07 September 2006

Didiek SSS



Didiek SSS (tengah) lagi konser di Gereja Katolik Ngagel, Surabaya, bersama Ireng Maulana (kiri) dan R Tonny Suwandi (kanan). Didiek salah satu saksofonis terbaik Indonesia kini. Saya yang motret.


Saya pertama kali mengenal Didiek SSS dari layar kaca TVRI. Waktu itu, tahun 1980-an saya menonton televisi tetangga hitam putih di kampung halaman, Flores Timur. Televisi berwarna belum ada. Menontonnya ramai-ramai, bak nonton bareng Piala Dunia 2006 di kafe atau tempat hiburan Surabaya beberapa waktu lalu.

Didiek SSS muda berambut gondrong. Nyentrik. Sebagai pemain musik tiup (saksofon, flute, trompet), gaya Mas Didiek ini memang tak lazim. Kenyentrikannya ini membuat dia menjadi pemusik paling menonjol dibandingkan anggota orkestra yang lain.

Yes, Didiek is a different misician! The great brass instuments players!

Selain meniup instrumen, dia kerap menjadi dirigen sekaligus orkestrator alias arranger lagu-lagu pop, keroncong, langgam, melayu… agar bisa dibawakan oleh sebuah orkestra. Memang, ketika ajang pemilihan Bintang Radio dan Televisi (BRTV) masih berjaya hingga 1990-an, Didiek SSS dipercaya sebagai dirigen Orkes Studio RRI Jakarta.

“SAYA ini orang Salatiga,” cerita Didiek SSS di halaman Gereja Katolik Ngagel, Surabaya, kepada saya.

Saat itu dia bersama Ireng Maulana dan R Tony Suwandi (keduanya pemusik hebat) ‘ditanggap’ teman-teman paroki untuk cari dana. Mau memperluas balai paroki, bikin klinik, dan sebagainya. Gereja di kota besar macam Surabaya memang harus komplet-plet… Lain sekali dengan gereja-gereja desa di Flores yang kumuh. Hehehe…

Didiek SSS lahir dari keluarga seniman. Ingat Embong Rahardjo (almarhum), saksofonis hebat Indonesia? “Embong Rajardjo itu kakak kandung saya,” kata Didiek dengan halus, ramah–khas orang Jawa Tengah.

Kalau Embong Rahardjo lebih fokus ke musik jazz, Didiek SSS merambah hampir semua jenis musik. All round. Pop, jazz, blues, kroncong, campursari, gospel, klasik…. Dia bikin musik untuk album kroncong pop ‘Ada Apa Denganmu’ (Peterpan), yang dinyanyikan Hetty Koes Endang pada 2005. Album ini terpilih sebagai the best keroncong album di Indonesia.

“Kalau saya bisa main musik, membuat orang senang, menjadi berkat bagi orang lain… semua itu karunia dari Tuhan. Talenta itu harus saya kembangkan,” ujar Didiek.

YANG menarik, dalam beberapa tahun terakhir Didiek SSS mulai terlibat aktif dalam pelayanan rohani. Bersama Embong Rahardjo (alm), R Tony Suwandi, Didiek SSS melakukan tur ke berbagai gereja atau persekutuan (komunitas). Konser jazz? Bukan. Mereka ‘mengiringi’ paduan suara yang bertugas saat itu. Tak lupa beri kesaksian atau pengalaman rohani.

Di saat interlude, Didiek SSS memperlihatkan kehebatannya bermain alat musik tiup, khususnya flute dan saksofon. Dia mengaku mendapat pengalaman baru di gereja. Didiek pun dipercaya membina musik di seminari dekat Jakarta. “Sehingga, kalau nanti jadi pastor, mereka memahami musik,” jelasnya.

NGOMONG-NGOMONG, kenapa Didiek SSS mulai menjamah wilayah rohani, padahal dia masih top di belantika musik pop dan jazz Indonesia? Ada rahasianya, ternyata.

“Terus terang, saya mendapat berkat luar biasa dari Tuhan. Saya mau melayani Dia yang sungguh cinta kepada saya,” ujar Didiek SSS di hadapan ribuan jemaat Gereja Katolik Ngagel.

Alkisah, Didiek SSS mengaku pernah sakit selama tiga bulan di rumahnya, Jakarta. Pingsan alias koma. Pihak keluarga bahkan menganggap Didiek sudah ‘dekat dengan Tuhan’. Di tengah ketidakberdayaan itu, Didiek berdoa, keluarga berdoa, teman-temannya berdoa, semua berdoa. Didiek percaya bahwa doa itu punya kekuatan untuk menyembuhkan sakit penyakitnya.

“Puji Tuhan, saya akhirnya disembuhkan oleh Tuhan. Saya nggak bisa apa-apa kalau bukan karena Dia,” cerita Didiek. Sejak itu jalan hidup Didiek mulai berubah. Dia bertekad untuk memberikan waktunya untuk Tuhan, melalui talenta musiknya, kendati tetap main musik profan sebagai pemusik profesional.

Maka, ketika dia diminta mengisi acara musik di Istana Negara, sementara dia terikat janji dengan panitia amal kasih di Gereja Ngagel (Surabaya), tanpa syak Didiek memilih Surabaya. Peluang mendapat uang banyak di Istana pun dilepaskan. Tidak menyesal? “Oh, sama sekali tidak. Berkat Tuhan itu jangan dilihat hanya dari uang thok,” tegasnya.

Sebagai ungkapan syukurnya kepada Tuhan, Didiek hampir selalu membawakan lagu ‘Give Thanks’ manakala tampil di gereja-gereja atau persekutuan. Lagu ini juga favorit saya.

GIVE THANKS

Give thanks with the grateful heart
Give thanks to the Holy One
Give thanks because He’s given
Jesus Christ His son

And now…
Let the weak say I am strong
Let the poor say I am rich
Because oh what the Lord has done
for us…..

Give thanks!!!!

3 comments:

  1. didiek sss memang pemusik hebat. ge's a great musician we have. senang liat gayanya yg urakan kalo maen.

    ReplyDelete
  2. mas, ada no handphone mas didiek sss gak ???

    boleh minta gak ???

    ReplyDelete