30 September 2006

Ireng Maulana - Bubi Chen - Margie Siegers


FOTO: Saya lagi mejeng sama Ireng Maulana di Surabaya.

Copyright © Lambertus L. Hurek 2006

Sejak zaman televisi tunggal, TVRI, saya sudah tertarik dengan IRENG MAULANA. Dia pemusik serba bisa, tapi sangat kental dengan jazz. Dia bikin musik untuk Ermy Kullit, penyanyi jazzy papan atas kita yang masih sulit dicari tandingannya.

Saya juga tertarik dengan ulahnya saat tampil di acara Berpacu dalam Melodi di TVRI. “Oh, ya, Anda senang dengan Berpacu dalam Melodi? Terima kasih,” ujar Ireng Maulana, yang lahir di Jakarta, 15 Juni 1944, itu. Kebetulan saya bertemu Pak Ireng beberapa kali di Surabaya sebagai peliput, sekaligus penonton.

Pada 19 Desember 2003 lalu, di tengah guyuran hujan lebat, IRENG MAULANA bersama BUBI CHEN, dan MARGIE SIEGERS tampil di Balai Pemuda Surabaya. Mereka bertiga adalah legenda jazz hidup miliki Indonesia. Mencetak pemusik jazz sekaliber Ireng, Bubi, Margie… Bill Saragih jelas tidak gampang. Mereka main jazz sepanjang hayat!

Saat ketiga maestro ini tampil di Surabaya, kita terbayang kejayaan Surabaya sebagai barometer jazz hingga 1970-an. Musikus jazz papan atas kita--mulai Bubi Chen, Ireng Maulana, Jack Lesmana, Maryono, Embong Raharjo, dan sederet nama besar lain--pernah malang melintang di Surabaya. Dan Balai Pemuda alias Simpangsche Societeit menjadi saksi bisu kehebatan musisi tua.

"Kalau bicara jazz di Indonesia, Surabaya ini nggak ada duanya deh. Paling yang bisa mengimbangi hanya Bandung," ujar Margie Segers, yang masih terlihat segar dan energik.

Margie sendiri mengaku belajar jazz di Surabaya pada 1972, ya, lewat sang mahaguru, Bubi Chen.

Didampingi Virtuoso Band--Bubi Chen (piano, keyboard), Ho Wie Chen (perkusi), Toto Alfian (bas), Benny Chen (drum)--Ireng Maulana sangat santai. Dia menyapa para jazz lovers layaknya sahabat dekat. Jauh berbeda dengan bintang-bintang pop yang suka aneh-aneh dan cenderung mengambil jarak dengan audiens.

"Yo, opo kabare, Rek. Mudah-mudahan konser semacam ini bisa jalan terus," ujar Ireng Maulana.

Lalu, Ireng dan Bubi mempertontonkan ketrampilan musik tingkat tinggi lewat sejumlah nomor instrumental. Ireng bolak-balik 'menantang' Bubi dengan melodi-melodi aneh dan rumit. Bubi seperti membiarkan Ireng beraksi sampai bosan, kemudian dibalas kontan dengan solo piano (elektrik) yang tak kalah dahsyatnya. Penonton berkali-kali memberikan aplaus meriah.

Saat Margie menyanyi, Bubi Chen dan Ireng Maulana tetap menonjol permainannya. Margie pun berusaha mengimbangi permainan dua maestro dengan vokalnya khasnya yang 'tebal'dan memang sangat 'ngejes' itu.

Suasana kian riuh ketika Margie mengoplos dua lagu pop My Way (Frank Sinatra) dan Yesterday (The Beatles). Margie sengaja bernyanyi secara slow sehingga tercipta cukup ruang bagi Ireng dan Bubi untuk improvisasi. Gedung Balai Pemuda serasa mau pecah ketika Ireng menggoda sekitar 500 pecinta jazz Surabaya dengan sebuah nomor Latin, yang di sini dikenal dengan 'Kopi Dangdut'. Penonton pun ikut melantukan syair 'Kopi Dangdut', keras-keras.

"Lagu ini aslinya dari luar, iramanya memang bagus. Cuma, orang di sini tahunya Kopi Dangdut," jelas Ireng Maulana lalu tertawa kecil.

"Ada sebuah lagu legendaris dari Panbers. Gereja Tua," ucap Ireng disambut heboh penonton. Melodi lagu melankolis ciptaan Benny Panjaitan ini sengaja dibuat 'keseleo' oleh Ireng. (Namanya juga jazz, Saudara!)

Ketika penoton masih bengong, Ireng mengajak hadirin menikmati 'Cucakrowo', lagu dangdut modifikasi yang dipopulerkan Inul Daratista, ratu goyang ngebor asal Pasuruan.

Kepada saya, Ireng Maulana mengatakan, konser jazz harus dilakukan secara kontinyu di Surabaya demi mengembalikan citra Kota Surabaya sebagai barometer dan gudangnya pemusik jazz di Tanah Air. "Jangan lupa, kalian punya Bubi Chen, the living legend," ujar Ireng.

Kata Ireng, para pemusik jazz di Surabaya di masa lalu gandrung setengah mati dengan jazz. Mereka bermusik tanpa memperhitungkan bayaran. Ada atau tidak ada uang, mereka main. "Karena jazz itu hidup kita. Kita tidak bisa hidup tanpa jazz," ujar Ireng.

"Sampai kapan pun jazz tidak akan mati," tambah Margie Segers.

Saya punya album Christmas Jazz dari Tante Margie. Luar biasa! Lagu-lagu natal biasa menjadi luar biasa saat dinyanyikan Margie Siegers. Improvisasinya bukan main, gaya Margie begitu kuatnya.

Resepnya apa? “Yah, saya nyanyi saja. Memang jazz sudah menjadi bagian dari hidu saya,” kata Margie Siegers.

C.TwoSix Jazz Community Surabaya


FOTO: Roedi Purnama potong tumpeng hari jadi pertama C.TwoSix Jazz Community.


Di Surabaya, Jawa Timur, konser musik jazz memang semakin jarang. Namun, geliat jazz tetap terasa di ‘kota buaya’ ini. “Jazz itu tidak akan pernah mati!” tegas ROEDI PURNAMA, pengelola C.TwoSix Jazz Community, yang bermarkas di Jalan Medokan Ayu 3C/26 Surabaya.

(Nomor rumah C-26 ini yang kemudian diangkat sebagai nama komunitas penggemar jazz di Kota Surabaya.)

Kenapa jazz tidak mati? Menurut Cak Rudi, sapaan akrabnya, dukungan dari para members C-26 Jazz Community sangat besar. Selain membayar iuran sebesar Rp 25 ribu, para penggemar jazz aktif melakukan sosialisasi, baik di markas C-26 maupun di tempat tertentu yang telah disepakati.

“Dalam satu bulan terakhir ini kita selalu kumpul di kafe. Sekalian menikmati musik jazz yang dimainkan oleh teman-teman sendiri. Kebetulan banyak member C-26 yang bisa main jazz dengan baik,” tambah Ning Sari. Pengurus C-26 Jazz Community ini tak lain istri Cak Rudi, dedengkot dan pendiri C.TwoSix Jazz Community.

Kafe sederhana tempat kumpul-kumpul setiap Jumat malam ini pun ternyata milik anggota komunitas. Setelah dirundingkan bersama beberapa pengurus inti, disepakati untuk menggelar live event khusus untuk komunitas.

Menurut Sari, even ini dalam rangka sosialisasi musik jazz, khususnya untuk kalangan mahasiswa. “Mahasiswa-mahasiswa ternyata sangat antusias. Dan kita usahakan agar mereka tetap mencintai jazz. Jangan sampai lepas,” kata Sari seraya tertawa kecil.

Antusiasme anggota komunitas, ditambah kalangan ‘peninjau’ seperti mahasiswa jelas sebuah fenomena yang layak dirawat. Namun, di sisi lain, pengurus C-26 seperti Cak Rudi dan Ning Sari kewalahan karena kapasitas kafe alias arena live event dirasa kurang memadai. Belakangan anggota komunitas ini banyak menikmati sajian jazz di halaman Hotel Garden Palace, Jalan Pemuda Surabaya. Kebetulan di situ ada kafe, Sidewalk Cafe.

Yang jelas, sosialisasi jazz di kafe ini sedikit banyak telah memunculkan bakat-bakat baru di jazz Surabaya. Salah satunya Bagus, anak muda berusia 20-an tahun. Saksofonis muda ini selalu ditunggu-tunggu anggota C-26 karena penampilannya yang luar biasa di usia yang tergolong ‘hijau’.

“Saya terkejut sekali waktu pertama melihat Mas Bagus ini main saksofon. Dia ternyata main (jazz) mainstream, bukan nomor-nomor yang disukai anak muda seperti fusion atau acid jazz,” puji YUNI KAMAYA, penyiar Radio Star FM, yang bermarkas di Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Barto, pengurus C-26 Jazz Community--yang belakangan mendampingi Yuni Kamaya sebagai pengasuh acara jazz di Star FM--mengatakan, Bagus merupakan murid maestro jazz kita, Bubi Chen. Karena itu, tidak aneh kalau dia mampu memainkan nomor-nomor jazz mainstream dengan sangat bagus, sesuai dengan namanya.

“Soul-nya sangat terasa sekali. Mungkin itu tak lepas dari (maaf) penglihatannya yang agak kurang. Orang-orang seperti ini memang punya soul musik yang luar biasa,” ujar Barto. Kamis (23/2) malam, Barto secara khusus membahas be-bop di Star FM selama dua jam penuh.

Masih menurut Barto, selain Bagus, ada lagi beberapa anak muda yang memperlihatkan bakat besar di musik jazz. Karena itu, Barto optimistis pemusik jazz akan terus mengalami regenerasi, tumbuh, berkembang, menurut zamannya. Sehingga, kita tidak perlu khawatir jazz bakal hilang dari Surabaya, apalagi Indonesia.

Mengisi program jazz di Radio Star FM, kemudian menggelar live event setiap pekan di kafe, merupakan kiat pengurus C-26 Jazz Community untuk merawat komunitas penggemar jazz di Kota Surabaya dan sekitarnya.

Menurut Sari, rencana dan program sih sudah banyak dibuat oleh pengurus maupun members C-26 untuk menghidupkan musik jazz di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Namun, kesulitannya lagi-lagi terbentur di sponsor atau penyandang dana. “Mudah-mudahan ke depan semakin banyak pihak yang mau men-support musik jazz di Surabaya,” harapnya.

C.TwoSix Jazz Community
Jalan Medokan Ayu IIIC/26 Surabaya
ROEDI PURNAMA dan SARI
Telepon (031) 871 0034

Kresno Mulyadi Tersandung Kasus



Hingga Rabu (3/8/2006), masih banyak orang tak percaya atas musibah yang mendera KRESNO MULYADI yang kini mendekam di tahanan Polsek Tambaksari karena kasus penipuan. Lantas, siapa sesungguhnya pria yang karib disapa Kak Kresno ini?

Oleh AGUS WAHYUDI
Wartawan Radar Surabaya

SIANG itu, seorang bocah mungil bergerak gesit. Dia berlari-lari mengitari sebuah ruangan berukuran 4x6 meter. Ruangan itu menjadi tempat kerja dr Kresno Mulyadi SpKJ, psikiater kondang, pemimpin Yayasan Negeri Kuncup Bunga.

Kresno hanya tersenyum melihat ulah bocah itu. Kendati bocah berkulit bersih ini mengutak-atik seisi ruangan. Mulai dari mendorong kursi, bulpen, buku, tas, dan lainnya. Hanya sesekali, Kresno memeringatkan agar tak menyentuh barang-barang yang mudah pecah. Seraya mengelus-elus punggungnya, Kak Kresno meminta bocah itu berhat-hati. Bocah itu pun nurut.

Satu jam kemudian, gerak bocah manis itu mulai berkurang. Dia kemudian meminta susu ibunya yang juga berada di ruangan itu bersama seorang sekretaris Kak Kresno. Tanpa komando, bocah itu lalu beringsut di pelukan Kresno. Dia lalu tertidur dengan nyenyaknya.

Nama bocah itu KARTIKA NOVIRA ANGGRAINI (4 tahun). Dia adalah anak pertama Kak Kresno hasil pernikahan dengan SARAH ZULFI PRIHANTINI (28 tahun). Kartika punya adik, namanya KARINA NADYA PUSPITASARI (2 tahun).

Menurut Kresno, kualitas individu ditentukan pada usia balita (bawah lima tahun). "Jadi, orang tua harus berhati-hati dalam mendidik anak di usia itu. Usia anak-anak harus dibebaskan dari tekanan, kekangan, dan penindasan. Baik fisik maupun psikis," kata Kak Kresno, beberapa waktu lalu.

Kresno mengamini betul sebuah teori psikoanalisa. "Bahwa pada akhir tahun kelima, struktur dasar kepribadian seseorang sudah terbentuk. Sehingga, apa yang terjadi sebelumnya sangat menentukan. Apa yang terjadi sesudahnya adalah proses penghalusan dari struktur dasar kepribadian," jelasnya.

Kresno memang tak pernah lepas dari dunia anak-anak. Pria berkacamata kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 ini, juga mencatat banyak kesuksesan besar dari profesinya itu. Namun, sejatinya, kecintaan Kresno di dunia anak-anak ini ada sebabnya.

Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Mulyadi (asal Kebumen) dan Mariati (asal Klaten) ini, mengaku punya pengalaman pahit. Bersama kakak kembarnya, SETO, dia kehilangan adik kesayangannya, Arif Budiman. Adiknya itu meninggal dunia karena diare. Ketika itu, Kresno dan Seto berumur 4 tahun, dan Arif Budiman berusia 3 tahun.

"Saya sungguh sangat kehilangan dia. Kenapa individu yang layak kita jaga harus berpulang begitu cepat. Bahkan saya selalu tanya kepada kedua orang tua, kenapa nggak punya adik lagi. Rasa kehilangan itu sangat mendalam," kenang pria yang kerap mengasuh acara anak-anak di beberapa stasiun televisi swasta ini.

Pria kembar ini sebenarnya punya kakak pertama, bernama Budiharjo. Namun Budihardjo lebih menyukai berkarier di dunia kemiliteran.

Sepeninggal ayahnya pada 1966, tiga bersaudara ini kemudian dititipkan ke adik ibunya, Murtiningrum, di Surabaya. Kemudian sang ibu menyusul ke Surabaya, dan mereka mengontrak sebuah rumah sederhana.

Untuk bisa tetap sekolah, Kresno dan dua saudara melakukan kerja apa saja. Yang penting halal. Selanjutnya, Kresno diterima tes masuk perguruan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Sedang Seto diterima di Fakultas Psikologi UI. Sementara Budiharjo memilih masuk Akabri.

Kedua saudara kembar yang dikenal penyabar ini pun berhasil menggondol gelar sarjana. Tapi waktunya untuk mencurahkan perhatian terhadap anak tak pernah berhenti. Kresno berkibar dengan Yayasan Negeri Kuncup Bunga. Sementara Seto ikut membantu Pak Kasur, tokoh pendidikan anak yang sangat dikenal di Tanah Air.

Kecintaan Kresno terhadap dunia anak-anak mulai dikembangkan sejak semester 3 saat kuliah di FK Unair, 1975. Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam aksi nyata dengan mendirikan kelompok bermain 'Kerajaan Anak-Anak' di Taman Remaja Surabaya (TRS). Tiga tahun kemudian, tepatnya 22 Februari 1978, Kresno mendirikan Yayasan Negeri Kuncup Bunga.

Kresno pun juga pantas berbangga. Karena sekarang sudah ada 15 sekolah dari SD dan TK yang dibinanya. Sekolah-sekolah itu tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Denpasar, dan Manado. Konon demi mengembangkan Yayasan Negeri Kuncup Bunga ini, Kak Kresno akhirnya dililit masalah.

TAHUN 1983, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Kresno ditempatkan di Timor-Timor (Timtim), yang masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Ketika itu, ada instruksi presiden bahwa dokter-dokter muda wajib diterjunkan ke daerah-daerah pelosok. Kalau ditempatkan di Jawa, jangka waktunya lima tahun. Di luar Jawa tiga tahun, kecuali Papua dua tahun.

"Khusus Timtim hanya satu tahun karena suasana perang," cerita Kresno Mulyadi.

Awal-awal berada di Timtim tentu membuat jantung Kresno kerap berdebar kencang. Dia menyaksikan banyak ketimpangan sosial. Juga prahara yang selalu menyelimuti. Tak jelas siapa lawan siapa kawan. Pembunuhan bisa terjadi sewaktu-waktu.

"Untungnya, profesi dokter sangat dihormati karena masyarakat sangat membutuhkan dokter. Para gerilyawan Fretilin sangat senang dengan kehadiran dokter lantaran merasa keluarganya ikut terjaga," cerita Kresno.

Para dokter di Timtim tidak mendapat fasilitas memadai. Dengan fasilitas pas-pasan, para dokter berusaha bekerja maksimal. Mereka mengontrak rumah-rumah penduduk. Ada juga yang tinggal dan membuka praktik di rumah sanak saudaranya. Bila ada pasien yang butuh pertolongan, para dokter itu harus siap dijemput dalam kondisi apa pun

"Tapi saya sangat merasakan kehangatan penduduk di sana. Mereka rata-rata sangat baik dan santun," kenang Kresno.

Suatu ketika, Kresno bersama teman-temannya dikejutkan oleh laporan seorang wanita. Dia istri sopir yang sehari-hari mengantarkan para dokter. Singkat cerita, wanita itu melapor bahwa suaminya sudah berhari-hari tak pulang. Wanita itu takut terjadi apa-apa dengan suaminya. Menurut Kresno, sopir itu sangat ramah. Dia tak pernah usil dengan kegiatan yang dilakoni bersama teman-temannya. Sopir itu juga tak banyak bicara.

"Kalau nggak diajak ngomong, dia hanya diam," akunya.

Kresno bersama-sama temannya lantas mencari tahu di mana sopir itu. Salah satunya lewat aparat TNI yang bertugas di Timtim. Betapa kagetnya Kresno, saat mengetahui sopir yang dicari istrinya itu telah mati. Ia tewas dalam kontak senjata dengan aparat TNI. Kresno makin kaget lagi manakala sopir itu diketahui identitasnya sebagai Komandan Sektor Timur Fretilin.

"Kita nggak pernah menduga karena sopir itu sangat baik dan sopan. Kalau dilihat tampangnya tak terbesit sedikit pun kalau dia seorang pemberontak. Dia sangat menghargai kami. Wajahnya juga simpatik seperti Xanana Gusmao (Presiden Republik Timor Leste sekarang, red)," tandas Kresno yang kedua bola matanya terlihat menerawang.

Dalam ranah konflik di Timtim, Kresno dan juga dokter yang lain sebetulnya diberi keleluasan memegang senjata. Tapi Kresno menolak.

"Sebab, kalau bersenjata, saya yakin pasti ditembak oleh Fretilin. Mereka itu penembak jitu, tepat sasaran," jelasnya. "Makanya, para Fretilin merasa berterima kasih kepada kita. Kita tak pernah pasang wajah seram. Mereka pun selalu memanggil kita Pak Dok."

Keramahan dan kesantunan warga Timtim itu sangat membekas di hati Kresno. Kondisi ini membuat dirinya mudah bergaul dengan mereka. Kresno selalu mengedepankan dialog dengan masyarakat di sana. Kresno juga sangat terbantu karena dia bisa belajar Bahasa Tetun, bahasa ibu Timtim. Berlatar itu pula, Kresno pun bisa menembus hati para pemimpin di Timtim saat itu.

Tahun 1983, Kresno bersama Ny Mario Viegas Carascalao, istri gubernur Timtim saat itu, merintis sebuah yayasan yang khusus menangani pendidikan anak-anak. Namanya Itanian Doben (Kesayangan Kita). Ada dua dokter anak yang ikut membantu, yakni dr Hari Panarto dan dr Pudjo Hartono.

Yayasan itu berkembang cukup pesat. Lebih dari seratus anak menjadi muridnya. Materinya sama dengan yang diajarkan di Yayasan Negeri Kuncup Bunga: belajar dan bermain. Sasaran bidiknya anak-anak usia 1,5 tahun sampai 3 tahun. Kresno juga mengajarkan keluwesan untuk melakukan gerakan-gerakan motorik seperti memanjat dan melompat.

"Yang terakhir, saya dengar murid di yayasan itu sudah berkurang. Dan setelah Timtim berpisah dari NKRI, saya dengar sudah tak ada lagi," ungkap Kresno.

Sayang, tugas mulia itu harus berakhir. Kresno pulang pulang ke Surabaya, 1984. Tak lama, ia ditempatkan di Rumah Sakit Jiwa Lawang sebagai psikiater. Kresno masuk spesialisasi pediatri RSUD dr Soetomo, Surabaya dengan status pegawai negeri sipil pada 1985.

Bekerja di dua institusi membuat perhatian Kresno terbelah. Dia dihadapkan pada pilihan dilematis. Di satu sisi, Kresno harus melanjutkan kariernya sebagai PNS yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun. Dengan status PNS, paling tidak masa depannya cukup terjamin. Di samping gaji dan tunjangan, ia juga mendapat pensiun di hari tuanya.

Di sisi lain, dia harus mencurahkan perhatian ekstra besar terhadap Yayasan Negeri Kuncup Bunga yang dirintisnya sejak 1975. Belakangan, yayasan itu makin populer dan butuh penanganan serius.

Kresno ibaratnya tak bisa memegang dua kelinci sekaligus. Dia harus memilih. Sebab, dia merasakan betul kedua-keduanya tak bisa diperankan bersama-sama. Kegalauan itu membuatnya memberanikan diri menemui para pimpinan di bagian pediatri RSUD dr Soetomo. Intinya, ia bermaksud menanggalkan status PNS-nya. Keinginan Kresno itu sempat dicegah. Sampai dia diberi 'dispensasi' boleh mengurus yayasannya asal tidak meninggalkan tugasnya sebagai psikiater.

"Ternyata sulit. Saya tak bisa kerja setengah hati. Saya harus memilih. Saya tak ingin dua-duanya malah dirugikan. Dan itu terjadi," tukas dia.

Puncaknya, tahun 1998, Kresno pun pamit mundur dari PNS. Dia memilih berkosentrasi ke Yayasan Negeri Kuncup Bunga. "Pengabdian saya tetap pada anak-anak. Dan lagi saya kan tetap pegawai negeri, ya Negeri Kuncup Bunga," selorohnya.

26 September 2006

Dukun Lumpur Lapindo




Tiba-tiba saya ditelepon Muhammad Rosyid, 40 tahun, asal Watutulis, Kabupaten Sidoarjo. "Penting banget, ini demi kepentingan kita bersama. Saya hanya ingin bantu menyelamatkan rakyat Porong," ujar Rosyid buru-buru.

Rakyat Porong yang dimaksud tentu korban semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc. Gara-gara kesalahan fatal di Sumur Banjarpanji-1, Desa Renokenongo, terjadilah bencana dahsyat lumpur panas sejak 29 Mei 2006.

Mula-mula hanya 5.000 m3 sehari, lalu naik jadi 15.000 m3, naik lagi ke 50.000 m3... dan sejak pekan ketiga September 2006 sudah menjadi 26.000 m3 per hari. Ahli-ahli geologi bilan semburan bakal makin besar.

Mula-mula sekitar 10 ribu orang kehilangan rumah, halaman, sawah, harta benda; kemudian naik 15 ribu, naik lagi 20 ribu. Entah sampai berapa banyak. Kasus Lapindo ini menjadi masalah nasional, masuk koran dan televisi setiap hari.

Nah, si Rosyid ini mengaku bisa menghentikan semburan tersebut. Caranya? "Ya, pakai cara saya. Saya dapat bisikan khusus untuk membantu," tegas pria Watutulis itu.

Menurut dia, cara-cara ilmiah ala ahli pengeboran, misal relief well, snubbing unit, tidak akan berhasil. Percuma! "Wis ta, gak iso, gak iso! Iki persoalan gede."

Menurut 'wisik' yang diterima Rosyid, musibah lumpur panas Lapindo ini akibat kemarahan penguasa tanah Porong (mbahurekso) dan sekitarnya. Dia marah gara-gara rumah kediamannya dirusak oleh Lapindo. Manusia terlalu serakah, tidak tahu diri, sehingga perlu dikasih pelajaran.

"Ada naga besar di dekat pusat semburan lumpur. Banyak sekali. Naga-naga itu mengelilingi kompleks lumpur," jelasnya.

Sekali lagi ini berdasar 'bisikan' alam gaib.

Saya tanya, bagaimana cara meminta maaf dan meredakan kemarahan si penguasa Porong? "Nah, ini yang mau saya sampaikan. Tolong dimuat di koran supaya pemerintah dan Lapindo percaya," ujar pria yang mengaku bukan paranormal itu.

Caranya, ya, berikan sesaji. Rosyid merinci: Tujuh kepala sapi. Tumpeng dua buah. Ikan tujuh macam. Kembang tujuh macam. Kain mori.

"Murah sekali kok. Daripada pakai biaya miliaran rupiah, tapi hasilnya gak ada," tegas Rosyid. Dia sendiri yang akan melarung sesajen itu kepada simbah di Porong.

"Insya Allah, setelah tiga hari mampet. Saya yakin 99 persen berhasil. Insya Allah," ujarnya meyakinkan.

Tiga hari saja beres? Bukan main! Saya tertawa dalam hati, tapi juga kagum dengan keyakinan saudara kita si Rosyid ini.

"Kalau sudah mampet, syarat lain harus tanggap wayang kulit."

Anda sudah pernah coba ke lokasi? Rosyid mengaku sudah beberapa kali ke sana, namun selalu diusir petugas. Dia juga mencoba menawarkan jasa ke Pemkab Sidoarjo, tapi dihalang-halangi kaki tangan bupati dan wakil bupati. Dia dianggap orang gila.

"Makanya, saya minta bantuan wartawan agar bisa masuk," katanya. Anda minta bayaran berapa? "Wah, tidak asuh. Saya ini dapat wisik, hanya mau bantu. Wong saya punya pekerjaan kok."

Di saat bersamaan, Kepala Desa Kedungbendo Haji Hasan bikin sayembara. Siapa yang bisa menghentikan semburan lumpur, dapat rumah senilai Rp 80 juta.

Kebetulan Hasan ini pengembang rumah di kompleks lumpur. Tapi, sebelum ikut sayembara, Hasan bikin seleksi dulu. Dukun, paranormal, wong pinter, atau apa pun namanya dites mematikan air kran. Kalau bisa, silakan menghentikan semburan lumpur dengan cara apa saja.

Sampeyan nggak melu sayembarane Cak Hasan?

"Wah, Hasan iku ngawur. Semburan lumpur iku beda dengan air kran. Nggak bisa disamakan dan sama sekali tidak ada hubungannya," jawab M. Rosyid. Karena itu, dia tidak tertarik ikut sayembara berhadiah rumah tipe 36.

Begitulah.

Sejak lumpur mengganas di Porong akhir Mei (dua hari setelah gempa di Jogja), sudah ratusan dukun yang mencoba menghentikan lumpur dengan cara masing-masing. Sesajen, tumbal, kemenyan, puasa, tapa brata... sudah pernah dilakukan. Teman saya, Jalaluddin Alham, wakil ketua DPRD Sidoarjo, pun mencoba mencari tokoh yang dianggap mampu menyetop lumpur.

"Kita cobalah. Ibarat orang ke Jakarta itu kan jalannya macam-macam. Bisa naik pesawat, bus, kerata api, sepeda motor, perahu...," ujar Jalaluddin. Saya belum tanya hasil usaha ketua Partai Demokrat Sidoarjo itu.

Apa pun caranya, saya menilai Rosyid dan sekian ratus, bahkan ribuan orang, sudah berusaha menghentikan semburan lumpur. Bahwa hasilnya belum ada, bahkan lumpur bertambah dahsyat, ya, itulah kedaifan manusia. Manusia itu gak ada apa-apanya kalau dihadapkan pada kemahakuasaan Tuhan.

"Insyaflah, wahai manusia,
jika dirimu bernoda.
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan Tuhan.
Dengan tiada terkira dunia ini kan binasa..."


Begitu kata-kata Abdul Malik Buzaid dalam lagunya, Keagungan Tuhan.

Saya yakin, apa yang terjadi di Porong ini sebuah isyarat, tanda-tanda alam, agar manusia Indonesia insaf, taubat, kembali kepada-Nya.

25 September 2006

Elizabeth Weise: Wartawan Indonesia Superman




SABTU, 24 SEPTEMBER 2006.

Kami di RADAR Surabaya mendapat tamu istimewa dari Amerika Serikat. Dia ELIZABETH WEISE, wartawan senior USA Today. Koran ini paling besar di AS, oplahnya 2,5 juta kopi sehari. Di Indonesia, oplah koran terbesar masih di bawah 500 ribu.

Elizabeth ditemani MARY ELIZABET POLLEY dan ESTI DURAHSANTI, public affairs Konsulat Jenderal AS di Surabaya. Elizabeth Weise ramah, hangat, ekspresif, murah senyum, bersemangat.... Khas orang Amerika lah.

“Wow, saya kayak di rumah sendiri. Desain koran Anda kok mirip koran saya,” ujar Elizabeth. Kami, para redaktur dan beberapa reporter RADAR Surabaya, pun tertawa ngakak.

Maklum, wajah RADAR Surabaya yang terbit sejak 24 Januari 2001 memang ‘diilhami’ desain USA Today. Koran tujuh kolom, logotype pakai biru, kolom pertama untuk navigasi, pakai grafis. Mirip tapi tak sama. Sebab, font atau jenis huruf USA Today sulit ditiru. Di komputer paling canggih pun tidak ada. Maka, kami hanya mengadopsi logo, sementara font pakai times new roman kayak Jawa Pos, surat kabar induk.

Nah, kedatangan Elizabeth (juga ke Surya, AJI, koran kampus) adalah berbagi pengalaman soal jurnalisme di AS. Sebagai reporter senior sains dan teknologi, Elizabeth mau kasih ‘khotbah’ bagaimana mempersiapkan tulisan Iptek yang disukai pembaca.

"Saya memang spesialis sains,” kata Elizabeth.

Memang benar, saya sudah cek di internet dan USA Today, Elizabeth Weise ini ternyata bukan penulis sembarangan. Karya-karyanya tergolong kelas berat, masih sulit ditiru wartawan Indonesia mana pun.

BAGAIMANA Elizabeth Weise mempersiapkan tulisan Iptek yang sangat berbobot itu? Aha, wanita kurus ini kasih contoh tulisan nano technology yang baru dibuatnya. "Saya perlu empat hari,” katanya.

Hari pertama, ikut seminar, gali data sebanyak mungkin. Hari kedua, wawancara dengan sedikitnya tiga ahli yang sangat mumpuni di bidangnya. Hari ketiga, mulai mengetik bla-bla-bla.... Hari keempat, verifikasi data dan fakta.

Elizabeth harus menelepon ke sana ke mari, mengecek nama-nama, istilah, memverifikasi lagi apa yang sudah ditulisnya. Fact check, begitu istilah Elizabeth, sangat penting dalam jurnalisme.

“Hari kelima dimuat?” tanya saya.

“Oh, belum tentu. Saya hanya bisa menulis. Editor yang memutuskan naskah saya dimuat atau tidak,” ujarnya lalu tertawa kecil.

Liputan nano technology sepanjang 2.500 kata (ingat, bahasa Inggris lho!) sampai sekarang belum dimuat. Bisa jadi, redaktur alias editor belum puas atau kalah bersaing dengan tulisan wartawan lain.

Mendengar cerita Elizabeth, kami di Graha Pena hanya bisa geleng-geleng kepala. Empat hari satu tulisan? Bagaimana koran bisa terbit terus? Di sini, Indonesia, rata-rata wartawan JPNN menulis paling sedikit tiga berita sehari. Dua berita diangap tidak produktif. Satu berita sehari dianggap wartawan bebal. Waktu jadi reporter, saya selalu jadi ‘juara satu’ produktivitas: rata-rata enam berita per hari. Produktif tapi kurang mutu. Hehehe...

MAXIMUS THOMAS WODA WANGGE, bekas wartawan Jawa Pos di Brasil, bercerita kepada Elizabeth Weise bahwa dia harus mengisi tiga halaman Jawa Pos saat meliput Piala Eropa (Euro) 2004 di Portugal. Kali ini, giliran Elizabeth yang terkaget-kaget.

“Uiiiihh.. Anda kayak Superman aja,” tukasnya. Kami pun tertawa bersama. Hehehe...

Di sinilah, kata Elizabeth, sumber masalah AKURASI yang selama ini dikeluhkan pada semua media cetak dan elektronik di Indonesia. Berita-berita tidak akurat karena beban kerja penulis sangat berat. Verifikasi atau cek fakta malah tak sempat dilakukan.

Celakanya lagi, banyak wartawan yang main kloning, copy paste, nyolong detikcom (dan sejenisnya), atau minta berita pada temannya. Hasilnya, berita jadi tak karuan. Konsistensi data lemah, nama-nama orang sulit dipercaya.

Coba Anda baca empat koran tentang topik yang sama. Bisa dipastikan nama sumber yang sama ditulis berbeda-beda. Lebih parah lagi, di koran yang sama nama sumber yang sama bisa berbeda penulisannya di halaman satu dan halaman 10. Belum soal kutipan, deskripsi, plot cerita.

“Kalau Anda menulis terlalu banyak, ya, jelas akurasinya bermasalah. Itu sudah jelas,” kritik Elizabeth seraya tersenyum.

Di USA Today, setiap tulisan (kecuali breaking news) digarap dengan perencanaan matang. By design. Reporter sudah punya kerangka cerita (orang Amerika lebih suka menyebut berita dengan STORY, bukan NEWS), sumber-sumber yang diwawancarai, referensi, kemudian verifikasi. Disiplin verifikasi tidak bisa ditawar-tawar lagi.

"Kami punya empat wartawan iptek. Kami bersaing agar story kami bisa dimuat,” tutur Elizabeth. “Aha... kita di Indonesia, redaktur malah ‘mengemis’ berita dari reporter karena beritanya kurang. Kalau kita tiru cara USA Today, bisa-bisa koran kita tidak terbit,” bisik teman redaktur.

Menurut Elizabeth, tulisan-tulisan tentang iptek sangat perlu untuk memberi pemahaman kepada pembaca. Mendidik masyarakat lah. Kasus semburan lumpur Lapindo Brantas Inc sejak 29 Mei 2006 sebetulnya bisa dikemas menjadi tulisan sains yang menarik. Dia kemudian menulis kerangka stories di papan putih (white board).

“Buatlah semenarik mungkin, sederhana, sehingga pembaca tertarik. Begitu dibaca dia langsung tahu apa maksudnya dan bisa digunakan informasi itu,” jelas Elizabeth. USA Today punya semboyan NEWS YOU CAN USE.

Saat Amerika diterjang badai kathrina, misalnya, koran-koran Amerika, khususnya USA Today, memberikan panduan kepada warga yang akan mengungsi. Apa saja yang wajib diusung saat meninggalkan rumah. Persiapan klaim asuransi. Dan seterusnya.... Hanya dengan begitu, orang merasa bahwa baca koran itu ada gunanya. “Anda pun bisa bikin itu di sini,” kata Elizabeth.

KAMI juga bertanya tentang perkembangan koran lokal di Amerika Serikat. Maklum, RADAR Surabaya ini dirancang sebagai koran lokal Surabaya dan sekitarnya.

“Oh, kurang menggembirakan. Sekarang sedang menurun,” tegas Elizabeth Weise.
Kenapa? “Internet,” jawab Elizabeth. Anak-anak muda AS sekarang lebih familier dengan internet.

Mereka mencari informasi apa pun dari internet. Pembaca surat kabar saat ini berusia 50-60 tahun. Ada sih pembaca muda, remaja, di bawah 50, tapi tidak banyak. Selain itu, biaya iklan di internet jauh lebih murah.

“Hanya 10 persen dari biaya iklan di koran,” beber Elizabeth.

Nah, iklan itu darahnya koran atau media cetak. Kalau orang lebih suka pasang iklan di internet, apalagi pembacanya makin banyak, maka hari kematian media cetak sebetulnya sudah bisa diperkirakan.

"Saya kira, 10-15 tahun mendatang koran yang pakai kertas tidak ada lagi. Orang beralih ke internet,” ucap Elizabeth Weise. [Data dari Audit Bureau of Circulations di AS menyebutkan, tiras 20 surat kabar terkemuka AS sejak Oktober 2005 sampai 31 Maret 2006 menurun. Hanya lima koran yang oplahnya naik.]

Pernyataan Elizabeth Weise ini sama dengan JOHN MOHN, konsutan Grup Jawa Pos, yang berasal dari Kansas, Amerika Serikat. Indonesia masih beruntung karena pengguna internet sangat terbatas. Akses internet pun belum selancar di negara-negara maju. Meski begitu, peringatan Elizabeth Weise ini layak diantisipasi oleh media cetak di Indonesia. Kalau tidak, ya, bablas angine...

Di akhir kunjungan selama 76 menit, Elizabeth saya ajak melihat ruang redaksi (newsroom) kami. Pukul 16:00 lebih itu hanya ada satu reporter, DYAH SUKARTINI, sedang menulis berita iptek. Reporter lain masih di lapangan sehingga kantor kosong melompong.

“Hiii... newsroom Anda bagus, bersih sekali. Nggak kayak di tempat saya,” ujar Elizabeth. Masa sih? “Ya... bagus sekali.”

Saya kira, Elizabeth Weise ini tamu yang baik. Dia berusaha menyenangkan hati kami, setelah sebelumnya menyindir wartawan Indonesia dengan sebutan Superman. Boleh juga dia!

24 September 2006

Requiem untuk Tibo, Riwu, da Silva


TIDAK MANUSIAWI. Selepas eksekusi, mayat da Silva langsung ditanam oleh aparat negara RI tanpa upacara agama dan adat.

21 September 2006 pukul 16:51:01 WIB.

Saya mendapat pesan pendek (SMS) dari orang yang tidak saya kenal. Tapi, rupanya, dia kenal saya, tahu nomor ponsel saya. Tahu siapa saya.

Pesannya dari ponsel 0813305863xx itu berbunyi:

"Tibo cs mau dieksekusi jumat dini hri (Doa 3X BAPA KAMI) kirim ke 10 org tman, jgn sampai putus di tngan anda, mujizat akan terjadi spt yg trtulis dlm kisah DANIEL ...!"



Keluarga almarhum yang berdukacita. Oh may God!

Jelas, pengirim SMS ini orang beriman, sering baca kitab suci. Tapi me-foward SMS ke 10 teman? Maaf, saya sejak dulu tidak melakukannya. Saya curiga, jangan-jangan penggagas pesan ini sudah 'bekerja sama' dengan perusahaan seluler.

Toh, semua orang tahu bahwa pada 22 September 2006, pukul 01:45 Wita Fabianus Tibo, Marinus Riwu, Dominggus da Silva meregang nyawa di depan regu tembak.

Ketiganya dianggap 'dalang' kerusuhan Poso, sehingga layak beroleh ganjaran mati. Mata ganti mata... nyawa dibalas nyawa!

"Proses hukum sudah selesai, sehingga harus dieksekusi. Aturan hukumnya begitu," berkata Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Sebagai hamba hukum, Abdul Rahman mau tak mau melihat dari kacamata hukum positif, legal-formal. Dia bicara dengan tenang, tanpa emosi apa-apa. Ah... hamba hukum!

Dalam kasus Tibo ini, saya juga mendapat sekitar 20 SMS lain yang isinya hampir sama: berdoa agar Tibo cs tak jadi dieksekusi pada 12 Agustus 2006. "Doa kita dikabulkan Tuhan...," kata sebuah SMS begitu rencana eksekusi pertama batal.

Artinya, doa 'tahap dua' tidak dikabulkan Tuhan? Hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, mati hidup manusia itu ada di tangan-Nya. Manusia--termasuk jaksa agung, ketua MPR, presiden, ketua DPR, aktivis HAM--sebetulnya tak punya kapasitas apa-apa untuk mencabut nyawa manusia di Indonesia.



Setelah digali, jemazah da Silva disemayamkan di gereja, lalu misa requiem.

Saya asli Flores, beragama Katolik... sama dengan Tibo cs. Hanya beda kabupaten. Tapi sejak awal saya tak ingin melihat kasus Tibo cs ini dari perspektif orang Flores atau orang Katolik. Saya melihat Tibo cs sebagai manusia biasa, petani kecil, di Sulawesi Tengah. Mereka miskin di Flores, sehingga bertransmigrasi di Sulteng, menikah, punya istri-anak di sana. Sekali lagi, petani miskin!

Hebat benar Tibo cs bisa menjadi dalang atau actor intelectualis di balik kerusuhan Poso sejak 2000? Mereka punya kemampuan mengerakkan massa, menimbulkan perang saudara pada 23 Mei sampai 1 Juni 2000?

Saya, wong cilik asal pelosok Flores Timur, sampai hari ini belum paham apa gerangan yang terjadi di Poso. Di Maluku, Kalimatan (Dayak-Madura), serta serangkaian konflik di tanah air sejak reformasi bergulir.

Setelah Tibo cs ditembak mati, atas nama penegakan hukum, akankah kasus Poso selesai? Bom tak ada lagi? Rakyat aman, damai, sejahtera? Entahlah.

Sebagai wartawan, terus terang saja, saya muak membaca berita-berita kerusuhan, khususnya Poso dan kawasan lain di Sulawesi Tengah. Ditemukan bom aktif di depan gereja. Senjata rakitan. Pendeta ditembak saat berkhotbah. Tentara vs polisi kisruh. Dan lain-lain.

Saya sedih melihat foto mayat Dominggus da Silva ditanam begitu saja oleh aparat negara di Palu. Tak ada ritual agama serta adat layaknya orang Flores. Di mana hati nurani aparat itu? Siapa yang memerintahkan begitu?

Jangankan manusia, di Flores sana, binatang yang mati pun tidak ditanam begitu saja. Sehabis berburu binatang liar (celeng, kijang, rusa), bapak-bapak di kampung membuat upacara khusus untuk menghormati 'nyawa' makhluk hidup. Dus, tidak sembarangan. Lha, jenazah almarhum Pak Silva kok ditanam begitu saja tanpa sepengetahuan keluarganya?

Saya tidak tahu bagaimana perasaan jaksa agung dan aparat eksekutor yang menanam mayat manusia tanpa hormat itu. Syukurlah, jenazah Tibo dan Riwu diserahkan kepada keluarga, disemayamkan di gereja, lalu misa requiem.

Saya berharap, apa yang menimpa mayat da Silva ini hanya sebuah 'kecelakaan' yang tidak disengaja. Kalau warga Maumere merusuh, 22 September 2006, saya yakin, akibat perilaku aparat yang tega menanam mayat Dominggus da Silva, warga Maumere, tanpa hormat itu.

Tampaknya, pemerintah kita perlu belajar menghargai hak-hak manusia, menghargai nyawa manusia, juga menghargai orang yang sudah meninggal dunia. Siapa pun dia--terpidana, teroris, penjahat, pejabat, petani--manusia begitu berharga di mata Allah.

Bukankah kita semua sama-sama makhluk Allah yang tidak pernah luput dari salah dan dosa? Luar biasa kalau pemerintah, aparat, jaksa agung, politikus, parlemen... merasa lebih suci, sehingga memperlakukan jenazah orang mati kayak kasus Dominggus. Syukurlah, mayat Domingus digali kembali untuk mendapat penghormatan yang layak. Pihak keluarga di Maumere pun menjemput agar dimakamkan di kampung halaman, Maumere.

Akhirnya, perjalanan Tibo, Riwu, Silva yang melahirkan kontroversi berkepanjangan itu usai di depan regu tembak. Saya hanya bisa berdoa agar ketiga almarhum diampuni dosa-dosanya, diberi kebahagiaan abadi di alam sana. Juga semoga kasus Tibo cs ini membawa hikmah kebijaksaan bagi para pemimpin dan bangsa Indonesia umumnya.
Sebagai jemaat Katolik, walaupun sering terlambat misa di gereja, saya mendaraskan REQUIEM untuk Tibo, Riwu, dan Silva:

REQUIEM AETERNAM DONA EIS DOMINE
ET LUX PERPETUA LUCEAT EIS
TE DECET HYMNUS DEUS IN SION ET TIBI
REDDETUR VOTUM IN IERUSALEM
EXAUDI ORATIONEM MEAM AD TE OMNIS
CARO VENIET.

AMEEEEEN!!!!

22 September 2006

The Gembell's Legenda Musik Surabaya




Oleh Lambertus Lusi Hurek

AHA... saya tiba-tiba teringat VICTOR NASUTION, pemusik senior yang kini tinggal di Jalan Ahmad Yani 60 Bogor. Teleponnya (0251) 312333.

Dia ini pemimpin GEMBELL'S GROUP, band legendaris asal Surabaya yang sangat terkenal pada 1970-an. Tiap kali duduk di tepi Kali Mas, saya ingat lagu BALADA KALIMAS milik mereka. Grup ini pernah menjadi ikon Surabaya.



Saya beruntung diberi kesempatan melakukan wawancara khusus oleh Victor Nasution pada 18 Juni 2004 di Balai Pemuda Surabaya. Waktu itu THE GEMBELL’S baru saja tampil menemui penggemarnya di Surabaya. “Anda beruntung karena ini momen bersejarah. Saya tampil setelah 15 tahun tidak pernah tampil di mana pun,” jelas Victor kepada saya.

Pria berdarah Tapanuli ini leader, komposer, vokalis, THE GEMBELL'S.

"Sungguh, 15 tahun saya tidak nyanyi. Makanya, saya deg-degan juga waktu panitia dan koran RADAR Surabaya meminta saya dan Gembell's Group tampil lagi di Surabaya. Ini sebuah kejutan bagi saya dan, mungkin, masyarakat Surabaya," tambahnya.

Selain VICTOR NASUTION, band ini diperkuat PARDI ARPIN (gitar), HARI DH (kibod), SONNY (drum), ISAK (bas), dan EDO (bongo, timpani). Istri dan anak Victor--DEDE DIANA dan VANKHA VICTOR--menjadi backing vokal.

Musik GEMBELL'S bernapaskan kepahlawanan dan kritik sosial. Mereka menyoroti berbagai persoalan di masyarakat.

"Usia saya sekarang sudah kepala enam. Mick Jagger pun kalau diminta menyanyi sekarang tidak akan bisa seperti masa jayanya pada tahun 1970-an. Kita memang nggak bisa melawan usia," papar pria yang berusia 60 tahun itu.

DIBENTUK Victor Nasution pada 1972, band arek-arek Suroboyo ini sengaja mencari warna lain. Ketika band dan pencipta lagu umumnya bicara tentang cinta--jatuh cinta, putus cinta, naksir sana-sini--Victor mengusung peristiwa sosial. "Karena saya memang tidak punya kemampuan untuk menulis lagu-lagu cinta," ujarnya. "Saya ingin agar grup Surabaya itu berbeda dengan grup-grup Jakarta."

Maka, lahirlah hits GEMBELL'S seperti BALADA KALIMAS, SURAPATI WIRA NEGARA, HEY DOKTER, GADIS MEJENG DI JALAN, PAHLAWAN YANG DILUPAKAN, DOLA-DOLI, PERISTIWA KAKI LIMA. Semuanya bicara tentang pahlawan atau situasi sehari-hari yang disaksikan The Gembell's, khususnya Bang Victor, di Surabaya. "Sebelum orang membuat lagu berisi kritik sosial, GEMBELL'S sudah lama melakukan."

Mencermati lirik-lirik GEMBELL'S, kita bisa memotret keadaan Surabaya pada 1970-an hingga 1980-an. Dalam BALADA KALIMAS, Victor mengenang masa keemasan Kali Mas. Sungai kecil di dalam Kota Surabaya itu elok, menjadi lalu lintas perdagangan. Belakangan Kali Mas tercemar, kotor, penuh sampah, tak bisa dinikmati.

"Saya heran, kok Kali Mas sampai sekarang belum dibenahi. Mungkin kritik saya lewat lagu itu nggak sampai," kata Victor Nasution perlahan.

Masalah kaki lima, penggusuran pedagang kaki lima, pun bukan masalah baru. Victor dan GEMBELL'S meneriakkan kasus lawas Surabaya itu dalam nomor PERISTIWA KAKI LIMA. Para PKL digusur, digusur, dan terus digusur tanpa ada solusi cerdas. Sudah lebih dari 30 tahun kasus itu berulang, sehingga Victor terkesan putus asa. "Kita tidak tahu sampai kapan PKL-PKL itu tidak digusur lagi," tuturnya.

Lagu ihwal kaki lima ini, kata Victor, membuat marah petinggi Surabaya waktu itu. Akibatnya, PERISTIWA KAKI LIMA dilarang diputar di radio-radio swasta. Victor tak ambil pusing, karena mereka masih bisa menyanyikannya di show-show panggung.
Satu lagi kasus khas Surabaya yang bertahan sampai sekarang.

Apa itu? Hmm... kompleks pelacuran Gang Dolly, Jarak, Moroseneng, Bangunsari, Kremil, dan sejenisnya. THE GEMBELL'S, sebagai band asli Surabaya, melihat hal ini sebagai masalah sosial yang harus dicarikan jalan keluarnya. DOLA-DOLI, lagu ciptaan Pardi Arpin (gitaris, vokalis), menjadi semacam potret para pekerja seks.

"GADIS CANTIK
KUAJAK DIA BERNYANYI (bisa karaoke lagi! hahaha...)
SATU LAGU MASA KINI
MEMANG ASYIK,
MEMANG ASYIK BERCINTA DENGAN DOLA-DOLI...”

Begitu lirik nakal khas Cak Pardi, sahabat karib almarhum Gombloh.

Kompleks pelacuran Gang Dolly bukannya hilang, tapi justru semakin luas. Awal September 2006 jumlah wisma di Dolly sekitar 70, dengan omzet Rp 1,6 miliar per hari. Tarif PSK berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu short time (sekitar satu jam). Rata-rata satu PSK melayani 15 tamu semalam. Menjelang Ramadan atau peak season bisa mencapai 20-25 tamu. Gila! Pembagian rezeki: 60 persen untuk muncikari, 40 persen untuk PSK.

Tapi bercinta dengan PSK Dolly saja tak cukup. Bukankah semua pria hidung belang selalu ‘bercinta’ di atas ranjang?
Nah, solusi versi The Gembell's barangkali bisa dipertimbangkan:

"KUANTAR PULANG KE KAMPUNG.
SAYA PAKAIKAN KEBAYA,
PAKAI KERUDUNG....

Nah, ujung-ujungnya gadis Dola-Doli itu dinikahi, menjadi istri sah. Hayo, siapa berani mengikuti saran The Gembell's? Saran ini juga disampaikan Bambang Sujiyono, seniman dan bekas anggota DPRD Surabaya/DPRD Jawa Timur beberapa tahun lalu.

DI masa jaya The Gembell's, 1970-an hingga 1980-an, penguasa Republik Indonesia dan Pemerintah Kota Surabaya bermuka dua. Satu sisi THE GEMBELL'S dibenci, lagu-lagu kritik sosial dicekal, karena membuat merah kuping pejabat. Sisi lain Presiden Soeharto sempat memberikan penghargaan khusus kepada Victor dan kawan-kawan. THE GEMBELL'S dianggap sebagai grup yang mampu mengangkat tema pahlawan ke musik.

"Penghargaan dari Pak Harto itu masih saya simpan," ujar Victor Nasution.

Delapan album berhasil dicetak THE GEMBELL'S. Mereka konsisten dengan tema pahlawan dan kritik sosial sampai grup ini vakum sejak 1989. "Saya tidak tahu apakah setelah ini THE GEMBELL'S masih tampil lagi," kata Victor.

Tapi, yang pasti, THE GEMBELL'S sudah berhasil menjadi legenda Indonesia. Waktu, sang 'hakim agung', telah menguji konsistensi mereka.

21 September 2006

Aku Terkenang IDA LAILA



Ida Laila bersama S. Achmadi, pimpinan OM Awara [pecahan OM Sinar Kemala].

Di Flores Timur hingga 1980-an ada ‘tradisi’ perantau yang baru pulang dari Malaysia atau Jawa memutar lagu keras-keras. Pakai load speaker merek TOA, mirip kerucut, ditaruh di atas tiang tinggi di halaman rumah. Lalu, volume disetel maksimal sehingga terdengar sampai radius 100-200 meter.

Orang kampung macam saya sama sekali tidak terganggu, justru sangat senang. Kami bisa dengar lagu-lagu baru yang tak pernah ada di kampung. Keluarga kami terlalu miskin untuk beli kaset, piringan hitam, salon, tape recorder.... Itu barang mewah lah!

Nah, IDA LAILA (nama aslinya MURAH HATI, sekarang 63 tahun) ternyata menjadi salah satu penyanyi favorit para perantau yang baru balik kampung itu. Suaranya agak sengau, melankolis, penuh penghayatan, cengkok melayu, agak kasidah. Syair-syairnya umumnya berbau religius. Mengajak manusia bertaubat, mengubah kelakuan, tidak larut oleh gemerlap dunia.

Bagi orang kampung miskin, syair-syair macam begini sangat cocok. Orang dikuatkan bahwa di mata Tuhan kaya-miskin sama saja. Dus, tak perlu berkecil hati jadi orang miskin. Berbahagialah orang yang miskin..., kata kitab suci.

Saya coba-coba membuka memori masa kecil saya di Pulau Lembata, Flores Timur. Aha... saya ingat dua lagu Ida Laila: Keagungan Tuhan dan Siksa Kubur. Karena tak punya tape recorder, desa tak ada listrik, saya bersama teman-teman cilik bertandang ke rumah om-om yang baru pulang dari Sabah atau Sarawak. Tujuannya, ya, dengarkan lagu. Dua lagu tadi jadi favorit orang kampung.

“Hancur lebur tulangnya
Serta hangus tubuhnya
Karena diimpit bumi dan dibakar api
Sebagai balasan oooh..
Dosa yang dilakukan...”


Begitu kira-kira petikan lirik ‘Siksa Kubur’ yang terekam di otak saya, di usia kepala tiga ini. Dibakar api? Apa tidak panas? Ngeri sekali.

Saya tanyakan ini kepada guru agama (Katolik). Dia bilang api neraka itu panas. Panas sekali, sehingga sulit dibandingkan dengan panasnya api mana pun di dunia. Berapa derajat celcius ya? Karena itu, kata Pak Paulus Lopi (almarhum), anak-anak jangan nakal, jangan berdosa, sehingga tidak masuk neraka.

“Masuk surga saja,” kata Paulus. “Di sana penuh kebahagiaan, berlimpah-limpah air susu dan madu.” Hmmm...



“LAGU saya Keagungan Tuhan itu semakin populer setelah dibawakan Ida Laila. Kami rekaman di RRI Surabaya tahun 1964. Di mana-mana diputar orang, dinyanyikan di kampung-kampung,” kata Abdul Malik Buzaid alias A. Malik Bz., pencipta lagu-lagu pop melayu pada 1960-an di Sidoarjo.

Abah Malik, yang tinggal di Kureksari, Waru, Sidoarjo, kerap saya temui untuk diskusi musik atau wawancara seputar kebudayaan.

Berbeda dengan penyanyi sekarang yang lebih mementingkan penampilan fisik, Ida Laila semata-mata mengandalkan olah vokal. Suaranya renyah, ekspresinya hebat. Dia larut dalam syair. Saat dia nyanyi Siksa Kubur (ciptaan Achmadi, 1976), pendengar cilik macam saya bisa membayangkan penderitaan orang penuh dosa yang mendapat siksaan.

Terus terang, saya takut sekali pada masa kecil dulu. Begitu juga saat membawakan Keagungan Tuhan, yang isinya meminta manusia insaf.

“Insaflah, wahai manusia, jika dirimu bernoda. Dunia hanya naungan ‘tuk makhluk ciptaan Tuhan....”

Mulai rekaman pada 1964, Ida Laila digandeng Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang sangat terkenal di Surabaya. OM Sinar Kumala dipimpin Abdul Kadir (almarhum), diperkuat antara lain oleh Malik Bz, pencipta Keagungan Tuhan. Waktu itu Ida tampil di hajatan kecil di Tanjung Perak, Surabaya.

Setelah itu, ia bergabung dengan sejumlah grup macam OM Awara, OM Sinar Mutiara, OM Sonata, OM Sanata. Seperti penyanyi dangdut sekarang, penyanyi pop melayu masa itu pun tak pernah terikat di satu grup. Cari makan tidak bisa di satu tempat karena pasti tidak cukup.

"Lagu Keagungan Tuhan membuat saya dikenal luas oleh masyarakat," aku Ida Laila) di rumahnya Jalan Cancer 3 Surabaya.

Dengan OM Awara, Ida merilis sekitar 18 piringan hitam. Dengan OM Sinar Mutiara tujuh album. OM Sonata sekitar lima album. OM Sanata satu album. Karena fokus di dakwah dan tak punya arsip yang rapi, Mbak Ida lupa berapa persis album rekaman (PH, kaset, CD) yang pernah dirilisnya. “Album Sepiring Berdua rekaman tahun 1987 saja saya tidak punya," ujar suami Cak Mulyono ini.

Pada 1964 hit Keagungan Tuhan (karya A Malik Bz) diproduksi RRI Surabaya. Album Perintah Ilahi 1967 dan Siksa Kubur 1976.
"Rekaman terakhir lagu-lagu dangdut pada tahun 1997 di studio rekaman Indra Record Surabaya. Isinya lagu-lagu nostalgia," ujar Ida Laila.

DI usia yang semakin matang, Ida Laila memilih lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apalagi setelah ia pulang berhaji pada 1994. Penyanyi legendaris ini mengaku sibuk dengan kegiatan dakwah Islam. Ceramah di mana-mana, jadwal padat. Dia tak tertarik lagi pada dunia hiburan yang glamour.

Buat apa? Bukan masanya lagi. Dia toh sudah kenyang asam garamnya kehidupan, dielu-elukan sebagai artis kelas satu di Indonesia dan negara-negara serumpun. Sekarang Ida Laila lebih dikenal sebagai ustazah yang sangat diminati di Jawa Timur.

Dakwahnya mengena, apalagi para pendengar umumnya punya memori kolektif tentang Ida Laila. Saya pernah menyaksikan betapa ibu-ibu kagum dengan kepribadian Ida Laila yang santun, religius, membawa mereka ke jalan Tuhan, amar makruf nahi munkar.

Ibu enam anak (satu meninggal dunia) serta nenek enam cucu ini hidup sederhana di Surabaya. Rumahnya biasa-biasa saja kayak orang kebanyakan. Tak ada kesan bahwa dia bekas artis yang sangat berjaya di masa mudanya.

"Saya sudah tidak ingin apa-apa lagi, kecuali ridla Allah. Saya berusaha menjalankan semua perintah Allah," ujar Ida Laila.

Surabaya Symphony Orchestra




Nama Solomon Tong tak asing lagi di dunia musik, khususnya musik klasik di Surabaya. Berkat beliaulah, sejak 1996 terbentuk Surabaya Symphony Orchestra (SSO), satu-satunya orkes simfoni di Jawa Timur.

Orkes simfoni ini mendapat dukungan luas dari sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Visi dan Misi (sebuah persekutuan para pengusaha Kristen) dan para donatur.
Rata-rata setiap tahun SSO menggelar tiga sampai empat kali konser besar di ballroom Hotel JW Marriott (dulu Hotel Westin) Jl Embong 85-88 Malang, Surabaya.

Pada 12 April 2005 SSO dengan dirigen Solomon Tong berhasil menggelar konser ke-37. Seperti biasa, penonton penuh, sekitar 1.000 orang.

SOLOMON TONG lahir di Xia Men, China, 20 Oktober 1939, Tong dikenal juga sebagai vokalis bersuara tenor. Belajar teknik vokal pada Le Clerg van Hammel (1956), kemudian Magda Ang (1958-61). Belajar teori musik pada Slamet Abdul Sjukur (1957).

Solomon Tong kemudian mengajar dan memimpin berbagai kor sejak 1957 sampai sekarang. Tong juga banyak mendirikan organisasi, lembaga, sekolah, bahkan gereja di Surabaya.

Beberapa organisasi yang didirikan Solomon Tong:

Sekolah Musik Surabaya, 1987
Surabaya Symphony Orchestra, 1996
Surabaya Oratorio Society, 1997 (kor yang selalu mendampingi SSO)
Sekolah Musik Orkestra Internasional, 2001
SSO Girl Singers, 2004
Sinode Gereja Kristen Abdiel Surabaya, 1976
Sekolah Tinggi Teologia, 1986
Balai Pengobatan Trinitas, 1985
Persekutuan Pengusaha Kristen Visi dan Misi, 1994
Yayasan Pendidikan Visi dan Misi, 1999.


Di usianya yang sudah tak muda lagi, Solomon Tong tetap semangat menghidupkan musik klasik, khususnya orkes simfoni. Ia mampu meyakinkan sponsor, punya penggemar tetap, sehingga mampu menggelar konser secara teratur di Surabaya.

FOTO: Latihan SSO. Pemain muda sangat dominan di SSO.

Surabaya Symphony Orchestra (SSO) tergolong orkes simfoni yang unik. Kenapa? SSO yang dipimpin Solomon Tong ini lebih banyak menghasilkan pemain sendiri ketimbang 'mempekerjakan' pemusik-pemusik luar. Proses belajar, kaderisasi, regenerasi, terus berjalan di SSO.

Jangan heran kalau di SSO usia pemusik sangat bervariasi, mulai anak-anak SD hingga kakek-kakek dan nenek-nenek. Menurut Tong, sang dirigen, sejak SSO didirikan tahun 1989 animo anak-anak Surabaya untuk belajar instrumen gesek (violin, viola, cello) meningkat tajam.

"Dulu anak-anak lebih suka belajar piano. Sekarang banyak yang
beralih ke alat gesek agar bisa main bersama symphony orchestra," kata Tong dalam beberapa kesempatan.

Khusus seksi gesek (string section), pemain SSO memang sangat banyak, lebih dari cukup. Karena itu, persaingan untuk mendapat tempat di orkes utama sangat ketat. "Kami punya tiga lapis pemain. Ada pemain senior, lapis kedua, dan lapis ketiga. Mereka bisa dipakai sewaktu-waktu manakala dibutuhkan," ujar Solomon Tong, kakak kandung Pendeta Dr Stephen Tong yang terkenal itu.

Sayang sekali, sampai sekarang--seperti juga orkes simfoni di Jakarta--sejumlah pemusik mau tidak mau harus didatangkan dari Jogja. Mereka ini rata-rata pemusik lulusan ISI (Institut Seni Indonesia), yang punya jam terang cukup tinggi. Karena itu, mereka tidak membutuhkan waktu latihan yang lama menjelang konser SSO di Surabaya. Adaptasi dengan pemusik-pemusik di Surabaya pun tidak sulit.

"Wis pas, gak angel," ujar Hendrikus Mulyadi, peniup flute.

Berikut susunan pemain SSO.

1. Dirigen : Solomon Tong
2. Flute : Hendrikus Mulyadi, Tetres Susanto
3. Oboe : Sritanto, Agus Pramono
4. Klarinet : Suryanto Wijaya, Heri Murbiyanto
5. Basson : Siswanto Wignyo Sasunu, Teguh Imandriadi
6. French Horn : Eddi P, Ganang
7. Trumpet : YK Maryono (Momon), Budi Wiryawan
8. Trombone : Wening, Dede Pardede
9. Timpani : Fataji Susiadi
10. Violin I : Anton Wijaya, Pratiwi Asmorowati, Shienny
Kurniawati, Daniel Chandra, Sulistyo Hadi, Agnes Poegoeh, Stephanie Tanumidjaja, Erwin Junaedi Tjahja, Kevin Atmadja, Grace Rozella Soetedja.
11. Violin II : Joseph Mariadi, Hanike Michelle, Irene Handojo, Ita Theresia, Jacqueline Chandra, Angela Soegito, Rita Agustin.
12. Viola : Y Edhi Susilo, Iwan Pamungkas, Sagaf Faozata,
Alvine Kurniawan, Sardjoko, Sanjung, Hans H Magawe.
13. Violincello : Songga, Budi Kartono, Nungke Verida, S Braga, Christian Xenophanes, Monica Ika Rachmawati, Melia Vanda.
14. Contrabass : Hendi Widodo, Sudirastono
15. Piano : Ester Karlina Magawe

SURABAYA PERLU CONCERT HALL

Ironis. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, sampai sekarang Surabaya belum punya concert hall atau gedung kesenian yang layak. Akibatnya, acara-acara musik klasik, jazz, akustik, terpaksa digelar di ballroom hotel, Balai Pemuda, auditorium kampus, atau gedung serbaguna.

Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri Surabaya Symphony Orchestra (SSO) sudah lama 'berteriak' soal concer hall di koran-koran Surabaya. Namun, reaksi dari Pemkot Surabaya sendiri sampai sekarang biasa-biasa saja. Gedung kesenian dianggap bukan prioritas rakyat! Berikut petikan percakapan dengan Solomon Tong, April 2005 di markas SSO Jalan Gentengkali 15 Surabaya.

Apakah Bapak puas dengan konser SSO di dalam hotel bintang lima?

Kalau dilihat dari jumlah penonton kami selama delapan tahun belakangan, saya sangat puas. Dalam arti isi konser SSO dapat diterima dan disukai masyarakat Surabaya, terbukti gedung berkapasitas seribu orang selalu penuh. Full house.

Bagaimana dengan gedungnya sendiri? Katanya tidak cocok untuk konser musik klasik?

Memang. Ballroom hotel bintang lima memiliki karpet tebal yang dapat menyerap suara. Tapi kalau kita bicara mengenai kualitas suara untuk musik akustik atau unplugged sebenarnya di Surabaya, bahkan Indonesia, tidak ada yang dirancang khusus untuk itu.

Karena itu, kami siasati dengan sound system yang profesional agar mencapai kualitas suara layaknya di dalam gedung konser. (Sejak berdiri pada 1996, SSO selalu menggelar konsernya di ballroom Hotel JW Marriott di Jl Embong Malang Surabaya, yang dulu bernama Hotel Westin.)

Bagaimana kalau konser di gedung serbaguna?

Kalau SSO konser di gedung serbaguna maka segmennya menjadi lebih luas, yakni semua kalangan masyarakat. Tapi audiens reguler yang selama ini mengikuti konser-konser SSO seperti perwakilan asing, pejabat negara, pengusaha, budayawan, akan keberatan.

Kenapa? Selain faktor keamanan, tidak ada fasilitas parkir seperti di hotel bintang lima. Mereka juga akan keberatan dengan suasana saat konser seperti bunyi HP, orang-orang bicara keras, mungkin berjalan hilir mudik selama musik sedang dimainkan.
Jadi, yang ditekankan adalah image dari konser itu sendiri yang memang sangat dipengaruhi oleh keberadaan audiens, suasana lingkungan, atmosfer gedung baik di dalam maupun di sekitar gedung.

Untuk ke depannya?

Saya berharap kelak ada sebuah gedung konser yang berkelas yang diciptakan dengan serius dan cermat dalam bidang akustik dengan sarana dan prasarana seperti tempat parkir yang memadai. Dan masalah ini diserahkan saja kepada pemerintah.

Kenapa harus pemerintah?

Pertama, orientasi pembangunan sebuah gedung konser bukanlah bisnis melainkan pengembangan budaya musik klasik di Indonesia. Pembangunan dan perawatan kan butuh biaya. Kita khawatir, jika ditangani swasta gedung itu berubah fungsi menjadi gedung serbaguna.

Kedua, Surabaya sudah punya SSO (Surabaya Symphony Orchestra) sehingga gedung itu tidak akan nganggur. Kalau sudah ada gedung, saya yakin akan muncul orkes-orkes simfoni yang lain di Surabaya.

Mungkinkah gedung itu terwujud?

Kenapa tidak? Jika semua elemen berbagi visi yang sama maka Indonesia bisa memiliki gedung konser yang representatif.


SURABAYA SYMPHONY ORCHESTRA

Jalan Gentengkali 15 Surabaya
Telepon 031 531 3297, 534 2440
Faksimili 6231 5342440
Email: symphony_sso@yahoo.com


Website:
http://surabayasymphonyorchestra.com

20 September 2006

Obbie Messakh Raja Pop Manis




Saya main-main ke rumah sebuah keluarga Flores, NTT, di kawasan Sidoarjo, tetangga terdekat dari Kota Surabaya, belum lama ini. Begitu masuk, aha, terdengar lagu-lagu Obbie Messakh yang manis dan nelangsa. Musiknya khas JK Records garapan Hengky Firmansyah. Saya kenal 100% lagu lama itu.

Ini dia syairnya:

Hati siapa yang takkan hancur,
bila di depan mata dia bercumbu.
Insan yang mana yang tak jadi benci,
bila cinta yang indah jadi kelabu.
Kau yang kusayang mengapa berdusta
Tak cukupkah satu untuk dirimu.

Inikah sumpahmu yang kau ucap dulu
Sehidup semati kita berdua
Belum mati saja kau buat begini
Apalagi bila aku mati

Pandainya matamu menyimpan dia yang lain
Seakan tak pernah ada aku di hatimu
Pandainya lidahmu memutar balik kata
Kau kejam, kau sakiti insan lemah ini
Kau kejam seakan tak pernah ada hatimu.

Jangan bicara CINTA lagi
Tlah tertutup pintu hati ini
Jangan lagi kau datang di sini
Tlah ku hapus namamu di hati.


Hari lain saya ketemu mahasiswa asal Flores. Mereka minum kopi, salah satunya pegang gitar. Jreng-jreng…

“Kutrima suratmu kasihku,
yang kau kirim dari seberang sana.
Dalam kata-kata kau ucap hati rindu,
selamanya sebuah penantian…
Biarlah di dalam mimpiku dan mimpimu,
kita bercumbu saling melepas rindu….”


Saya pun beberapa kali naik kapal penumpang milik Pelni saat balik kampung ke Flores atau transit di Kupang, NTT. Selama perjalanan dua hari, ribuan penumpang dihibur dengan lagu-lagu manis ‘80-an ala Obbie Messakh.

Kalau tidak Obbie Messakh, ya lagu-lagu pop manis sejenis seperti ciptaan Pance F Pondaag, Rinto Harahap.

Saya tidak tahu kenapa orang NTT begitu suka dengan karya-karya Obbie? Bukankah pengamat/kritikus musik mencerca habis lagu-lagu Obbie sebagai cengeng, tidak bermutu, lemah secara musikal, kelas kampung…. ? Orang NTT tentu saja pernah mendengar atau membaca ejekan-ejekan itu. Toh, kesenangan mereka pada lagu-lagu karya Obbie Messakh terus bertahan. Sampai sekarang.

Lahir pada tahun 1958 dengan nama THOBIAS MESSAKH -– karena itu, dipanggil Obbie -–pria ini sejak kecil tinggal dan besar di Jakarta. Orang tuanya berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, kawasan paling selatan Indonesia. Daerah ini dikenal sebagai penghasil nira lontar, gula lempe (sejenis gula jawa) kelas wahid.



Munculnya Obbie Messakh, sekitar 1983, tak lepas dari suasana pasar musik nasional yang dikuasai oleh JK Records, perusahaan rekaman milik Judhi Kristiantho (JK).

JK Records saat itu merilis album-album manis, renyah, mendayu-dayu. Artis-artis JK antara lain Dian Piesesha, Meriam Bellina, Marina Elsera, Lidya Natalia, Heidy Diana, Hellen Sparringa, Anie Ibon, Meta Armis, Ria Angelina. Disokong penuh oleh acara Aneka Ria Safari dan Selekta Pop di TVRI, lagu-lagu artis JK pun segera menyebar luas ke tanah air pada 1980-an.

Nah, Obbie Messakh didesain JK sebagai salah satu penulis lagu laris (hits maker) bersama Pance F Pondaag, Maxi Mamiri, Wahyu OS, Judhi Kristianto sendiri, Deddy Dores. Tapi harus diakui Obbie yang waktu itu masih remaja (usia SMA atau mahasiswa tingkat awal) merupakan hits maker paling dicari industri rekaman.

Setelah lagu-lagunya meledak, JK ‘memaksa’ Obbie Messakh merilis album solo perdana. Judulnya ‘Kau dan Aku Satu’. Beberapa lagu yang pernah dibawakan artis cewek JK, dibawakan sendiri oleh Obbie Messakh… dan sukses. Nama Obbie Messakh pun makin menjulang.

Saya masih ingat bagaimana kakak-kakak di SMA PGRI Larantuka, SMAN 468 Larantuka… selalu menyanyikan lagu-lagu Obbie Messakh nyaris tiap hari. Vocal group pun mereka pilih lagu-lagu Obbie Messakh. Masuk ke kampung-kampung dengar lagu Obbie. Kalau ada hajatan di desa, lagunya Obbie.

Asal orang tua Obbie Messakh, yang Nusa Tenggara Timur, semakin menambah kecintaan warga pada Obbie Messakh. Padahal, kalau mau jujur, suara Obbie Messakh pas-pasan: cenderung fals, pitch control kurang… Mungkin syairnya yang mellow itu cocok dengan suasana hati orang NTT yang rata-rata susah.

“Kita ini kan mengandalkan perasaan. Jadi, menyanyikan lagu Obbie Messakh itu menyentuh sekali,” kata Pak Gorys, orang Ende yang kuliah di Jember, beberapa tahun lalu.

Seperti biasa, daur musik pop bergerak dengan cepat. Setelah membuat lagu hits, Hati yang Luka, Menteri Penerangan Harmoko marah-marah. Ia melarang lagu yang dipopularkan oleh Betharia Sonata itu lantaran dianggap cengeng. Ramailah polemik di koran.

Sejak itu TVRI, sebagai satu-satunya televisi, tidak lagi menayangkan lagu-lagu Obbie Messakh, khususnya Hati yang Luka. Saya masih ingat, TVRI terakhir menayangkan instrumentalia Hati yang Laku yang dimainkan grup musik sasando. Musik tradisional NTT itu memang berasal dari kampung halaman Obbie Messakh pula.

Pamor Obbie Messakh menurun drastis. Begitu juga JK Records. Maklum, tren musik pop sudah berubah dengan naiknya sejumlah artis yang mengusung apa yang disebut ‘pop kreatif’. Istilah ini secara implisit ingin mengatakan bahwa lagu pop versi Obbie Messakh dkk tidak kreatif alias cengeng. Koran Jawa Pos di Surabaya mengangkat isu ini sebagai bahan polemik yang ramai.

“Apanya yang kreatif? Apanya yang tidak kreatif? Obbie Messakh bisa membuat lagu karena kreatif,” ujar seorang pengamat musik. Obbie Messakh saat diwawancarai Jawa Pos tenang-tenang saja.

Obbie mengatakan tetap menciptakan lagu selama masyarakat (pasar) membutuhkan. Dan benar. Karya-karya Obbie Messakh terus mengalir meski tidak segencar masa jaya JK Records. Nada-nada manis pun semakin kurang porsinya. Obbie Messakh malah menciptakan Sakit Gigi, lagu dangdut yang hits setelah dibawakan Meggy Z. Kemudian Mobil dan Bensin’.

Sejak Obbie Messakh kehilangan identitas, saya anggap dia sudah habis di pasar musik Indonesia. Di tahun 1990-an, apalagi setelah Reformasi 1998, Obbie Messakh benar-benar habis. Tinggal cerita, mengutip sebuah petikan lirik lagunya.

Apa pun kata orang, Obbie Messakh tetap merupakan salah satu tokoh asal NTT yang pernah mempengaruhi begitu banyak orang Indonesia, khususnya generasi 80-an hingga menjelang 1990-an.



Menjelang Pemilu 2004, Obbie Messakh direkrut menjadi caleg Partai Perhimpunan Indonesia Baru pimpinan Dr Sjahrir. Yah, seperti artis-artis lain yang juga direkrut mendadak sebagai caleg atau sekadar penggembira.

Saat itu lagu lama Obbie, Kisah Kasih di Sekolah, populer lagi berkat jasa Chrisye, penyanyi gaek, yang baru saja merilis album DEKADE. Maka, ke mana-mana Obbie pun membawakan lagu ini.

Ternyata, partainya Dr. Sjahrir ini gagal total. Tak ada satu pun kursi yang diraih PPIB. Obbie pun gagal jadi politikus. Yah… Bang Obbie, anda sebaiknya menyanyi saja lah walaupun suaramu agak fals. Tidak perlu ikut politik lah!

Pada 2003 Obbie Messakh mengaku banyak perubahan dalam hidupnya.

"Sekarang saya berusaha untuk menjalani hidup dengan lebih berarti. Kalau dulu saya banyak menyia-nyiakan hidup, kini saya ingin hidup ini lebih berarti, baik untuk diri saya pribadi maupun orang lain," ujar Obbie.

Campur tangan Tuhan, katanya, yang telah membawa diri pencipta lagu-lagu melankolis ini ke dalam kehidupan rohani yang lebih baik. Itulah soal, dengan kesungguhan hati, dia menerima tawaran untuk sebuah rekaman lagu-lagu rohani dan siap melakukan pelayanan ke berbagai pelosok daerah di Indonesia.

"Sebenarnya, sudah lama saya ingin menyanyi lagu-lagu rohani. Tapi saya ingin melakukan dengan kesungguhan hati yang dibarengi dengan perubahan hidup yang lebih baik."

Bermula dari ajakan seorang teman untuk menyanyi lagu-lagu rohani. Obbie pun ingat pesan mendiang ibunya yangs emasa hidupnya pernah berpesan agar Obbie membuat album rohani. Lalu Obbie pun mencoba melakukan penjajakan dengan Maranatha Record, sebuah perusahaan rekaman yang banyak memproduksi rekaman lagu-lagu rohani.

"Kami tidak langsung menerima Obbie untuk rekaman. Kami melihat dulu kehidupan rohaninya. Ternyata Obbie memang telah berubah," ungkap Peter Rahardja, Executif Produser Maranatha Record.

Maka, hanya dalam waktu satu bulan, album itu pun jadi. Maklumlah, Obbie bukan orang baru di belantara industri musik. Dalam album yang diberi label Ku Mau Setia ini, Obbie mengusung lima buah lagu ciptaannya.

Ada satu lagu manis Obbie Messakh yang selalu saya ingat sampai sekarang. Judulnya lupa, tapi liriknya demikian:

Bila malam kau tidur terpejam
masih adakah wajahku di matamu
adakah bibirmu sebut namaku
oh agar tenanglah aku yang rindu di sini

Esok pagi bila kita bertemu
mari cerita tentang mimpi semalam
dua hati kita mungkinkah serasa
oh dalam merajut tali cinta di dada

Berjanji... ku berjanji
kusayang padamu setulus hati
berjanji... ku berjanji
tak akan ingkar walau sampai mati
ohhh... juwita
hanya kau tumpuan yang terakhir

Paus Bicara, Paus Dihujat


Demo aktivis muslim di depan Kedubes Vatikan di Jakarta, 18 September 2006.

SELASA, 19 SEPTEMBER 2006.

Koran-koran di Surabaya memuat berita dan foto tentang reaksi sejumlah aktivis Islam terhadap ceramah Paus Benediktus XVI di Jerman. Ceramah pada 12 September 2006 di Bavaria, jerman, itu menyinggung perasaan umat Islam. Muncul reaksi di mana-mana. Indonesia, sebagai bangsa muslim (NB: muslim nation, not islamic state), tak mau ketinggalan.

Saya perhatikan foto di koran. Puluhan aktivis pakai jubah putih, peci putih, mengepalkan tangan, marah. Mengusung poster-poster yang isinya sangat tajam: “Ayo... salib Paus! Poros Setan!” Ada juga pernyataan bahwa Sri Paus ini bakal masuk neraka. Di luar negeri, misalnya Iraq, saya lihat warga ramai-ramai membakar simbol Katolik. Ada boneka pakai jubah, salib di dada... lalu dihinakan!

Saya bisa memahami kegeraman saudara-saudara muslim. Tapi saya pun sangat terkejut menyaksikan unjuk rasa berikut kata-kata hujatan, spanduk maki-maki, aksi teaterikal yang benar-benar menghina Sri Paus (Pope). Itu di luar bayangan saya. Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan Bapa Suci (sebutan Sri Paus bagi kami di Pulau Flores) dimaki-maki sejelek itu. Paus penghuni neraka? Pemimpin setan? Aha... saya baru dengar dari pengunjuk rasa di depan Kedubes Vatikan, Jakarta, 18 September 2006.

OH TUHAN, AMPUNILAH MEREKA!
MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA BUAT!

SEPERTI sudah sering saya tulis, saya berasal dari Flores Timur, a Catholic island of Indonesia. Di rumah-rumah kami yang sederhana (pakai bambu, kayu murahan, setengah tembok, lantai tanah, atap alang-alang atau daun kelapa...), selalu ada foto Bapa Suci alias Sri Paus. Juga Bunda Maria, kalung rosario atau panji untuk kontas gabungan.

Karena lahir di awal 1970-an, saya mengalami empat orang Bapa Suci: Paus PAULUS VI (pernah ke Indonesia pada 1976), Paus YOHANES PAULUS I (1978-1978, bertakhta kurang dari dua bulan lalu wafat), Paus YOHANES PAULUS II (1978-2005, pernah ke Indonesia 1989), dan kini Paus BENEDIKTUS XVI. Saya sangat mengagumi Paus Yohanes Paulus II yang bernama asli Carol Wojtyla, asal Polandia.

Wafat di usia 84 tahun, beliau saya nilai sebagai salah satu Paus terbesar dalam sejarah Gereja Katolik. Seandainya saja Tuhan memberi saya istri, menganugerahi anak, saya berencana menamai dia Yohanes Paulus atau John Paul atau Carol--sesuai dengan nama almarhum Paus Yohanes Paulus II.

Kami di Flores lazim menyebut Sri Paus dengan SANTO BAPA atau BAPA SUCI. Beliau suci karena mendapat urapan imamat istimewa, penganti Rasul Petrus. Saya kutip Kitab Hukum Kanonik artikel 331:

“PAUS ADALAH USKUP GEREJA ROMA, YANG MEWARISI SECARA TETAP TUGAS YANG SECARA ISTIMEWA DIBERIKAN KEPADA PETRUS, YANG PERTAMA DI ANTARA PARA RASUL, DAN HARUS DITERUSKAN KEPADA PARA PENGGANTINYA, ADALAH KEPALA DEWAN PARA USKUP, WAKIL KRISTUS DAN GEMBALA GEREJA UNIVERSAL DI DUNIA INI, YANG KARENANYA BERDASARKAN TUGASNYA MEMPUNYAI KUASA JABATAN, TERTINGGI, PENUH, LANGSUNG, DAN UNIVERSAL DALAM GEREJA YANG SELALU DAPAT DIJALANKANNYA DENGAN BEBAS.”

Dari kutipan ini saja bisa diketahui betapa sentralnya peran Paus dalam Gereja Katolik. Karena itu, setiap hari ribuan orang datang ke Vatikan, ziarah, mendapatkan berkat dari Sri Paus. Saya sendiri beruntung mendapat oleh-oleh kalung rosario yang sudah diberkati Paus Yohanes Paulus II dari Mbak NANY WIJAYA, salah satu bos Grup Jawa Pos. Kebetulan Mbak Nany sempat melakukan liputan ke Takhta Suci Vatikan.

“Lha, bagaimana bisa Sri Paus dicap sebagai ‘poros setan’, ‘penghuni neraka’?” tanya Freddy, teman saya.

“Yah, saudara-saudara kita itu kan marah. Mereka hanya mereaksi pernyataan Paus yang dikutip media massa,” jawab saya.

“Apa benar Bapa Suci menghina umat Islam? Sudah baca isi ceramahnya secara utuh?”

Terus terang, saya belum baca. Saya hanya tahu penggalan dari media massa nasional dan kantor berita asing. Ceramah Paus Benediktus XVI cukup panjang, dua jam, dalam bahasa Inggris, di forum ilmiah, kutip sana-sini... sehingga tidak bisa dipahami dengan baik dan benar kalau hanya sekadar baca kutipan pendek di koran. Sampai sekarang saya tidak percaya bahwa Sri Paus sengaja menghina agama Islam.

“Kutipan abad pertengahan itu tidak mencerminkan pandangan saya,” kata Benediktus XVI seperti dikutip koran-koran.

Yah... semuanya serba mengutip. Salah kutip bisa celaka, Bung!

PAUS Benediktus XVI lahir di Bavaria, Jerman, pada 16 April 1927 dengan nama JOSEPH RATZINGER. Dia menggantikan Paus Yohanes Paulus II yang wafat pada 3 April 2005. Terpilihnya Kardinal Joseph Ratzinger sebagai Paus sudah ditebak banyak kalangan mengingat peranannya yang dominan dalam tahun-tahun terakhir kepemimpinan Yohanes Paulus II.

Konklaf yang dimulai 18 April 2005 langsung diakhiri pada 19 April 2005 karena dewan kardinal berhasil memilih Joseph Ratzinger sebagai Sri Paus. Asap putih mengepul di cerobong Kapela Sistinus tanda bahwa Takhta Suci sudah terisi. "Saya memilih nama Benediktus XVI,” ujar Ratzinger di hadapan jutaan umat. Adegan ini mendapat liputan luas berbagai media, termasuk televisi dan surat kabar Indonesia.

Sebagai bekas aktivis Katolik, saya tahu persis bahwa Benediktus XVI ini sangat menekankan harmoni, perdamaian, dialog antaragama, hormat pada agama lain, toleransi. Dia pulalah yang banyak mengonsep ensiklik serta berbagai pernyataan Paus Yohanes Paulus II, sang ‘santo perdamaian’ itu. Karena kedekatan dengan Yohanes Paulus II inilah, dia terpilih secara bulat sebagai Sri Paus. Gereja ingin pembaruan, tapi harus tetap ada kesinambungan.

Dari latar belakang ini, saya yakin, Paus Benediktus XVI tak punya niat sedikit pun untuk melecehkan Islam. Bagaimana mungkin tokoh yang selama bertahun-tahun menyusun konsep dialog antaragama menghina agama Islam? Sayang, sekali lagi, saya tidak tahu persis isi ceramah dalam bahasa Jerman di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman, pada 12 September 2006 itu.

Toh, saudara-saudara muslim sudah tersinggung sehingga minta maaf wajib dilakukan. Saya catat, Paus Benediktus XVI sudah menyampaikan ‘penyesalan mendalam’ serta ‘maaf’ selama dua kali dalam waktu berdekatan.

“Itu belum cukup. Dia harus mundur!” teriak pengunjuk rasa di Kedubes Vatikan di Jakarta, 20 September 2006.

Lalu, berapa kali lagi minta maaf? Tujuh puluh kali? Tujuh puluh kali tujuh? Kalau sampai menuntut Sri Paus mundur, ya, kebangetan. Opo tumon!
OH TUHAN, MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA BICARAKAN!

YANG jelas, saya senang karena Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Julius Kardinal Darmaatmadja SJ meminta maaf secara tulus pada 18 September 2006, atas nama umat Katolik di Indonesia. “KWI ikut prihatin bersama umat Islam bilamana merasa nabinya dihina dan Allah dilecehkan,” kata Kardinal.

Pria yang juga Uskup Agung Jakarta itu menambahkan: “Semoga peristiwa di Regensburg ini tidak merusak kerukunan antarumat beragama yang selama ini kita usahakan. Sebaliknya, ampun-mengampuni itu dapat menjadi landasan untuk berkomunikasi secara lebih baik dalam membina hidup bersama.”

Saya gembira karena tokoh-tokoh Islam seperti Hasyim Muzadi (PBNU), Din Syamsuddin (PP Muhammadiyah), Hidayat Nurwahid (PKS), dan beberapa lagi menerima permintaan maaf ini dengan baik. “Orang Islam wajib memberikan maaf kepada Paus Benediktus XVI sepanjang hal itu berupa kekhilafan,” kata Hasyim Muzadi.

Mudah-mudahan peristiwa ini menjadi bahan pelajaran berharga bagi kita semua, umat manusia yang hidup di bumi yang sama. Kita semua sama. Saya terluka karena Sri Paus dihujat, dilecehkan dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Saudara-saudara muslim pun sama saja: terluka jika nabi dan doktrinnya dilecehkan.

Museum Zoologi Frater Vianney




Hiroko (35 tahun), asal Jepang, melancong ke Tanah Air. Di atas pesawat dia membaca majalah udara yang menceritakan sejumlah objek wisata menarik di Indonesia. Dasar pencinta hewan-hewan langka, mata Hiroko langsung terpikat pada informasi soal Museum Zoologi Frater Vianney di Malang.

Tiba di Bandara Juanda, si Nipon ini buru-buru ke Malang.

"Saya ingin lihat museum zoologi yang koleksi kerangnya paling lengkap di dunia,” kata Hiroko.

Di kota dingin, Malang, ia bertanya ke sana ke mari di mana letak Museum Vianney itu. Ternyata warga, termasuk tukang becak yang mobilitasnya tinggi, tidak tahu. Mereka hanya tahu Museum Militer Brawijaya di Jalan Raya Ijen. Mana ada museum binatang?

Hiroko tak putus asa. Ia datang ke kantor pariwisata setempat. Celakanya, pihak pariwisata Malang pun tak tahu. Namun, Hiroko tidak menyerah. Dia berusaha sedemikian rupa, sehingga akhirnya menemukan museum itu.

“Sampai di sini Pak Hiroko ini mengaku sangat capek, tapi puas,” cerita Denise Resiamini, petugas museum, kepada saya.

Harus diakui, lokasi museum ini memang agak terpencil. Kita harus melintasi jalan-jalan desa sekitar 15 kilometer dari pusat kota Malang. Banyak belokan, tanjakan, sehingga sulit dicari orang baru. Jangankan orang Jepang, orang Malang sendiri rata-rata asing dengan kawasan ini.

“Sekarang sudah mulai dikenal orang, khususnya pelajar dan guru-guru,” jelas Denise, guru biologi di sebuah sekolah swasta Malang.

Dibuka untuk umum sejak 27 November 2004, Museum Vianney ini dikelola oleh Frater M Clemens Keban (69), biarawan Katolik dari kongregasi Bunda Hati Kudus.

Semua koleksi yang ada di sini bermula dari kegemaran Clemens mengoleksi aneka binatang melata serta berbagai kulit (cangkang) siput atau kerang. Kulit kerang laut, kerang darat, dari dalam maupun luar negeri dikoleksi dengan tekun oleh pria asal Flores Timur itu.

“Museum ini sebagai wujud penghormatan dan penghargaan saya kepada almarhum Frater Maria Vianney BHK. Beliau itu tokoh idola sekaligus guru saya,” ujar Clemens Keban.

Vianney yang lahir di Abcoude, Belanda, 22 November 1920 dikenal luas sebagai herpetologis atau ahli tentang ular. Selain gemar memburu dan mengoleksi ular dan aneka reptil, Vianney punya pengetahuan mendalam di bidang biologi.

Nah, untuk mengenang Vianney, Clemens kemudian mengabadikan nama mantan gurunya sebagai nama museum zoologi ini. Lengkapnya, Museum Zoologi Frater Vianney di Malang. "Saya menjadi saksi hidup bagaimana ular yang sangat ditakuti dan menjijikan itu bisa dijadikan ‘anak emas’ oleh almarhum,” kenang Clemens.

Menurut dia, sebagian koleksi binatang di museum ini merupakan warisan Vianney, khususnya aneka ular dan binatang melata lainnya. Di dunia ini sedikitnya ada 100 jenis ular, tapi yang sering ditemui hanya sekitar 40 jenis. Di Museum Vianney baru ada 20 jenis ular, khususnya ular-ular berbisa.

Ular-ular awetan disimpan dalam berbagai pose. Ada yang kepalanya tegak, melingkar, menelan mangsa, hingga tidur-tidur malas.

“Tidak sembarang orang bisa membuat awetan ular seperti ini kalau nggak paham ilmu tentang ular. Dan almarhum Frater Vianney termasuk salah satu herpetologis langka yang pernah berkarya di Indonesia,” jelas Denise Resiamini.

Ribuan koleksi moluska dan kerang tersimpan rapi di Museum Zoologi Vianney di Jl Raya Karangwidoro 7, Dau, Kabupaten Malang. Setiap jenis ditempatkan di rak atau kamar khusus.

Agar memudahkan pengunjung, nama-nama kerang dan moluska ini dalam bahasa Latin, tahun koleksi, dan asal penemuan. Kerang-kerangan dari Pantai Kenjeran (Surabaya), Nusa Tenggara Timur, Madura, dan sejumlah tempat di Tanah Air ada di sini.

“Pokoknya, kalau Frater Clemens ke mana saja, dia pasti cari kulit kerang, moluska, dan ular. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, dia paling suka koleksi kerang,” jelas Denise Resiamini, staf museum.

Kenapa suka kerang?

Frater Clemens Keban BHK, bos museum ini, ingin mengembangkan konkologi (conchology), ilmu tentang siput dan kerang. Konkologi merupakan bagian dari ilmu hayat (biologi) yang secara khusus mempelajari siput, kerang, moluska, dan sejenisnya. Clemens tak ingin para siswa hanya sekadar berteori, membaca buku biologi, tapi tidak pernah melihat wujudnya.

Nah, di saat pasang surut, Clemens jalan-jalan di pantai. Dengan cermat pria kelahiran Flores Timur, 25 Agustus 1957, ini mencari cangkang yang masih ada binatangnya. Bagaimana dengan cangkang laut dalam? Clemens tak segan-segan meminta bantuan atau menyewa nelayan untuk menyelam.

“Duitnya habis untuk mengoleksi siput, kerang, moluska. Jarang uangnya dipakai untuk membeli pakaian atau menikmati hiburan. Hiburannya, ya, menekuni dunia kerang itu,” tutur Denise sambil tertawa kecil.

Sesampai di kediamannya, cangkang dibersihkan dengan mengeluarkan binatangnya. Cangkang-cangkang itu diklasifikasi berdasar famili, genus, spesies, tempat dan tanggal penemuan. Masing-masing ditempatkan di lemari kaca. Sebagai referensi utama, Clemens menggunakan buku ‘A Field Guide to Shells of the Pacific Coast and Hawaii’. Buku pintar ini hadiah dari Frater Maria Vianney BHK, mentor sekaligus tokoh idola Clemens.

"Saya juga beberapa kali dikunjungi Renate Wittig, konkologis asal Amerika Serikat. Hobi dan minatnya sama dengan saya, kecuali ular,” jelas Clemens yang telah mengoleksi ribuan cangkang siput, kerang, moluska, dan aneka binatang laut.

Kendati belum begitu dikenal masyarakat, museum yang berdiri pada 27 November 2004 ini sudah digandeng oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. Dengan kerja sama ini, Museum Vianney dipercaya sebagai tempat penitipan satwa-satwa langka yang disita BKSDA. Entah itu penyu, kura-kura, buaya, kelelawar, dan mamalia langka lainnya.

“Kerja sama ini sangat menguntungkan karena koleksi kami jadi terus bertambah. Cuma, repotnya, biaya perawatan tidak murah,” ujar Denise, yang juga guru biologi di sebuah SMP swasta di Malang.

Pekan lalu, ratusan pelajar SD dan SLTP di Malang Raya ramai-ramai melakukan wisata ilmiah ke Museum Vianney. Sebelumnya, puluhan guru biologi mengikuti lokakarya biologi yang digelar pihak museum.

“Sekarang ini agenda kami sangat padat. Ternyata, Museum Vianney mulai diakui keberadaannya,” kata Denise bangga.

Semakin tingginya animo masyarakat, khususnya pelajar, mempelajari konkologi, reptilia, serta aneka binatang langka, membuat Clemens Keban berencana memperluas museumnya. Maklum, ruangan sekarang terlampau sempit untuk menampung koleksi yang terus bertambah. Lahan kosong sudah ada, tak jauh dari lokasi museum sekarang.

“Frater Clemens ingin museum besar bertaraf internasional,” kata Denise.

Kapan pembangunan dimulai?

“Wah, kami masih dalam taraf mengumpulkan dana. Museum baru ini butuh biaya miliaran rupiah,” tegas Denise.

Jean Claude from Belgium

Tiap kali main-main ke kawasan pegunungan, saya selalu menemui orang-orang bule yang tinggal di sana. Mereka bukan hanya betah, tapi juga ‘kecanduan’ dengan alam pegunungan nan indah. Hawa sejuk. Hijau. Penduduk yang polos, ndeso.

Salah satunya Jean Claude (50), pria asal Belgia. Saya kenal Jean dari Harryadjie Bambang Subagyo, pelukis dan penggiat lingkungan asal Sidoarjo. “Orangnya unik sekali. Cobalah wawancara dia, pasti menarik,” begitu ‘provokasi’ Harryadjie kepada saya.

Jean Claude ayah satu anak gadis. Dia volunteer di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Trawas, Kabupaten Mojokerto. “Banyak hal menarik yang tidak saya temui di Belgia atau Eropa,” ujar Jean Claude. Kata-kata macam ini sering saya dengar, tapi biasanya disampaikan dengan tulus oleh orang bule.

Di Trawas ini Jean Claude bikin kolam renang pribadi. Maklum, dia doyan berenang, memasak, dan menikmati musik, termasuk dangdut. Lagu-lagu diputar di kamarnya, pakai laptop dan sound system canggih, nyaris 24 jam nonstop. Gila! Kalau sudah capek, dia tinggal menceburkan diri ke dalam kolam renang.

“Kalau di Belgia, saya tidak akan pernah bisa membuat kolam renang macam ini. Bagaimana bisa? Biayanya sangat mahal, apalagi harus beli tanah. Apalah orang seperti saya,” ujar Jean Claude sembari bersenandung lagu reggae.

Bagi orang Eropa macam Jean, biaya hidup di Indonesia sangat, sangat murah. Sekali makan di Eropa setara dengan Rp 150 ribu. Coba uang segitu dipakai makan di warung kaki lima? “Kolam renang saya ini paling-paling hanya Rp 25 juta. Di Belgia sana saya tidak bisa bayangkan mahalnya.”

Kebiasaan orang Jawa Timur naik motor ke mana-mana pun menjadi perhatian Jean Claude. Pemandangan seperti itu, kata dia, tak akan ditemukan di Belgia. Di sana kendaraan umum menjadi pilihan utama. Agar ‘mengindonesia’ Jean membeli sebuah motor Yamaha baru. Murah sekali, katanya.

“Seumur hidup baru kali ini saya punya motor,” ujar pria kelahiran 16 Oktober 1954 itu.

Dia juga senang menikmati keindahan laut. Jalan-jalan ke Bunaken, Bali, serta tempat-tempat wisata alam lainnya. Jalan-jalan ke mal atau hotel berbintang di Indonesia? Jangan harap lah. Dia sudah ‘muak’ dengan fasilitas moderen macam itu. Asal tahu saja, di Belgia dia jadi koki (chef) hotel berbintang yang sangat berpengalaman. "Saya cari suasana lain,” katanya.

Sayang sekali, belum lama ini saya dengar kabar bahwa dia punya ‘masalah’ dengan tempat kerjanya di Trawas. Dia terlalu banyak ‘main-main’ sehingga lupa kerja. Projek restorannya terbengkelai. “Dia terlalu nyentrik. Susah lah kita,” ujar teman dekat saya. Maka, Jean Claude pun ‘hilang’ dalam beberapa bulan terakhir.

“Dia sudah pulang ke negaranya untuk introspeksi,” ujar Harryadjie BS lalu tertawa kecil. Introspeksi apa? Katanya, mau tinggal di Trawas sampai mati. Kolam renang sudah punya. “Yah, cita-citanya sih begitu, tapi di tengah perjalanan ada masalah,” kata pelukis yang tinggal di Perumahan Sidokare Indah, Sidoarjo, itu.

Yang jelas, sebelum pulang ke Belgia, Jean Claude pernah bilang, "Saya akan kembali ke negara Anda. Saya lebih senang hidup di Indonesia.”
Aha!

19 September 2006

Aloysius Lele Madja



Ramah dan cepat akrab dengan teman bicara. Sebagai Konsul Indonesia di Perth, Australia, Dr. Aloysius Lele Madja memang menguasai benar seni diplomasi. Itu pulalah yang dia lakukan sejak bertugas di Perth dalam 1,5 tahun terakhir.

"Kita perlu mengambil hati warga Australia karena mereka itu tetangga kita,” ujar Madja (54) kepada saya. Ayah tiga anak ini didampingi istrinya, Fransisika L. Madja (istri), serta Wakil Konsul RI di Perth, Nusiaga Putri.

Menurut dia, selama ini pemerintah dan warga Australia cenderung tidak mau tahu tentang negara terdekatnya, Indonesia. Mereka lebih fokus pada Eropa dan Amerika Serikat, sebagai sesama negara Barat, kecuali bila muncul isu panas seputar keamanan atau hal-hal yang mengganjal hubungan kedua negara.

“Sejumlah warga Australia bilang, ‘Indonesia? Lupakan saja!’ Selama ini persepsi tentang Indonesia adalah terorisme dan Islam radikal. Padahal, itu hanya kelompok kecil saja,” tutur Madja seraya tersenyum.

Karena itu, tantangan terberat bagi diplomat di negara kanguru--tak hanya dirinya--adalah mengubah cara pandang negara sahabat atas Indonesia. “Dan, saya akui, tidak mudah mengubah prasangka itu.”

Lahir di Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, Aloysius Lele Madja sudah berkarier di Departemen Luar Negeri RI selama 23 tahun. Dia sudah malang melintang di sejumlah negara seperti Rusia, Jerman, Italia, Hungaria, Australia. Madja senantiasa menarik perhatian media luar negeri karena kefasihannya menguasai banyak bahasa asing.

“Dr. Madja itu poliglot. Dia bisa bicara dalam bahasa Jerman, Prancis, Hungaria, Inggris dengan fasih. Aksen bahasa Inggrisnya seperti orang Eropa saja,” tulis Duncam Graham, wartawan senior Australia.

Nah, kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa nasional setempat, merupakan modal utama seorang diplomat. Sulit dibayangkan konsul atau duta besar Indonesia di luar negeri bisa bertugas dengan baik jika tidak menguasai bahasa setempat, apalagi bahasa Inggris. "Saya harus belajar setengah mati agar bisa bicara bahasa Hungaria. Bahasa Inggris saja tidak cukup,” ujar bekas diplomat di Hungaria itu.

Untungnya, Aloysius Madja dianugerahi bakat bahasa yang luar biasa. Hanya dengan beberapa kali kursus singkat, ditambah latihan di rumah, ia mampu menguasai bahasa-bahasa baru tersebut. Sambil belajar bahasa, dia juga berusaha menjalin hubungan budaya dengan Indonesia.

“Sekarang ini di Perth pun kami banyak menggelar acara-acara untuk mempererat hubungan Indonesia-Australia,” tutur Madja.

Ketika delegasi Putri Lingkungan Hidup asal Jawa Timur mengikuti even internasional di Australia Barat, Aloysius Madja menyambutnya dengan senang hati. Dia memfasilitasi para remaja itu agar saling belajar dengan teman-teman Aussie-nya.

"Ini investasi untuk masa depan. Kita berharap, generasi baru Australia punya perspektif yang lebih positif tentang Indonesia,” ujar penerjemah beberapa buku ilmiah itu.

Berapa banyak orang Indonesia yang tinggal di Australia Barat? Madja menyebut, 8.000 hingga 8.500 yang terdata di Konsul RI di Perth. Namun, dia yakin jumlahnya lebih dari itu mengingat masih banyak yang enggan berhubungan dengan perwakilan Indonesia. Mereka ini biasanya baru tergopoh-gopoh datang ke konsulat atau kedutaan kalau kepepet.

Sebagai pecinta bahasa dan budaya, Konsul RI di Perth, Australia, Dr. Aloysius Lele Madja, mengaku prihatin melihat sikap sebagian orang Indonesia yang cenderung kurang menghargai bahasa nasionalnya. Saat berada di Jakarta atau Surabaya, dia melihat televisi Indonesia yang sarat bahasa gado-gado: Melayu, Inggris, Betawi, Jawa, dan seterusnya.

Bumbu-bumbu bahasa berupa ungkapan Inggris begitu banyak, sehingga tata kalimat di sinetron terkesan kacau-balau. "Bahasa macam apa ini?" ujar Madja yang menguasai sedikitnya delapan bahasa asing itu. Kendati menguasai banyak bahasa (poliglot), saat berbahasa Indonesia Madja hampir tak pernah 'menyelundupkan' istilah-istilah asing ke dalam kalimatnya.

Karena itu, ayah tiga anak ini (Concytha, Samuel, Bernadette) kurang sreg melihat anak-anak Indonesia di Australia Barat yang kini tak bisa berbahasa Indonesia. Bagi Madja, keluarga di rumah seharusnya membimbing anak-anaknya agar bisa berbahasa Indonesia. Juga mengenal kekayaan budaya kita.

"Saya ingin ada sekolah Indonesia di Perth. Di Indonesia kan ada sekolah Australia di Jakarta, Bali, Jogja. Sekolah internasional negara lain juga ada di Indonesia, bukan," ujar pria berusia 54 tahun ini.

Sebagai diplomat karier yang malang melintang selama 23 tahun di berbagai negara Eropa, kemudian Australia, Aloysius Madja menengarai bahwa orang Indonesia umumnya mengidap penyakit rendah diri. Apa-apa saja yang berbau asing, khususnya Barat, dianggap kelas satu. Sebaliknya, yang berasal dari bumi Indonesia dianggap kelas kambing.

"Begitulah. Masih banyak orang kita yang berpikir bahwa semua yang berbau Barat itu lebih hebat. Padahal, belum tentu," ujarnya.

Nah, masih berkaitan dengan kecintaannya pada bahasa Indonesia, Madja menggagas lomba mengarang dan pidato bahasa Indonesia untuk anak-anak sekolah di Perth. Pesertanya sekitar 50 anak sekolah swasta dan negeri. Temanya: apa untung dan ruginya belajar bahasa asing? Sayembara mengarang macam ini pun juga dimaksudkan untuk menjalin hubungan baik antara kedua negara.

"Kita mulai dari anak-anak sekolah lah. Mereka ini bakal menjadi orang-orang penting di negaranya di kemudian hari," kata pria kelahiran Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, itu.

"Anda diplomat, menguasai banyak bahasa, santun. Apa pernah studi di seminari menengah atau tinggi di Flores?" tanya saya saat Aloysius Madja dan rombongan Konsulat RI di Perth bertandang ke kantor redaksi RADAR Surabaya belum lama ini.

Madja tersenyum. "Ya, dulu saya di Seminari Mataloko," papar Madja. Seminari Mataloko merupakan seminari tertua di Flores yang didirikan W Schmidt pada 1929.

Aloysius Madja pernah mencicipi pendidikan di sekolah calon pastor Katolik itu. "Dulu cita-cita saya memang jadi pastor. Ternyata, panggilan saya bukan di situ. Saya justru menjadi suami dan bapaknya anak-anak," jelas Madja disambut tawa Fransiska, istrinya. Jika Madja tidak 'mrotol' dari seminari, niscaya dia tak akan pernah melanglang buana sebagai diplomat, apalagi punya tiga anak.

Selain menguasai banyak bahasa asing, Aloysius Madja ternyata jago bermain sepak bola. Dia mengaku main bola hampir tiap hari. Bahkan, saat bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bonn, Jerman, Madja sempat mengambil kursus pelatih sepak bola.

Bisa jadi pelatih kalau sudah pensiun?

"Hehehe... Saya memang suka bola kaki sejak remaja," akunya. Berkaitan dengan bola, Madja berharap tim nasional Indonesia suatu saat bisa berlaga di ajang Piala Dunia.

"Saya bermimpi sekitar tahun 2050 kita sudah bisa ikut Piala Dunia."

Website Konsulat RI di Perth