
    terima kasih

    salam

    Victor Nasution

    ReplyDelete
  3. Bung Victor Nasution, terima kasih sudah komentar di blog saya. Gak nyangka sang legendaris bertamu ke Blog Orang Kampung. Mudah-mudahan album Gembell's sukses. Salam musik!

    ReplyDelete
  4. menurut temen-2 saya, yang pegang drum the gembell's itu bukannnya mas minto bung Hurek, coba periksa barangkali aku yang keliru.

    ReplyDelete
  5. Waduh, Kang Eko, konser ini sudah lama banget. Aku gak bisa lacak lagi. Nanti saya cek langsung sama Pak Victor Nasution.
    Terima kasih sudah baca tulisan saya yang ndesit ini. Salam musik.

    ReplyDelete
  6. catatan kayak gini bagus buat referensi ttg musik indonesia masa lalu. sekarang kita sdh sulit menemukan band2 lama atau cerita ttg mrk. soalnya byk yg gak aktif dan bekerja di luar musik.

    stefen

    ReplyDelete
  7. wah akhirya nemu jga catatan ttg the gembell's, aku paling suka sama lirikya andaikan..kau pergi mendahuluimu..jangan kau taburkan airmata dinisanku..jangan kau tangisi pusaramu.. dst..dst...

    ReplyDelete
  8. Saya jd ingat lagu 'Surapati Wira Negara' yang jd pengiring pesta seni saat kelas 1 SMA Negeri 5 Surabaya tahun 1983... Berarti 26 tahun lalu... Apakah album The Gembell's benar dah dilaunching? Maturnuwun.
    Sugeng Hariadi, Universitas Surabaya.

    ReplyDelete
  9. akan lengkap jika ada yg berbagi mp3 atau lirik alum the gembell's

    ReplyDelete
  10. Lagu lagunya akan Melegenda sepanjang Masa...

    ReplyDelete
  11. Teringat waktu masih SMP dulu di kampung. Disuruh Pak RT nyanyi Balada Kalimas, tapi gak hafal lirik.
    Begitu dengar di radio, lgsung tancap gas ambil alat tulis seadanya. Maklum dulu gak ada yg namanya MP3 dan tetek bengeknya maklum jadul punya .....
    Salam Kenal dari Penggemar berat The Gembells.

    ReplyDelete
  12. Terimakasih banyak mas, info tentang The Gembells ini luar biasa. Saya beruntung tumbuh pada tahun 1970-an ketika semua aliran musik mencapai jaman keemasannya, dan lahir karya-karya seni luar biasa, termasuk The Gembells. Balada Kalimas dan Pahlawan Yang Dilupakan adalah lagu favorit saya, sampai saya menginjak usia melewati setengah abad keindahan lagu ini tak pernah luntur.

    ReplyDelete
  13. total salute untuk pak victor nasution! great! walaupun saya gur dengar kaset pita ayah saya, tapi gembells sudah saya anggep layak masuk wall of fame, apalagi lagu baladakali mas, heibat, setara dengan album versusnya pearl jam. Pak victor, Totally greattttttttt! kamsia om.

    ReplyDelete
  14. Mohon ijin untuk membagikan tulisan anda , semoga bermanfaat , trims

    ReplyDelete