07 August 2006

Vihara Dibakar



KAMIS, 17 Agustus 2006.

Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya jalan-jalan ke kawasan pegunungan. Tepatnya di Trawas, Mojokerto. Mampir di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup, sebuah pusat studi sekaligus tempat ekowisata terindah di Jawa Timur.

Kemudian main-main ke Candi sekaligus Sumur Jolotundo, sekitar 1,5 km dari PPLH.
Jolotundo ini punya mata air alami yang sejuk dan bersih. “Kalau tidak salah nomor dua di dunia air terbersih di dunia,” kata Bambang Haryadjie, pelukis sekaligus pekelana kelas wahid dari Sidoarjo. Omongan Pak Bambang ini sering kali bombastis tanpa ada data penelitian tertulis.

Sejak bertugas sebagai wartawan RADAR SURABAYA Biro Sidoarjo, saya memang kerap diajak Pak Bambang dkk ke situs peninggalan Majapahit ini. Saya betah menikmati alam, juga bercakap dengan warga pegunungan yang ramah. Mereka masih memasak pakai kayu bakar, mirip ibu-ibu di kampung saya, Nusatenggara Timur, saat saya kecil dulu.

Di tanjakan, sekitar 500 meter dari Sumur Jolotundo, saya melihat bekas reruntuhan bangunan yang baru terbakar. Abu di mana-mana. Batubata bergelimpangan. Sisa-sisa bambu tergeletak. Kompleks itu dipagari tanpa garis polisi (police line) berwarna kuning.

Ada warung sederhana di sampingnya. Saya pun bertanya ke sana ke mari. Rupanya, warga tak bebas bicara. “Oh, itu bangunan tempat meditasi milik Banthe. Sejenis vihara,” jelas seorang bapak kepada saya.

Kenapa dibakar? Ada apa? Bagaimana respons polisi? Warga? Saya berusaha mengali apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini pembakaran yang ketiga. Dibangun pertama kali, dibakar…. Bangun lagi, dibakar. Sekarang pun dibakar lagi,” jelas sang bapak.

Pembakaran terakhir, kata sumber saya, dilakukan puluhan anak muda tengah malam ketika sebagian warga sudah terlelap tidur. “Kejadiannya cepat sekali, wong bangunannya kebanyakan dari bambu,” tambah warga lain.

Sengaja nama-nama mereka tidak disebut mengingat kasus ini sensitif. Istilah rezim Orde Baru dulu SARA: suku, agama, ras, antargolongan.

BANTHE Sutedja seorang rohaniwan Budha yang tulus dan sabar. Ia ingin membuat tempat meditasi pribadi, ukurannya sedikit lebih besar dari lapangan voli, untuk proses olah rohani. Bukankah Sumur Jolotundo sejatinya merupakan tempat ibadah umat Hindu?

Nah, rupanya rohaniwan Budhis ini ingin membuat tempat khusus untuk menyapa Sang Pencipta di dekat Jolotundo.

Tapi… ya, inilah Indonesia. Membuat tempat meditasi atau semacam vihara macam ini bukan perkara mudah. Harus urus izin macam-macam. Bayar sana sini. Dan hasilnya pun belum tentu disetujui. Banthe hanya ingin tempat meditasi pribadi, bukan rumah ibadah seperti vihara, pura, gereja, kelenteng, dan sejenisnya.

“Yah, nggak apa-apa. Kalau dibakar ya sudah. Buat apa digugat segala macam,” kata seorang bapak, 60-an tahun, mengutip kata-kata Banthe.

“Saya kagum sama Banthe. Dia itu orang suci, nggak punya musuh,” tambah seorang wanita sepuh.

“Mestinya nggak apa-apa, wong cuma tempat meditasi pribadi,” kata seorang pertapa asal Blitar yang mangkal di kawasan Jolotundo.

Seorang warga Wunut, Sidoarjo, yang berada di warung samping bekas bangunan terbakar, punya komentar berbeda.

“Wong Cino iku duite akeh. Jadi, dibakar pun nggak apa-apa. Biar saja. Uangnya kan banyak,” katanya dalam bahasa Jawa khas Sidoarjo.

“Nggak usah diuruslah. Itu kan bukan milik kami. Biar sajalah dibakar atau diapakan… terserah,” tambah wanita penjaga warung.

BEGINILAH wajah bangsaku, bangsa Indonesia, di Hari Jadi ke-61 Proklamasi Kemerdekaan. Ternyata, hidup bersama sebagai sesama anak bangsa–apa pun agama dan latar belakangnya–masih butuh perjuangan keras. Sekeras perjuangan para pahlawan yang merebut kemerdekaan dari kaum penjajah.

Banthe dan umat minoritas tampaknya masih dianggap ‘anak kos’ yang belum diakui hak-haknya, termasuk hak beribadah dan mendirikan tempat ibadah. Batasan KAMI dan MEREKA akhir-akhir ini terasa semakin tegas. Hanya KAMI yang boleh menikmati kebebasan, MEREKA silakan merana dan terjepit.

Saya kira, nasib Bhante Sutedja masih lebih beruntung.

Sahabat-sahabat kita penganut Ahmadiyah–yang nota bene masih sealiran dengan agama mayoritas–mendapat perlakuan sangat kejam. Rumah-rumah mereka dibakar. Diusir dari kampung. Saat aset-asetnya dibakar, polisi malah terkesan ‘melindungi’ perusuh, bukan mengamankan rumah dan aset Ahmadiyah.

SETELAH kejadian, menteri-menteri justru menyalahkah orang Ahmadiyah. Gubernur, Bupati, Kapolres, Dandim… semua diam saja. Sampai sekarang nasib umat Ahmadiyah tidak jelas. Katanya, mereka mau minta suaka ke luar negeri karena pemerintah Indonesia gagal menjalankan tugasnya ‘melindungi bangsa dan rakyatnya sendiri’.

Dalam kasus pembakaran aset milik Banthe Sutedja, polisi dan pemerintah daerah pun diam. Seakan tak pernah ada kasus serius di daerahnya. Membakar rumah ibadah ibarat membakar sampah rumah tangga, sehingga tidak perlu ditangani serius. Gila!!!!

OH, Indonesia….
Republik macam apa ini?

No comments:

Post a Comment