10 September 2006

Elizabeth Karen Sinden from USA


Saya terkejut menyaksikan perempuan kulit putih menjadi sinden di acara wayang kulit. Benar-benar kaget! Sekarang saja kita semakin sulit menemukan anak-anak muda di tanah Jawa yang mampu berbahasa Jawa secara baik dan benar. Alih-alih menyanyikan tembang jawa, alias nyinden.

ELIZABETH KAREN, orang Amerika Serikat, memang luar biasa. Saya menyaksikan dia tampil di pergelaran wayang kulit di Sidoarjo, Jawa Timur, belum lama ini. Elizabeth Karen mengundang decak kagum ratusan penonton, termasuk beberapa pejabat lokal. Memang sulit dibayangkan, seorang wanita Amerika Serikat bisa tampil sebagai ‘orang Jawa’ di atas panggung.

Begitu kentalnya penguasaan Elizabeth atas tembang dan tarian Jawa, orang tak mengira kalau dia orang AS, tepatnya Chicago. Hanya, postur tubuhnya, bentuk hidung, rambut pirang--apalagi di-close up di sirkuit televisi--orang akhirnya sadar bahwa Elizabeth bukan perempuan Jawa.

Fisiknya memang Barat, tapi penjiwaan terhadap seni tradisi Jawa, wah... luar biasa. “Coba kalau kita nggak lihat dia main, tapi dengar suaranya saja di kaset atau radio, pasti kita menyangka dia itu orang Jawa,” puji Wahyuni, seorang penonton.

BAGAIMANA Elizabeth Karen bisa menjadi seniman tradisi Jawa?

“Ceritanya panjang. Hehehe...,” katanya kepada saya.

“Saya sudah tertarik dengan budaya, kesenian Jawa, sudah lamaaaaa sekali. Pokoke wis lama banget. (Pokoknya, sudah lama sekali.”

Dia berbicara dalam bahasa Indonesia logat jawa timuran. Beda sekali dengan logat anak-anak muda sekarang yang meniru aksen betawi ala artis sinetron di televisi. Elizabeth pun sangat peka terhadap ‘rasa’ bahasa Jawa. Bahasa ngoko, kromo madya, kromo inggil dia kuasai dengan baik. “Bahasa Jawa itu sangat indah dan menarik,” pujinya berkali-kali.

Nah, selama tiga tahun, 1969-1971, Elizabeth Karen yang masih balita tinggal di Jogjakarta dan Jakarta. Kebetulan ayahnya, Mr David, bekerja sebagai dosen tamu di Universitas Gadjah Mada. Sang ayah ternyata seorang pencinta kebudayaan negara-negara dunia ketiga macam Indonesia. Karena itu, Elizabeth kecil (masih lima tahun) sekolah di Jogja. Harus bergaul dengan anak-anak kampung, menikmati kesenian Jawa. Semua serba Jawa.

Setelah dua tahun, Elizabeth Karen dan keluarganya kembali ke Amerika Serikat karena masa tugas sang ayah selesai. Di Amerika, tentu saja, dia sekolah dengan anak-anak Amerika. “Lama-lama saya lupa bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Habis, setiap hari kumpul sama teman-teman Amerika,” tuturnya.

Namun, pengalaman masa kecil di Jogja (dan sekali-sekali di Jakarta) tak hilang dari jiwa Elizabeth Karen. Tahun 1990 dia menjadi peneliti kebudayaan.

“Saya harus ke Jawa lagi, melakukan penelitian tentang budaya Jawa.” Maka, ia kembali ke Tanah Jawa untuk mengulang lagi kenangan masa kecil di tahun 1969-1971.

“Jadi, saya ini meneliti, tapi juga belajar mendalami kebudayaan Jawa. Saya sangat cinta dengan kebudayaan Jawa.”

Pada 1990 itu Elizabeth Karen ‘dititipkan’ sebagai mahasiswa di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Ia mengaku sangat bahagia karena keinginan ‘menjadi Jawa’ itu mulai menemukan titik terang.

TAHUN 1990 Elizabeth Karen melakukan penelitian intensif tentang budaya Jawa di IKIP Malang. Eh, gadis cantik ini malah kecantol dengan MUHAMMAD SHOLEH ADI PRAMONO, dalang dan seniman tradisi di Malang. Elizabeth akhirnya menjadi istri Pak Dalang. Namanya pun pakai embel-embel Sekararum: ELIZABETH SEKARARUM KAREN.

Riset pada 1990 merupakan hari-hari yang sangat menyenangkan bagi Elizabeth. Impian masa kecilnya untuk kembali ke tanah Jawa, menimba ilmu langsung dari Jawa, terkabul. “Saya sangat antusias belajar bahasa Jawa, bahasa Indonesia, belajar kesenian tradisional,” cerita Elizabeth Karen kepada saya.

Saking antusiasnya, dia menggunakan sebagian besar waktunya untuk belajar bahasa. Untuk itu, dia koleksi setumpuk kaset pelajaran bahasa Jawa yang ia peroleh dari IKIP Malang maupun teman-temannya di Indonesia. Dia rekam percakapan sehari-hari teman-temannya dengan tape redorder, kemudian diputar di rumah. Diulang terus-menerus. Ini menjadi ‘ritual’ rutin Elizabeth Karen sehari-hari.

“Tapi saya tidak capek karena saya cinta bahasa Jawa. Bahasa Jawa itu paling indah dan paling kaya di dunia lho,” puji wanita asal Chicago itu.

Sambil belajar bahasa, menyelesaikan riset di IKIP Malang, Elizabeth belajar seni tradisi Jawa. Gurunya MUHAMMAD SHOLEH ADI PRAMONO, seniman yang juga dalang terkemuka di kawasan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bersama sang guru privat, dia maju pesat. Mampu melantunkan tembang-tembang tradisional Jawa.

Orang Jawa asli pun belum tentu bisa, apalagi anak-anak muda zaman sekarang. Sholeh Adi Pramono kemudian membawa Elizabeth Karen dalam semua pergelaran wayang kulit dan acara-acara kebudayaan di Jawa Timur.

Mahasiswi AS ini dipuji sebagai ‘sinden londo’ yang sulit dicari tandingannya. “Pak Sholeh akhirnya menjadi calon suami saya, kemudian kami menikah. Sekarang saya jadi istri Pak Sholeh,” cerita Elizabeth Karen seraya tersenyum lebar.

Sebelum menikahi Elizabeth, Ki Dalang Sholeh Adi Pramono sudah menikah dan punya lima anak.

“Kalau saya sama Pak Sholeh sih punya dua anak saja,” tambahnya. Anak pertama SONYA CONDRY LUKITOSARI (13 tahun), anak kedua KYAN ANDARU KARTIKA NINGSIH (8 tahun). Baik Sonya maupun Kyan mengikuti jejak ayah-ibunya: menekuni kesenian tradisional Jawa.

SAAT ini Elizabeth Karen dan suaminya punya PADEPOKAN SENI MANGUN DARMA di Dusun Kemulan, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Banyak warga--tak hanya dari Malang--datang untuk belajar berbagai kesenian tradisi (tari, topeng malangan, wayang, tembang, remo) di situ.

Elizabeth orang yang rendah hati. Dia mengaku masih terus belajar karena ‘ilmunya belum apa-apa’. “Saya harus belajar terus. Sebab, semakin banyak yang saya pelajari semakin saya merasakan bahwa pengetahuan saya ternyata masih sedikit. Belajar itu tidak boleh berhenti,” katanya.

Wajah dan suara Elizabeth Karen praktis sudah sangat dikenal di Jawa Timur. Dia juga pernah 'dikontrak' oleh Ki Dalang Soenarjo, yang juga wakil gubernur Jawa Timur, untuk tampil di pergelaran wayang kulit yang disiarkan TVRI Jawa Timur atau JTV Surabaya. Belakangan dia memilih menjadi sinden freelanche agar bisa tampil di mana saja. Tidak mau terikat hanya dengan dalang atau grup tertentu.

“Saya ingin diterima oleh semua kelompok masyarakat di Indonesia,” katanya.

1 comment:

  1. TAMBAHAN INFO DARI JAWA POS

    Minggu, 23 Sept 2007,

    Karen Elizabeth Sekararum, Sinden Jawa Asal Amerika Serikat

    Saya Bukan Topeng Monyet atau Badut Sirkus

    Karen Elizabeth Sekararum kini termasuk pesinden laris yang sering dikersake para dalang untuk meramaikan tanggapan wayang. Cengkok suaranya yang meliuk-liuk, dandanannya yang gandhes luwes, dan dedeg piyadege yang mriyayeni hampir tak berbeda dengan pesinden Jawa tulen. Bagaimana wanita Amerika Serikat itu bisa mendalami roh budaya Jawa?



    Mengapa Anda tertarik budaya Jawa?

    Waktu masih berumur 5-7 tahun, saya tinggal di Indonesia dua tahun. Ketika itu, saya sempat diikutkan les tari oleh orang tua saya di Jogjakarta. Kalau tidak salah, saya diajar Romo Sas di Dalem Pujokusuman. Entah apa yang terjadi. Tetapi, saya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang melekatkan diri saya dengan seni tari Jawa. Mungkin, itu yang dinamakan panggilan hati. Saya pernah mendengarkan suara sinden di radio. Saya merasa begitu terlena. Tiba-tiba, saya mengatakan dalam hati bahwa suatu saat nanti harus bisa nyinden. Lantas, cling, inilah saya sekarang. Seorang sinden betulan. Hahaha...


    Kapan Anda memutuskan menekuni budaya Jawa?

    Seperti saya sebutkan tadi, panggilan hati itu tiba-tiba saja kembali muncul saat saya menginjakkan kaki di bumi Jawa lagi pada 1990. Seakan-akan, saya memang sudah memiliki jiwa orang Jawa dalam diri. Saya suka dengan keunikan karakter seni Jawa. Di antaranya, tari remo Malang, tayuban dan nembang. Sebab, saya suka ciri khasnya, yang merupakan gabungan antara keindahan gerak tari dan seni olah vokal tingkat tinggi. Gabungan dua karakter itu tidak dimiliki jenis seni-seni lain di dunia.


    Bagaimana proses Anda bisa begitu dalam menekuni budaya Jawa?

    Pada 1990-an, saya datang ke Malang untuk memperdalam referensi tentang penelitian pendidikan S-2 saya. Waktu itulah saya bertemu Mas (panggilan Ki Sholeh Adi Pramono, dalang Malang yang kini jadi suami Karen Elizabeth). Sedikit banyak, dia merupakan salah satu alasan saya menceburkan diri dalam dunia kesenian Jawa ini. Sebab, saat itu, selain menjadi guru saya, dia juga akhirnya berhasil menjadi bapak bagi anak-anak saya.


    Kendala tersulit dalam proses transformasi Anda menjadi "orang Jawa"?

    Saya ingin menekankan bahwa saya bukan orang Jawa. Juga, tidak akan pernah berhasil menjadi orang Jawa. Sebab, pada kenyataannya, saya lahir dan dibesarkan dengan budaya dan latar belakang kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan yang terus saya pelajari saat ini (budaya Jawa). Tapi, saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi seniman Jawa.


    Apakah ada rencana menjadi warga negara Indonesia?

    Sampai sekarang, status saya masih warga negara asing (WNA). Selain itu, saya tidak berkeinginan menjadi WNI. Tentunya, rasa ini juga dimiliki setiap orang. Saya sadar, sekali menjadi orang asing, saya akan selamanya menjadi orang asing.


    Berapa waktu yang Anda butuhkan untuk menjadi seperti sekarang ini?

    Saya belum berhenti untuk belajar dan akan terus belajar. Sampai saat ini, saya sudah menjalani proses belajar selama 17 tahun. Tapi, jangan salah. Saya tiap hari masih harus les dan mempelajari hal-hal baru. Sebab, seni Jawa itu dinamis. Saya pun memutuskan selalu up to date dengan semuanya. Termasuk, lagu-lagu Jawa yang baru-baru, seperti punya Didi Kempot dan lain-lain.


    Bagaimana penilaian keluarga ketika Anda memutuskan menjadi sinden dan penari Jawa?

    Mereka menyambut baik dan menghormati pilihan hidup saya. Setiap tahun sekali, mereka selalu berkunjung ke sini (Malang) untuk kangen-kangenan.


    Bagaimana cara orang tua Anda mendidik anak-anaknya?

    Saya dibesarkan di lingkungan pendidikan. Kedua orang tua saya adalah dosen. Seperti orang Amerika umumnya, mereka adalah orang yang sangat demokratis dan memberikan kebebasan kepada saya untuk menentukan jalur hidup. Itu sangat berpengaruh pada pilihan hidup ini.


    Mana yang Anda cintai, budaya Jawa atau orang Jawa?

    Dua-duanya. Sebab, saya kira, tidak mungkin saya bisa mencintai budayanya jika tidak mengenal dan mencintai orangnya kan. Apalagi, saya juga nemu wong Jowo sing dadi jodoku iki (menemukan orang Jawa yang menjadi pasangan hidup, Red). Saya memutuskan mendampingi beliau dalam melestarikan budaya tradisional itu.


    Bagaimana reaksi penonton ketika melihat penampilan Anda dalam sebuah pertunjukan?

    Reaksi mereka macam-macam. Tapi, sebenarnya, ada sesuatu yang masih sering ngganjel dalam hati saya. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya mengawali proses berkesenian saya sebagai "orang asing". Maka, saya pun menetapkan standar tinggi dalam hidup saya. Maksudnya, maaf lho ya, bukannya apa, tapi kadang saya tidak ingin orang tertarik dan memandang saya karena keunikan atau keanehan saya. Kalau ada orang berkata, "Eh, ternyata ada bule pinter nyinden," itu justru lebih sering menyakitkan hati saya. Sebab, saya ingin dihormati karena kemampuan saya. Artinya, saya bukan topeng monyet atau badut sirkus yang ditonton orang karena aneh dan unik. Tapi, saya bisa ditanggap orang karena kualitas seni saya. Saya ditanggap karena orang tahu bahwa hanya saya yang bisa menampilkan seni itu. Saya berharap bahwa suatu saat nanti orang akan menilai saya bukan karena saya unik atau aneh. Tetapi, karena kemampuan saya dalam berkesenian Jawa.


    Sebagai "orang asing" yang pinter bahasa dan budaya Jawa, apakah ada kejadian-kejadian lucu dalam keseharian Anda, misalnya orang ngrasani Anda dalam bahasa Jawa?

    Sering terjadi begitu. Mereka sering merasa malu setelah tahu bahwa saya paham rasan-rasannya. Tapi, menurut saya, itu tidak lucu dan tidak layak diceritakan. Kadang, kalau hal tersebut sudah terjadi, orang Jawa jadi kelihatan seperti kekanak-kanakan.


    Anda menikmati hidup di Malang?

    Ya, saya menikmatinya. Sebab, di sini enak dan ayem. Nggak banyak yang harus dipikirkan. Pokoke, enak tinggal di desa ini.


    Ke depan, pencapaian apa yang ingin Anda dapatkan dalam berkesenian Jawa?

    Saya ingin menjadi seniman sejati di bidang kesenian Jawa. Saya berharap, saya tidak dinilai sebagai orang asing. Tetapi, sebagai seorang seniman yang dihargai karena kemampuan saya menampilkan seni itu.


    Menurut Anda, apakah orang Jawa sudah melupakan budaya mereka sendiri?

    Ya, saya sering berpesan, memang tidak ada yang melarang untuk menikmati seni dangdut dan rok. Tapi, saya harap, kita tidak melupakan seni tradisional sendiri. Sebab, bagaimanapun, seni itu bisa hilang kalau tidak terus dipraktikkan dan dikembangkan. Kalau generasi muda Jawa sudah tidak lagi bisa menjaga seni, lambat laun nilai tersebut akan hilang dengan sendirinya. Itu sangat disayangkan.


    Bagaimana Anda mendidik anak-anak Anda? Dengan cara Jawa atau budaya negara Anda?

    Koyoke, anak-anak mengikuti jejak bapak-ibunya. Mereka juga sangat menyenangi bidang seni. Dia pintar karawitan, hebat ngendang, pokoknya tidak akan jauh dari kehidupan seni yang dilakoni bapaknya. Bagaimanapun, jiwa anak saya merupakan pengejawantahan darah seni bapaknya. Mungkin, masa depan anak-anak saya tak jauh berbeda dengan yang dilakukan orang tuanya saat ini, menjadi seniman. (zulham akhmad mubarrok/ rachmad setiawan)


    Tentang Karen Elizabeth

    Nama : Karen Elizabeth Sekararum
    Penggilan : Elizabeth
    Tempat tanggal lahir : USA, 19 Desember 1964
    Alamat : Padepokan Seni Mangun Dharma Tumpang, Malang
    Suami : Ki Sholeh Adi Pramono
    Anak : 1. Sonya Condro Lukitosari, 13
    2. Kyan Andaru Kartikaningsih, 8
    Pendidikan : 1. Universitas Wisconsin, Amerika Serikat
    2. Universitas Virginia, Amerika Serikat
    Ayah : David Schrieber
    Ibu : Janet Schrieber
    Hobi : Menari, menyanyi
    Makanan favorit : Masakan Padang

    ===========
    Prihatin Anak Muda Cuek Seni Tradisi

    NAMA Karen Elizabeth Sekararum sudah tak asing di antara deretan penggiat seni Jawa Timur. Berangkat dari padepokan seni Mangun Dharma Malang, dia meretas konsistensi dan berjuang menghidupkan lagi seni tradisional yang mulai terpinggirkan.

    Hobi menari dan nyinden kini telah menjadi sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sosok perempuan kelahiran Chicago, Amerika Serikat, itu. Istri dalang Ki Soleh Adi Pramono tersebut kini lekat dengan identitas sinden bule. Satu-satunya di Jatim, mungkin di Indonesia.

    "Saya mengawalinya sebagai penikmat seni tradisional Jawa. Eeh, suwe-suwe kok kepincut, ya sekalian saja nyemplung," tuturnya sambil tersipu.

    Ibu dari Sonya Condro Lukitosari dan Kyan Andaru Kartikaningsih itu mengatakan, budaya tradisional Indonesia, khususnya Jawa Timur, adalah seni budaya yang sangat langka. Sayang, kata dia, generasi muda Jawa cenderung mengabaikannya. "Saya sangat mengaguminya. Terus terang, saya eman jika seni adiluhung itu hilang percuma," ujarnya.

    Elizabeth mengaku akan kecewa jika seni budaya tradisional sering diposisikan di tempat kedua setelah kebudayaan modern. "Setiap mendengar gending Jawa, saya merasa ayem. Anehnya, anak-anak muda sekarang cenderung anti terhadap irama warisan nenek moyangnya," katanya.

    "Tidak ada yang melarang jika orang suka musik rok atau dangdut. Tapi, jangan lupakan seni tradisional sendiri," sambung wanita bermata biru tersebut.

    Sebagai bentuk keprihatinannya, Elizabeth merumuskan sebuah ide untuk disampaikan kepada generasi muda Indonesia. "Sebaiknya, para pelestari budaya mulai memikirkan cara mengawinkan seni modern dengan tradisional untuk menumbuhkan kecintaan pemuda terhadap seni tradisional," ucapnya.

    Dia menilai, seni itu ada karena ada yang menikmati dan mengapresiasi. Jadi, walaupun dimuseumkan, kalau tidak ada lagi yang menikmati, seni menjadi tidak berguna. "Kalau nggak gitu, ya muspro (percuma, Red)," tuturnya.

    Jika pencinta seni tradisional cukup banyak, kesenian tersebut pun akan terjaga dengan sendirinya. "Meski tidak disimpan dalam museum, kesenian itu akan terjaga oleh masyarakatnya," katanya. (zul/uan)

    ReplyDelete