19 September 2006

Aloysius Lele Madja



Ramah dan cepat akrab dengan teman bicara. Sebagai Konsul Indonesia di Perth, Australia, Dr. Aloysius Lele Madja memang menguasai benar seni diplomasi. Itu pulalah yang dia lakukan sejak bertugas di Perth dalam 1,5 tahun terakhir.

"Kita perlu mengambil hati warga Australia karena mereka itu tetangga kita,” ujar Madja (54) kepada saya. Ayah tiga anak ini didampingi istrinya, Fransisika L. Madja (istri), serta Wakil Konsul RI di Perth, Nusiaga Putri.

Menurut dia, selama ini pemerintah dan warga Australia cenderung tidak mau tahu tentang negara terdekatnya, Indonesia. Mereka lebih fokus pada Eropa dan Amerika Serikat, sebagai sesama negara Barat, kecuali bila muncul isu panas seputar keamanan atau hal-hal yang mengganjal hubungan kedua negara.

“Sejumlah warga Australia bilang, ‘Indonesia? Lupakan saja!’ Selama ini persepsi tentang Indonesia adalah terorisme dan Islam radikal. Padahal, itu hanya kelompok kecil saja,” tutur Madja seraya tersenyum.

Karena itu, tantangan terberat bagi diplomat di negara kanguru--tak hanya dirinya--adalah mengubah cara pandang negara sahabat atas Indonesia. “Dan, saya akui, tidak mudah mengubah prasangka itu.”

Lahir di Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, Aloysius Lele Madja sudah berkarier di Departemen Luar Negeri RI selama 23 tahun. Dia sudah malang melintang di sejumlah negara seperti Rusia, Jerman, Italia, Hungaria, Australia. Madja senantiasa menarik perhatian media luar negeri karena kefasihannya menguasai banyak bahasa asing.

“Dr. Madja itu poliglot. Dia bisa bicara dalam bahasa Jerman, Prancis, Hungaria, Inggris dengan fasih. Aksen bahasa Inggrisnya seperti orang Eropa saja,” tulis Duncam Graham, wartawan senior Australia.

Nah, kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa nasional setempat, merupakan modal utama seorang diplomat. Sulit dibayangkan konsul atau duta besar Indonesia di luar negeri bisa bertugas dengan baik jika tidak menguasai bahasa setempat, apalagi bahasa Inggris. "Saya harus belajar setengah mati agar bisa bicara bahasa Hungaria. Bahasa Inggris saja tidak cukup,” ujar bekas diplomat di Hungaria itu.

Untungnya, Aloysius Madja dianugerahi bakat bahasa yang luar biasa. Hanya dengan beberapa kali kursus singkat, ditambah latihan di rumah, ia mampu menguasai bahasa-bahasa baru tersebut. Sambil belajar bahasa, dia juga berusaha menjalin hubungan budaya dengan Indonesia.

“Sekarang ini di Perth pun kami banyak menggelar acara-acara untuk mempererat hubungan Indonesia-Australia,” tutur Madja.

Ketika delegasi Putri Lingkungan Hidup asal Jawa Timur mengikuti even internasional di Australia Barat, Aloysius Madja menyambutnya dengan senang hati. Dia memfasilitasi para remaja itu agar saling belajar dengan teman-teman Aussie-nya.

"Ini investasi untuk masa depan. Kita berharap, generasi baru Australia punya perspektif yang lebih positif tentang Indonesia,” ujar penerjemah beberapa buku ilmiah itu.

Berapa banyak orang Indonesia yang tinggal di Australia Barat? Madja menyebut, 8.000 hingga 8.500 yang terdata di Konsul RI di Perth. Namun, dia yakin jumlahnya lebih dari itu mengingat masih banyak yang enggan berhubungan dengan perwakilan Indonesia. Mereka ini biasanya baru tergopoh-gopoh datang ke konsulat atau kedutaan kalau kepepet.

Sebagai pecinta bahasa dan budaya, Konsul RI di Perth, Australia, Dr. Aloysius Lele Madja, mengaku prihatin melihat sikap sebagian orang Indonesia yang cenderung kurang menghargai bahasa nasionalnya. Saat berada di Jakarta atau Surabaya, dia melihat televisi Indonesia yang sarat bahasa gado-gado: Melayu, Inggris, Betawi, Jawa, dan seterusnya.

Bumbu-bumbu bahasa berupa ungkapan Inggris begitu banyak, sehingga tata kalimat di sinetron terkesan kacau-balau. "Bahasa macam apa ini?" ujar Madja yang menguasai sedikitnya delapan bahasa asing itu. Kendati menguasai banyak bahasa (poliglot), saat berbahasa Indonesia Madja hampir tak pernah 'menyelundupkan' istilah-istilah asing ke dalam kalimatnya.

Karena itu, ayah tiga anak ini (Concytha, Samuel, Bernadette) kurang sreg melihat anak-anak Indonesia di Australia Barat yang kini tak bisa berbahasa Indonesia. Bagi Madja, keluarga di rumah seharusnya membimbing anak-anaknya agar bisa berbahasa Indonesia. Juga mengenal kekayaan budaya kita.

"Saya ingin ada sekolah Indonesia di Perth. Di Indonesia kan ada sekolah Australia di Jakarta, Bali, Jogja. Sekolah internasional negara lain juga ada di Indonesia, bukan," ujar pria berusia 54 tahun ini.

Sebagai diplomat karier yang malang melintang selama 23 tahun di berbagai negara Eropa, kemudian Australia, Aloysius Madja menengarai bahwa orang Indonesia umumnya mengidap penyakit rendah diri. Apa-apa saja yang berbau asing, khususnya Barat, dianggap kelas satu. Sebaliknya, yang berasal dari bumi Indonesia dianggap kelas kambing.

"Begitulah. Masih banyak orang kita yang berpikir bahwa semua yang berbau Barat itu lebih hebat. Padahal, belum tentu," ujarnya.

Nah, masih berkaitan dengan kecintaannya pada bahasa Indonesia, Madja menggagas lomba mengarang dan pidato bahasa Indonesia untuk anak-anak sekolah di Perth. Pesertanya sekitar 50 anak sekolah swasta dan negeri. Temanya: apa untung dan ruginya belajar bahasa asing? Sayembara mengarang macam ini pun juga dimaksudkan untuk menjalin hubungan baik antara kedua negara.

"Kita mulai dari anak-anak sekolah lah. Mereka ini bakal menjadi orang-orang penting di negaranya di kemudian hari," kata pria kelahiran Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, itu.

"Anda diplomat, menguasai banyak bahasa, santun. Apa pernah studi di seminari menengah atau tinggi di Flores?" tanya saya saat Aloysius Madja dan rombongan Konsulat RI di Perth bertandang ke kantor redaksi RADAR Surabaya belum lama ini.

Madja tersenyum. "Ya, dulu saya di Seminari Mataloko," papar Madja. Seminari Mataloko merupakan seminari tertua di Flores yang didirikan W Schmidt pada 1929.

Aloysius Madja pernah mencicipi pendidikan di sekolah calon pastor Katolik itu. "Dulu cita-cita saya memang jadi pastor. Ternyata, panggilan saya bukan di situ. Saya justru menjadi suami dan bapaknya anak-anak," jelas Madja disambut tawa Fransiska, istrinya. Jika Madja tidak 'mrotol' dari seminari, niscaya dia tak akan pernah melanglang buana sebagai diplomat, apalagi punya tiga anak.

Selain menguasai banyak bahasa asing, Aloysius Madja ternyata jago bermain sepak bola. Dia mengaku main bola hampir tiap hari. Bahkan, saat bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bonn, Jerman, Madja sempat mengambil kursus pelatih sepak bola.

Bisa jadi pelatih kalau sudah pensiun?

"Hehehe... Saya memang suka bola kaki sejak remaja," akunya. Berkaitan dengan bola, Madja berharap tim nasional Indonesia suatu saat bisa berlaga di ajang Piala Dunia.

"Saya bermimpi sekitar tahun 2050 kita sudah bisa ikut Piala Dunia."

Website Konsulat RI di Perth

9 comments:

  1. Terima kasih untuk tulisan mengenai Aloysius Lele Madja. Beliau adalah teman sekolah kami waktu di Seminari Mataloko pada tahun 1965-an.

    Terakhir kami bertemu tiga tahun lalu, 2004, ketika sama-sama menghadiri pesta Ulang Tahun ke 75 Seminari St Yohanes Berchmans di Mataloko.

    Beliau adalah satu-satunya diplomat karir yang berasal dari Flores dewasa ini. Kami mendoakan agar beliau berhasil dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil Pemerintah Indonesia di Perth, Australia Barat, yaitu mendekatkan hubungan antara kedua bangsa dan negara: Indonesia dan Australia.

    ReplyDelete
  2. selamat bertugas dan sukses selalu pak madja.

    ReplyDelete
  3. Sama-sama Pak Ans, sudah baca blog ini. Godd luck!

    ReplyDelete
  4. pak madja bisa jadi inspirasi kita di flores.

    ReplyDelete
  5. luar biasa pak aloysius madja. semoga anak2 ntt belajar keras, meniru teladan beliau. salam flobamora!

    ReplyDelete
  6. Inspired! Sebagai generasi penerus saya mulai berpikir bagaimana bisa menjadi sesukses om Alo. Kalau bisa lebih dari itu... Saya ingin jadi orang bisa dibanggakan "isi Bajawa" dengan karir yang sukses sebagai diplomat. Makasih Om Alo, I'll have to learn much from you

    ReplyDelete
  7. saya terlambat mengetahui tentyang beliau bapak Aloysius,ternyata bapak seorang diplomat yang handal,selamat berjuang membawa nama Indonesia di kancah internasional,Tuhan bersamamu

    ReplyDelete
  8. kabar terkini pak Alo siap maju di pilgub 2018 sbg Cawagub bergandengan dengan pak Daniel tagu Dedo... semoga sukses...

    ReplyDelete