26 September 2006

Dukun Lumpur Lapindo




Tiba-tiba saya ditelepon Muhammad Rosyid, 40 tahun, asal Watutulis, Kabupaten Sidoarjo. "Penting banget, ini demi kepentingan kita bersama. Saya hanya ingin bantu menyelamatkan rakyat Porong," ujar Rosyid buru-buru.

Rakyat Porong yang dimaksud tentu korban semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc. Gara-gara kesalahan fatal di Sumur Banjarpanji-1, Desa Renokenongo, terjadilah bencana dahsyat lumpur panas sejak 29 Mei 2006.

Mula-mula hanya 5.000 m3 sehari, lalu naik jadi 15.000 m3, naik lagi ke 50.000 m3... dan sejak pekan ketiga September 2006 sudah menjadi 26.000 m3 per hari. Ahli-ahli geologi bilan semburan bakal makin besar.

Mula-mula sekitar 10 ribu orang kehilangan rumah, halaman, sawah, harta benda; kemudian naik 15 ribu, naik lagi 20 ribu. Entah sampai berapa banyak. Kasus Lapindo ini menjadi masalah nasional, masuk koran dan televisi setiap hari.

Nah, si Rosyid ini mengaku bisa menghentikan semburan tersebut. Caranya? "Ya, pakai cara saya. Saya dapat bisikan khusus untuk membantu," tegas pria Watutulis itu.

Menurut dia, cara-cara ilmiah ala ahli pengeboran, misal relief well, snubbing unit, tidak akan berhasil. Percuma! "Wis ta, gak iso, gak iso! Iki persoalan gede."

Menurut 'wisik' yang diterima Rosyid, musibah lumpur panas Lapindo ini akibat kemarahan penguasa tanah Porong (mbahurekso) dan sekitarnya. Dia marah gara-gara rumah kediamannya dirusak oleh Lapindo. Manusia terlalu serakah, tidak tahu diri, sehingga perlu dikasih pelajaran.

"Ada naga besar di dekat pusat semburan lumpur. Banyak sekali. Naga-naga itu mengelilingi kompleks lumpur," jelasnya.

Sekali lagi ini berdasar 'bisikan' alam gaib.

Saya tanya, bagaimana cara meminta maaf dan meredakan kemarahan si penguasa Porong? "Nah, ini yang mau saya sampaikan. Tolong dimuat di koran supaya pemerintah dan Lapindo percaya," ujar pria yang mengaku bukan paranormal itu.

Caranya, ya, berikan sesaji. Rosyid merinci: Tujuh kepala sapi. Tumpeng dua buah. Ikan tujuh macam. Kembang tujuh macam. Kain mori.

"Murah sekali kok. Daripada pakai biaya miliaran rupiah, tapi hasilnya gak ada," tegas Rosyid. Dia sendiri yang akan melarung sesajen itu kepada simbah di Porong.

"Insya Allah, setelah tiga hari mampet. Saya yakin 99 persen berhasil. Insya Allah," ujarnya meyakinkan.

Tiga hari saja beres? Bukan main! Saya tertawa dalam hati, tapi juga kagum dengan keyakinan saudara kita si Rosyid ini.

"Kalau sudah mampet, syarat lain harus tanggap wayang kulit."

Anda sudah pernah coba ke lokasi? Rosyid mengaku sudah beberapa kali ke sana, namun selalu diusir petugas. Dia juga mencoba menawarkan jasa ke Pemkab Sidoarjo, tapi dihalang-halangi kaki tangan bupati dan wakil bupati. Dia dianggap orang gila.

"Makanya, saya minta bantuan wartawan agar bisa masuk," katanya. Anda minta bayaran berapa? "Wah, tidak asuh. Saya ini dapat wisik, hanya mau bantu. Wong saya punya pekerjaan kok."

Di saat bersamaan, Kepala Desa Kedungbendo Haji Hasan bikin sayembara. Siapa yang bisa menghentikan semburan lumpur, dapat rumah senilai Rp 80 juta.

Kebetulan Hasan ini pengembang rumah di kompleks lumpur. Tapi, sebelum ikut sayembara, Hasan bikin seleksi dulu. Dukun, paranormal, wong pinter, atau apa pun namanya dites mematikan air kran. Kalau bisa, silakan menghentikan semburan lumpur dengan cara apa saja.

Sampeyan nggak melu sayembarane Cak Hasan?

"Wah, Hasan iku ngawur. Semburan lumpur iku beda dengan air kran. Nggak bisa disamakan dan sama sekali tidak ada hubungannya," jawab M. Rosyid. Karena itu, dia tidak tertarik ikut sayembara berhadiah rumah tipe 36.

Begitulah.

Sejak lumpur mengganas di Porong akhir Mei (dua hari setelah gempa di Jogja), sudah ratusan dukun yang mencoba menghentikan lumpur dengan cara masing-masing. Sesajen, tumbal, kemenyan, puasa, tapa brata... sudah pernah dilakukan. Teman saya, Jalaluddin Alham, wakil ketua DPRD Sidoarjo, pun mencoba mencari tokoh yang dianggap mampu menyetop lumpur.

"Kita cobalah. Ibarat orang ke Jakarta itu kan jalannya macam-macam. Bisa naik pesawat, bus, kerata api, sepeda motor, perahu...," ujar Jalaluddin. Saya belum tanya hasil usaha ketua Partai Demokrat Sidoarjo itu.

Apa pun caranya, saya menilai Rosyid dan sekian ratus, bahkan ribuan orang, sudah berusaha menghentikan semburan lumpur. Bahwa hasilnya belum ada, bahkan lumpur bertambah dahsyat, ya, itulah kedaifan manusia. Manusia itu gak ada apa-apanya kalau dihadapkan pada kemahakuasaan Tuhan.

"Insyaflah, wahai manusia,
jika dirimu bernoda.
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan Tuhan.
Dengan tiada terkira dunia ini kan binasa..."


Begitu kata-kata Abdul Malik Buzaid dalam lagunya, Keagungan Tuhan.

Saya yakin, apa yang terjadi di Porong ini sebuah isyarat, tanda-tanda alam, agar manusia Indonesia insaf, taubat, kembali kepada-Nya.

No comments:

Post a Comment