25 September 2006

Elizabeth Weise: Wartawan Indonesia Superman




SABTU, 24 SEPTEMBER 2006.

Kami di RADAR Surabaya mendapat tamu istimewa dari Amerika Serikat. Dia ELIZABETH WEISE, wartawan senior USA Today. Koran ini paling besar di AS, oplahnya 2,5 juta kopi sehari. Di Indonesia, oplah koran terbesar masih di bawah 500 ribu.

Elizabeth ditemani MARY ELIZABET POLLEY dan ESTI DURAHSANTI, public affairs Konsulat Jenderal AS di Surabaya. Elizabeth Weise ramah, hangat, ekspresif, murah senyum, bersemangat.... Khas orang Amerika lah.

“Wow, saya kayak di rumah sendiri. Desain koran Anda kok mirip koran saya,” ujar Elizabeth. Kami, para redaktur dan beberapa reporter RADAR Surabaya, pun tertawa ngakak.

Maklum, wajah RADAR Surabaya yang terbit sejak 24 Januari 2001 memang ‘diilhami’ desain USA Today. Koran tujuh kolom, logotype pakai biru, kolom pertama untuk navigasi, pakai grafis. Mirip tapi tak sama. Sebab, font atau jenis huruf USA Today sulit ditiru. Di komputer paling canggih pun tidak ada. Maka, kami hanya mengadopsi logo, sementara font pakai times new roman kayak Jawa Pos, surat kabar induk.

Nah, kedatangan Elizabeth (juga ke Surya, AJI, koran kampus) adalah berbagi pengalaman soal jurnalisme di AS. Sebagai reporter senior sains dan teknologi, Elizabeth mau kasih ‘khotbah’ bagaimana mempersiapkan tulisan Iptek yang disukai pembaca.

"Saya memang spesialis sains,” kata Elizabeth.

Memang benar, saya sudah cek di internet dan USA Today, Elizabeth Weise ini ternyata bukan penulis sembarangan. Karya-karyanya tergolong kelas berat, masih sulit ditiru wartawan Indonesia mana pun.

BAGAIMANA Elizabeth Weise mempersiapkan tulisan Iptek yang sangat berbobot itu? Aha, wanita kurus ini kasih contoh tulisan nano technology yang baru dibuatnya. "Saya perlu empat hari,” katanya.

Hari pertama, ikut seminar, gali data sebanyak mungkin. Hari kedua, wawancara dengan sedikitnya tiga ahli yang sangat mumpuni di bidangnya. Hari ketiga, mulai mengetik bla-bla-bla.... Hari keempat, verifikasi data dan fakta.

Elizabeth harus menelepon ke sana ke mari, mengecek nama-nama, istilah, memverifikasi lagi apa yang sudah ditulisnya. Fact check, begitu istilah Elizabeth, sangat penting dalam jurnalisme.

“Hari kelima dimuat?” tanya saya.

“Oh, belum tentu. Saya hanya bisa menulis. Editor yang memutuskan naskah saya dimuat atau tidak,” ujarnya lalu tertawa kecil.

Liputan nano technology sepanjang 2.500 kata (ingat, bahasa Inggris lho!) sampai sekarang belum dimuat. Bisa jadi, redaktur alias editor belum puas atau kalah bersaing dengan tulisan wartawan lain.

Mendengar cerita Elizabeth, kami di Graha Pena hanya bisa geleng-geleng kepala. Empat hari satu tulisan? Bagaimana koran bisa terbit terus? Di sini, Indonesia, rata-rata wartawan JPNN menulis paling sedikit tiga berita sehari. Dua berita diangap tidak produktif. Satu berita sehari dianggap wartawan bebal. Waktu jadi reporter, saya selalu jadi ‘juara satu’ produktivitas: rata-rata enam berita per hari. Produktif tapi kurang mutu. Hehehe...

MAXIMUS THOMAS WODA WANGGE, bekas wartawan Jawa Pos di Brasil, bercerita kepada Elizabeth Weise bahwa dia harus mengisi tiga halaman Jawa Pos saat meliput Piala Eropa (Euro) 2004 di Portugal. Kali ini, giliran Elizabeth yang terkaget-kaget.

“Uiiiihh.. Anda kayak Superman aja,” tukasnya. Kami pun tertawa bersama. Hehehe...

Di sinilah, kata Elizabeth, sumber masalah AKURASI yang selama ini dikeluhkan pada semua media cetak dan elektronik di Indonesia. Berita-berita tidak akurat karena beban kerja penulis sangat berat. Verifikasi atau cek fakta malah tak sempat dilakukan.

Celakanya lagi, banyak wartawan yang main kloning, copy paste, nyolong detikcom (dan sejenisnya), atau minta berita pada temannya. Hasilnya, berita jadi tak karuan. Konsistensi data lemah, nama-nama orang sulit dipercaya.

Coba Anda baca empat koran tentang topik yang sama. Bisa dipastikan nama sumber yang sama ditulis berbeda-beda. Lebih parah lagi, di koran yang sama nama sumber yang sama bisa berbeda penulisannya di halaman satu dan halaman 10. Belum soal kutipan, deskripsi, plot cerita.

“Kalau Anda menulis terlalu banyak, ya, jelas akurasinya bermasalah. Itu sudah jelas,” kritik Elizabeth seraya tersenyum.

Di USA Today, setiap tulisan (kecuali breaking news) digarap dengan perencanaan matang. By design. Reporter sudah punya kerangka cerita (orang Amerika lebih suka menyebut berita dengan STORY, bukan NEWS), sumber-sumber yang diwawancarai, referensi, kemudian verifikasi. Disiplin verifikasi tidak bisa ditawar-tawar lagi.

"Kami punya empat wartawan iptek. Kami bersaing agar story kami bisa dimuat,” tutur Elizabeth. “Aha... kita di Indonesia, redaktur malah ‘mengemis’ berita dari reporter karena beritanya kurang. Kalau kita tiru cara USA Today, bisa-bisa koran kita tidak terbit,” bisik teman redaktur.

Menurut Elizabeth, tulisan-tulisan tentang iptek sangat perlu untuk memberi pemahaman kepada pembaca. Mendidik masyarakat lah. Kasus semburan lumpur Lapindo Brantas Inc sejak 29 Mei 2006 sebetulnya bisa dikemas menjadi tulisan sains yang menarik. Dia kemudian menulis kerangka stories di papan putih (white board).

“Buatlah semenarik mungkin, sederhana, sehingga pembaca tertarik. Begitu dibaca dia langsung tahu apa maksudnya dan bisa digunakan informasi itu,” jelas Elizabeth. USA Today punya semboyan NEWS YOU CAN USE.

Saat Amerika diterjang badai kathrina, misalnya, koran-koran Amerika, khususnya USA Today, memberikan panduan kepada warga yang akan mengungsi. Apa saja yang wajib diusung saat meninggalkan rumah. Persiapan klaim asuransi. Dan seterusnya.... Hanya dengan begitu, orang merasa bahwa baca koran itu ada gunanya. “Anda pun bisa bikin itu di sini,” kata Elizabeth.

KAMI juga bertanya tentang perkembangan koran lokal di Amerika Serikat. Maklum, RADAR Surabaya ini dirancang sebagai koran lokal Surabaya dan sekitarnya.

“Oh, kurang menggembirakan. Sekarang sedang menurun,” tegas Elizabeth Weise.
Kenapa? “Internet,” jawab Elizabeth. Anak-anak muda AS sekarang lebih familier dengan internet.

Mereka mencari informasi apa pun dari internet. Pembaca surat kabar saat ini berusia 50-60 tahun. Ada sih pembaca muda, remaja, di bawah 50, tapi tidak banyak. Selain itu, biaya iklan di internet jauh lebih murah.

“Hanya 10 persen dari biaya iklan di koran,” beber Elizabeth.

Nah, iklan itu darahnya koran atau media cetak. Kalau orang lebih suka pasang iklan di internet, apalagi pembacanya makin banyak, maka hari kematian media cetak sebetulnya sudah bisa diperkirakan.

"Saya kira, 10-15 tahun mendatang koran yang pakai kertas tidak ada lagi. Orang beralih ke internet,” ucap Elizabeth Weise. [Data dari Audit Bureau of Circulations di AS menyebutkan, tiras 20 surat kabar terkemuka AS sejak Oktober 2005 sampai 31 Maret 2006 menurun. Hanya lima koran yang oplahnya naik.]

Pernyataan Elizabeth Weise ini sama dengan JOHN MOHN, konsutan Grup Jawa Pos, yang berasal dari Kansas, Amerika Serikat. Indonesia masih beruntung karena pengguna internet sangat terbatas. Akses internet pun belum selancar di negara-negara maju. Meski begitu, peringatan Elizabeth Weise ini layak diantisipasi oleh media cetak di Indonesia. Kalau tidak, ya, bablas angine...

Di akhir kunjungan selama 76 menit, Elizabeth saya ajak melihat ruang redaksi (newsroom) kami. Pukul 16:00 lebih itu hanya ada satu reporter, DYAH SUKARTINI, sedang menulis berita iptek. Reporter lain masih di lapangan sehingga kantor kosong melompong.

“Hiii... newsroom Anda bagus, bersih sekali. Nggak kayak di tempat saya,” ujar Elizabeth. Masa sih? “Ya... bagus sekali.”

Saya kira, Elizabeth Weise ini tamu yang baik. Dia berusaha menyenangkan hati kami, setelah sebelumnya menyindir wartawan Indonesia dengan sebutan Superman. Boleh juga dia!

1 comment:

  1. wakkakakakk ... jadi inget kalo pas nonton infotainment, masak semua stasiun televisi konten-nya sama semua dah begitu diulang-ulang pula.
    Yang lebih lucu lagi orang2 itu, padahal udah ditonton eh ... masih nonton lagi.:p

    Apa itu juga dikarenakan imbas dari deadline dan kurangnya verifikasi data dan fakta itu, ya cak? sehingga tingkat keakurasian berita disini masih dipertanyakan (kurang bisa dipertanggung jawabkan).

    ehm, .... atau malah hal ini disebabkan oleh industri itu sendiri?

    ReplyDelete